
Dani memakai seragam dinasnya dengan hati riang. Senyum merekah seperti mawar yang berkembang. Hatinya bagai ditanami petasan yang siap untuk meletup ketika sumbunya disulut. Itu berkat tugasnya hari ini. Yang akan mempertemukannya kembali dengan wanita pemikat hati.
Dia akan menggunakan kesempatan itu dengan sebaik mungkin. Karena dia sadar, tidak mudah untuk bertemu dengan Disa. Wanita itu selalu menjaga marwahnya. Membuatnya juga sungkan untuk bertemu tanpa alasan yang kurang kuat.
Kini ia memiliki dua alasan utama jika ingin bertemu dengan Disa. Yang pertama adalah para putrinya, dan kedua karena PPG Disa. Selain dua alasan itu, sudah bisa dia pastikan bahwa sulit untuk bertemu. Parfum wangi sudah disemprot ke leher dan pergelangan tangan. Berputar satu kali di depan cermin dan tersenyum lagi.
"Disa, I'm coming ..., hi-hi-hi," ucapnya sambil cekikikan.
Dani segera bergegas turun dan menyapa semuanya. Sita melihat ada aura berbeda yang memancar dari kakak sulungnya itu. Aura positif yang membuat semuanya menjadi ikut bahagia. Hingga Aidha yang masih kaku terhadap papahnya, kini mulai menghangat.
"Pagi, Pah!" ucap Aidha sambil mengoles selai nanas ke permukaan roti.
Semua menoleh ke Aidha. Tidak biasanya dia menyapa dengan lembut papahnya. Ada apa ini? Dani sampai tergagap menjawab sapaan putri sulungnya.
"Pa-pagi Mbak Aidha, ada ..., apa?" tanya Dani terbodoh.
"Ha? Nggak papa, cuma nyapa aja. Kata U-ust kita harus mengeratkan silaturahmi agar umur kita panjang dan rezeki kita lapang. Aidha belum siap kalau dipanggil sama Allah, bekal Aidha ke akhirat belum cukup, Pah. Aidha juga nggak mau masuk neraka karena memutus silaturahmi." Aidha tidak berani menatap mata semua orang yang melihatnya dengan tatapan haru.
Dani bangkit dari duduknya. Lalu memeluk Aidha. Entah apa yang harus dia berikan untuk Disa. Wanita itu benar-benar luar biasa. Dia mampu membuat keras hatinya Aidha melunak.
Wanita yang mampu memberikan kasih sayang dengan sangat tulus, meski bukan pada anaknya sendiri. Dani ingin segera bertemu dengan Disa dan mengucapkan terima kasih. Mamah Yuli sampai menitikkan air mata mendengar ucapan Aidha. Sita mencoba mencairkan suasana haru itu.
"Ehem ..., tahu gitu dari dulu aja ust Disa jadi guru ngaji kalian. Aidha udah ketemu sama pawangnya, sama kayak bapaknya!" ucap Sita.
Dani membesarkan bola matanya. Tidak bisa sekali Sita menahan mulutnya. Ia takut jika Aidha salah paham lagi. Membuat hubungan mereka kembali merenggang.
__ADS_1
Sita hanya menyeringai. Mereka sarapan dengan hati bahagia. Pagi yang sangat hangat, karena banyak energi positif yang tersebar. Aidha tetap tidak ingin diantar oleh papahnya. Dia ingin naik sepeda sendiri.
"Salwa diantar tante Sita aja ya, sekalian ngantar jilbab pesanan temennya Mbah." Mamah Yuli mencoba membujuk Salwa.
Salwa mengangguk, "Iya, tapi bilangin sama tante, naik motornya jangan kayak kura-kura dong! Bisa telat Salwa!"
Semuanya tertawa. Sita memang tidak pernah naik motor dengan kecepatan di atas tiga puluh kilometer per jam. Itu karena sewaktu SMP pernah jatuh bersama Fikri. Ya namanya anak remaja, ingin mencoba hal seru. Baru bisa naik motor sudah gaspol saja.
Setelah sarapan usai, mereka pergi ke tujuan masing-masing. Hanya tinggal ART yang ada di rumah. Sita melewati rumah Reza. Tidak sengaja membuat mereka berpapasan. Reza langsung mengerlingkan matanya dan tersenyum menggoda.
Salwa yang melihat hal itu menggoda keduanya. Tertawa dari belakang karena lucu melihat tantenya yang kaku.
"Ih, Tante! Disapa Om Za tuh, balas dong! Kapan lakunya kalau sama cowok kaku begini?" ucap Salwa seperti paham betul dengan kisah asmara.
"Ih, adik kecil sok deh! Siapa yang ngajarin begitu?" balas Sita tidak terima.
Sita menggelengkan kepalanya. Mamahnya perlu diperingatkan. Salwa tidak tepat jika ikut menonton sinetron. Itu akan membuat jiwanya dewasa sebelum waktunya.
"Tante bilangin ke papah lho kamu, Dik!" ancam Sita.
Salwa tertawa, "Ya setidaknya saling sapa gitu sama Om Za. Kasihan tahu! Tiap hari nanyain kabar Tante lewat mbak Aidha."
Sita teringat beberapa bulan terakhir. Aidha memang selalu menanyakan kabarnya. Dia tidak berpikir sejauh itu, bahwa Reza yang menanyakan kabar. Hati Sita semakin senang karena ketidakhadirannya membuat Reza mencarinya.
Salwa sudah sampai di sekolah. Disa melambaikan tangan pada Sita. Mereka berbincang sebentar lalu Sita pamit. Salwa langsung masuk ke dalam kelas. Tidak lama bel sekolah berbunyi. Membuat para siswa dan guru untuk memulai aktivitas belajar mengajar.
__ADS_1
***
Dani sedang rapat bersama kepala dinas. Mereka sedang membahas sekolah yang akan mengikuti jambore nasional di kabupaten Semarang. Dani bertugas untuk mendampingi para sekolah yang telah dipilih dalam event akbar itu. Surat sudah diterbitkan dan siap dikirim ke masing-masing alamat.
Selesai rapat, Dani meminta surat untuk SD X. Dia sendiri yang akan mengantarkannya ke sana. Dia merapikan penampilannya sebelum meninggalkan ruangannya. Reza menggoda dirinya saat dia melintas di ruangan. Membuat pipinya merah merona lagi. Sebagian temannya bersorak bahwa dia sedang mengalami puber kedua.
Dani mengarahkan mobilnya ke arah SD X. Tidak begitu jauh dari kantornya. Setelah sampai, dia langsung memberikan surat itu kepada kepala sekolah. Dan membuatnya berpapasan dengan Disa. Rasa canggung menyerang keduanya.
"Ehm ..., Assalamu'alaikum, Ust." Dani mencoba menyapa Disa.
Disa mengangguk, "Wa'alaikum salam, Pak."
Bu Repti, kepala sekolah SD X menerangkan bahwa nanti yang akan berangkat adalah siswa kelas enam. Tiga guru pendamping akan ikut dalam kegiatan itu. Bu Repti menunjuk tiga nama, yaitu pak Adi, bu Rifana, dan Disa. Dani yang mendengar hal itu tersenyum penuh kemenangan.
Dani juga menjelaskan titik kumpulnya di depan dinas pendidikan. Setelah melaksanakan tugasnya, kini dia memutar otak agar bisa berbincang dengan Disa. Dani bertanya tentang biaya pembayaran mengaji Aidha dan Salwa.
"Seikhlasnya, Pak. Saya tidak pernah mematok harga, kecuali nanti saat wisuda. Para santri diharuskan membayar biaya untuk piagam, selendang, seragam, dan rangkaian acaranya. Tapi untuk Aidha dan Salwa masih lama, Pak." Disa berjalan sejajar dengan Dani.
"Oh begitu, boleh minta nomor rekeningnya? Biar bulan ini saya transfer," kata Dani.
"Dititipkan ke bu Yuli atau Sita saja, Pak," tolak Disa halus.
Dani sudah tidak terkejut dengan penolakan Disa. Dia pasrah dan mengalah.
"Oke, saya titipkan ke mamah saja. Ust, terima kasih karena bisa menyentuh hati Aidha. Pagi ini saya disapa olehnya. Dan itu semua berkat Anda."
__ADS_1
Disa mengangguk dan tersenyum dalam tunduknya, "Sama-sama, Pak. Saya hanya menyampaikan apa yang agama kita ajarkan. Maaf saya harus segera mengajar. Assalamu'alaikum." Disa tidak menunggu jawaban salam Dani. Ia langsung melangkah pergi.
Suara Dani mencegahnya untuk berjalan, "Ah, saya lupa! Boleh minta nomor hape kamu?"