Pinangan Kedua

Pinangan Kedua
Panggilan Sayang


__ADS_3

Setelah puas bermain di mall, Aidha dan Salwa masih belum ingin pulang. Mereka minta berenang. Dani yang sedang bahagia, menuruti keinginan anaknya. Menyuruh Disa memberi kabar ke orang rumah agar mereka tidak khawatir.


Dani melajukan mobil menuju kolam renang yang biasa mereka kunjungi. Dua anak itu berebut ingin bercerita dan didengar oleh Disa. Riuh ramai suasana di dalam mobil.


"Satu-satu dong, Nak. Oke, mulai dari Mbak Aidha dulu. Kenapa?" tanya Disa sabar.


"Umma, masa kemarin temen sekolah ada yang nembak aku. Kan kata Umma, kita tidak boleh pacaran, ya?" tanya Aidha.


"Ih, nembak? Mati dong! Jangan mau, Mbak!" cerocos Salwa.


Dani dan Disa tertawa karena kepolosan Salwa. Aidha menjelaskan pada adiknya arti ceritanya. Barulah si bungsu paham.


"Papah nggak setuju ya kalau kamu pacaran." Dani memperingatkan anaknya.


"Berteman saja, Mbak. Bilang sama temannya, kalau hal itu dilarang oleh agama." Disa menjawab pertanyaan Aidha.


"Gantian Salwa, kenapa anak manis?" tanya Disa.


"Umma nanti malam tidur di kamar Salwa, ya?"


"Ooo ..., ide yang bagus, Nak!" ucap Dani semangat.


Disa menggeleng. Dia menjelaskan keadaannya saat ini. Nanti akan ada masanya ia akan satu rumah dengan mereka. Memberikan solusi agar Aidha dan Salwa menginap di rumahnya saja.


"Bilangin ke papah," rengek keduanya.


"Mas ..., kasih izin mereka biar tidur di rumah aku." Disa menuruti keinginan dua gadis itu.


"Nanti ngrepotin kamu, nggak? Mereka besok sekolah kok, Dik ...," jawab Dani.


"Kok panggilnya mas sama dik, sih?" protes Salwa.


"Memang harus panggil apa? Umma? Kayak kalian, dong! Nggak ah," kata Dani.


"Ayang dan hani dong, Pah. Kayak tante Sita dan om Reza." Salwa pernah mendengar Reza dan Sita mengucapkan panggilan sayang mereka.


Dani dan Disa menjadi malu. Haruskah mereka mengikuti tren seperti itu? Tapi, apa salahnya? Itu bentuk ungkapan rasa sayang diantara mereka. Mobil sudah memasuki area water blaster Semarang.

__ADS_1


Dani mencari parkiran yang kosong. Mereka semua turun dari mobil. Membeli tiket masuk dan segera menyewa baju renang. Disa mengawasi kedua anak itu di family gazebo.


"Dik, kamu mau minum apa? Mas mau pesan makan buat mereka. Pasti nanti habis renang lapar lagi." Dani bergegas menuju tempat pemesanan makanan.


"Air mineral saja," jawab Disa.


Dani mengangguk. Dia memesan makanan untuk anak-anaknya. Saat membayar, ada sebuah tangan menepuk bahunya. Suara seorang perempuan menyapa telinga. Ia menoleh karena penasaran.


Ambar dengan wajah girang menyapa Dani. Tidak menyangka bisa bertemu disana. Mengatakan bahwa mereka adalah jodoh. Lelaki itu hanya tersenyum menanggapinya.


Ambar bertanya dimana gazebo Dani. Namun pria itu malah pamit meninggalkannya. Mengikuti langkah Dani. Melihat seorang wanita yang dia benci.


"Ngapain kamu disini, Sa?" tanya Ambar judas.


"Assalamu'alaikum, Mbak. Mengawasi anak-anak." Disa menjawab dengan senyum tulus.


Dani membiarkan keduanya bercakap. Namun Ambar terlalu agresif. Dia tidak bicara dengan Disa, malah menggelendot manja dengannya. Membuat lelaki itu takut jika calonnya salah paham.


"Umma sayang, Mas mau lihat anak-anak dulu. Biar nggak terlalu jauh mainnya." Dani langsung meninggalkan kedua wanita itu.


Desiran hangat dan lembut kembali menghiasi hati Disa. Wanita itu tersenyum malu ketika mendapatkan panggilan spesial dari Dani. Meski dia tahu, lelaki itu melakukannya agar Ambar sadar diri.


Tadi pagi, waktu emak mengantarkan sayur pesanan ibu Ambar, dia sudah merasa aneh. Mak Nur biasanya akan antusias jika dia menjelek-jelekkan Dani. Tapi, tadi wanita tua itu hanya tersenyum dan tidak memedulikannya.


Sore ini dia mendapatkan jawaban atas sikap acuh emak. Makanan yang dipesan Dani sudah datang, Disa memanggil Aidha, Salwa, dan papahnya.


"Mas Dan ..., tolong panggilkan anak-anak, suruh mereka makan dulu." Disa sedikit berteriak karena jarak Dani agak jauh dengannya.


Ambar semakin kesal karena panggilan Disa pada Dani. Berani sekali wanita itu memanggil lelaki yang dia cintai dengan panggilan mesra seperti itu. Wanita itu berdiri di hadapan guru cantik itu dan memperingatkannya.


"Aku bakal rebut mas Dani dari kamu, Sa!" ucap Ambar ketus pada Disa.


"Iya, Mbak. Silahkan, kalau dia memang berjodoh denganmu pasti akan kembali padamu." Disa tidak gentar dengan ancaman Ambar.


Dia mencoba sabar menghadapi Ambar. Ingin sekali rasanya memarahi wanita itu karena telah meracuni pikiran emak dengan kata fitnahan. Membuat Dani harus mengalami hal tidak mengenakkan hati. Tapi Disa sadar, percuma menasihati orang yang sedang terbakar amarah.


Tidak melawan dan mengiyakan ucapan orang itu merupakan salah satu cara terbaik. Aidha, Salwa, dan Dani kembali. Ambar mencoba menyapa dua anak itu, tapi diacuhkan oleh mereka. Disa menggeleng tidak setuju atas sikap dua gadis manis itu.

__ADS_1


"Ucapkan salam untuk menyapa seorang yang seiman dengan kita, Nak. Raih tangannya dan cium dengan penuh takdzim." Disa membenarkan sikap kurang sopan itu.


Terpaksa dua anak itu menurut dengan sang pawang. Disa mengambilkan dua handuk baru yang dibeli Dani. Menyelimutkannya pada Aidha dan Salwa agar tidak kedinginan. Nasi goreng yang masih panas itu sungguh menggiurkan. Porsi yang terlalu banyak membuat mereka hanya makan sepiring berdua.


Dani bertanya kenapa tidak satu piring untuk perorang? Mereka menjawabnya dengan sangat manis.


"Yang satu lagi untuk umma dan Papah," ucap kakak adik itu kompak.


Rona wajah kedua orang yang sedang dilanda asmara itu memerah. Tidak dengan Ambar, wanita itu semakin terbakar. Dia berbalik tanpa pamit pergi meninggalkan Dani dan keluarganya.


"Kamu saja yang makan, Dik. Mas masih kenyang." Dani menyodorkan piring ke hadapan Disa.


"Sama Mas, dibungkus bisa nggak?"


"Lhah, malu-maluin to, Dik. Masa dibungkus?" protes Dani.


"Memang kenapa? Nanti kan bisa kita berikan untuk orang yang membutuhkan," pungkas Disa.


"Ya sudah, terserah kamu." Dani memilih mengalah.


Setelah makan selesai, dua anak gadis itu ingin melanjutkan renang sebentar. Dani dan Disa kembali berdua.


"Ambar itu pernah mau dijodohkan denganku," terang Dani memulai obrolan kembali.


"Iya aku tahu kok, Mas. Sita pernah cerita ke aku. Lalu, kenapa kamu tidak mau?" tanya Disa penasaran.


"Aidha sangat tidak suka dengannya, dan aku memang tidak menyukainya. Setiap malam menerorku dengan pesan, menurutku wanita itu terlalu agresif. Aku nggak suka."


"Lalu sukanya yang seperti apa, Mas?"


Dani menatap Disa agak lama, lalu tersenyum ketika wanita itu membuang pandangannya.


"Pakai acara nanya, ya kamu, yang selalu sibuk memikirkan urusan akhirat ketimbang duniawi. Penyejuk hati bagi keluarga. Aku lamar besok malam ya, Dik? Pakai baju yang warnanya senada. Enaknya warna apa, ya?" tanya Dani.


Mereka berdua sama-sama berpikir. Menentukan warna baju yang akan dipakai besok malam.


"Biru!" ucap keduanya kompak.

__ADS_1


Aidha dan Salwa menggoda mereka. Wajah mereka sama-sama merona kembali. Hati mereka sangat berbunga untuk saat ini. Disa membantu dua gadis itu ganti baju. Dani menunggu mereka di mobil. Perjalanan kembali menuju rumah mertua Dani.


__ADS_2