Pinangan Kedua

Pinangan Kedua
Nasi Mawut


__ADS_3

Dani langsung mengatupkan kedua bibirnya. Bisa-bisanya dia kelepasan mengucapkan syukur dengan begitu keras setelah mendengar jawaban Disa. Padahal makanan dalam piringnya saja belum habis. Membuat semua heran kecuali Sita.


Adiknya itu malah tertawa cekikikan. Dani mengambil air untuk bisa menetralisir perasaannya. Dia meneguknya sampai habis.


"Bu Nur, masakannya enak sekali. Daging kepitingnya terasa manis! Alhamdulillah, ha-ha-ha. Saya mengucapkannya karena hal itu." Dani mencoba mengklarifikasi sesuatu.


Sita sangat ingin menjahili kakaknya. Dengan cepat ia berkata, "Memang kami tanya?"


Dani baru tersadar, bahwa yang ada disana tidak membutuhkan konfirmasi apapun. Mereka semua hanya terkejut karena ucapan syukur itu begitu keras. Mengapa dia bodoh sekali hari ini? Ia hanya bisa terdiam.


Setelah makan siang itu selesai, Aidha dan Salwa membereskan barang mereka. Berpamitan pada semua keluarga Disa. Masih enggan untuk pulang. Mamah Yuli membujuk mereka dengan susah payah.


"Bu, Mas, Ust, saya mengucapkan terima kasih sudah mau direpotkan oleh Aidha dan Salwa. Maaf kami kesini tidak bawa apa-apa," kata Dani.


"Buah dan jajanan pasar segini banyaknya kok bilang nggak bawa apa-apa to, Nak Dani. Besok lagi tidak perlu repot seperti ini. Mbak Aidha, Dik Salwa, harus manut sama orang tua ya? Nanti kalau ada libur main ke rumah Mbah Nur!" balas mak Nur.


Kedua gadis itu senang bukan kepalang. Sesuai harapan mereka bahwa masih diizinkan untuk menginap lain waktu. Semua saling bersalaman, lalu berpamitan. Dani masih menyempatkan diri melirik senyuman Disa saat berada di dalam mobil.


Disa dan keluarganya masuk kembali ke dalam rumah. Mas Wakhid membawa semua piring kotor ke dapur. Disa sudah menyalakan air untuk mencucinya. Mak Nur duduk dan memerhatikan anak perempuannya dari belakang.


"Sa, apa kamu merasa ada sesuatu dari Nak Dani?" tanya mak Nur.


Disa terdiam mendapati pertanyaan itu. Hampir saja piring di tangannya terjatuh dan pecah. Mas Wakhid merasa adiknya tidak siap menjawab.


"Aneh gimana, Mak?" tanya mas Wakhid.


"Seperti ..., ada rasa ketertarikan pada Disa, Nang." Mak Nur melirik ekspresi wajah Disa dari balik punggungnya.


"Masa sih, Mak? Kok Wakhid nggak merasa begitu?"


"Kamu memang nggak pernah peka, Nang!"


Disa dan mas Wakhid malah tertawa mendengar ucapan mak Nur. Tugas mencuci piring telah usai. Ia langsung menuju kamarnya. Mengambil ponsel dan melihat pembaruan yang ada.


Ada dua panggilan tidak terjawab dari Aris. Disa segera mengirim pesan padanya. Mungkin ada yang ingin disampaikan oleh lelaki yang baru saja meminta izin pada orang tuanya.

__ADS_1


Mas Aris : Nanti pakai baju yang bagus ya, Dik. Dandan yang cantik. Jangan yang biasa-biasa aja.


Disa mengernyit mendapati pesan itu. Banyak sekali pertanyaan yang timbul dalam benaknya. Dia menyimpan lagi ponselnya, lalu mulai mengerjakan pekerjaan rumah.


Sedang di dalam mobil, Sita berbisik pada kakaknya. Ingin tahu perasaan Dani setelah mendengar bahwa ada yang ingin melamar Disa. Dia takut jika Aidha dan Salwa mendengar ucapannya. Maka dari itu ia mendekatkan bibirnya ke telinga Dani.


"Hati aman?" tanya Sita.


Dani menghela napas kesal. Adiknya satu ini memang selalu mengganggunya. Sita pasti sudah tahu jawabannya. Tidak perlu ditanyakan lagi! Itu akan membuat hati duda tampan itu pedih.


"Kalau nanti beneran lamaran sampai nikah gimana?" tanya Sita lagi.


"Mbok kalau berdo'a yang terbaik to, Ta!" jawab Dani kesal.


"Wk-wk-wk. Senangnya lihat ekspresi wajahmu yang kesel tapi nggak bisa melakukan apapun ...,"


Dani berdecak sebal, "Reza juga mau ngelamar anak orang tuh! Kamu sendiri gimana?"


Dani menang telak. Wajah adiknya menjadi muram. Tidak tertawa cekikikan lagi. Hanya bisa diam mendapatkan pertanyaan itu.


"Mana aku tahu? Tanya sendiri dong sama mas Za ..., ha-ha-ha. Gayanya berdo'a yang terbaik. Hati padahal kayak ditusuk belati. Ya, kan?"


Mamah Yuli berdahem. Membuat kedua orang dewasa itu diam. Ternyata sedari tadi hanya Dani dan Sita yang ribut sendiri. Sedangkan Aidha dan Salwa bermain ponsel.


***


Kumandang adzan maghrib bergema. Membuat semua yang beragama islam segera menunaikan kewajibannya. Dani menjadi imam untuk orang yang tinggal di rumah itu. Menjalankan tiga raka'at salat wajib.


Seusai salat Dani biasanya berdzikir. Tapi kali ini berbeda. Hati dan pikirannya sedang memikirkan seseorang. Ya, pastinya wanita. Siapa lagi jika bukan Disa?


Dia memilih untuk mengaji agar hatinya bisa lebih tenang. Namun sayangnya, rasa tenang itu hanyut ketika wajah Disa melintas di pikirannya. Dani memilih untuk menyendiri di kamar. Melihat foto istrinya dan tersenyum.


"Tidak bisakah kamu menjadi teman curhatku seperti dulu? Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan. Tapi, pantaskan untuk bercerita padamu? Karena ini soal wanita lain. Yang jujur ..., aku jatuh cinta padanya saat pandangan pertama." Dani memeluk foto dirinya dan Inaya.


Diam membisu. Berharap akan adanya sebuah suara yang membuyarkan lamunannya. Tapi itu tidak terjadi. Dia meletakkan foto itu lagi, lalu mengambil secarik kertas. Menggoreskan tinta hitam di atas kertas putih. Menuangkan isi hati dan kepalanya.

__ADS_1


Bertemu denganmu adalah hal yang tidak sengaja,


Bertamu ke rumahmu merupakan pertemuan yang ku nantikan,


Aku tidak bisa menahan rasa suka cita ini,


Tapi aku juga was-was akan lelaki yang hendak melamarmu,


Hati yang telah terkunci rapat ini bisa goyah hanya karena pribadimu,


Do'a apa yang harus aku langitkan untukmu?


Apakah kamu tahu tentang rasa yang mencuat dalam benakku?


Tidakkah kamu ingin mengetahuinya?


Hanya do'a yang terbaik yang bisa kupanjatkan untukmu,


Disa Nur Izzah.


Pintu kamar Dani diketuk oleh seseorang. Dia segera membukanya, Sita sedang meringis padanya.


"Ada apa lagi?" tanya Dani sewot.


"Busyet! Kenapa atuh? Aku disuruh mamah beli makan, Mas Dani mau apa? Nasi goreng? Mie thek-thek? Kwetiaw? Atau nasi mawut?" Sita menyebutkan menu yang ada.


Dani berpikir sebentar untuk menentukan makanan apa yang akan disantapnya malam ini. Sesuai dengan perasaannya malam ini yang sedang galau dan gundah gulana, dia memutuskan untuk memih nasi mawut.


"Biar kayak perasaanmu yang lagi mawut karena mikirin mbak Disa ya?" goda Sita dengan menaikturunkan alisnya.


Dani tidak mau menjawabnya. Dia langsung mengusir Sita. Menutup pintu kamarnya rapat-rapat dan mengunci dari dalam. Ia berpikir jika adiknya itu memiliki indra keenam. Tahu saja isi hatinya.


Sita mulai berjalan keluar kompleks. Dia memilih untuk berjalan kaki. Alasannya sepele, malas mengeluarkan motor yang sudah terparkir di garasi rumah. Toh penjual makanan itu tidak jauh dari rumah. Hanya di depan kompleks maju sedikit.


Langkahnya menjadi beku ketika sudah sampai disana. Ada lelaki yang ia kenali menyapanya. Senyuman yang sudah lama tidak dilihat, kini merekah lagi dihadapan Sita.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Ta!"


__ADS_2