
"Sudah, jangan menangis lagi. Aku tidak mau anak kita menjadi cengeng sepertimu" ucap Kevin mencoba menghibur Risa dengan senyum meledek, tetapi yang sebenarnya hatinya juga butuh hiburan.
Kevin menatap wajah sembab Risa dan mengusap air matanya
"Apakah yang aku lakukan sudah benar?" Tanya Kevin sambil memegang wajah Risa dengan kedua tangannya
"Kamu salah karena tidak menceritakan kepadaku lebih awal" ujar Risa dengan ketus sambil memanyunkan bibirnya
Kevin menarik kepala Risa dan mendekapnya dalam pelukan
"Aku harus melepaskan Jeanny. Maafkan dia karena sudah mencelakaimu" ucap Kevin lemah
Risa mendongakkan kepalanya dan memberi senyuman manis kepada Kevin
"Ayo kita menemuinya bersama" ajak Risa dengan senyum tulusnya
Kevin membalas senyum Risa dan kemudian segera mengemudikan mobilnya.
Setelah sampai di rutan tempat Jeanny di penjara, Kevin dan Risa tidak bisa menemui Jeanny karena Jeanny tidak mau bertemu dengan siapapun. Akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke store
Store
"Tolong kamu tarik laporan kita tentang kejahatan Jeanny. Dan tolong kamu bawa dia ke tempat psikiater. Carikan dokter yang terbaik" pinta Kevin kepada Miko
"Apa ada masalah dengan kejiwaan nona Jeanny mas?" Tanya Miko penasaran
"Iya. Ternyata dia mengalami depresi yang cukup berat" sahut Kevin
"Pantas saja waktu itu polisi menanyakan apakah kejiwaan nona Jeanny terganggu atau tidak" ucap Miko
__ADS_1
"Lalu kamu menjawab apa?" Tanya Kevin.
"Saya menjawab tidak, karena setahu saya nona Jeanny baik-baik saja" sahut Kevin
"Oke.. ya sudah, tolong kamu urus masalah ini" pinta Kevin
Miko memilliki andil penting bagi kehidupan pribadi Kevin. Miko lebih banyak membantu di luar pekerjaan store dibanding dengan urusan store, karena pekerjaan di store sudah ditangani dengan baik oleh Dina.
"Apakah kandungan Jeanny baik-baik saja?" Tanya Risa ketika Miko sudah meninggalkan ruangan Kevin
"Aku tidak tahu, semoga saja keduanya sama-sama kuat" sahut Kevin lemah
"Sekarang ayo kita pulang, kamu perlu banyak istirahat karena sedang mengandung juga" lanjut Kevin kemudian mengambil jasnya yang disampirkan di kursi kerjanya
"Kita baru beberapa menit yang lalu sampai store. Kenapa buru-buru pulang, apakah pekerjaanmu sudah selesai? Tanya Risa heran
"Kita akan kemana?" Tanya Risa ketika di mobil yang merasa arah perjalanan pulang mereka berbeda seperti biasanya
"Kita ke dokter kandungan dulu. Karena kamu tadi menanyakan kondisi kandungan Jeanny, aku jadi ingin tahu keadaan anak kita" sahut Kevin datar
Setelah menempuh perjalanan selama lebih dari setengah jam, akhirnya mereka sampai di rumah sakit tempat mereka dulu memulai program.
Mereka bertemu dengan dokter Tyas dan segera masuk ke ruangan dokter tersebut
"Silahkan berbaring ibu Risa.." pinta dokter Tyas dengan ramah
Risa menuruti perintah dokter Tyas dan segera berbaring di ranjang pasien
Dokter Tyas membuka blouse bagian perut Risa dan mengoleskan gel di atas perut datar Risa. Kemudian dokter Tyas menggerakkan probe dan mengamati sesuatu dari layar monitor
__ADS_1
"Oke.. janinnya dalam keadaan bagus bu, ini adalah kantung janinnya" ucap dokter Tyas menjelaskan sambil tangannya asyik menggerakkan probe
"Dan ini adalah janinnya, masih kecil seperti biji kacang ya bu. Usianya memasuki umur dua belas minggu" lanjut dokter Tyas menjelaskan yang tatapannya masih fokus pada layar
"Saya akan dengarkan detak jantung si dedek ya bu" imbuh dokter Tyas lalu menggerak-gerakkan probe nya lagi
"Dugh.. dugh.. dugh.. dugh.. dugh.. " suara detak jantung janin Risa
"Itu adalah suara detak jantung dedeknya, detak jantungnya normal yaitu 130/menit" lanjut dokter Tyas menjelaskan
Risa yang mendengar semua penjelasan dokter Risa hatinya begitu takjub, apalagi ketika mendengar suara detak jantung calon anaknya, matanya menjadi berkaca-kaca karena terharu. Dia menjadi semakin yakin bahwa sekarang dalam tubuhnya terdapat makhluk lain yang ikut tumbuh dengannya.
Begitu juga dengan Kevin, yang sejak tadi hanya diam mendengarkan penjelasan dokter Tyas. Kevin hanya mendengar penjelasan tersebut sambil tangannya menggenggam erat tangan Risa. Suara detak jantung calon anaknya membuat Kevin tanpa sadar menarik tangan Risa dan mengecupinya berkali-kali.
"Sejauh ini kondisi janinnya sangat sehat, apakah ada keluhan yang ibu Risa rasakan?" Tanya dokter Tyas ramah
"Tidak dok. Saya tidak memiliki keluhan" sahut Risa datar
"Saya yang memiliki keluhan dok, dia sekarang menjadi semakin manja dan sensitif" ucap Kevin tiba-tiba
"Itu wajar pak pada ibu hamil. Itu semua karena pengaruh hormon.
Jika tidak ada yang ditanyakan lagi, saya akan meresepkan vitamin untuk ibu Risa" ucap dokter Tyas dengan senyum renyah, kemudian menuliskan sesuatu di sebuah kertas
Setelah menerima resep vitamin dan cetakan foto hasil USG, Kevin dan Risa pamit meninggalkan rumah sakit dan segera pulang ke rumah. Selama dalam perjalanan, raut bahagia terpancar jelas di wajah keduanya. Kevin dengan sayang selalu memberi pesan dan nasihat kepada Risa agar selalu mengonsumsi makanan yang sehat, tidak banyak memikirkan hal tidak penting dan banyak istirahat sejak mereka masuk ke dalam mobil.
"Seharusnya aku tadi bertanya apakah jenis kelaminnya" ucap Kevin kecewa karena melupakan hal itu ketika mereka sudah sampai di rumah
"Sayang.. kamu tadi dengarkan.. dia masih sebesar biji kacang. Mana mungkin terlihat jenis kelaminnya" jelas Risa yang sedikit heran dengan sikap suaminya lalu memilih meninggalkannya ke kamar.
__ADS_1