Pinangan Kedua

Pinangan Kedua
Tentang Hari Akhir


__ADS_3

Semuanya menoleh ke sumber suara. Mata Disa dan Salwa membelalak. Lalu mereka saling tunjuk.


"Wa'alaikum salam," jawab semuanya.


"Bu Disa?" tanya Salwa terkejut.


"Salwa?" ucap mereka bersamaan.


"Lhoh, sudah kenal sama cucu saya?" tanya Mamah Yuli yang belum mengetahui Disa adalah guru di sekolah Salwa.


Disa mengangguk, begitu juga dengan Salwa. Salwa menceritakan bahwa Disa adalah guru di sekolahnya. Disa mengampu mata pelajaran agama islam. Membuat Mamah Yuli dan Aidha paham dengan keterkejutan mereka.


Mamah Yuli mempersilahkan Disa duduk tepat di sampingnya.


"Alhamdulillah kalau sudah kenal dengan cucu saya, ini cucu saya yang pertama. Namanya Aidha. Saya sendiri Yuli. Mamahnya Sita, masih ingat tidak, Bu Disa?" Mamah Yuli memperkenalkan keluarganya.


Salwa menyalami Disa. Begitu juga Aidha. Membuatnya tersanjung akan perilaku sopan yang ditunjukkan kedua anak perempuan itu.


"Maaf Bu Yuli, saya agak lupa. He-he-he. Saya Disa, silahkan Mbak Aidha sama Dik Salwa mau manggil apa. Ustazah boleh, Bu guru boleh, Mbak Disa atau Mbak Izzah juga boleh," terang Disa pada semuanya.


"Ustazah aja," jawab Aidha dan Salwa tanpa diminta dan kompak.


Membuat Mamah Yuli sedikit heran dengan sikap cucu pertamanya. Tidak biasanya dia menjawab pertanyaan orang yang baru dikenalnya.


"Boleh, kapan kita bisa mulai ngaji?" tanya Disa.


"Sekarang saja Bu guru, eh maksud Salwa sekarang saja, Ust!" Salwa sangat semangat mengetahui guru mengajinya adalah guru agama di sekolahnya.


Membuatnya tidak susah payah untuk beradaptasi dengan cara mengajar Disa. Aidha memandanginya lekat-lekat. Seperti ada magnet yang menarik dirinya untuk ingin tahu lebih banyak tentang Disa. Rasa kagum itu tergambar jelas di bola matanya. Sehingga Mamah Yuli semakin keheranan dengan Aidha.


Salwa menarik tangan Disa untuk naik ke lantai dua. Menuju sebuah ruangan yang di dindingnya dihiasi dengan barisan buku tebal. Terdapat sebuah televisi dengan layar pipih yang menempel di tembok lengkap dengan speaker tambahan di sisi kanan kirinya.


Ada sebuah meja dan kursi lengkap dengan alat tulis di sudut kanan ruangan itu. Membuat Disa menebak itu pasti ruang kerja seseorang.


Mendengar cerita dari Rida yang menerangkan cara mengajar ustazah satu ini, membuat Mamah Yuli dan Dani sepakat menggunakan ruang kerja sebagai tempat mengaji. Karena disana sudah ada televisi lengkap dengan speakernya. Ruangannya juga cukup luas dan tenang untuk mendukung suasana belajar.


Disa menerangkan cara kerjanya terlebih dahulu kepada semuanya. Lalu mulai mengaktifkan televisi. Menancapkan flashdisk miliknya dan mulai memilih salah satu surat yang ada di flashdisk tersebut. Ia memilih surat An-naba sebagai awal pembukaan.

__ADS_1


"Jadi nanti Ustazah akan putarkan surat An-naba. Perlahan kalian dengarkan, lalu ikuti ayatnya. Sekitar sepuluh kali lalu kita akan mulai hafalannya. Setuju?" terang Disa semangat membuat Mamah Yuli semakin tertarik mengikutinya.


Surat An-naba mulai diputar. Disa ikut melantunkan ayat-ayat tersebut sambil memperagakan gerakan tangannya sebagai arti ayat tersebut. Hingga di putaran ketiga, Aidha mulai menggumam mengikuti ayat pertama, gerakan tangannya masih belum lancar. Pada putaran yang kelima Salwa mulai mengikuti gerakan tangan dan ikut melantunkan ayat tersebut.


Hingga putaran ke sepuluh anak-anak itu sudah hafal gerakan tangan dan bacaan ayat surat An-naba, ayat satu hingga sepuluh. Disa bertepuk tangan atas pencapaian mereka. Senang karena metodenya cepat masuk dan diserap oleh anak-anak.


"Alhamdulillah ... pada cepet hafalnya! Ustazah suka, deh! Oke, kita coba sambung ayat. Yang bisa langsung tunjuk jari!"


Salwa dan Aidha mengangguk semangat. Mereka memasang wajah tegang membuat Disa cekikikan melihatnya.


"Wajahnya santai aja Mbak Aidha, Dik Salwa! Hi-hi-hi."


"Ih, U-ust ..., cepetan!" protes Salwa.


Disa berdahem dan mengambil napas. Lalu melantunkan sebuah ayat.


"Summa kalla saya' lamuun ... ayat selanjutnya?"


Baik Aidha dan Salwa berpikir terlebih dahulu sebelum mengangkat tangan. Dan akhirnya Aidha mengangkat tangannya.


"Alam naj 'alil artho mihaadaa ..." jawab Aidha.


"Bukankah kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan?" Aidha langsung menjawab dengan lancar.


"Ayat sebelumnya? Tunjuk jari!" kata Disa memberikan pertanyaan lagi. Salwa tidak mau kalah dari kakaknya. Dia langsung mengangkat tangan dengan cepat.


"Kallaa saya' lamuun ... Kelak mereka akan mengetahui." Salwa menjawab lengkap pertanyaan Disa.


"Tepuk tangan untuk semuanya! Good job! Jadi, surat An-naba itu berisi tentang apa sih Mbak, Dik?"


Aidha dan Salwa sama-sama menggeleng. Tidak tahu jawaban atas pertanyaan Disa.


"Tentang hari akhir yang masih diperdebatkan. Padahal hari akhir itu kan sudah pasti adanya ya, kan? Digambarkan juga keadaan ketika sangkakala ditiup. Mereka yang berdosa akan diberikan ganjaran neraka jahannam. Sedangkan yang beriman tentu saja surga. Jadi, kita harusnya jadi orang yang seperti apa, Mbak Aidha?"


Aida terdiam mendengarkan isi surat An-naba. Dia mulai berpikir, apakah selama ini dia menjadi orang jahat bagi papah dan adiknya? Bukankah dia selama ini bercita-cita ingin menjadi gadis baik seperti permintaan ibunya saat masih hidup? Oh, dia telah keliru. Kemarahannya membuatnya menjadi orang jahat.


Aidha tiba-tiba sesenggukan. Membuat Disa dan yang lain kebingungan. Dengan cepat ia mendekap gadis remaja itu. Membelai puncak kepalanya yang terbalut jilbab merah maroon itu. Mengusap punggung Aidha dan memberinya waktu untuk meluapkan emosinya.

__ADS_1


Mamah Yuli bisa membaca situasi yang terjadi. Seperti bisa merasakan apa yang Aidha rasakan. Mamah Yuli membawa Salwa keluar dan membiarkan Aidha bersama Disa.


Aidha melepaskan pelukan itu. Mengusap air mata yang jatuh ke pipinya. "Maaf, Ust."


"Nggak papa, mau cerita sama U-ust kenapa Mbak Aidha menangis?"


Aida mengangguk, "Apa Aidha selama ini jadi orang yang berdosa, Ust?"


"Memang Mbak Aidha melakukan perbuatan apa?" tanya Disa.


Aidha menceritakan kisah keluarganya. Mulai dari tentang kehamilan ibunya yang beresiko hingga kematian ibunya. Berlanjut ke cerita kemarahannya terhadap sang papah dan kebenciannya terhadap Salwa.


Membuat Disa paham atas kemurungan Salwa yang terjadi tadi pagi. Disa menggenggam tangan Aidha lalu menjawab pertanyaannya.


"Mbak Aidha sudah besar, sudah akhil baligh. Sudah bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar. Tanpa Ustazah jawab pun, Mbak Aidha sudah tahu tentang perilaku itu. Semua yang bernyawa itu pasti akan kembali kepada-Nya, Mbak." Disa menjeda ucapannya.


"Tiga rahasia yang Allah simpan untuk kita, jodoh, rezeki, dan kematian. Dari cerita yang Mbak Aidha ungkapkan, ibu meninggal karena emboli air ketuban, kan? Setahu Ustazah, hal itu sangat tidak bisa diprediksi, Mbak. Bahkan tenaga medis sering kecolongan. Kuncinya adalah ..., Mbak Aidha harus ikhlas atas ketetapan Allah. Do'akan agar ibu berada di sisi Allah. Dengan Mbak Aidha menjadi anak sholeha, berbakti sama orang tua, rukun sama saudara, Insyaallah, ibu disana pasti bahagia melihatnya." Disa tersenyum menyelesaikan kalimatnya.


Hati Aidha mulai menghangat. Ternyata kemarahannya selama ini adalah salah. Kemarahannya salah kaprah karena keegoisannya yang belum bisa menerima kepergian ibunya. Aidha kembali menangis dan memeluk Disa.


"Makasih, Ust. Aidha janji, ingin berubah menjadi anak yang beriman. Aidha takut masuk neraka, Ust."


Disa tersenyum di balik pelukan itu. Sangat bangga mendengar janji yang diucapkan Aidha.


"Iya, InsyaAllah. Sudah, jangan nangis lagi. Malu sama Dik Salwa. Hi-hi-hi. Cuci muka dulu, gih!"


Aidha mengangguk dan segera mencuci mukanya. Disa mencari Salwa dan Mama Yuli. Mulai mengajar lagi setelah suasana kembali normal. Sesekali dia memberikan candaan agar mereka tidak tegang dalam belajar.


Tidak terasa, satu jam sudah Disa mengajar mereka untuk pertama kalinya. Aidha kembali ke kamarnya, sedangkan Salwa keluar untuk bermain dengan teman satu kompleks perumahannya.


"Saya suka dengan cara ngajar Bu Disa," terang Mamah Yuli.


"Panggil saya Disa saja, Bu."


"Nggak enak to," sanggah Mamah Yuli.


"Nggak papa Bu, saya lebih senang dipanggil nama saja. He-he-he."

__ADS_1


"Ya sudah kalau kamu memaksa, saya panggilnya Ustazah saja. Ayo makan dulu. Setelah itu baru pulang." Mamah Yuli mengajak Disa menuju ruang makan.


***


__ADS_2