Pinangan Kedua

Pinangan Kedua
Melamar atau Mundur?


__ADS_3

"Aidha tidak melarang Papah menikah lagi."


Dani bagaikan mendapat suntikan semangat. Ketakutannya langsung sirna ketika ucapan itu terdengar tulus dari mulut Aidha.


"Mbak Aidha yakin dengan hal ini? Tidak masalah jika Papah menikah lagi?" tanya Dani.


Aidha mengangguk, "Papah butuh teman hidup untuk berbagi. Aidha dan Salwa merindukan sosok ibu dalam keseharian kami, Pah. Apalagi untuk Salwa, pernah kemarin waktu main di rumah u-ust. Dia lihat mbah Nur dan u-ust bercanda dengan hangat. Sampai dia bilang, enak ya punya ibu? Apa cuma Salwa aja yang ditakdirkan nggak punya ibu?"


Dani salah besar dengan anak sulungnya. Di balik sikapnya yang cuek, pendiam, dan dingin, ternyata Aidha begitu menyayangi Salwa. Hingga mengingat setiap hal tentang adiknya.


"Ada syarat yang harus Papah penuhi jika ingin menikah lagi," ucap Aidha yakin.


"Apa, Mbak?"


***


Angin segar berhembus menelisik masuk ke kamar Dani. Segera dia bergegas bangun, mengambil air wudhu, dan menggelar sajadah. Bisikan yang didengar membuat Dani yakin, bahwa dia harus melakukan sesuatu untuk mendapat jawaban atas rasa yang sedang berkecamuk dalam hatinya.


Jawaban Aidha semakin memantapkan niatnya untuk meminang wanita yang mampu mendobrak pintu hati. Bahagia sedang bergelayut dalam diri Dani, karena rintangan terbesarnya berhasil ia luluhkan.


Empat raka'at salat tahajud sudah selesai Dani tunaikan. Dia berdzikir untuk menenangkan hati. Mengingat bahwa yang pantas mendapatkan cintanya adalah Allah SWT. Syarat yang diajukan oleh Aidha membuatnya tersadar bahwa ia hanya perlu mendekatkan diri pada Allah SWT.


"Aidha dan Salwa yang akan memilihkan calon pendamping untuk Papah. Tapi tolong bantu kami, dekati dulu yang sebenarnya memiliki hati kita. Agar yang nantinya kami pilihkan adalah terbaik untuk semua."


Ya, Aidha memang sangat benar. Entah darimana gadis remaja itu tahu tentang kata-kata itu. Apakah Disa juga yang memberitahu mereka? Obrolan mereka luas sekali, hingga membahas tentang pemilik hati yang paling mutlak.


Dani menengadahkan tangan ke arah atas. Memejamkan mata, bibirnya bergetar. Di sudut netra ada buliran bening yang keluar dan mengalir ke pipi. Dia menangis saat meminta diberikan yang terbaik untuk jalan hidupnya.


Obrolan dengan Aidha melintas dengan jelas. Putrinya itu meminta dia untuk menikahi seorang wanita. Seorang muslimah dengan hati yang lembut, sayang kepada kedua putrinya, baik hati pada setiap orang yang bahkan menyakiti dirinya.


"Aidha minta sama Papah, tolong jadikan ustazah Disa sebagai ibu sambung bagi kami."

__ADS_1


Dani hanya bisa berpasrah pada Allah SWT. Memohon agar ada takdir baik untuk dia dan Disa. Berharap wanita itu juga menyambut cintanya. Menjadi ibu sambung untuk Aidha dan Salwa.


Dani merasa matanya ingin terpejam. Dia memilih merebahkan dirinya di atas sajadah. Sungguh tenang hati dan pikirannya sekarang.


Sita sedang asyik memasak sarapan dengan mbok Yem di dapur. Mamah Yuli sudah tampil cantik dan terlihat menenteng tas besar. Aidha langsung mengambil tas itu dari tangan neneknya. Ya, mamah Yuli akan pergi untuk tiga hari.


"Mbah, nanti pulangnya belikan oleh-oleh dari Madura, ya?" pinta Aidha.


"Minta apa?" tanya mamah Yuli.


Obrolan terhenti saat Sita menghidangkan nasi uduk dengan tahu, tempe, dan ayam goreng. Aroma makanan yang menggoda membuat semuanya langsung menuju meja makan. Semua berkumpul, tidak ketinggalan Arsya dan Rida yang datang pagi-pagi sekali.


"Siapa yang masak, nih?" tanya Dani dan Rida bersamaan.


Sita unjuk jari, membuat mereka berdua tidak percaya.


"Serius aku yang masak, tanya sama mbok Yem! Resepnya dari calon kakak ipar!" ucap Sita.


Mamah Yuli, Arsya, dan Rida langsung melotot ke arah Sita. Mulut dia memang perlu diberi lem tikus. Agar tidak ember kemana-mana. Tidakkah dia lebih bisa mengkondisikan ucapannya? Ada Aidha dan Salwa disana. Tapi, Dani merasa santai saja.


"Ngomong aja kali, Te. Aidha udah tahu kok. Tinggal minta persetujuan ke Salwa aja sih, tapi aku yakin dia pasti setuju. Sal, kamu mau nggak kita punya ibu sambung?" tanya Aidha.


Salwa langsung mengangguk. Dia menghentikan makan dan meminum air putih. "Tapi Salwa cuma mau ust Disa yang jadi ibu. Nggak mau yang lain! Apalagi kalau tante Ambar! Ogah!"


Dani tetap tenang dan melanjutkan makannya. Tidak memedulikan setiap pasang mata yang memandang. Sita menendang kaki kakaknya, tetap saja tidak ada respon. Bergaya sekali duda satu ini.


"Dan ...," panggil mamah Yuli.


"Dalem, Mah." Dani tetap menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.


Sita dan Rida hendak memaksa kakaknya. Tapi mamah Yuli mencegah mereka. Isyarat mata mamah Yuli mengatakan agar keduanya tetap tenang. Dani menyuapkan nasi terakhir ke dalam mulutnya. Lalu meminum air putih.

__ADS_1


"Alhamdulillah ...," ucap Dani bersyukur atas makanan yang masuk ke dalam mulutnya.


"Adabnya makan ya dihabiskan dulu, jangan disuruh cerita. Buruan pada makan!" perintah Dani.


"Nasi kami masih panas, buruan cerita ada apa ini sebenarnya?" Mamah Yuli mendesak Dani agar segera bercerita.


Dani memberikan kode bagi Aidha. Menyuruh anak sulungnya itu bercerita. Semua mendengarkan dengan antusias. Dani hanya tersenyum melihat ekspresi bahagia bercampur kagum yang ditunjukkan oleh keluarganya.


Mamah Yuli, Rida, dan Sita menghujani Aidha dan Salwa ciuman di kening dan pipi. Sungguh bersyukur dengan pemikiran kedua gadis itu. Dani berdahem agar semua tetap tenang. Dia akan memberitahu sesuatu yang menurutnya sangat penting.


"Kemarin waktu Dani dan Sita mengantarkan Disa pulang ke rumah, mak Nur bicara empat mata sama aku, Mah. Aku nggak bisa menafsirkan beliau itu menyuruh aku melamar Disa atau sebuah peringatan untuk menyuruhku mundur. Kata-kata beliau sungguh bermakna dalam." Dani menunggu seseorang bertanya.


"Memang kemarin mak Nur ngomong apa, Mas?" tanya Sita.


"Beliau itu seakan mengingatkan posisiku. Aku ini seorang duda, dengan dua anak gadis. Jika ingin menaruh perasaan pada seseorang harus mendapatkan izin dari kedua anakku dulu. Tapi, beliau juga bilang, banyak lelaki dengan status masih lajang yang terbaik untuk Disa. Aku nggak tahu, apakah mak takut jika Aidha tidak merestui atau ada hal lain. Menurutku itu sebuah peringatan untuk mundur sebelum mengatakan perasaan ini pada Disa." Dani menghela napas pasrah.


Flashback On


"Nak Dani, bisa kita bicara sebentar?" tanya mak Nur.


Dani menatap mak Nur dengan bingung. Dia mengangguk ragu. Lalu menyuruh Sita dan Reza untuk kembali ke mobil terlebih dahulu. Mereka duduk di teras rumah.


Mak Nur menawarkan minum untuk Dani, tapi lelaki itu menolak. Takut merepotkan sang tuan rumah yang sedang tertimpa musibah. Guratan jelas terlihat di wajah tua wanita itu. Dani hanya menunggu mak Nur untuk berbicara.


"Bagaimana Disa sampai jatuh, Nak?" tanya mak Nur.


Dani menceritakan yang dia dengar dari penjelasan Disa. Dia merasa mak Nur sedang berbasa-basi dengannya. Membuat ia semakin penasaran hal apa yang ingin dibicarakan.


"Disa itu anak perempuan satu-satunya yang Mak miliki. Kebanggaan kami semua karena sifatnya yang pekerja keras, penyayang, dan juga mandiri. Mak merasa kamu menyukai Disa. Tidak apa-apa, Mak ridho jika kamu memang berjodoh dengan Disa. Tapi kamu juga harus sadar posisi. Kamu itu seorang duda, punya anak gadis dua orang. Apakah mereka akan setuju jika kamu memperistri Disa? Apalagi melihat Aidha yang masih menyalahkan kejadian dulu. Tapi ..., Mak juga ingin memiliki mantu yang lebih baik dari kamu. Banyak lelaki lajang yang ingin meminang dia."


Mak Nur mengucapkan terima kasih pada Dani karena telah mengantarkan Disa pulang. Menyuruh Dani untuk segera kembali ke rumah karena adzan maghrib akan segera terdengar.

__ADS_1


Dani tersenyum getir. Menyalami tangan mak Nur dan kembali ke dalam mobil dengan perasaan bimbang.


Flashback Off


__ADS_2