
Dani mendirikan salat sunnah dhuha empat raka'at sebelum berangkat menuju Bonang. Seperti yang telah disepakati bersama dengan petugas KUA, dia akan mengucapkan ijab qobul tepat pukul sembilan pagi. Ia dan Disa memilih jam itu karena meyakini bahwa waktu itu adalah turunnya para malaikat menyebar rezeki di bumi.
Mereka ingin pernikahan itu membawa berkah bagi semua yang terlibat. Dapat merasakan kebahagiaan yang juga Dani dan Disa rasakan. Aidha dan Salwa tampil cantik dengan polesan make up natural dan gaun yang menutup aurat. Keduanya memakai hijab seperti keinginan calon umma mereka.
Mamah Yuli, Rida, Sita, Fikri, Arsya, dan Reza sudah tampak cantik dan tampan dalam balutan kebaya dan beskap dengan warna senada. Semua terlihat bahagia menyambut hari ini. Hari yang akan menjadi saksi pernyataan cinta seorang duda pada pujaan hatinya lewat upacara sakral, yaitu pernikahan.
Dani menghampiri mamahnya yang sedang sibuk dengan urusan seserahan. Menarik tangan dan mengajaknya duduk. Lalu dia sungkem memohon do'a dan restu sang mamah. Orang yang paling berjasa dalam hidupnya selama ini.
"Mah, hari ini Dani minta do'a dan restu dari Mamah lagi. Tolong mintakan sama Allah agar pernikahan kedua Dani sakinah, mawaddah, warahmah. Terima kasih sudah mau Dani repotkan selama ini." Dani menitikkan air mata saat meminta restu.
Mamah Yuli tidak kuasa membendung air matanya. Meleleh di pipi begitu saja. Permintaan Dani sungguh terdengar tulus. "InsyaAllah kalian akan selalu dilimpahi kebahagiaan, dijauhkan dari keburukan, dan diberkahi oleh ketaqwaan. Jadikan rumah tanggamu sebagai rumah yang selalu kamu rindukan. Jika memang ada ombak dan gelombang, maka lindungilah yang menjadi tanggung jawabmu, jangan meninggalkan mereka. Mamah merestuimu, Nak."
"Aamiin, matur suwun, Mah." Dani bangkit dan memeluk mamahnya dengan erat. Selalu hangat jika ia memeluk ibunya seperti itu.
Rida, Sita dan Fikri juga ikut terharu melihat kakaknya. Menghampiri dan memeluk keduanya. Reza dan Arsya mengatur seserahan yang dibawa. Menata di atas mobil bak terbuka dan bersiap menuju Bonang.
Semua dipersilahkan menaiki armada yang sudah disipapkan dari keluarga Dani. Reza menjadi supir untuk Dani. Aidha dan Salwa berada di sisi kanan dan kiri papahnya. Tangan Dani sudah mulai dingin, dadanya berdebar lebih cepat. Buliran kecip keringat mulai muncul di dahi.
"Papah grogi, ya?" goda Aidha.
Dani menggeleng, "Mana ada! Nggak! Papah santai, kok!"
"Dih, mana ada orang santai tapi tangannya dingin dan keringatan. Nggak ada kali," pungkas Aidha.
Mamah Yuli menyuruh Aidha diam. Reza menahan tawanya melihat sahabatnya masih bisa grogi juga. Bukannya dulu dia sudah pernah melaksanakan ijab qobul? Atau karena waktu terlalu lama hingga lupa dan grogi?
__ADS_1
Rombongan telah sampai di rumah Disa. Semua yang hadir menyambut tamu mereka dengan senyuman tulus. Tabuhan gamelan dari kaset yang terputar membuat suasana makin menegangkan. Seserahan yang dibawa diterima oleh keluarga Disa.
"Katanya suaminya Disa duda? Kok ya mau?" bisik salah seorang tetangga.
"Iya, duda. Anak dua lagi. Orang berada kok, ya pasti mau!" jawab yang lainnya.
Istri Mas Wakhid yang mendengar slentingan itu langsung menggelengkan kepala. Bukan main ketika mulut tetangga sudah menganga. Mencibir dengan sangat pedas.
"Disa kalau nyari yang kaya sudah dari dulu dapat, Mbak. Bukan karena itu, anak-anak pak Dani itu lho yang membuat Disa jatuh cinta. Enak saja bilang adikku matre!" bela istri Mas Wakhid.
Dani langsung diarahkan untuk ke teras rumah. Duduk bersama Mas Wakhid dan para saksi. Menyunggingkan senyum meski ketegangan hebat menyandra dirinya. Mereka sedang menunggu petugas KUA datang.
Setelah menunggu sekitar sepuluh menit, orang dari KUA pun datang, tepat jam sembilan pagi. Fikri digadang sebagai pembaca tilawatil qur'an saat acara ijab akan berlangsung. Sungguh, suaranya sangat merdu dan nyaman didengar. Mirip muadzin dari tanah Mekkah.
"Bismillahirrahmanirrahim ..., Muhammad Ardani, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, dengan adik saya yang bernama Disa Nur Izzah binti almarhum Baedowi dengan mas kawin seperangkat alat salat, emas sepuluh gram, dan uang tunai lima juta rupiah dibayar tunai!"
Dani menarik napas panjang, "Bismillahirrahmanirrahim, saya terima nikah dan kawinnya Disa Nur Izzah binti almarhum Baedowi dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
"Sah!" Kedua saksi itu mengesahkan ijab qobul yang baru saja terjadi.
"Barakallahu laka, wa baraka 'alaika, wa jama'a bainakuma fii khoir ...," petugas dari KUA melaksanakan tugasnya untuk membacakan do'a untuk pengantin.
Dani menangis haru saat selesai mengucapkan ijab. Sungguh hatinya begitu bahagia mendengar kata sah. Dani menjemput sendiri istrinya yang masih menunggu di dalam kamar pengantin. Menghapus air mata, tapi tetap saja masih keluar.
Dia tersenyum bahagia melihat Disa yang telah sah menjadi istrinya tampil begitu memesona dengan balutan gaun pengantin berwarna putih. Sita memberikan tisu untuk kakaknya dan memeluknya. Kini Dani dan Disa saling berhadapan. Wanita itu masih saja tertunduk malu terhadap suaminya.
__ADS_1
Disa hendak meraih tangan Dani dan menciumnya, tapi tangannya terlalu bergetar. Hingga Sita harus membantunya untuk bersalaman dengan suaminya. Saat hendak disambut oleh Dani, dia menarik lagi tangannya. Dadanya bergetar hebat. Inilah pertama kali Disa akan berjabat tangan dengan lelaki selain keluarganya.
"Ayo, Mbak. Salami suamimu, minta berkah darinya." Sita membujuk Disa agar mau menyalami kakaknya.
"Bentar, Ta ..., Mbak grogi ...," jawab Disa mengepalkan tangan.
Dani tertawa mendengarnya. Bahkan saat sudah sah, wanita itu masih bisa grogi. Lelaki menjulurkan tangannya, berharap istrinya segera menyambut uluran itu.
Dengan mengucapkan basmalah, Disa menyambut uluran itu. Menyalami suami sahnya dengan penuh takdzim. Dani kembali menangis. Setelah itu, tangan kanannya memegang puncak kepala Disa. Membaca do'a setelah nikah.
Menggenggam tangan Disa dan membawanya keluar menuju altar akad nikah. Saat melewati Mamah Yuli, Disa menyalaminya dan dia dipeluk oleh wanita tua itu. Disa dan Dani menandatangi buku nikah. Lalu berfoto bersama.
Acara dilanjutkan dengan prosesi adat. Kedua pengantin itu tidak henti-hentinya menyunggingkan senyum bahagia. Aidha dan Salwa selalu menjadi pengiring setia untuk orang tuanya. Dani dan Disa menghampiri tamu yang sudah menyempatkan waktu datang ke acara mereka, menyuruh untuk menikmati hidangan yang tersedia.
"Mas ..., mau makan?" tanya Disa saat sudah berganti gaun.
"Nanti saja, Dik. Sekalian makan besar!"
Disa mengernyitkan dahi tidak mengerti dengan maksud ucapan suaminya. "Melahap kamu nanti malam!"
Disa langsung memukul bahu suaminya dengan keras. Bisa saja dia menggodanya di siang hari. Waktu semakin mendekati resepsi. Semua meja untuk prasmanan sudah ditata. Satu persatu menu yang telah matang dihidangkan di meja itu.
Tamu undangan dari sekolah Disa datang secara bersamaan dengan rombongan kantor Dani dan geng somplak. Membuat suasana semakin riuh ramai berbalut kebahagiaan.
Siap-siap ricuh dan rusuh. Mas Si, please, jangan gila!
__ADS_1