
Dani duduk termenung di teras rumah. Ada seorang lelaki menghampiri dirinya. Mungkin usianya tidak beda jauh dengannya. Memberikannya secangkir kopi hitam dengan aroma menggoda.
Lelaki itu tersenyum lalu menyodorkan tangannya. Dengan sigap Dani menyambut tangan hitam legam itu. Mereka saling memperkenalkan diri mereka.
"Saya Wakhid, kakak Disa yang pertama. Kami enam bersaudara. Yang nomor dua meninggal saat masih bayi. Yang ketiga sedang di sawah. Yang keempat merantau di luar Jawa. Yang kelima Disa, dan yang keenam masih sekolah di bangku SMA. Bapak kami sudah lima tahun meninggal. Yang perempuan hanya Disa seorang." Wakhid menerangkan dengan jelas seluruh anggota keluarganya.
Dani menjadi tahu berkat Wakhid. Baginya, kakak Disa adalah kunci pembuka untuk dirinya mengenal keluarga itu. Sebaliknya, Dani juga memperkenalkan dirinya dan keluarga besarnya.
"Saya Dani, anak pertama dari empat bersaudara. Yang kedua perempuan sedang repot mengurus bayi. Yang ketiga Sita, dan yang keempat laki-laki masih mondok di Gontor. Saya seorang duda beranak dua, perempuan semua. Ayah saya juga sudah meninggal waktu saya masih SMA. Istri saya meninggal ketika berjuang melahirkan anak kami yang kedua. Mas Wakhid kerja dimana?" tanya Dani.
"Saya nelayan ikan, ini kebetulan pas pulang. Aidha dan Salwa anak-anak yang manis. Mudah bergaul, ceria, dan kritis. Emak sampai gemas mendengar ocehan mereka berdua tadi malam. Mampir ke rumah saya. Itu sebelah rumah adik ketiga saya. Saya belum memiliki anak."
Tergambar kesedihan yang mendalam saat Wakhid mengatakan hal itu. Dani hanya bisa diam lalu melihat tingkah para bocah yang sedang asyik bermain. Datang dari arah dalam, lelaki yang akan melamar Disa. Menyalami Wakhid untuk berpamitan.
"Pamit rumiyin, Mas. Ba'da maghrib badhe jemput dik Disa. Alhamdulillah piyambak ipun purun," ucap lelaki itu. (Pamit dulu, Mas. Setelah maghrib mau jemput dik Disa. Alhamdulillah dia mau,)
Wakhid hanya mengangguk dan tersenyum. "Yawes, Ris. Ati-ati." (Ya sudah, Ris. Hati-hati)
Lelaki itu menyalami Dani dan juga Wakhid. Lalu pamit pulang.
"Saya sebenarnya tidak setuju Disa sama dia. Takut jika adik saya dipandang sebelah mata oleh keluarganya," terang Wakhid membuat hati Dani sedikit senang.
Sita memanggil dua lelaki yang sedang bercengkrama untuk masuk. Perkenalan dua keluarga akan segera dimulai. Mereka duduk melingkar. Mamah Yuli sudah bercakap hangat dengan mak Nur. Disa dan Sita bersebelahan. Sedangkan Dani duduk berdampingan dengan mas Wakhid.
"Jadi, tujuan kami kesini adalah ingin menjemput anak-anak. Cucu saya biasanya tidak akan betah di tempat yang baru bagi mereka. Lha tapi ini kok cerita Bu Nur, sangat menggembirakan." Mamah Yuli membuka pertemuan itu dengan mengungkapkan tujuannya datang ke Bonang.
Bu Nur tersenyum, "Memang Aidha dan Salwa sangat manut sama saya dan Disa Bu Yuli. Disuruh apa ya langsung dilakukan. Salat subuh juga Salwa langsung bangun. Biasanya anak usia Salwa kan kadang mau dan tidak."
Dani, Sita, dan Mamah Yuli tercengang mendengarnya. Mati-matian mereka jika membangunkan Salwa untuk salat subuh. Lha ini? Salwa dengan legowonya langsung bangun dan salat.
__ADS_1
"Iya, Bu. Saya tidak bohong. Sa, panggilkan Aidha dan Salwa kemari," perintah mak Nur.
Disa langsung beranjak keluar dan memanggil mereka lagi untuk yang kedua kalinya. Dani begitu takjub dengan cerita bu Nur. Apa yang mereka lakukan pada anak-anaknya? Mengapa mereka bisa berubah hanya dalam waktu sekejap saja? Aneh! Ini terlalu aneh!
Aidha, Salwa, dan Disa datang bersamaan. Mereka duduk dengan napas terengah-engah. Salwa meminta Sita untuk menghidupkan kipas anginnya.
"Dik, punya tangan dan kaki kan?" kata Disa. Salwa mengangguk. "Nah, coba gunakan tangan dan kaki pemberian Allah untuk melakukan hal yang berguna. Kipas itu nanti membuat sejuk, Dik Salwa dapat pahala."
Salwa langsung bangkit dan menyalakan kipas angin itu sendiri. Mamah Yuli dan Dani baru tersadar. Mereka akan melakukan apapun jenis perintahnya jika ada apresiasinya. Meski bukan mereka yang memberikan secara langsung.
Mak Nur mengangguk seakan tahu isi hati mamah Yuli. Patut untuk dipraktikkan di rumah. Karena biasanya mereka akan membantah ketika diperintah.
"Mbak Aidha, Dik Salwa, ini sudah dijemput sama papah, tante, dan mbah. Nanti pulang dulu ya, Sayang. Besok kalau libur boleh deh tidur sama U-ust lagi," ucap Disa.
Keduanya kompak menggeleng. Melihat jam dinding yang masih menunjukkan pukul sepuluh pagi. Mereka masih ingin di rumah Disa. Enggan untuk meninggalkan hal yang menggembirakan disana.
"Ponakan Tante kepingin ibu baru nih kayaknya! Bener nggak Dha, Sal?" tanya Sita membuat mamah Yuli dan Dani memelototinya.
Mak Nur menatap Disa. Menyiratkan sebuah pertanyaan. Tapi Disa mengangkat bahunya. Memberikan jawaban tidak tahu apa-apa.
"Mbah Nur, masakin kami kepiting pedas seperti yang tadi sore! Baru nanti kami mau pulang!" tawar Salwa.
"Adik, ngomongnya sama orang tua pakai kata tolong dong!" protes Aidha.
Keluarga Dani kembali terkejut dengan panggilan Aidha pada Salwa. Adik? Kata baru yang diucapkan oleh Aidha. Benar-benar membuat takjub! Disa dan keluarganya mampu menyulap dua gadis yang tidak pernah akur itu menjadi manis dan lucu.
"Eh, iya lupa. He-he-he. Mbah Nur, tolong buatkan kami kepiting yang seperti tadi sore." Salwa mengulangi pengucapannya.
"Iyo. Sa, tumbas pithing e Nduk! Gek ndang dimasak. Mesakke Aidha lan Salwa wes luwe." Mak Nur memberikan uang kepada Disa untuk segera berbelanja ke pasar. (Iya. Sa, beli kepitingnya, Nak! Langsung dimasak. Kasihan Aidha dan Salwa sudah lapar.)
__ADS_1
Pasar Bonang terkenal akan hasil lautnya. Kerang, kepiting, ikan laut, dan udang tambak menjadi primadona di sana. Rasa yang manis selalu tersuguh ketika hidangan laut itu tersaji. Kawasan rumah Disa yang dekat dengan pasar memudahkannya untuk berbelanja.
Aidha, Salwa, dan Sita ikut berbelanja dengan Disa. Sedangkan mak Nur dan mamah Yuli menyiapkan bumbunya. Tidak lama rombongan pencari kepiting kembali. Langsung dimasak oleh para wanita itu. Kepiting dibersihkan terlebih dahulu. Lalu disiram air panas agar mati. Selanjutnya bumbu digongso sampai harum. Kepiting dibelah dua agar gampang untuk memakannya. Dimasak sampai matang, lalu disajikan saat panas.
Mereka langsung melahap masakan itu. Salwa yang terkenal tidak tahan dengan makanan pedas, menjadi tidak masalah. Disa dan Sita makan sambil bercerita sedikit.
"Itu tadi pria yang naksir kamu kan, Mbak?" tanya Sita.
Disa mengangguk, "Iya, aku bilang sama dia, kalau memang serius ya nikah saja."
Dani menajamkan indra pendengarannya. Tidak ingin melewatkan berita yang penting baginya. Duda tampan satu ini terlalu kepo sekarang.
"Kamu cinta sama dia?" tanya Sita lagi.
Disa hanya tersenyum sambil menunduk, "Cinta bisa hadir saat sudah bersama, Ta."
"Yakin? Terus kamu terima lamaran dia?"
Jantung Dani menjadi tidak tenang akan pertanyaan satu ini. Telinganya ingin mengetahui jawaban Disa terhadap pria yang melamarnya. Namun hatinya mengatakan jangan didengar. Belum siap untuk patah hati.
"Ya ...," jawab Disa.
Dani terbatuk-batuk mendengarnya. Mas Wakhid memberikannya air. Aidha dan Salwa geleng kepala melihat papahnya. Mereka menegur agar makan perlahan. Sita tidak yakin dengan jawaban Disa.
"Ya? Ya apa? Kamu terima?" tanya Sita lagi.
"Belum, Ta. Aku saja belum dikenalkan pada orang tuanya. Nanti ba'da maghrib aku mau dipertemukan."
"Alhamdulillah!" ucap Dani spontan dengan keras.
__ADS_1