
Aidha dan Salwa membangunkan Dani di sepertiga malam. Kedua anaknya paham, bahwa salat malam bukan hanya dilakukan saat kita butuh bantuan Allah. Melainkan merupakan ibadah sunnah yang dapat meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita.
Mereka salat bertiga, lalu bermunajat. Selesai itu Dani mencari keberadaan ponselnya. Ternyata habis daya. Aidha dan Salwa tidur satu ranjang dengan papahnya. Lalu saling berbagi cerita.
"Aku nanti yang pasangkan cincin di jari manis umma ya, Pah?" pinta Aidha dengan mata berbinar.
"Salwa saja, Pah! Please ...," ucap Salwa dengan mengatupkan kedua tangan membuat permohonan.
Dani menghela napas. Matanya sudah ingin terpejam lagi, tapi dua gadisnya malah meributkan hal sepele. Aidha dan Salwa saling unjuk diri. Papahnya hanya melihat dengan mata sayu.
Pagi sudah tiba, Dani memberitahu mamahnya tentang lamaran nanti malam. Mamah Yuli melotot tidak percaya dengan ucapan anaknya. Aidha dan Salwa mengangguk sebagai pembenaran atas ucapan papahnya.
Mamah Yuli kelimpungan belum membuat seserahan untuk keluarga wanita. Dani memang minta dipukul, acara nanti malam menurutnya sangat mendadak. Tidak ada persiapan sama sekali.
"Tenang, Mah. Dani sudah minta tolong ibu untuk membuat wajik, gemblong, dan lainnya. Bapak yang nantinya jadi wakil besan kita. Cincin juga sudah aku beli kemarin sama Disa. Nanti aku minta tolong temannya Arsya untuk mendekor rumah emak," terang Dani sangat tenang.
"Alhamdulillah ..., lega Mamah dengarnya! Bikin orang panik!" Mamah Yuli menghubungi Sita yang masih berada di Bandung. Mengirim pesan pada Rida agar segera merapat ke rumah.
"Dani dan anak-anak berangkat dulu, nggak usah spaneng. Maaf ya Mah, ngasih tahunya mendadak. Semalam kan Mamah udah tidur," ucap Dani yang masih melihat raut kekhawatiran di wajah Mamah Yuli.
Mamah Yuli tersenyum dan mencium kening anak sulungnya. Tiba-tiba menangis dan memeluk Dani. Seakan ingin mengatakan bahwa dirinya ikut bahagia. Berharap jalan hidup duda itu lebih baik dari sebelumnya.
Mamah Yuli juga mencium kening para cucunya dengan sangat dalam. Sungguh, dia ikut bahagia dengan hal ini. Keluarga Dani akan menjemput kata bahagia. Memiliki keluarga yang utuh lagi.
"Belajar yang baik ya, Nak. Semoga nanti malam lancar, Dan. Mamah nanti mau pergi sama Rida dulu. Beli seserahan untuk Disa. Nggak mungkin kan kita cuma bawa makanan? Karena dia pernah beli gamis di tempat Mamah, itu membuat lebih mudah. Tinggal cari model saja." Mamah Yuli menghapus air matanya.
Dani mengangguk, menyalami Mamah Yuli dan segera pamit pergi. Salwa sedari tadi cekikikan sendiri entah apa yang sedang dibayangkan. Saat ditanya oleh papahnya, dia menjawab bukan apa-apa.
Disa dan Rifana sudah berdiri di depan gerbang sekolah. Menyambut satu per satu para siswa yang datang. Salwa berlari memeluknya.
"Lhah, kok Ibu nggak dipeluk? Cuma Bu Disa aja, nih?" protes Rifana pada Salwa. Gadis itu hanya menyeringai manis.
__ADS_1
Dani menyapanya. Aduh, drama romantis pagi hari sudah diputar. Rifana yang menyaksikan interaksi singkat itu sangat terbawa perasaan. Dani mengucapkan salam, menanyakan hari Disa, dan berjanji akan mengirim makan siang nanti.
Lelaki itu juga menjelaskan bahwa nanti akan ada Arsya dan temannya datang ke rumah emak untuk mendekorasi secara sederhana. Mengingatkan agar tidak lupa memakai baju yang senada. Berpesan agar tidak memakai make up tebal, karena dia ingin kecantikan wanita itu hanya dilihat olehnya.
Disa menunduk dan mengangguk. Tidak berani menatap mata Dani yang menampakkan sorot cinta. Jika mata bisa berbicara pasti dia akan bilang, aku cinta kamu. Sayangnya tidak, hanya tatapan yang dalam dan meneduhkan mampu diungkapkan oleh sang netra.
Dani pamit karena waktunya sudah mepet. Melambaikan tangan pada guru cantik itu. Rifana terkikik melihat ekspresi malu Disa.
"Ini beneran kamu sama papahnya si Salwa, Sa?" tanya Rifana.
Disa mengangguk, "Nanti malam datang ke rumahku ya, Rif? Temani aku, Sita aku hubungi belum bisa pulang. Mana mendadak lagi."
"Alhamdulillah ..., barakallah ya, Sa. Ikut bahagia aku mendengar hal ini. Iya, aku pasti datang. Itu bapak-bapak sweet banget sih, minta kamu nggak boleh terlalu cantik nanti. Aduh ..., pesona duda memang lebih menggoda. Ha-ha-ha ...," ujar Rifana bahagia atas lamaran yang akan datang pada Disa.
"Ih, kamu! Bukan masalah dia duda atau bukan. Mas Dani ..., maksudku pak Dani itu orangnya baik."
"Cie ..., yang sekarang manggilnya pakai mas." Rifana menggoda Disa terus menerus.
Sesuai janjinya, Dani mengirimkan menu asem-asem daging. Disa terkejut dengan porsi yang dikirimkan, ternyata banyak sekali. Ingin mengkonfirmasi lelaki itu, tapi wanita itu ingat bahwa si duda sedang ada rapat.
Kepala sekolah menyalami Disa dan memberikan selamat atas lamarannya nanti malam. Wanita itu hanya bisa menjawab kikuk dan sedikit malu. Darimana mereka tahu? Hanya Dani yang bisa menjelaskan semuanya.
Rifana duduk dan makan bersama Disa. Dia mengulik sejarah pertemuan kedua anak manusia itu. Sangat baper dengan sikap guru cantik dan sang duda. Pak Adi datang dan mengucapkan selamat pada Disa.
Disa berterima kasih dan memilih meninggalkan dua orang itu. Masih takut jika Rifana salah paham lagi dengannya.
"Calonnya Disa papahnya Salwa?" tanya Adi.
Rifana hanya mengangguk dan meneruskan makannya. "Nanti malam ada acara?" tanya Adi lagi.
Rifana mengangguk lagi tidak mengeluarkan suara.
__ADS_1
"Kemana?"
"Rumah Disa," jawab Rifana datar.
"Mau ..., aku antar?" tanya Adi membuat Rifana menoleh padanya.
Ada apa dengan lelaki ini? Bukankah dia yang menyuruh Rifana melupakannya? Tapi kenapa sekarang malah ada sinyal mereka seakan bersatu?
Adi masih menatap Rifana. Menunggu jawaban wanita itu. Bagaimana jika dia menolaknya?
"Aku berangkat sendiri saja, Pak." Rifana mengakhiri makannya yang sudah terganggu dan menyebabkan hilangnya selera.
"Aku kalah," ucap Adi tidak jelas. Rifana tidak mengerti dengan ucapan lelaki itu.
"Aku kalah dalam pertarungan do'a kita."
Rifana mengerjapkan matanya, berharap yang dia dengar bukan sebuah khayalan semata. Apakah Adi baru saja mempublikasikan cintanya?
"Nanti sore aku jemput ke rumahmu. Sekalian minta izin sama orang tuamu, bahwa aku ingin melakukan pendekatan dengan anaknya. Ingatkan aku jika lupa atau telat, masih kamu simpan nomor lelaki bodoh ini, kan?"
Wajah Rifana merona merah muda. Pipinya menghangat karena ucapan Adi. Pria itu sudah berani mengibarkan bendera putih tanda kalah dalam peperangan cinta. Memilih berdamai dan menikmati setiap rasa yang ada.
"Rif ...," panggil Adi lembut. "Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki diri. Aku terlalu munafik untuk menampik kehadiranmu dalam hidupku. Beberapa minggu kamu menghilang, membuatku merasa hampa. Bolehkah aku belajar mencintaimu?"
Badan Rifana menjadi panas dingin. Mulutnya terkunci tidak bisa bicara. Hanya mampu mengangguk sebagai jawaban iya.
***
Kesibukan tengah terjadi di rumah keluarga Rahmadi. Semuanya ribut dengan persiapan acara nanti malam. Sita tidak bisa pulang karena acaranya mendadak. Selepas magrib, mereka langsung naik armada yang sudah dipersiapkan.
Mamah Yuli hanya membawa beberapa keluarga inti dan saudaranya. Perjalanan sudah dimulai, awalnya mereka riang gembira. Tiba-tiba saja mobil berhenti di tengah jalan. Membuat Dani panik.
__ADS_1