Pinangan Kedua

Pinangan Kedua
Aidha Bimbang


__ADS_3

Aidha kini lebih sering terbangun di sepertiga malam. Melakukan salat tahajud sendirian di dalam kamar. Entah apa yang diminta anak itu, hingga matanya sering menangis. Disa pernah tersentuh oleh kegigihan anaknya.


Malam ini juga sama, pemandangan yang dilihat Disa masih sama dengan beberapa hari kemarin. Aidha menangis saat bermunajat pada Allah SWT. Dia mendekati anak gadisnya dan bertanya.


"Kalau boleh Umma tahu, Mbak minta apa sama Allah?" tanya Disa ingin tahu.


Aidha menyeringai. Malu untuk mengatakan apa yang menjadi do'anya pada Allah SWT. Disa tidak memaksanya. Membiarkan putrinya menyimpan rahasia itu dengan sang pencipta.


"Mau Umma beritahu satu amalan yang dapat mempermudah urusanmu, Mbak?" tanya Disa.


"Apa itu, Umma?" Aidha berbalik tanya.


"Puasa sunnah. Selain tahajud dan dhuha, satu amalan ini akan mempermudah urusanmu. Umma masih sering melakukan puasa senin kamis. Umma membuktikan sendiri kedahsyatan yang terjadi." Disa melihat mata putrinya berbinar.


"Dulu, Umma pernah dapat dosen pembimbing yang super galak, susah ditemui, dan susah untuk dimintai bimbingan. Memberikan tugas yang kadang terlalu kelewatan. Tapi, saat Umma mulai bimbingan, semuanya menjadi lancar, Mbak."


Aidha begitu takjub atas cerita Disa, "MasyaAllah, Umma. Itu beneran?"


"Iya, banyak yang satu bimbingan sama dosen itu yang lulus hanya dua orang. Satu Umma dan lainnya kakak tingkat." Disa membelai puncak kepala Aidha.


Gadis itu lalu bercerita apa yang membuatnya menangis setiap malam. Dia sedang memghadapi kesulitan di sekolah. Memang sengaja tidak bercerita pada ummanya agar tidak menjadi beban pikiran. Tapi, sepertinya dia akan melanggar janjinya sendiri.


Aidha sedang mengalami kasus bullying. Dimana ada salah seorang temannya yang menjelek-jelekkan Disa. Mengatakan bahwa ummanya wanita yang murahan, mengejar harta papahnya, dan hanya mementingkan dirinya sendiri.


Disa tersenyum mendengarnya. Tahu betul apa yang sedang menggelayuti hati si sulung. Pasti keraguan sedang menari indah dalam benak Aidha.


"Lalu apa yang Mbak panjatkan sama Allah?" tanya Disa.


Aidha tertunduk dan kembali menangis, "Mbak minta sama Allah semoga Umma tidak seperti itu. Minta supaya Umma tulus menyayangi kami. Minta supaya ucapan teman Aidha segera terbukti agar hati ini plong, Ma. Maafkan Aidha yang curiga sama Umma, ya?" Aidha kembali menangis.


Disa memeluk anaknya dan menenangkan si sulung. "InsyaAllah Umma tidak seperti itu. Jangan terlalu memasukkan kata orang, Mbak. Perlu penyaring agar tidak menjadi penyakit hati. Umma kok jadi ingin kenal ya sama temen kamu. Darimana dia tahu kalau Umma begitu? Kan dia dan Umma tidak pernah bertemu."

__ADS_1


"Nggak usah, Ma. Buat apa? Yang penting malam ini Allah sudah jawab do'anya Mbak. Aidha yakin, Umma bukan orang seperti itu."


"Terima kasih ya, Sayang. Lain kali do'akan teman kamu juga semoga cepat dapat hidayah," ucap Disa sembari menyentil hidung si sulung.


"Perlu ya, Ma?" tanya Aidha.


Disa mengangguk, "Jangan membalas perbuatan buruk dengan sesuatu yang buruk juga. Jika memang tidak bisa membalas dengan cara baik, maka diam dan do'akan dia."


"Makin sayang Aidha sama Umma. Nggak salah pilih pokoknya, he-he-he. Umma, besok senin Aidha juga mau puasa," ucap Aidha semangat.


"Oke, Umma juga. Nanti kita sahur berdua. Besok dan ahad menginap di rumah mbah Nur ya, Mbak?"


Aidha mengangguk. Disa bertanya apakah dia siap jika nanti sekolah sambil mondok? Si sulung diam sejenak. Ia juga tidak tahu siap atau tidak. Hal itu bisa terjawab jika sudah melakoninya sendiri. Sang umma meminta Aidha untuk istikharoh pada Allah tentang hal itu.


Akan banyak tantangan jika mental dan hati tidak sejalan. Perlu persiapan yang matang saat ingin masuk ke pondok pesantren.


"Umma dan papah punya rencana untuk masa depan kamu, Sayang. Ingin kamu mendalami ilmu agama untuk bekal nanti di hari tua," tutur Disa.


"Umma hanya bisa mengajarkan hafalan, tapi tidak dengan mengaji kitab dan lain-lain. Kalau di pondok itu lengkap." Disa menangkap kekhawatiran dari diri Aidha. Dia menyudahi obrolan itu.


Disa melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul tiga lewat tiga puluh menit. Menyuruh Aidha mengambil Al-qur'an dan melakukan muroja'ah bersama. Menunggu hingga subuh, lalu mendirikan dua raka'at.


Disa sedang menggambarkan kehidupan di pondok pada Aidha. Seperti itulah nantinya. Akan dibangunkan di sepertiga malam, tahajud bersama, muroja'ah hingga menunggu subuh, salat berjama'ah, dan terakhir setoran ayat. Lalu mereka mandi bergegas untuk pergi ke sekolah.


"Umma bangunkan Salwa dan papah dulu," ucap Disa sembari menuju ke kamar.


Aidha termenung dan membayangkan dirinya jika hidup di pondok. Akankah ada kenyamanan yang sama seperti saat ini? Apakah teman-temannya baik dan tidak akan mengucilkannya? Lalu semua bayangan muncul, mulai dari yang indah hingga yang buruk.


Sepertinya hati Aidha belum siap jika harus hidup di pondok. Dia bukan tipe anak yang mudah bergaul. Hal itu menjadi pikiran utamanya. Apakah nanti dia memiliki teman seperti disini?


Kini, dia menjadi bimbang. Tidak ingin membuat orang tuanya kecewa, tapi hatinya mengatakan belum siap. Sungguh dia berada diambang pilihan yang sulit.

__ADS_1


Dani, Disa, dan Salwa sudah siap dengan mukenanya. Mereka menunaikan salat subuh berjama'ah. Sita dan mamahnya tertinggal satu raka'at. Setelah selesai, Aidha dan adiknya setoran ayat pada umma mereka.


Aidha langsung bergegas bersiap untuk sekolah. Setelah selesai, dia menemui tante dan neneknya yang sedang menyiapkan sarapan. Ia celingukan mencari keberadaan Disa.


"Tante, umma kemana?" tanya Aidha.


"Baru saja kembali ke kamar untuk bersiap. Kenapa?" tanya Sita.


Aidha bersandar pada kursi dengan wajah lesu. Membuat neneknya bingung. "Kenapa, Nduk? Kamu lupa mengerjakan PR?" tanya Mamah Yuli.


"Bukan, Mbah ..., Aidha lagi bingung nih ...," ucap Aidha penuh kekhawatiran.


"Ada apa?" tanya Sita dan Mamah Yuli bersamaan.


Aidha berterus terang pada keduanya. Menceritakan keinginan umma dan papahnya. Lalu Sita dan Mamah Yuli tersenyum.


"Apa yang perlu ditakutkan, Nduk? Tante dan om mu juga anak pondok, bukan? Mereka dulu juga sama seperti kamu. Mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu terjadi. Pikirkan saja tawaran itu, bukan untuk sekarang manfaatnya terasa, tapi untuk masa depanmu." Mamah Yuli tersenyum dan menyuruh Sita untuk memanggil yang lain untuk sarapan.


"Gitu ya, Mbah? Ya sudah, Aidha pikir-pikir dulu. Umma dan papah biar Aidha saja yang panggil." Aidha langsung bergegas ke kamar orang tuanya.


Dani membuka pintu ketika ada yang mengetuknya. Si sulung sudah cantik dan rapi dengan seragam putih biru itu.


"Ya, Sayang?" tanya Dani.


"Sarapan sudah siap. Disuruh mbah segera turun. Umma mana?" tanya Aidha.


"Lagi ganti baju. Nanti Papah turun. Hari ini umma yang antar kamu ke sekolah. Umma juga mau ketemu sama guru BK. Kasus bullying jangan dibiarkan, Mbak. Kalau anak yang mentalnya kuat seperti kamu nggak akan ngaruh berat. Lha kalau yang kena yang minder? Apa nggak bahaya, tuh?" Dani baru saja mendengar cerita dari Disa mengenai Aidha yang sedang menghadapi bullying.


Aidha mengangguk, "Padahal mau Aidha selesaikan sendiri, Pah. Mau aku buktikan ke mereka kalau umma tidak seperti dugaan mereka."


"Hoek ...," Suara seperti orang muntah terdengar dari arah dalam. Dani dan Aidha langsung saling pandang.

__ADS_1


"Umma?" Mereka langsung masuk ke dalam kamar dan melihat apa yang terjadi.


__ADS_2