
Dani duduk di samping mamahnya. Keringat dingin muncul di dahinya. Sepertinya benar kata Rida, dia tidak akan pernah bisa menyembunyikan kebohongan pada mamahnya. Dani menggigit bibir bawahnya. Bersiap mendengarkan pertanyaan mamah Yuli.
Mamah Yuli menutup majalahnya. Mematikan televisi yang sedari tadi menyala. Mulai bertanya tentang keadaan Aidha dan Salwa saat ditinggal di rumah Disa. Dani tidak bercerita banyak karena dia hanya menitipkan pada Disa dan langsung pulang.
"Kenal Disa di rumah ini atau sebelumnya sudah kenal, Dan?" tanya Mamah Yuli menatap netra putranya.
Dani menyeringai, "Dani pernah ketemu di kantor. Waktu itu dia ngurus berkas PPG."
"Lalu Disa kehilangan jilbabnya?"
Dani mengangguk, "Siapa yang membayar jilbab itu?" tanya mamah Yuli lagi.
"Dani, Mah. Uang yang Dani berikan beberapa waktu lalu itu lho," jawab Dani jujur.
"Kenapa kamu begitu peduli dengan Disa?" cecar mamah Yuli.
"Aku cuma membantu orang yang kesusahan, udah itu aja."
"Yakin?" Dani mengangguk ragu.
"Terus kenapa tadi kamu peduli sekali dengannya? Panikmu itu, lho. Persis seperti saat Inaya tidak bisa melihat bentuk pepaya."
Dani hanya diam. Tidak bisa menampik ucapan mamahnya. Sikapnya tadi benar-benar menjelaskan apa yang sedang terjadi terhadap tubuhnya. Mamah Yuli semakin mendesak anaknya untuk bercerita.
Tapi Dani tetap diam. Dia berpikir bukan sekarang waktu yang tepat untuk cerita pada mamahnya. Cukup Rida yang tahu isi hatinya saat ini. Mamah Yuli berdahem membuat lamunan Dani buyar.
"Mamah tahu apa yang sedang kamu rasakan. Mamah tahu yang sedang kamu pikirkan. Raut wajah, sorot mata, dan bahasa tubuhmu menggambarkan yang sedang terjadi sama kamu dan hatimu, Dan. Apakah tebakan wanita tua ini benar?" tanya Mamah Yuli.
Dani menoleh ke arah mamahnya. Tanpa jawaban yang keluar dari mulut Dani, mamah Yuli sudah tahu. Anaknya sedang mengalami kekaguman terhadap seseorang. Tapi ia sangat yakin, rasa itu bukan hanya kagum semata, melainkan jatuh cinta.
"Dani masih belum yakin akan hal itu, Mah." Dani menatap kosong meja kaca di depan matanya.
__ADS_1
"Akhirnya! Sebuah pengakuan dari Muhammad Ardani terucap! Jujur Dan, Mamah senang!"
"Mamah ..., biarkan Dani memastikannya terlebih dahulu."
"Buru-buru dilamar kalau memang cinta! Kemarin Mamah sempat tanya, dia sudah punya tunangan atau belum? Dia jawab belum, tapi ada yang sedang dekat dengannya, sampai sekarang belum melamar. Kesempatan emas jangan dilewatkan, Dan!"
Dani tertawa sambil mengusap wajahnya. Mamah dan adiknya yang nomor dua memang seperti penyidik. Benar-benar teliti saat sedang berhadapan dengan tersangka. Berkelit seperti apapun dia akan kalah.
"Mohon do'anya ya, Mah. Semoga memang benar yang Mamah harapkan itu terjadi pada diri Dani. Insyaallah kalau memang ada kesempatan Dani jadikan dia mantu Mamah!"
Mamah Yuli tersenyum senang. Mencium kening putra sulungnya dengan bahagia. Wanita yang berhasil menggetarkan hati Dani sudah datang. Pertemuan yang tidak disengaja membuka kesempatan untuk menjemput kebahagiaan.
Dani sudah selesai salat isya' dan memilih langsung merebahkan diri di kasur empuk miliknya. Tidak berselera makan karena masih memikirkan sesuatu yang mengganjal di hatinya. Dia segera beristighfar, tidak seharusnya ia begitu antusias akan rasa yang belum sepenuhnya dipastikan.
Ponselnya berdering. Segera ia mengangkatnya, berpikir bahwa itu adalah putrinya. Namun dia salah, ternyata yang menelpon adalah Sita. Adiknya akan tiba besok dini hari dan minta tolong dijemput di depan SMA X.
"Dua penyidik aku hadapi hari ini, malah nambah satu lagi. Selamat, Dan! Setelah ini pasti mereka bertiga akan cerewet agar segera melamar Disa!" Dani tertawa sendiri membayangkan ketiga penyidik wanita akan bersemangat untuk mengulik ceritanya setiap hari.
***
Setelah merasa sudah cukup berkeringat, dia mampir ke rumah tetangga sekaligus sahabatnya, Reza. Pemuda yang usianya tujuh tahun di bawah Dani itu sedang asyik mencuci motor. Dani meminta dibuatkan kopi oleh sang pemilik rumah. Membuat Reza kesal akan sikap sahabatnya ini.
"Udah tahu aku belum punya bini, masih saja minta bikinkan kopi tiap minggu!" ucap Reza sambil masuk ke dalam rumah.
Dani hanya tertawa. Menunggu kopi terhidang di meja. Sita kebetulan lewat dengan membawa cakwe dan odading. Ia memalak adiknya untuk memberikan padanya. Berteriak pada pemilik rumah untuk sekaligus membawa piring.
"Nih bawa aja, aku bisa beli lagi. Buruan diterima!" Sita menyodorkan kresek berisi makanan itu.
"Ngapain buru-buru sih, Ta? Nggak pengen nyapa si Reza dulu? Nyesel lho nanti!" goda Dani pada adiknya.
Reza mengernyitkan dahi ketika melihat sosok wanita berdiri di depan gerbang rumahnya. Wajahnya bersungut-sungut kesal akibat ulah Dani. Saat sudah berada di teras baru dia tahu siapa wanita itu. Ia meletakkan kopi untuk Dani dan membuka gerbang lebar-lebar untuk perempuan berjilbab coklat itu.
__ADS_1
Suasana menjadi canggung bagi keduanya. Dani menikmatinya dengan menyeruput kopi panas itu. Tersenyum di balik cangkir yang menutupi wajahnya. Tidak ada yang memulai obrolan terlebih dahulu.
"Ehm ..., Assalamu'alaikum adikku yang manis? Kapan pulang?" tanya Dani seakan tidak tahu Sita pulang.
Sita dan Reza menoleh ke arah Dani. Ingin rasanya wanita itu menimpuk kepala kakaknya dengan sandal jepit. Apa kakaknya terkena dimensia akut hingga lupa siapa yang menjemputnya dini hari tadi? Reza mengucapkan salam untuk menyapa Sita.
Menyuruhnya untuk masuk, tapi ditolak oleh Sita. Wanita itu menyodorkan kresek yang diminta Dani tadi, tapi Reza enggan mengambilnya. Ia menyuruh Sita untuk menghidangkannya sendiri di meja. Berpura-pura kembali mencuci motor.
Sita langsung meletakkan kresek itu dan pamit pulang. Niatnya untuk memakan cakwe dan odading batal. Perasaanya sedang kalang kabut karena bertemu dengan Reza. Ada apa diantara mereka?
Kenapa seperti ada hal yang belum tuntas dari diri mereka? Setelah memastikan Sita menghilang, Reza duduk menghampiri Dani. Melihat isi kresek itu dan mengambil satu buah cakwe. Menggigit dan mengunyah dengan perlahan.
"Kapan dia balik?" tanya Reza.
"Tadi jam tiga pagi sampai. Jangan sia-siakan kesempatan! Mumpung orangnya balik, nih!" jawab Dani.
"Dia balik berapa hari doang?" tanya Reza lagi.
"Nggak tahu, tanya sendiri sama orangnya. Siapa tahu memang udah nggak balik lagi kesana," ujar Dani.
Reza menyalakan satu batang rokok dan menghisapnya. Tidak ada obrolan dari keduanya. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga Reza memberanikan diri meminta nomor ponsel Sita pada Dani.
"Mumpung ada orangnya, minta sendiri," jawab Dani enggan memberikan nomor adiknya.
"Sebenarnya udah punya sih, minta sama Arsya dan Rida. Ha-ha-ha. Dia sekarang sama siapa, Mas?" tanya Reza pada akhirnya tidak tahan.
Dani kembali menyeruput kopinya. Memakan odading satu buah. Reza menunggu jawaban Dani agar rasa penasarannya sedikit terobati.
"Main ke rumah, gih! Ngobrol sama dia dan mamah lebih enak. Aku pamit, Za. Makasih kopinya."
***
__ADS_1