
Disa menunaikan kewajibannya. Menenangkan hati dari segala ucapan orang tua Aris yang begitu menusuk hati. Setelah selesai, dia memilih berdzikir sebentar dan muroja'ah. Ponsel yang berdering membuat aktivitasnya terhenti.
Disa melihat panggilan dari siapa yang masuk ke gawainya. Lantas dia tersenyum. Orang yang diminta tolong olehnya sudah merespon. Segera ia mengakhiri muroja'ah itu dan mengangkat telepon.
"Halo, Assalamu'alaikum," sapa Disa lembut.
"Wa'alaikum salam. Masih di masjid kan?" tanya Rida.
Disa meminta tolong pada Rida. Karena dia tahu, rumah Rida tidak jauh dari masjid itu. Berharap semoga mau menolongnya.
"Masih, Mbak. Maaf malah merepotkan." Disa mengungkapkan rasa tidak enak hatinya.
"Nggak papa Ust, tolong tunggu sekitar lima belas menit ya?"
"Nggih, Mbak. Tidak usah terburu-buru. Saya banyak waktu luang," jawab Disa.
"Oke, Assalamu'alaikum," pamit Rida.
"Wa'alaikum salam." Disa menjauhkan ponsel dari telinganya.
Disa membereskan mukenanya. Merapikan jilbab dan segera menunggu di teras masjid. Mas Wakhid sudah ada disana dan sedang mencoba menghubungi seseorang. Mungkin meminta bantuan seperti yang Disa lakukan.
"Telepon siapa, Mas?" tanya Disa.
"Temenku, mau pinjam motor untuk kita pulang." Mas Wakhid masih sibuk dengan ponselnya.
"Tidak usah, Mas. Disa sudah meminta tolong pada kakaknya Sita, Mbak Rida. Rumahnya kebetulan dekat sini. Alhamdulillah orangnya mau kita repotkan." Disa duduk di samping mas Wakhid.
"Alhamdulillah ..., Nduk, sekarang kamu sudah tahu kan bagaimana keluarga Aris?" tanya mas Wakhid.
Disa diam tidak menjawab. Dia masih terngiang ucapan orang tua Aris. Memandang sebelah mata dirinya. Hanya memikirkan duniawi semata.
"Saran Mas, tidak usah lagi berhubungan dengan Aris. Masih banyak lelaki yang ingin meminang kamu. Tolong tidak usah cerita ke emak. Mas Wakhid takut nanti emak sakit hati jika mendengar kamu disepelekan," kata mas Wakhid.
Disa mengangguk, dia menghela napas panjang lalu membuangnya. "Maaf ya, Mas. Disa merepotkan Mas Wakhid terus."
"Tidak apa-apa. Kamu itu adik perempuan kami. Wajib kami kawal. Mas dan yang lain tidak akan melepaskan kamu untuk lelaki yang tidak tulus."
__ADS_1
"Matur suwun sanget, Mas." Ponsel Disa kembali berdering.
Panggilan dari Rida. Segera dia mengangkatnya. Disa mengangguk dan kembali menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Mmm ..., Mas, mbak Rida nggak bisa mengantar kita pulang ..., tapi ...," ucap Disa ragu.
"Tapi apa?" tanya mas Wakhid.
"Assalamu'alaikum," ucap seorang lelaki membuat mas Wakhid dan Disa menoleh.
Lelaki itu tersenyum hangat pada keduanya. Mas Wakhid sedikit tergagap mengetahui yang datang. Dani adalah orang yang menyapa mereka. Seperti kebetulan yang disengaja.
Mas Wakhid menatap Disa. Memberi isyarat dan bertanya apakah Dani yang akan mengantarkan mereka pulang? Disa mengangguk. Sepertinya Rida juga bersekongkol untuk mempertemukan mereka lagi.
"Rida menyuruh saya untuk menjemput Mas Wakhid dan Ustadzah disini. Dia sedang berada di luar kota," jelas Dani.
"Di luar kota? Kenapa mbak Rida tidak bilang, ya?" tanya Disa bingung.
"Mungkin tidak enak kalau harus menolak. Ya sudah, terima kasih Mas Dani. Bantuan dari Allah datang bersama orang yang tepat," ucap Mas Wakhid membuat tanya di kepala Disa.
Tidak ingin membuang waktu karena malam semakin larut. Dani mempersilahkan mereka untuk masuk ke mobil. Mas Wakhid duduk mendampingi Dani. Sedangkan Disa duduk tepat di belakang mas Wakhid.
Dani menangkap senyuman itu dari kaca spion. Menahan agar perasaan senangnya tidak menguar. Masih takut menunjukkan apa yang sebenarnya dia rasakan. Ya, dia takut. Banyak hal yang harus dia pikirkan sebelum memutuskan mengatakan perasaannya saat ini.
Mas Wakhid tersenyum sekilas. Dia seperti sedang menonton anak kemarin sore belajar percintaan. Padahal, lelaki yang di sampingnya itu adalah seorang duda. Satu hal lagi yang ia kagumi dari Dani, yaitu bisa menahan hasratnya yang menggebu untuk adiknya.
"Disa itu suka sekali dengan hujan." Mas Wakhid membuyarkan lamunan Disa.
Dani menoleh dan ber-oh ria. "Tapi dia takut sama gledek." Mas Wakhid melanjutkan kalimatnya.
Disa mencolek bahu kakaknya, "Untuk apa memberitahu pak Dani hal yang Disa suka dan takuti?"
"Ya nggak papa, Mas kan cuma ingin Mas Dani tahu tentang kamu," ucap Mas Wakhid berselubung maksud yang tidak dapat diterjemahkan oleh Dani.
Dani bertanya tentang keseharian Mas Wakhid yang bekerja sebagai nelayan. Matanya terkadang melihat Disa yang diam di belakang. Masih takut untuk memulai sebuah obrolan. Padahal sedari tadi mas Wakhid sudah memberikannya kesempatan.
"Disa itu paling pandai membuat udang pedas manis, sambal cumi, sama kerang saus padang. Banyak orang dari kantor biasanya pesan makanan sama dia." Mas Wakhid mengunggulkan kelebihan Disa lagi.
__ADS_1
"Mas ...," rengek Disa kesal.
"Oh, ya? Boleh dong saya dibuatkan untuk acara jum'at depan?" tanya Dani lebih santai.
"Acara apa, Pak?" tanya Disa.
"Jum'at berkah. Saya pesan nasi sambal cumi seratus box. Pagi jam enam saya ambil ke rumah, bisa?"
Disa mengangguk. "Tidak basi kalau sampai sore hari, kan?" tanya Dani lagi.
"InsyaAllah tidak, Pak. Tidak usah ke rumah. Biar saya bawa sekalian saat berangkat mengajar." Disa mencoba bernegosiasi dengan Dani.
"Jangan, nanti kamu repot bawanya! Biar saya aja yang ambil."
"Nggak, Pak. Saya biasa bawa kalau ada pesanan." Disa bersikeras menolaknya.
"Tolong jangan menolaknya, karena saya akan tetap memaksa untuk mengambil pesanan itu. Biayanya berapa?"
Disa menjadi kesal karena Dani tetap ingin mengambil pesanannya ke rumah. Dia memilih diam dan mengatur napasnya. Mas Wakhid mencoba menengahi perdebatan kecil itu. Lucu juga untuk orang seusia Dani masih ingin menang sendiri.
"Terima saja usul mas Dani, Nduk. Beliau hanya tidak ingin kamu repot. Disa biasanya menerima pembayaran setelah makanan dibagikan ke sasaran tujuannya, Mas," jawab mas Wakhid.
"Oh, gitu. Pikir saya tak bayar sekarang biar bisa untuk modal."
"Ck! Apa semua orang-orang kaya seperti Anda selalu mengukur segala sesuatu dari uang?" Disa menaikkan suaranya satu oktaf.
Dani terkejut dengan kemarahan Disa. Salah apa dirinya? Apakah ucapannya membuat Disa tersinggung? Dia mengingat lagi perkataannya. Sepertinya tidak ada yang salah. Dani memilih menepikan mobil sejenak.
Disa keluar dari mobil, meneduhkan diri di bawah rintikan hujan. Dani memberikan payung pada mas Wakhid yang hendak mengikuti adiknya. Sedang ia sendiri memilih tetap di dalam mobil.
"Sa, kamu kenapa? Kok marah sama mas Dani?" tanya mas Wakhid sambil memayungi adiknya.
Disa menggelengkan kepalanya. Dia juga tidak tahu kenapa menjadi begitu. Apa karena ucapan keluarga Aris?
"Jangan kalah sama amarah, Nduk. Istighfar. Kalau kamu marah karena ucapan keluarga Aris, harusnya kamu tidak melampiaskannya pada mas Dani. Dia sudah bersedia membantu kita lho, Nduk. Dia hanya tidak ingin membuatmu susah. Sudah ya? Jangan marah lagi."
Disa mengangguk. Menuruti nasihat kakaknya. Mereka kembali masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Maaf,"