
Mak Nur langsung masuk tanpa permisi. Membuat dua anak manusia di dalam kamar itu terkejut. Aidha sempat mendengar nama Aji keluar dari mulut mak Nur. Dia khawatir orang itu adalah saingan papahnya.
Namun, saat Aidha bertanya tentang siapa Aji, mak Nur malah menyuruhnya pulang. Alasannya karena pak Kus sudah menjemput. Dengan berat hati gadis remaja itu langsung mengambil tasnya. Memanggil Salwa karena mereka harus segera kembali ke rumah.
Disa semakin tidak tahan dengan sikap emak. Apa yang sebenarnya emak takutkan? Hingga bersikap seperti itu pada Aidha dan Salwa. Padahal emak sangat sayang dengan dua gadis itu.
Aidha dan Salwa berpamitan. Setelah kepulangan dua muridnya, Disa menegur emak. Meluruskan sikap emak yang keliru dan agak terlewat batas.
"Mak, seharusnya Emak tidak bersikap seperti ini. Kasihan Aidha, dia langsung kecewa saat disuruh pulang." Disa mencoba menahan emosinya.
Mak yang sedang menata piring menoleh, "Lha memang dia sudah dijemput, Sa."
"Emak tuh kenapa sih? Disa heran sama Emak. Kenapa juga tadi menyebut nama mas Aji di depan Aidha? Apa sih yang sebenarnya Emak omongkan dengan pak Dani?" Disa mengeluarkan semua pertanyaan yang ada dalam benaknya.
"Mak hanya ingin kamu mendapatkan jodoh yang terbaik dunia dan akhirat, Sa! Apa salah Emak mengharapkan hal itu dari kamu? Aji adalah orang yang tepat! Bukan yang lain!"
Disa tercengang mendengar jawaban mak Nur. Terbaik? Terbaik menurut versi siapa? Allah atau emak? Dia sampai geleng kepala mendengar pernyataan yang dilontarkan emaknya.
"Yang terbaik menurut Emak belum tentu terbaik bagi Disa. Allah SWT adalah segala penentu paling mulia. Kita hanya berusaha, bukan mendoktrin harus dengan orang yang kita pandang baik."
Hening merasuki keduanya. Ketegangan masih mendominasi ruangan itu. Emak duduk agar emosinya mereda.
"Dani itu seorang duda, Nduk. Dia sudah punya dua anak. Akan berat jika kamu memilihnya. Tantangan terbesarmu adalah nanti, saat kamu mengandung anakmu sendiri, dan melahirkan. Bisakah kamu tetap menyayangi mereka seperti saat ini? Emak hanya ingin menghindarkan kamu dari celaan orang yang statusnya lebih dari kita. Belum lagi nanti jika ada.sesuatu yang terjadi pada mereka. Mau kamu disalahkan orang lain?" Emak akhirnya mengungkapkan rasa khawatir dalam benak.
Disa masih saja terdiam dan mematung. Dia tidak bisa menjamin akan hal itu. Semua masih begitu buram untuknya. Yang membuat dia tidak setuju adalah sikap emak atas dirinya.
Bagaikan hidup dalam sangkar. Beberapa hari ini Disa seperti didikte mak Nur, bagaimana dia harus melangkah. Agar tidak salah arah, dan menyesal nantinya. Ia tahu emak sayang sekali dengannya.
Namun, Disa sudah dewasa. Dia juga telah memiliki pegangan hidup, yaitu ilmu, InsyaAllah ia tidak tersesat.
"Mak, Disa berterima kasih pada emak karena mengkhawatirkan aku. InsyaAllah, aku akan lebih bijak." Disa mengakhiri perdebatan itu.
__ADS_1
Disa kembali ke kamarnya. Merenung sejenak, lalu mengambil sebuah kertas. Menuliskan disana langkah apa yang harus dilakukannya. Tentang pertanyaan Aidha, dan juga soal pinangan Aji nantinya.
Dia menuliskan setiap langkah yang harus dilakukan. Itu semua karena ia ingin teliti dan tidak menyesal di belakang.
***
Reza yang baru saja pulang dari kantor, segera bergegas mandi. Dia akan mengenalkan Sita dengan orang tuanya. Bukan sebagai sahabat biasa, melainkan calon istri yang akan dipinang.
Arsya, Rida, dan juga Sita sudah menunggu di depan rumah. Mereka akan menuju Kudus. Ya, orang tua Reza bertempat tinggal di Kudus. Sita terlihat begitu gugup. Arsya dan Rida menggodanya.
"Ta, bayangin Mas ini papinya si Reza. Mbakmu mami si doi. Ehm ..., Sita, kamu udah lulus belum?" tanya Arsya menirukan suara wanita.
"InsyaAllah bulan depan, Tante." Sita menjawab Arsya dengan anggun.
"Alhamdulillah, berarti minggu depan boleh dong Papi dan keluarga bertemu sama orang tua kamu?" Kini suara Arsya menjadi berat, layaknya lelaki.
"Dih! Mulus banget ngobrol baru dua pertanyaan langsung mau ketemu sama mamah?" ucap Rida protes.
Reza datang dengan berjalan kaki. Menyuruh mereka segera bergegas ke mobil. Karena hari semakin gelap. Rida menitipkan Aidha dan Salwa pada mbok Yem, karena Dani belum pulang.
Reza berjalan beriringan dengan Sita. Sedangkan Arsya sejajar dengan Rida sembari menggendong Andra. Mulut suami Rida sedang gatal untuk menggoda adik iparnya. Jadilah dia menyanyikan lagu dangdut dengan mengubah liriknya.
"Calonku memang dekat ..., sepuluh langkah dari rumah ..., tak perlu kirim surat ..., SMS juga tak usah ...."
Sita dan Reza langsung menoleh ke belakang. Tertawa karena nyanyian itu. Padahal langkah kaki mereka lebih dari sepuluh. Mereka langsung masuk ke mobil. Arsya duduk di depan bersama Reza sembari menggendong Andra. Sedangkan Sita duduk di belakang Reza berdampingan dengan kakaknya, Rida.
Di sepanjang perjalanan, hanya Reza, Arsya, dan Rida yang mengobrol. Sita diam memandang lampu jalanan yang lewat begitu cepat. Reza meliriknya dari spion. Terlihat raut kekhawatiran.
"Yang ..., kok diem?" tanya Reza.
"Busyet! Yang panggilnya, Mas ...." Rida menepuk bahu Arsya dengan keras.
__ADS_1
"Kenapa bestie? Gemetar bestie ..., bentar lagi ketemu camer, tapi belum disemangatin ayang ...." Arsya dan Rida mengucapkannya bersama.
Sita menahan tawanya. Heran dengan dua orang itu. Kompak sekali sedari tadi menggoda dia. Semoga saja Andra tidak mengikuti jejak mereka yang usil.
"Kalian nih, ya! Senang sekali menggoda kami! Nggak usah tegang, Yang. Mami sama papi orangnya santai," ucap Reza meyakinkan Sita.
"Ya tetap saja, Mas. Pertemuan kali ini kan beda." Sita merapikan kembali jilbabnya.
"Apa yang membuat beda, Ta?" tanya Rida.
"Karena ..., malam ini aku diperkenalkan sebagai pilihan hati mas Za. Bukan hanya sebagai sahabat. Melainkan teman hidup, Mbak. Grogi aja gitu, takut kalau mami sama papi nggak suka sama aku," ungkap Sita.
"Tenang aja, Ta. Positive thinking dong adek ..., berdo'a." Rida menggenggam tangan Sita dan meyakinkannya.
Mereka sudah sampai di rumah orang tua Reza. Megah adalah kesan pertama saat melihatnya. Dibanding dengan rumah orang tua Sita, hunian itu lebih mewah. Reza membunyikan klakson agar dibukakan pintu gerbang.
Setelah pintu terbuka, mobil melaju hingga ke depan pintu. Semua turun, Reza mengetuk pintu dan mengucapkan salam. ART datang menyambut dan mempersilahkan masuk.
Reza langsung memanggil mami dan papi. Jantung Sita makin berdegup kencang. Mendengar derap langkah mendekat.
"Aaa ..., calon mantu Mami sudah datang!" ucap Mami Farah sembari memeluk Rida.
Membuat Sita tercengang, Rida melepaskan pelukan itu dengan sedikit memaksa.
"Salah, Te. Ini Rida!" protes istri Arsya.
"Ha? Masa sih? Mata kaca mana, Pi?"
"Kacamata, Mami ...." Semua berteriak kalimat yang sama.
Sita tertawa dengan tingkah kocak mami Farah.
__ADS_1