Pinangan Kedua

Pinangan Kedua
Bantu Papah


__ADS_3

"Nah, gitu dong tertawa! Mami nggak suka lihat Sita diam bagaikan kuda," ucap Mami Farah salah lagi dalam memberikan perumpamaan.


"Bagaikan patung, Mi. Kalau kuda nanti dia udah lari jauh!" protes Papi Kusno.


Reza menyuruh semuanya untuk salat terlebih dahulu. Andra dititipkan ke mami Farah. Gemas sekali dengan tingkah Andra. Arsya bertindak sebagai imam.


Papi Kusno memang paling handal dalam menidurkan bayi. Baru lima menit Andra bersandar di pundak, sambil ditepuk bagian punggungnya, Andra tertidur. Lantunan salawat nabi yang disenandungkan begitu membuat bayi itu terlena.


"Lhoh, Andra tidur, Om?" tanya Rida.


Mami Farah mengisyaratkan Rida agar diam. Menyuruh semua untuk makan terlebih dahulu. Mereka langsung menuju ruang makan. Sita ingat kue yang dibawanya.


"Tante ...," ucap Sita.


"Ck! Mami!" protes Mami Farah.


"Oh, maaf, Mi. Ini Sita bawa kue. Untuk Mami dan papi. Mau ..., dipotongkan?" tanya Sita masih saja grogi.


Mami Farah menyuruh dia untuk duduk saja. Membuka bingkisan itu dan mencium wangi vanila dari kue itu. Penasaran dengan rasanya, lalu memotong sedikit.


"Em ..., enak, Ta! Beli?" tanya Mami Farah.


Sita menggeleng, "Buat sendiri, Mi."


"Kamu bisa masak?"


"Newbie, Mi."


Reza tersenyum bahagia melihat komunikasi yang terjalin. Dia memang tidak perlu mengkhawatirkan pertemuan ini. Karena hubungan Sita dan orang tuanya lebih akrab daripada jalinannya bersama wanita manis itu.


Setelah makan malam selesai, Rida mengambil Andra dari papi Kusno. Meminta kamar untuk menidurkan sang bayi. Reza dan Sita duduk bersama papi dan mami.


"Mi, Pi, kenalkan ini Sita. Kalian sudah mengenalnya sebagai sahabat Reza. Malam ini, aku memperkenalkan dia bukan sebagai teman baik. Melainkan ingin menjadikannya istriku. Eza minta do'a restu dan minta tolong pada kalian. Lamarkan wanita imut ini untukku," pinta Reza dengan suara bergetar.


Mami dan papi tersenyum mendengar permintaan anak keduanya itu. Begitu tulus terucap permintaan Reza. Mereka tahu, bahwa Sita adalah yang diinginkan anaknya. Mengingat perjuangan mereka berdua yang bisa sampai di titik ini, membuat mami sangat bahagia.

__ADS_1


Wanita muda yang selalu perhatian dengan keluarganya. Tutur lembut dan pesan yang selalu terucap saat mereka berkomunikasi, membuat keluarga itu mampu menyayangi Sita sepenuhnya.


Bahkan Sita juga menjalin komunikasi dengan kakak perempuan Reza yang bertugas di Lampung. Meski Sita sendiri membatasi dan menjaga jarak dengan Reza. Papi menyuruh mami mengambil sesuatu di dalam kamar.


Tidak lama mami kembali dengan membawa sebuah kotak kecil berwarna hijau bludru. Seperti tempat cincin. Mami memberikannya pada Sita. Membuat wanita itu bingung.


"Ini apa, Mi?" tanya Sita.


"Coba dibuka aja, Ta." Papi memerintahkan Sita agar membuka kotak itu.


Sita terkejut mendapati sebuah cincin dengan permata besar di tengahnya. Mengira itu adalah pemberian dari orang tua Reza. Dia segera mengembalikan barang itu pada Mami.


"Itu dari calonmu, Sayang. Bukan dari Mami ataupun papi. Dia nggak bisa milih, makanya kami yang memilihkan. Bukan pakai uang kami kok, Ta." Mami menjelaskan tentang cincin itu.


Sita menoleh ke Reza. Mencari tahu kebenaran cerita itu. Lelaki itu tersenyum dan mengangguk. Mami memakaikan cincin itu di jemari Sita. Papi bertanya kapan mereka bisa berkunjung ke Demak?


Hari sabtu adalah kesepakatan keluarga Reza akan berkunjung ke rumah Sita. Lega sudah hati keduanya. Tidak sia-sia memperjuangkan apa yang berkecamuk di hati. Saling terbuka untuk mengungkapkan semuanya.


***


Dia langsung masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan diri. Lalu turun lagi untuk makan. Perutnya minta diisi sesuatu agar tidak berbunyi. Ternyata ada Aidha.


"Tumben jam segini baru makan, Mbak. Sudah belajar?" tanya Dani.


Aidha mengangguk, "Tadi mengerjakan PR dulu, Pah. Mau Aidha ambilkan makan?"


Dani tersenyum mendengar tawaran anak gadisnya. Pandai sekali dia, sudah tahu caranya menghormati dan memuliakan orang tua. Siapa yang mengajarinya? Apakah Disa lagi?


Seakan tahu apa yang ada di benak Dani, Aidha menjawab pertanyaan itu.


"Ust Disa yang mengajari Aidha. Katanya, salah satu contoh memuliakan orang tua kita adalah dengan cara menghormatinya. Contohnya selalu nurut, mengambilkan makan, membantu menyemir sepatu ...," ungkap Aidha.


"MasyaAllah, Nduk ..., Papah bangga dan sayang sama kamu. Terima kasih sudah banyak berubah. Selalu istiqomah dalam perilaku baik ya, Mbak. Ajari adiknya juga, karena Papah tidak bisa menemani kalian 24 jam full."


Aidha mengangguk. Memberikan piring yang sudah terisi lengkap dengan nasi, lauk, dan sayur. Mereka makan berdua hingga tidak tersisa isinya. Lalu Aidha mulai bercerita tentang Disa.

__ADS_1


"Siapa? Aji? Papah kok nggak asing sama nama itu ya, Mbak?" Dani mencoba mengingat nama yang disebutkan Aidha.


"Papah kenal?"


Dani menggeleng. Dia tidak mengenal orang yang bernama Aji. Dani terdiam mendengar cerita Aidha. Mengambil kesimpulan bahwa mak Nur memang ingin dia mundur.


"Mbak, menurut kamu, Papah harus tetap maju atau mundur?" tanya Dani.


"Maju, Aidha dan Salwa akan bantuin Papah."


"Caranya?" tanya Dani lagi.


"Salat malam seperti yang kemarin Papah lakukan. Nanti aku ajak Salwa biar ikut juga," terang Aidha.


Lagi-lagi gadis itu memukau Dani. Baru kali ini dia tahu jati diri anak sulungnya. Ya, karena dulu Aidha selalu diselimuti dendam dan amarah. Hingga menutupi pribadi baiknya.


"Memang kemarin kamu lihat Papah salat, Mbak?"


Aidha mengangguk. Dia mengintip saat papahnya sedang mengetuk pintu langit. Sangat khusyu' hingga ia menangis haru. Gadis berusia empat belas tahun itu belum tahu tatacara salat tahajjud.


Aidha mengirim pesan langsung ke Disa. Langsung mendapat balasan karena wanita itu juga sedang meminta pertolongan Allah. Dia masih ragu, makanya nanti malam berencana untuk menjadi makmum papahnya.


Dani menyuruh Aidha tidur terlebih dahulu. Nanti saat waktunya tiba, dia akan membangunkan Aidha. Kini ia seorang diri. Merenungkan masalah hati yang sudah membara.


Saat pertama kali bertemu dengan mak Nur, sepertinya beliau orang yang bijaksana. Namun, kenapa sekarang berbeda? Apakah mungkin mak Nur terkena hasutan seseorang? Ah, tidak mungkin!


Pikir Dani, mak Nur hanya beraktivitas di sekitaran Bonang. Beranggapan bahwa pergaulannya hanya dengan orang sana saja. Dia menepis jauh pikiran jeleknya. Ia sudah selesai makan. Menyimpan piring di bak cuci. Kembali ke kamar.


Mengambil ponsel dan mengirim pesan ke Disa.


Me : Assalamu'alaikum, saya boleh minta dokumentasi Aidha dan Salwa yang sedang mengaji?


Lama sekali pesan itu tidak mendapatkan respon. Tak ada balasan masuk ke nomornya. Mencoba mengecek lagi apakah sudah terkirim? Memang telah terkirim, tapi belum mendapatkan jawaban.


Saat hendak menyimpan lagi ponsel itu, ada pesan masuk. Dia membaca basmalah sebelum membuka. Berharap memang Disa yang mengirim pesan. Tebakannya tepat! Disa mengirim pesan untuk Dani.

__ADS_1


__ADS_2