Pinangan Kedua

Pinangan Kedua
Pinangan Pertama


__ADS_3

"Yang sedang bertamu siapa, Mak?" tanya Dani.


"Abah Shodiqun dan keluarganya. Mereka datang untuk meminang Disa. Ini merupakan pinangan pertama yang datang untuk Disa. Do'akan supaya lancar hingga terjadi pernikahan ya, Nak?" pinta Mak Nur dengan senyum penuh harapan.


Bagaikan tersengat listrik, dada Dani langsung nyeri. Hampir saja kaki lelaki itu kehilangan tenaga untuk menyangga tubuhnya. Baru saja dia berjanji pada Disa bahwa akan segera datang bersama mamahnya, tapi malah didahului oleh orang lain.


Rida bisa membaca situasi yang ada. Mak Nur sepertinya sengaja memberitahu Dani siapa tamu itu. Dia tidak ingin kakaknya malu, segera wanita itu menepuk bahu Dani agar tersadar. Ia berpamitan pada Mak Nur.


"Kami do'akan semoga acaranya lancar, Mak. Semoga Ust Disa mendapatkan jodoh yang baik menurut Allah SWT, bukan menurut kita. Karena sejatinya, takdir selalu menang di atas segalanya. He-he-he. Kami pamit, Mak. Assalamu'alaikum." Rida langsung menarik tangan Dani ke arah mobil. Ucapan Rida mengandung makna terselubung. Hingga membuat Mak Nur sedikit kesal.


Mereka meninggalkan rumah itu dengan perasaan campur aduk. Bimbang, sedih, dan sakit berpadu menjadi satu. Dani hanya terdiam tidak tahu harus bersikap apa.


***


Abah Shodiqun dan istrinya, sangat tersanjung dengan sikap Disa. Wanita itu sangat sopan. Mampu menjamu tamu sesuai adabnya. Buk Yah menyuruh Disa duduk di sebelahnya.


Mak Nur mempersilahkan para tamu untuk menikmati makanan dan minuman yang sudah disediakan. Buk Yah menunjuk lelaki yang berada di samping abahnya. Itu adalah Aji. Pria itu hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Sudah saling kenal, kenapa masih malu-malu?" tanya Mak Nur. "Sa, Abah dan keluarganya nunggu kamu lama sekali."


"Disa minta maaf, Bah, Buk. Tadi saya sedang menolong murid yang tertimpa musibah. Maaf membuat semuanya lama menunggu."


"Tidak papa, Nduk. Malah kami bisa mencicipi makanan buatan ibumu dengan leluasa." Abah Shodiqun memaklumi kesalahan Disa.


Mereka bercengkrama dengan hangat. Hingga Abah Shodiqun mengutarakan maksud dan tujuannya datang ke Bonang. Pinangan pertama untuk Disa sudah di depan mata. Orang tua Aji sangat mengharap Disa menjadi menantu mereka. Mak Nur sangat senang jika hal itu terjadi.


Berbeda dengan kedua insan itu. Baik Disa maupun Aji tidak mengharapkan hal itu terjadi. Malah sebaliknya, mereka berharap perjodohan itu gagal. Dua anak manusia itu telah memiliki pandangan sendiri menentukan masa depan mereka.

__ADS_1


"Jadi bagaimana, Nduk? Kamu terima pinangan dari kami, kan?" tanya Abah Shodiqun terkesan tidak sabar.


Disa mengucap basmallah sebelum menjawabnya. Berharap ucapannya dapat dilancarkan dan dimengerti oleh semua orang. Mak Nur menginginkan anaknya menjawab seperti keinginannya. Namun, hal itu tidak terjadi.


"Bismillahirrahmanirrahim, Disa sangat berterima kasih sekali atas kehadiran Abah dan keluarga ke rumah kami. Sungguh tersanjung hati kami, gubuk sejelek ini dikunjungi oleh seorang kyai. Mengenai permintaan Anda, saya meminta waktu untuk memikirkannya. Saya butuh waktu agar mendapat petunjuk dari Allah SWT. Supaya bisa memberikan jawaban yang tepat nantinya." Disa menjawab dengan sangat hati-hati.


Mak Nur kurang setuju jika harus menunggu. Disa seperti mengulur waktu. Dia mencoba bicara pelan dengan anaknya. Namun, keputusan wanita itu sudah bulat. Ia perlu memohon petunjuk akan jalan jodohnya.


"Sa, kenapa mengulur waktu seperti ini?" tanya Mak Nur.


"Bukan mengulur waktu, Mak. Disa ingin meminta petunjuk dari Allah SWT. Aku tidak ingin salah langkah nantinya," ucap Disa membantah kalimat emaknya.


"Saya juga setuju sama Dik Disa, kami butuh waktu untuk meminta petunjuk dari Allah SWT. Mau kenal seperti apapun kalau bukan jodoh hanya akan menjadi pelengkap cerita, bukan?" Aji yang sedari tadi diam membela ide Disa.


Disa mengernyitkan dahinya. Aji setuju dengan idenya? Apakah dia juga tidak mengharap perjodohan ini? Entahlah, hati manusia tidak ada yang tahu.


Abah dan Buk Yah menyimpulkannya dengan proses ta'aruf. Disa dan Aji akan saling melakukan pendekatan secara islam. Mengenal kepribadian masing-masing sambil berikhtiar kepada Allah SWT.


"Baiklah, kalian ta'aruf saja dulu. Silahkan bertukan nomor hape sebagai sarana pendekatan. Kami harus menunggu berapa lama, Nduk?" tanya Buk Yah.


Disa sendiri bingung jika ditanya waktunya. Melihat wanita itu kebingungan memberi jawaban, Aji langsung mengeluarkan suara. Dia meminta waktu dua minggu untuk memberi jawaban atas perjodohan ini. Lalu meminta persetujuan pihak perempuan.


Disa mengangguk. Setuju dengan waktu yang diajukan oleh Aji. Mak Nur sangat tidak mengerti dengan jalan pikiran mereka berdua. Jelas-jelas keduanya sudah saling mengenal, tahu sisi baik masing-masing, kenapa mereka susah sekali untuk menyetujui perjodohan ini.


Pinangan yang harusnya sudah langsung mendapatkan jawaban itu malah menjadi abu-abu. Disa tidak enak hati jika langsung menolak. Dia memikirkan perasaan emak dalam hal ini. Tidak ingin membuat ibunya malu di depan keluarga Abah Shodiqun.


Setelah mendapat persetujuan untuk meminta waktu dua minggu, Disa pamit untuk membersihkan diri. Qiro'ah juga sudah mulai terdengar, membuat keluarga Aji segera pamit pulang. Di dalam mobil, Abah bertanya kenapa dia setuju dengan ide Disa.

__ADS_1


"Nggak papa, mencoba menyelamatkan Abah dan Umi saja dari kata malu untuk sementara waktu." Aji begitu sarkas mengucapkan kalimat itu.


"Maksud kamu?" tanya Buk Yah.


"Memang kalau ditolak kalian tidak malu? Kalau Aji pasti malu!"


Abah hampir saja kehilangan kesabarannya mendengar Aji bicara begitu. Buk Yah menengahi pertengkaran yang akan terjadi.


"Yakin sekali kamu, Ji. Malu untuk hal apa? Ditolak oleh Disa? Siapa yang membolak-balikkan hati? Allah, bukan?" ucap Buk Yah.


"Nah, itu tahu! Kenapa masih memaksakan kehendak juga, Mi?"


"Karena Umi yakin, hati kalian akan berubah. Pasti!"


Aji hanya menggelengkan kepalanya. Tidak ingin mendebat ucapan orang yang telah melahirkan dia. Pria itu sangat yakin Disa memiliki perasaan pada lelaki yang mengantarkan motornya, yaitu Dani.


Aji sangat yakin akan hal itu karena melihat sendiri sorot mata Disa saat melihat Dani. Dia memperhatikan hal itu dari nako yang terbuka. Pria itu masih ingat wajah Dani saat salat di kawasan pondok. Mobil melaju pelan meninggalkan rumah Disa.


Mak Nur tidak habis pikir dengan Disa. Bisa-bisanya anak itu mengulur waktu. Dia memaksa agar jawaban yang diberikan nantinya bukan penolakan.


"Itu hak Disa, Mak," ucap Disa menahan kesalnya. "Aku mengulur waktu demi Emak, agar apa? Agar Emak tidak malu di depan keluarga Abah Shodiqun."


"Lalu kalau besok jawabannya adalah penolakan, kamu pikir Emak tidak akan malu?"


Benar juga yang dikatakan emaknya. Disa terjebak sendiri dalam permainan ulur waktu ini. Bagaimana caranya agar dia bisa menolak pinangan Aji tanpa membuat emaknya malu? Entahlah, dia sendiri tidak tahu bagaimana caranya.


Disa tetap akan melakukan istikharoh untuk mendapatkan jawaban atas jalan jodohnya. Karena dia yakin, keputusan Allah adalah yang terbaik bagi semuanya. Ia mandi untuk menenangkan diri. Berharap setelah ini, kemarahan emaknya mereda dan tahu maksud hatinya.

__ADS_1


__ADS_2