Pinangan Kedua

Pinangan Kedua
Lamaran Dadakan


__ADS_3

Riski mencoba tersenyum pada Dani saat mereka berpapasan. Namun, wajah sang duda sedang kalut. Ada emosi yang dia tahan sampai membuat aura tubuhnya menjadi suram seketika. Padahal, saat berbicara dengan Disa, pancaran kebahagian sangat terasa mengelilingi tubuh lelaki itu.


Riski juga menyapanya, tapi tidak ada sahutan. Membuat pemuda itu sangat yakin bahwa ibunya sudah keterlaluan. Perlu sebuah teguran agar tidak berlarut-larut. Dia mendekati emak dan protes akan sikapnya.


"Mak, kenapa bersikap sekeras ini sama pak Dani? Memang salahnya dia apa sih, Mak? Kok kayaknya benci banget sama beliau. Padahal beliau baik lho. Coba diingat lagi siapa yang menolong mbak Disa saat kehilangan jilbab? Jatuh dari motor? Bisa nggak sih, Mak itu lebih menghargai jasa bapaknya Salwa? Kasihan tahu, Mak." Riski geram dan akhirnya mengungkapkan uneg-unegnya.


"Kamu kenapa malah membela pak Dani, Ki? Emak begini juga ada alasannya. Ada hal yang membuat Emak tidak suka dengannya!" jawab Emak sambil melotot.


"Ya apa alasannya, Mak? Bukannya dulu Emak biasa saja saat mereka berkunjung ke rumah kita?" tanya Riski.


"Sok tahu."


"Riski tahu dari mas Wakhid. Mak, tolong jangan mempermalukan mbak Disa dan diri Emak sendiri. Takut jika nantinya kita memang butuh pertolongan dari keluarga pak Dani." Riski masih gencar mengingatkan emaknya.


Mak Nur hanya terdiam. Entah apa yang sedang menggelayuti pikiran emak, hingga sampai hati begitu kasar dengan Dani. Riski sudah berada di atas motornya, menyuruh ibunya segera naik.


***


Dani meneguk air dalam gelas sampai tidak bersisa. Ada yang membakar hatinya. Dia mencoba meredam amarah yang ada. Mamah Yuli yang sedang membantu Mbok Yem mempersiapkan jamuan untuk menyambut keluarga Reza, heran dengan anaknya.


"Kenapa, Dan? Sepertinya kamu sedang menahan marah, ada apa?" tanya Mamah Yuli.


Dani hanya tersenyum dan menggeleng. Dia menyembunyikan hal itu dari mamahnya. Tidak ingin menceritakan sesuatu yang membuat hatinya memanas. Hari ini adiknya yang nomor tiga, akan didatangi oleh orang tua lelaki yang dicintainya.


Dani tidak ingin mengacaukan peristiwa yang penting itu hanya karena sebuah ucapan. Dia duduk dan memakan buah pisang. Mamah Yuli menunggu anaknya bercerita, tapi hal itu tidak terjadi juga. Memilih kembali memasak bersama Mbok Yem.


Dani mencari keberadaan anak-anaknya. Ternyata mereka semua sedang berkumpul. Arsya mendekati kakak iparnya dan tersenyum penuh arti.

__ADS_1


"Apa? Kenapa senyam-senyum nggak jelas begitu?" tanya Dani sedikit sewot.


"Ih, galak amat sih, Mas! He-he-he. Boleh minta tolong?" tanya Arsya.


"Apa? Nitip Andra?" tanya Dani. Arsya langsung mengangguk. Pasangan suami istri itu langsung memijit tangan dan kaki Dani agar mau dititipi Andra.


Dani menggeleng. Dia hanya bingung jika Andra menangis. Bagaimana jika meminta minum? Atau membersihkan popoknya? Ia sudah lupa caranya.


"Makanya biar nggak lupa diulang lagi pelajaran ngurus bayinya, siapa tahu nanti nikah sama Ust Disa langsung dapat momongan. Ya, Mas?"


Aidha langsung menjawab setuju. Membuat Dani berdecak kesal. Tidak bisa sekali si sulung bekerja sama dengannya. Rida dan Arsya berjanji akan menidurkan Andra sebelum berangkat. Sang kakak hanya bisa pasrah.


"Ta, sekitar jam berapa keluarga Reza sampai?" tanya Dani.


"Ba'da maghrib, Mas." Sita menunjukkan maps dimana Reza berada. "Dia lagi perjalanan ke Kudus."


"Nggih, Mas," jawab Sita sembari menyeringai.


Ba'dha maghrib pintu rumah keluarga Rahmadi terbuka lebar. Menunggu tamu yang dinantikan datang. Sita sudah berdandan rapi dan anggun. Salwa ditemani Aidha dan bermain ponsel bersama. Arsya sudah menunggu di depan bersama Andra. Mamah Yuli dan Dani sudah siap menyambut keluarga Reza.


Setelah menunggu sekitar lima belas menit, akhirnya keluarga Kusno datang. Namun, mengejutkan sekali bagi keluarga Rahmadi. Pasalnya, rombongan yang dibawa berjumlah sekitar dua pulug orang. Mamah Yuli dan Dani langsung panik.


"Piye iki, Dan? Mamah masak mung sithik, nek kurang lha ngisin-ngisini ...," ucap Mamah Yuli yang memikirkan urusan perut. (Gimana ini, Dan? Mamah masak hanya sedikit, kalau kurang lha malu-maluin ...,)


"Belikan lamongan aja gimana, Mah?" tanya Dani.


Mamah Yuli awalnya tidak setuju. Dia tidak mau dianggap tidak persiapan. Namun, jika saran Dani tidak dilaksanakan maka keluarga mereka malah semakin menanggung malu.

__ADS_1


Akhirnya dia setuju dengan ide Dani. Mbok Yem diutus oleh majikannya untuk membeli makanan di warung lamongan. Mereka menyambut hangat keluarga Kusno. Mempersilahkan masuk dan duduk lesehan.


Papi Kusno meminta maaf pada Dani karena tidak memberi kabar jumlah orang yang ikut. Semua rombongan itu adalah saudara dari Reza. Mereka senang akhirnya si bujang lapuk mereka membawa calon istri ke rumah.


"Oalah, nggak papa, Pak. Tapi, kami juga minta maaf karena tidak ada persiapan. Kami kira hanya tiga orang, eh tahunya malah enam kalinya." Dani dan Pak Kusno terkekeh.


Perwakilan keluarga dari keluarga Kusno menyampaikan maksud kedatangannya. Malam ini, terjadi lamaran dadakan. Karena awalnya, keluarga Kusno hanya akan mengetuk pintu atau dalam adat jawa dinamakan ndhodhok lawang sebelum proses lamaran.


Dani menyambut baik maksud kedatangan keluarga Kusno. Bahagia sekali mendapatkan calon besan yang memiliki hati tulus. Mampu menerima kekurangan adiknya.


"Saya panggilkan adik saya dulu, biar dia yang menjawab lamaran dadakan dari Kakanda Reza," ucap Dani membuat semuanya terkekeh.


Rida memanggil Sita. Dua keponakan cantik itu mengiring langkah Sita di sisi kanan dan kiri. Turun dengan langkah anggun hingga semua mata terpesona padanya. Sita menyalami Mami Farah dan Papi Kusno.


Dia diperkenalkan pada semua saudara Reza. Semua menyambut hangat dirinya.


"Ta, malam ini kamu dilamar sama Reza. Bagaimana perasaanmu? Dan jawaban apa yang akan kamu sampaikan pada mereka?" tanya Mamah Yuli.


Sita terkejut, "Ha? Bukannya malam ini hanya perkenalan dua keluarga saja, Mas?" tanya Sita pada Reza.


"Awal rencana gitu, tapi mereka maksa suruh sekarang. Takut kalau kamu dicomot sama buaya lain, jadi bujang lapuk lagi dong nanti anak Mami," jawab Mami Farah cepat. Reza hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Semuanya tertawa mendengar hal itu. Sita malah menjadi gugup. Tidak menyangka akan secepat itu proses menemukan jodohnya. Dengan mengucap basmalah, dia menjawab khitbah yang datang malam ini.


"Bismillahirrahmanirrahim, saya terima khitbahmu, Mas. Saya terharu sekali, karena semuanya menerima saya dengan hangat. Terima kasih pada Mami dan Papi yang telah melahirkan seorang lelaki yang mampu membuat saya jatuh cinta berkali-kali padanya. Sosoknya dewasa, penyabar, penyayang, dan lembut membuat saya jatuh hati padanya. Mas Za, terima kasih karena memilih saya untuk dijadikan calon istri. Saya tidak semulia Khadijah, setaqwa Aisyah, setabah Fatimah, sekaya Balqis, maupun secantik Zulaikha. Saya hanya wanita di akhir zaman yang memiliki cita-cita untuk menjadi istri solehah. Jadi Mas Za, tolong bimbing aku untuk meraih cita-cita itu." Sita mengucapkan kalimat panjang itu dengan menangis haru.


Reza juga menangis mendengar jawaban dari sang pujaan hatinya. Dani menyalami Reza dan memeluknya. Haru mendominasi suasana itu. Acara dilanjutkan dengan penentuan tanggal pernikahan dan makan malam.

__ADS_1


Karena lamarannya mendadak, maka semua serba mendadak.


__ADS_2