
Disa merasa asing dengan pemuda yang memakai celana jeans warna biru terang, jaket parasut maroon, dan topi hitam. Lelaki itu mengaku sebagai om dari Salwa. Dia memang tahu adik Sita seorang lelaki, tapi tidak begitu mengenal wajahnya karena memang belum pernah bertemu.
"Saya mau menjemput Salwa," ucap lelaki itu.
"Siapa nama Anda, Mas?" tanya Disa sopan.
Pemuda itu tetap tampak tenang. Dia tersenyum dan menjawab penuh keyakinan. Membuat Disa menepis rasa curiga begitu saja.
"Fikri," jawab pemuda itu singkat.
Jawaban lelaki itu membuat Disa percaya bahwa itu adalah adik Sita yang bernama Fikri. Mungkin baru pulang dari pondok dan ingin menjemput Salwa, begitulah pemikiran Disa.
Dia segera memanggil Salwa menggunakan pengeras suara. Membuat gadis cilik itu menghampirinya. Respon yang ditunjukkan oleh Salwa begitu terkejut dan langsung sembunyi di balik badan Disa.
Disa keheranan melihat anak didiknya begitu. Aneh! Apakah respon seorang keponakan begitu takut melihat saudaranya sendiri? Meskipun mereka tidak pernah bertemu?
"Kenapa, Nduk?" tanya Disa memegang bahu Salwa.
Dia membaca gerak-gerik tubuh anak itu. Mata Salwa menghindar saat bersitatap dengan Disa. Yang mana bisa diartikan bahwa ada sesuatu yang disembunyikan anak itu. Tubuhnya gusar dan tangannya mengeluarkan keringat dingin.
"Dia mungkin kaget bertemu saya, Bu. Ayo, Sal, kita pulang. Om boncengin kamu pakai motor," ucap pemuda itu langsung meraih tangan Salwa. Lelaki itu adalah Ateng, keponakan Pak Kus.
Keduanya berjalan menjauh dari gerbang sekolah. Salwa menoleh dengan tatapan seperti minta pertolongan. Membuat Disa semakin tidak yakin bahwa itu adalah Fikri. Dengan cepat dia menghubungi Sita.
"Assalamu'alaikum, Ta," ucap Disa dengan nada khawatir.
"Wa'alaikum salam, Mbak Disa. Ada apa?" tanya Sita.
Dua detik kemudian dia berbicara lagi, "Astaghfirullah! Aku lupa nyuruh si centil jemput si bontot! Bentar, Mbak!"
Sita yang sedang zoom meeting langsung tersadar. Dia lupa belum memberitahu Rida untuk menjemput Salwa. Disa memotong ucapannya.
"Mbak mau tanya sesuatu, Fikri pulang dari pondok?"
"Ha? Fikri pulang? Nggak kok, mana bisa pulang dia. Kan belum waktunya," jawab Sita.
__ADS_1
"Innalillahi, Ta! Lalu tadi siapa yang menjemput Salwa? Dia mengaku sebagai Fikri! Mbak tutup, Ta! Assalamu'alaikum!" Disa langsung berjalan meninggalkan gerbang menuju parkiran motor.
Dia sudah sangat yakin pemuda itu bukan orang baik. Bagaimana keadaan Salwa? Dia sangat mencemaskan anak itu. Dengan langkah tertatih dia memaksakan diri.
Tidak mungkin meminta tolong guru lelaki karena hari itu jum'at. Pasti mereka akan bersiap untuk salat. Disa memacu motor mengejar pemuda itu dan Salwa.
"Ya Allah, lindungi kesayanganku ..., jaga dia untukku. Sabar ya, Nak." Disa celingukan mencari jejak pemuda itu.
Dia bertanya pada tukang becak, tapi mereka mengatakan tidak tahu. Mulutnya terus menggumamkan do'a. Ia memutuskan mengubah arah pencariannya. Menelusuri jalan lain di sekitar kawasan itu. Kanan kirinya sawah. Melihat sebuah motor yang berhenti di pinggiran.
Disa tidak tahu itu adalah motor pemuda itu atau bukan. Namun firasatnya mengatakan bahwa Salwa dekat dengannya. Dia memarkirkan kendaraan, langsung menelusuri.
"Innalillahi, Salwa!" teriak Disa melihat tubuh gadis cilik itu disentuh pemuda tadi.
Pemuda itu dan juga Salwa menoleh. Dilihatnya anak gadis itu menangis tanpa bisa berteriak. Salwa langsung mendorong tubuh Fikri palsu hingga jatuh di sawah. Salwa langsung berlari menuju arah Disa.
"Salwa takut, Ust ..., hu-hu-hu." Disa mendekap tubuh mungil itu. Air matanya menetes sedih melihat keadaan muridnya.
Disa menggandeng tangan Salwa dan berlari hendak menuju motor. Namun pemuda itu menghalangi langkah mereka. Kedua perempuan itu mundur dan balik badan. Dengan kaki yang masih sakit tidak memungkinkan Disa untuk berlari cepat.
"Sal, lari secepat yang kamu bisa. Minta tolong sama warga. Cepat, Nduk!" Disa melepaskan genggamannya.
"Ono opo, Nduk? Kowe bocah ngendi?" tanya seorang ibu yang sudah renta. (Ada apa, Nak? Kamu anak mana?)
"Mbah, tolong bantuin Salwa, hu-hu-hu. Guru Salwa dikejar sama mas-mas jahat disana! Tolong Mbah, tolong ..., hiks." Salwa menunjuk arah sawah.
"Innalillahi, bentar ya! Mbah panggilkan suami Mbah dulu! Pak ..., Pakne!"
Seorang lelaki tua dengan tubuh yang masih gagah keluar. Wanita itu menjelaskan kejadiannya. Lalu dengan cepat mengeluarkan sepeda ontel. Salwa membonceng di belakang. Mereka berangkat menuju sawah.
Wanita tua itu meminta tolong pada tetangganya agar membantu suami dan Salwa. Tiga orang pemuda langsung tancap gas menuju lokasi.
Disa terjerembab, kakinya tidak mampu lagi berlari. Nyeri hebat dia rasakan pada pergelangan kaki yang kesleo. Pemuda itu tertawa.
"Tidak dapat Salwa nggak papa, gantinya lebih cantik!"
__ADS_1
Jilbab Disa ditarik paksa oleh pemuda itu. Dia mencoba mempertahankannya. Hingga terjadi robekan. Ia berteriak meminta pertolongan.
Berharap Salwa berhasil mendapat pertolongan itu. Mulutnya masih berdo'a dengan cepat. Tangan pemuda itu mulai menyentuh kakinya. Dengan sekuat tenaga Disa menendang.
"Jan****!" Pemuda itu berkata kasar.
Pemuda itu berteriak kesakitan sambil memegangi dahinya. Ada yang bermain ketapel. Disa segera menoleh ke arah belakang. Salwa dan seorang lelaki paruh baya membawa ketapel.
"Alhamdulillah, ya Allah ..., pertolongan-Mu memang selalu datang disaat yang tepat!" Disa mencoba bangkit. Menjauh dari pemuda itu.
Beberapa pemuda bermotor datang membantu Disa. Menyuruh Salwa dan Disa naik. Mengamankan keduanya dari pemuda gila itu.
Setelah aman di rumah warga, Disa mencari ponselnya. Banyak panggilan tidak terjawab, salah satunya dari Riski. Mungkin emak yang menghubunginya. Dia membiarkan hal itu. Mencari nama Sita. Ada sekitar sepuluh kali panggilan tidak terjawab dari wanita itu.
Disa segera menghubunginya kembali. Meminta dijemput di lokasi yang disebutkannya. Mereka minum air putih untuk menenangkan diri.
Disa merapikan baju Salwa. Menangis dan merasa bersalah karena tidak langsung paham dengan bahasa tubuh anak itu. Entah bagaimana nasib muridnya jika sedetik saja dia terlambat datang.
"Maafkan Ust ya, Nduk. Nggak langsung paham saat kamu ketakutan. Yang sakit mana, Sayang?"
"Salwa mau pulang, Ust," rengek gadis cilik yang bernasib malang itu.
"Iya, kita pulang. Tunggu tante dulu, ya?"
Disa memeluk Salwa. Menyuruhnya duduk di pangkuan dan menepuk bahu gadis itu. Mungkin karena lelah, tubuh mungil itu tertidur.
Lelaki yang ada disana pamit karena harus salat jum'at. Tak lama Sita dan Rida datang. Sedih melihat keduanya.
"Tolong salah satu ambil motor aku di sawah sana. Kakiku sakit. Ini Salwa tidur bagaimana?" tanya Disa.
Rida menggendong Salwa ke mobil. Sedangkan Sita bersama wanita renta yang menolong Salwa, berlari mengambil motor Disa. Takut jika pemuda gila itu menghampirinya.
Mereka mengucapkan terima kasih pada warga yang membantu. Pamit pulang ke rumah. Salwa langsung ditidurkan di sofa ruang tamu. Dengan telaten Disa mengobati luka gadis kesayangannya.
***
__ADS_1
Ehm ..., kenapa othor ambil konflik ini? karena inilah yang sering terjadi di masyarakat. Hanya ingin berbagi cerita bahwa, penting mengenalkan anak untuk mengenali tubuhnya sendiri. Bagian mana saja yang tidak boleh disentuh kecuali oleh orang tua dan juga dokter.
Jika anak laki-laki usahakan ayahnya terlibat saat memandikan atau mengganti baju. Jika perempuan maka ibu harus terlibat disini. Itulah yang diajarkan para ulama pada kita. Bukan saya mengada-ada, tapi ini fakta yang terjadi di masyarakat.