Pinangan Kedua

Pinangan Kedua
Pingitan


__ADS_3

Hari H semakin dekat, semua persiapan sudah banyak yang tercentang. Sederhana, kekeluargaan yang kental, dan ceria adalah tiga elemen utama yang ada pada pernikahan Dani dan Disa. Semua turut membantu persiapan agar acara berjalan sesuai keinginan mempelai.


Sabtu kemarin, Dani mengajak Disa ke Semarang. Berkunjung ke rumah mertuanya dan ke makam Inaya. Aidha dan Salwa selalu menjadi pendamping setia kemanapun mereka pergi. Dan sekarang bertambah Mas Wakhid yang ekstra menjaga adiknya.


Mereka membersihkan makam itu, mencabut rumput yang tumbuh tinggi, menyingkirkan bunga kering, mengganti dengan kembang mawar, dan menyiramkan air mawar di atas nisan. Mas Wakhid memimpin do'a yang ditujukan untuk almarhumah istri calon iparnya. Berharap dia juga ikut bahagia disana.


"Assalamu'alaikum istri pertamaku, Mas datang sama anak-anak, dan juga calon ibu sambung mereka." Dani meminta Disa mendekat padanya.


"Ini namanya ustazah Disa Nur Izzah, guru di sekolah Salwa. Mengajar ngaji anak-anak kita. Tahu tidak? Dia yang berhasil meluluh lantakkan hati Aidha yang sangat marah pada Mas. Dia yang menolong Salwa saat dalam bahaya, dan ini adalah orang yang mampu menggetarkan hati Mas selain kamu."


Disa tersenyum ke arah nisan itu. "Assalamu'alaikum, Mbak In. Saya Disa. Mbak, izinkan saya untuk bisa menjadi ibu sambung bagi anak-anakmu, menjadi penyejuk untuk keluargamu, dan meneruskan perjuanganmu. Tolong restui saya dan mas Dani."


Salwa yang sedari tadi diam langsung menunjuk ke arah depannya dan tersenyum. "Itu ibu disana, Pah, Umma! Lihat, ibu senyum sama kita!"


Aidha dan yang lain langsung celingukan mencari orang yang dimaksud oleh Salwa. Tidak ada orang lain kecuali rombongan keluarga itu. Dani dan Disa seakan tahu bahwa memang Inaya hadir diantara mereka, lalu tersenyum.


Dani berpamitan dan pergi meninggalkan makam Inaya. Disa berjalan beriringan dengannya sambil menunduk.


"Mas, nanti ..., kalau ..., kita sudah menjadi suami dan istri ..., tolong jangan lupakan mbak Inaya, ya? Sering-sering kesini dan kirim do'a untuknya. Aku tahu, posisi dia di hatimu sangat spesial. Dan aku juga sadar, aku punya posisi sendiri di ruang hatimu juga."


Dani tersenyum dan mengangguk, "InsyaAllah. Hmm ..., ini minggu terakhir kita bertemu, ya? Setelah ini pingitan. Pasti bakalan sepi nggak ada kamu, sedih ...."


"Ih, apaan sih, Mas? Malu sama anak-anak dan mas Wakhid! Cuma seminggu ..., tahan dulu rindunya ...." Disa menahan senyum malu saat mengatakannya.


"Seminggu itu lama, Dik ..., kalau nanti Mas nggak kuat gimana? Boleh video call?"


"Astaghfirullah ..., kayak anak kecil! Yang boleh video call hanya Aidha dan Salwa. Emang kamu nggak ingin pangling lihat aku nantinya?" tanya Disa.


Dani menggeleng. Dia memilih untuk tidak pangling melihat Disa. Masih ingat kejadian waktu pinangan pertama, kan? Tidak berkomunikasi ataupun bertemu selama dua minggu saja dia sudah kalang kabut. Semakin berat saja cobaannya menjelang hari pernikahan.


Pingitan pun dimulai. Mereka memegang teguh janji agar tidak saling bersua. Acara pengajian digelar di rumah Disa. Khataman tiga puluh juz Al-qur'an dibaca oleh dia dan temannya. Banyak yang datang ke rumah untuk membantu persiapan acara besok.

__ADS_1


Tenda dan pelaminan sudah mulai dipasang. Anak-anak riuh riang gembira bermain di pelataran rumah. Janur kuning sudah berdiri tegak di depan gang masuk. Banyak orang berlalu lalang membawa ini dan itu.


Sementara di perumahan Taman Wiku, Dani sedang menjamu tamu yang berkunjung ke rumah. Suasana tidak berbeda dengan di rumah Disa. Para saudara berkumpul menjadi satu.


"Nanti malam ada acar midodareni tidak, Dan?" tanya salah seorang saudara jauh.


"Tidak ada, Pakdhe," jawab Dani singkat.


Saat malam menjelang, Dani tidur di ranjangnya seorang diri. Mengusap bantal kosong di sampingnya. Tersenyum malu sendiri saat membayangkan Disa besok akan tidur di sampingnya.


"Langit, bisakah kau suruh pagi agar cepat datang? Aku ingin segera ijab qobul, dan langsung nubruk dik Disa," pinta Dani sambil melihat langit kamarnya.


Demam malarindu yang disebar oleh sang virus cinta jenis akut sudah menyebar di seluruh tubuh Dani. Sampai bisa meminta permintaan yang tidak masuk akal. Dia bangun kembali dan terduduk. Berlagak sedang memegang tangan Mas Wakhid dan mengucapkan ijab qobul.


"Saya terima nikah dan kawinnya Disa Nur Izzah binti almarhum bapak Baedowi, dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"


Dani girang bukan main membayangkan para saksi mengucap sah. Disa menjadi halal untuknya. Dia melihat jam lagi, ternyata baru pukul sepuluh malam. Mimpinya terlalu dini untuk menantikan pagi.


***


Sigit, Hamka, dan Zafran sedang dalam pertemuan rapat koordinasi se-Jawa Tengah. Berlangsung pada malam hari, membuat mereka mengantuk. Butuh suatu hiburan agar menjadi lebih fresh.


Sigit menulis surat di kertas kecil seperti jaman anak SD meminta contekan. Mengirimkannya pada Hamka dan Zafran. Berharap mereka tahu bahwa dia sedang suntuk sekali.


Sigit : Kapan rapat selesai? Pengen tempur aku sama marmut.


Dia memberikannya pada Hamka.


Hamka : Aku lagi puasa, bojoku kedatangan tamu bulanan.


Hamka memberikan kertas kecil itu pada Zafran.

__ADS_1


Zafran : Bahas oponan to? Seniormu kan anak polos, mana paham hal begituan!


Hamka dan Sigit membacanya bersama-sama. Lalu mereka melirik tajam ke arah Zafran. Bergaya sekali senior itu. Siapa yang main sosor mulut Zoya di dalam ATM? Aih, dia sudah amnesia!


Sigit : Pret! Percaya aku, Ndan! Besok datang ke acara nikahannya pak Dani? Ali maksa banget pengen datang. Pengen tampil lagi dia katanya!


Hamka : Pak Dani siapa? Kok aku nggak tahu!


Zafran : Ada pokoknya, datang yuk! Kayaknya seru! Dia itu duda dapat gadis ting-ting lho! Ali beneran mau manggung?


Sigit : Iya, dong! Aku udah pilih lagu.


Hamka : Yang ikut siapa aja? Undangan jam berapa? Kalau urusan makan gratis hayuk lah!


Sigit : Yang pasti ikut aku, Muti, Zia, Ali dan keluarga, Danang dan keluarga. Damar jauh di Purwakarta mana bisa ikut! Bima apalagi, di Surabaya. Dari Demak siapa aja, Ndan?


Zafran : Aku dan keluarga pasti ikut, Archee belum pasti, tapi diusahakan. Gendon, lu ikut kagak?


Hamka : Ikut lah! Sudah aku bilang, urusan makan gratis hayuk!


Zafran : Mau nyumbang lagu apa, Si?


Sigit : Pengantin baru, gimana?


Hamka : Ih pasaran! Yang lain dong! Magadir gimana?


Zafran : Ck! Pilih lagu itu yang lain dari biasanya gitu lho. Nanti aku hubungi Ali. Penting siapkan kado dulu buat pengantinnya.


Sigit dan Hamka mengangguk. Lalu Zafran melipat kertas itu agar tidak dibaca oleh orang lain. Mereka kembali fokus untuk urusan rapat.


Kira-kira lagu apa yang akan mereka bawakan di acara pernikahan Dani dan Disa?

__ADS_1


__ADS_2