Pinangan Kedua

Pinangan Kedua
KPD


__ADS_3

Akhir-akhir ini tidur Dani menjadi tidak tenang. Usia kehamilan Disa yang sudah akan sampai pada hari perkiraan lahir membuatnya gundah gulana. Kehilangan seseorang yang sangat berarti sangat menghantam dan mengoyak hati. Khawatir akan masa itu sangat mengganggu ketenangan jiwanya.


Selama proses kehamilan, dia memang menunjukkan sikap sebagai suami siaga. Bahkan sampai saat ini juga demikian. Tapi, proses persalinan membuat trauma berkepanjangan dalam benak lelaki itu. Seakan merasakan apa yang Dani alami, Disa ikut menjadi gelisah. Tidak, ini tidak boleh dibiarkan begitu saja. Mereka harusnya saling menguatkan.


Sampailah mereka pada pembahasan tentang cara melahirkan. Disa ingin melahirkan secara normal, tapi suaminya bersikeras agar dia dilakukan tindakan operasi. Dokter kandungan mereka menyarankan agar secara normal saja, karena sebetulnya tindakan operatif hanya dilakukan untuk kasus kegawatan dan kondisi tertentu.


"Nggak! Mas nggak mau kamu kenapa-napa. Operasi sesar lebih aman untuk kamu, Dik." Dani tetap keukeuh pada pendiriannya.


Disa menghela napas berat, sampai kapan pembahasan masalah ini akan berakhir?


"Dokter bilang aku bisa melahirkan secara normal, Mas. Kamu khawatir kalau aku kenapa-napa?" tanya Disa sembari menangkup wajah suaminya.


Pandangan yang saling beradu itu membuat Disa tahu bahwa ada selimut ketakutan yang ada di benak Dani.


"Kenapa takut? Ada Allah sebagai penolong kita, Mas. Takdir mbak Inaya dan aku pastilah berbeda. Tenangkan hatimu, InsyaAllah semua akan baik dan berjalan sesuai ketetapannya." Disa memeluk Dani agar ketakutan itu segera sirna.


"Berjanjilah kamu menepati ucapanmu," pinta Dani dengan suara sendu.


"Iya, Sayang. Adik janji akan baik-baik saja. Temani dan kuatkan kami, Pah." Disa mengusap perutnya. Calon bayi mereka merespon dengan sebuah tendangan.


"Saleh, salehahnya umma Papah, tolong yakinkan Papah ya, Nak. Semua akan baik-baik saja." Dani mengecup perut Disa.


Sama halnya dengan Aidha, si sulung juga mengkhawatirkan keselamatan ummanya. Dia selalu berdo'a agar proses persalinan Disa nantinya lancar. Tidak akan sanggup lagi kehilangan sosok ibu dalam hidupnya. Terkadang dia lebih banyak diam ketika sedang berkumpul dengan keluarga.


Jika dia biasanya terlihat mandiri dan kuat, kini kebalikannya. Aidha terlihat lebih manja pada Disa dibandingkan Salwa. Selalu bertanya kabar ummanya saat terpisah. Sangat bertolak belakang dengan gaya Aidha yang selalu ingin dianggap 'aku bisa semua sendiri'.


Bagaikan anak yang rapuh, dia benar-benar menunjukkan jati diri sesungguhnya di depan keluarga besarnya. Mamah Yuli meyakinkan Dani beserta cucunya agar lebih tenang. Disa butuh dukungan keyakinan bukan kekhawatiran. Jangan sampai rasa was-was itu merubah keputusan menantunya agar bisa melahirkan secara normal.

__ADS_1


"Mah, barang untuk si dedek sudah lengkap semua? Atau masih ada yang kurang? Biar nanti Disa beli." Disa menata pakaian untuk bayi dan juga dirinya.


Persiapan persalinan memang harus ditata jauh sebelum hari lahir. Itu untuk memudahkan calon ibu dan keluarga untuk mengangkut keperluan bayi dan ibunya. Mamah Yuli melihat kembali isi tas itu dan mengangguk.


"Sudah semua, Nduk. Siapa yang akan menemani kamu di ruang persalinan nanti? Sudah mantap mau di bidan? Tidak ke rumah sakit saja?" tanya Mamah Yuli.


"InsyaAllah di bidan saja, Mah. Menurut Disa kalau di bu bidan lebih nyaman dan agak leluasa gitu. Kalau di rumah sakit nanti kasihan Salwa dan Aidha nggak bisa menjenguk adiknya, biar papahnya saja yang menemani, Mbah Uti sama Mbah Nur bagian masak untuk krayan saja nanti, he-he-he," tutur Disa menerangkan alasannya.


"InsyaAllah, hmm ..., semoga wisuda dan lahirnya cucu Mamah tidak bersamaan ya, Sa. Agak takut juga sih kalau bareng begitu," ucap Mamah Yuli.


Menantu dan mertua itu sangat semangat membahas tentang proses kelahiran dan wisuda. Ya, sebentar lagi Disa memang akan diwisuda, dan itu mendekati hari perkiraan lahir sang buah hati. Tenggat waktunya hanya berjarak dua minggu setelah wisuda.


Mak Nur sangat sayang dengan Disa dan keluarganya. Setiap hari dia menyuruh Risky mengantarkan makanan sehat dan lezat bagi Disa. Sampai terkadang, Disa tidak enak sendiri dengan mertuanya.


Jika anaknya mengeluh badannya pegal dan kecapekan, Mak Nur adalah orang pertama yang langsung tanggap. Dengan cepat membuatkan bobok dari beras putih yang ditumbuk dicampur dengan rempah alami. Dibalurkan ke seluruh tubuh agar rasa pegal itu sirna.


***


Disa sedang dandan bersama seorang temannya yang berprofesi sebagai perias. Hari ini adalah hari penting baginya. Titik dimana jenjang pendidikannya akan naik. Gelar di belakang namanya akan berubah.


"Sa, aku buat natural ya? Cocok sama warna kulit kamu," ucap Via.


"Iya, Vi. Manut aku sama kamu." Disa mengusap-usap perutnya yang sedari tadi kencang. Dia berpikir jauh, apakah ucapan mertuanya akan menjadi nyata?


Oh, tidak! Kalau sampai iya, bagaimana nantinya? Disa mengatur napas agar lebih nyaman. Setelah beberapa saat, rasa kencang itu menghilang. Via mulai merias wajah Disa.


Hampir satu jam Via memoles wajah ayu Disa. Hasilnya sungguh diluar dugaan. Wanita hamil itu sangat anggun dalam balutan gamis hamil yang syar'i. Dani sampai takjub melihat istrinya. Semakin hari bertambah cantik saja.

__ADS_1


"MasyaAllah ..., istriku cantik sekali, ih, nggak ikhlas kalau dilihat orang lain! Nanti pakai masker kan, Dik?" Dani merapikan kemeja batik yang dia pakai.


Disa mengatur napas dalam karena gelombang cinta itu mulai datang lagi. Dani melihat sang istri yang tampak menahan sakit. Bergegas menyuruh wanita itu duduk dan mengambilkan air minum.


"Kenapa, Sayang?" Wajah Dani tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Disa mencoba tersenyum agar suaminya lebih tenang.


"Nggak papa, Pah. Ini sudah jam berapa, Mas? Kita berangkat sekarang saja, Adik takut kalau nanti telat," ucapnya sembari berusaha bangun dari duduk.


Dani melarangnya berdiri dan bertanya lagi apa yang sedang dirasakan sang istri. Disa hanya melempar senyum tulus pada suaminya. Mereka berangkat ke gedung tempat acara berlangsung. Disa duduk di barisan para wisudawan dan wisudawati terbaik. Sedangkan Dani dan keluarganya duduk di kursi tamu undangan.


Disa menahan rasa gelombang cinta yang datang dan pergi secara tiba-tiba. Tetap menampilkan senyum terbaiknya pada semua dosen yang telah membantunya menambah ilmu. Acara berlangsung dengan lancar dan usai tepat waktu. Semua bubar bersama keluarganya masing-masing untuk sesi foto bersama.


"Umma duduk di kursi, Kakak dan Mbak Aidha di kanan dan kiri, Papah di tengah." Salwa menjadi pengarah posisi saat sesi foto berlangsung.


Disa menuruti keinginan anaknya. Saat akan duduk tiba-tiba ada cairan bening mengalir di kaki wanita yang baru saja lulus dari pendidikan profesinya. Refleks dia langsung menggamit lengan sang suami.


Dani menoleh dan mendapati wajah sang istri sedang tegang. "Ada apa, Sayang?" tanyanya.


"Pah, ada yang keluar dan mengalir di kakiku. Boleh minta tolong lihatkan apa yang keluar?" pinta Disa.


Dani langsung bingung, tidak tahu harus berbuat apa. Aidha menyuruh papahnya mengatur napas dan memikirkan sesuatu. Hanya satu cara, yaitu langsung membawa Disa ke rumah sakit. Aidha dan Salwa menyuruh kedua orang tuanya untuk segera berangkat ke rumah sakit terdekat, sedangkan mereka akan menunggu neneknya yang sedang di kamar mandi.


"Papah langsung saja, kami nanti nyusul sama mbah uti kesana." Aidha meyakinkan papahnya bahwa mereka akan baik-baik saja.


Wanita itu langsung mendapatkan penanganan saat di rumah sakit. Dani menunggu dengan sangat cemas. Dokter jaga memberikan keterangan hasil pemeriksaan pada sang suami, bahwa istrinya mengalami ketuban pecah dini alias KPD.


**

__ADS_1


Maaf ya aku menghilang lama, he-he-he


__ADS_2