Pinangan Kedua

Pinangan Kedua
Marah dan Kecewa


__ADS_3

Ateng berhasil lolos dari kejaran warga. Dia merasa sangat marah dan kesal. Jika guru Salwa tidak datang, maka sudah habis anak itu dilahapnya. Ia murka karena kedatangan wanita berjilbab itu.


Keningnya sakit dan membiru karena terkena ketapel warga yang menolong Salwa. Langkah kaki Ateng pincang karena dia jatuh saat dikejar warga. Ia berhasil menghindari kejaran itu karena menghanyutkan diri di sungai besar. Kini, pemuda itu tengah mengatur napasnya yang tersengal.


Ateng menyusun rencana agar tidak tertangkap. Dia harus memiliki tempat persembunyian untuk sementara waktu. Pasti keluarga Salwa sudah melaporkannya ke polisi. Ia tidak mau dipenjara, sangat takut bila hal itu terjadi.


Secepat mungkin Ateng harus kembali ke rumah. Mengambil apa yang dia butuhkan. Ia berencana akan meninggalkan kota Demak, tapi terkendala oleh biaya. Orang tuanya pasti tidak akan memberinya uang.


"Aish! Coba saja aku lebih cepat, pasti hal ini tidak akan terjadi!" ucap Ateng sambil menendang kaleng.


"Pokoknya balik dulu, ambil yang bisa aku jual. Hasilnya buat ongkos kabur." Ateng bergegas ke rumah.


***


Sita meminjamkan pakaian ganti untuk Disa. Jilbabnya robek karena ulah pemuda itu. Setelah membersihkan diri, Disa mulai bercerita pada semua orang. Mamah Yuli yang baru saja bangun karena kelelahan, sampai syok melihat keadaan cucunya.


Aidha yang baru saja pulang, juga terkejut melihat orang ramai. Disa berpesan padanya agar lebih berhati-hati saat berangkat dan pulang sekolah. Tidak ada yang tahu dan mau kejadian ini terjadi. Waspada merupakan benteng paling utama.


Aidha menangis sedih karena melihat keadaan Salwa. Hampir saja adiknya itu menjadi makanan bagi sang predator. Si sulung memang anak yang cerdas, dia bertanya pada Sita apakah hal itu ada kaitannya dengan supir mereka?


"Mungkin nggak kalau pak Kus ada hubungannya sama Salwa? Kan tiga hari ini dia nggak mau dijemput sama beliau?" tanya Aidha.


"Pak Kus?" tanya Disa dan Mamah Yuli bersamaan.


"Iya," jawab Aidha. Lalu dia mulai menceritakan kejadian selama neneknya pergi.


Mamah Yuli seperti kayu yang sedang dibakar. Hatinya membara jika benar itu ada kaitannya dengan supirnya itu. Pak Kus langsung dipanggil oleh majikannya. Dicecar pertanyaan yang begitu banyak.

__ADS_1


"Saya memang dua kali mengajak keponakan saya, Nyah. Itu karena dia akan berangkat mencari kerja. Saya nggak tahu kalau dia macam-macam sama Salwa. Saya minta maaf, Nyah," ucap Pak Kus terlihat menyesal.


"Untuk apa bawa keponakan, Pak? Anda tahu sendiri aturan di rumah ini! Kenapa berani sekali ngumpet-ngumpet dari kami seperti ini? Sekarang lihat yang dialami cucu saya!"


"Iya, Nyah. Maaf, saya salah." Pak Kus benar-benar tidak tahu harus berkata apa lagi.


Mamah Yuli menghela napas. Tidak tahu harus bagaimana menghadapi supirnya itu. Sita menengahi pembicaraan mereka.


"Kita tanya Salwa dulu, benar atau tidaknya hal ini. Dia belum cerita, Mah. Tenang dulu, ya. Jika hal itu memang terbukti dilakukan oleh keponakan Pak Kus, biarkan papahnya Salwa yang menentukan. Pak Kus, coba pulang dan cari keponakannya. Tanya sama keponakan Anda, apa yang dilakukan seharian ini?" Sita mempersilahkan supirnya keluar.


Disa dan Aidha sedang berada di kamar bersama Salwa. Menguatkan gadis cilik itu untuk berserah pada Allah. Disa mencoba mengulik sedikit demi sedikit kisah yang dialami si bungsu.


Salwa bercerita sambil berderai air mata. Membuat suasana sangat mengharu biru. Disa sangat prihatin mendengarnya. Aidha langsung memeluk gadis kecil itu ketika tahu alasan tidak bercerita adalah untuk melindunginya.


"Makasih ya, Sal. Besok lagi jangan mencoba melindungi Mbak, ya? Mbak bisa jaga diri sendiri. Harusnya kamu ngomong sama kami, agar tidak ada kejadian seperti ini. Aku takut kamu kenapa-napa, Sal." Aidha menghapus air mata adiknya.


"Mbak, tidak boleh menyalahkan yang sudah terjadi. Itu terjadi atas kehendak Allah. Qodarullah Salwa mengalami hal menakutkan seperti ini. Ambil sisi baiknya. Kita harus waspada terhadap sekitar, apalagi lawan jenis yang bukan mahram. Selain itu, kalian bisa mengungkapkan rasa sayang masing-masing, bukan?"


"Salwa makan dulu, ya? Ust suapkan, mau, Nak?" tanya Disa.


"Biar Aidha aja yang suapkan Salwa. Ust tolong beritahu tante dan mbah tentang cerita Salwa," ucap Aidha mulai beranjak mengambilkan makanan untuk adiknya.


Disa tersenyum. Dia keluar dari kamar dan bergabung dengan Mamah Yuli, Sita, Rida, dan Arsya. Andra sedang tidur. Dia menceritakan bahwa yang melakukan perbuatan mengerikan itu adalah keponakan dari Pak Kus.


Benar dugaan Aidha yang mengaitkan dua masalah yang ada. Pemuda itu terlewat berani hingga mengaku sebagai om dari Salwa. Menjemput di lingkungan sekolahan. Mamah Yuli benar-benar marah dengan supirnya.


"Mas Dani udah diberi kabar, Ta?" tanya Disa berbisik karena melihat Mamah Yuli yang sangat marah dan sedang meluapkan emosinya.

__ADS_1


Sita mengerjapkan matanya. Disa memanggil kakaknya dengan sebutan apa tadi? Mas? Wow! Sungguh luar biasa! Sejauh mana kedekatan mereka?


"Ta!" Disa menepuk bahu Sita.


"Eh, iya. Tadi aku telpon nggak diangkat. Mungkin masih salat jum'at. Coba aku telpon lagi." Sita menghubungi Dani kembali.


Masih juga tidak diangkat. Disa menyuruhnya untuk mengirim pesan saja. Dia berpikir mungkin lelaki itu sedang sibuk. Ia memilih kembali ke kamar. Melihat Salwa makan disuapi oleh Aidha. Duduk di tepi ranjang menikmati pemandangan penuh kasih sayang seorang kakak untuk adiknya.


Dani yang baru selesai salat langsung mengikuti acara gladi kotor. Ponselnya masih di dalam tas ransel. Belum mengetahui kejadian yang menimpa anaknya. Jam semakin mendekati acara pembukaan jambore nasional.


Semua rombongan sudah datang. Salah seorang guru pendamping mendekati Dani. Dia adalah Rifana. Memberitahukan pada lelaki itu kejadian yang dialami Salwa setelah mendengar cerita Disa lewat telepon.


Dani syok hingga jatuh terjerembab. Segera mencari keberadaan ponselnya. Benar saja, saat dia membuka pesan Sita ceritanya sama persis dengan yang dibicarakan Rifana.


Lelaki itu langsung mendekati kepala dinas. Meminta izin pulang karena mendapatkan kabar buruk. Setelah mengantongi izin, Dani langsung tancap gas kembali ke rumah.


Hati dan pikiran Dani tidak tenang. Dia mencoba fokus karena sedang menyetir. Berharap segera sampai rumah dan memeluk Salwa. Gadis kecilnya pasti membutuhkan pelukan itu.


Setelah sampai rumah, Dani memerintahkan Sita untuk menyuruh Reza menggantikannya mengikuti acara jambore nasional. Dia segera mencari keberadaan Salwa. Disa mencegah langkahnya ketika hendak menemui si bungsu.


"Aidha dan Bu Yuli sedang menemaninya tidur. Tenangkan diri Anda terlebih dahulu," ucap Disa yang berdiri beberapa langkah dibelakang Dani.


"Kenapa bisa terjadi hal seperti ini sih, Ust?" tanya Dani.


Disa menyuruhnya duduk di meja makan. Dia membuatkan teh dan menyodorkan ke hadapan Dani. Ia ikut duduk di depannya. Setelah seteguk teh itu dinikmati, barulah wanita itu bercerita.


"Saya minta maaf, hal ini terjadi juga karena kecerobohan saya. Pemuda itu mengaku sebagai Fikri. Dia langsung menarik Salwa begitu saja. Saat saya menghubungi Sita untuk mengkonfirmasi hal itu, barulah saya tersadar bahwa si kecil dalam bahaya," terang Disa meminta maaf atas kecerobohannya.

__ADS_1


Dani menghela napas, sedikit kesal atas kecerobohan yang dilakukan oleh Disa. "Di ruang tamu itu ada foto keluarga ini, tolong diingat satu per satu, agar tidak ada lagi kejadian begini."


Disa mengangguk. Dia meminta maaf lagi pada Dani. Memahami kekesalan pria itu, dan menerima jika disalahkan olehnya. Dani beranjak dari kursi dan meninggalkan Disa di dapur sendirian. Ingin menemui Salwa.


__ADS_2