
Setelah tiga hari di rawat di rumah sakit, akhirnya Risa diperbolehkan pulang ke rumah. Meskipun kesedihan masih menyelimuti hati Risa dan Kevin, namun kehidupan harus tetap berlanjut.
"Aku antar ke kamar ya yank" ucap Kevin lalu menggendong Risa menuju kamar
Risa beristirahat di kamarnya, sedangkan Kevin ke dapur untuk menyiapkan makanan.
"Bi tolong buatkan jus alpukat ya" ucap Kevin pada bi Nuri yang kebetulan berada di sampingnya
"Iya den" sahut bi Nuri
"Oh ya den, kemarin ada yang mencari den Kevin. Perawakannya masih muda, tapi dia tidak mengatakan siapa namanya" jelas bi Nuri
Kevin berpikir tentang ucapan bi Nuri. Kira-kira siapa yang datang mencarinya, mungkinkah Rendi? Karena tidak mungkin Miko, dia tau kalau Risa sedang di rawat di rumah sakit.
Setelah menyelesaikan masakannya yang dibantu oleh Bi Nuri, Kevin mengambil ponselnya dan menelpon seseorang
"Hallo Ren.." sapa Kevin
"Hallo, ada apa?" tanya Rendi di seberang sana
"Apa kemarin kamu datang ke rumah?" tanya Kevin langsung
"Tidak, aku masih di Bandung. Kuliahku akan segera selesai, aku tidak bisa pulang pergi ke Jakarta" jelas Rendi
"Oke baiklah" sahut Kevin
"Kenapa, ada masalah?" tanya Rendi
"Tidak. Sudah, aku tutup dulu" ucap Kevin lalu mematikan teleponnya.
Kevin menarik nafas pelan, dia berpikir siapa yang datang mencarinya, apakah ada suatu hal yang penting pikirnya. Di tengah-tengah pikirannya yang beradu, tiba-tiba handphonenya berbunyi
"Hallo" sapa Kevin
__ADS_1
"..... ....." suara seseorang di seberang sana yang tidak lain adalah Miko
"Bagaimana bisa seperti itu?" tanya Kevin dengan mata membulat
"..... .... ...." jelas Miko
"Oke, secepatnya saya akan kesana dan mengurus masalah ini" sahut Kevin
Panggilan pun terputus, Kevin mengusap kasar wajahnya. Dia kemudian berdiri dan menuju kamar. Kevin melihat Risa yang sedang berbaring, hati Kevin yang sedang kesal perlahan mulai merasa tenang.
"Sayang, makan dulu yuk" ajak Kevin pada Risa lalu membantu Risa untuk duduk
"Ada masalah apa?" tanya Risa
"Apa?" tanya balik Kevin
"Aku tadi mendengar kamu bicara sama Miko di telepon" sahut Risa
Kevin mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Risa membetulkan posisi duduknya supaya bisa bersandar.
"Ada masalah di store, kontrak dengan Garmen Sandang Abadi tiba-tiba dibatalkan"
Risa mengerutkan dahinya, dia tau bagaimana perasaan Kevin saat ini. Dia juga tau betapa sayangnya Kevin dengan store, usaha kerasnya untuk mengembangkan store telah dilakukannya selama ini.
"Yang tenang yank, dan sabar ya. Aku yakin kamu akan bisa menyelesaikan masalah ini" ucap Risa menenangkan Kevin
Kevin tersenyum manis mendengar perkataan Risa. Dia tidak boleh lemah di hadapan perempuan ini. Dia sudah bertekad untuk selalu bisa membahagiakan Risa.
"Sekarang ayo kita makan dulu. Ujian hidup kita begitu berat, kita harus punya tenaga untuk mengatasi semuanya" lanjut Risa dengan senyum ceria
Kevin ikut tersenyum, kemudian dia memeluk erat tubuh Risa. Betapa tidak hancur hati Kevin, setelah kehilangan calon anaknya kini masalah baru muncul lagi.
Kevin dan Risa menuju ruang makan. Setelah menyelesaikan makanannya Kevin pamit untuk pergi ke store
__ADS_1
"Aku pergi dulu ya, aku usahain cepat pulang. Jaga diri baik-baik, kalau butuh apa-apa bilang saja ke bi Nuri" ucap Kevin lalu mencium kening Risa
"Kamu tidak perlu khawatirkan aku yank. Segera selesaikan semuanya dengan baik, dan hati-hati di jalan" sahut Risa sambil mencium punggung tangan Kevin
Kevin masuk ke mobil dan mengemudikan mobilnya. Perlahan mobil Kevin hilang dari pandangan Risa. Risa kemudian masuk ke rumah dan beristirahat kembali
Setelah sampai di store, Kevin menghampiri Miko dan Dina yang sedang sibuk dengan laptop dan beberapa berkas di hadapannya.
"Tolong bawakan berkasnya ke ruangan saya" pinta Kevin pada Miko
Miko kemudian masuk ke ruangan Kevin dengan membawa berkas yang diminta Kevin
"Suruh Dina lihat koleksi di Garmen Pure Tekstil" ucap Kevin pada Miko
Miko segera keluar dan menyampaikan pesan dari Kevin. Sedangkan Miko kembali masuk ke ruangan Kevin
"Apa yang dikatakan Rendi ketika kamu ke Bandung kemarin tentang kontrak ini" tanya Kevin sambil melihat-lihat berkas
"Pak Rendi tidak berkata banyak, beliau mengikuti bagaimana keputusan kita" jelas Kevin
"Lalu dengan direktur Gunawan?" tanya Kevin lagi
"Beliau sangat setuju dan senang waktu itu. Tapi tidak tau kenapa tiba-tiba beliau membatalkan kontrak" jelas Miko
Kevin berpikir sejenak
"Tolong atur pertemuan antara aku dengan direktur Gunawan" pinta Kevin
"Maaf pak, bapak harus melihat ini" ucap Miko lalu mengambil sebuah berkas
Miko memperlihatkan sebuah berkas. Mata Kevin membulat dengan apa yang dilihatnya. Mulutnya ternganga dan tidak percaya dengan berkas yang ditunjukkan oleh Miko.
Kepala Kevin sangat berat, nafasnya sesak sekali. Tubuhnya bersandar lemas di kursi kerjanya. Matanya terpejam dan pikirannya melayang jauh.
__ADS_1