Pinangan Kedua

Pinangan Kedua
Berbadan Dua


__ADS_3

Dani mengejar istrinya yang berlari menuju kamar mandi. Tidak tahu penyebabnya apa, yang jelas dia melihat Disa menutup mulutnya sembari berjalan cepat meninggalkan acara resepsi. Benar saja dugaannya, wanita itu langsung muntah ketika bertemu toilet.


Dani membantu memijat tengkuknya. Semua makanan yang tadinya masuk keluar lagi. Setelah selesai muntah, badan Disa sedikit lemas. Sang suami memapah dan menyuruhnya duduk di kursi.


Dani menyodorkan air putih hangat pada Disa. Sang suami bertanya pada istrinya apa penyebab muntahnya?


"Kekenyangan," jawab Disa singkat.


"Yakin cuma kekenyangan?" tanya Dani lagi.


"Maksudnya?" tanya Disa kembali.


"Mas perhatikan kamu makin berisi, kadang malah kalap kalau lagi makan. Belum datang bulan juga, kan? Apa kamu sedang ..., hamil?"


Disa mengingat tanggal terakhir mensnya di bulan lalu. Memang jika dihitung dari bulan lalu, dia sudah telat datang bulan sekitar satu minggu. Tapi dia ragu karena belum mengeceknya.


"Masih ingin muntah tidak, Dik?" tanya Dani. Disa menggeleng.


"Besok pagi coba cek dulu pakai tes urine. Nanti kalau hasilnya garis dua kita ke dokter," ucap Dani.


"Tapi, Adik kan terakhir mens tanggal empat belas, Mas. Sebelum kita nikah. Ini baru lewat seminggu, lho." Disa mengingat betul tanggal terakhir menstruasinya.


Dani tersenyum, lalu menjelaskan pada istrinya. Pelajaran dulu dari Inaya saat tahu sedang hamil Salwa. Penghitungan usia kehamilan itu dimulai dari hari pertama haid terakhir. Semisal terakhir bulan lalu tanggal empat belas dan itu baru mulai keluar, maka dihitung dari tanggal tersebut.


Dani menghitung jarak menstruasi terakhir istrinya. Dan memang sudah lima minggu Disa telat datang bulan.


"Kita kembali ke acara dulu, nanti sore kalau bisa keluar Mas belikan alat tes kehamilan."


Disa mengangguk, mengikuti instruksi suaminya. Mereka kembali ke acara. Dani bertanya pada panitia nasib wanita yang tidak ada dalam daftar tamu undangan. Salah seorang petugas mengatakan terpaksa menyeretnya keluar hingga masuk ke mobil. Menunggu hingga mobil itu melaju pergi dari tempat resepsi.


Setelah resepsi usai, semua masih disibukkan dengan beberapa tamu yang datang terlambat. Menyapa dengan hangat, menghidangkan jamuan yang oantas untuk sang tamu. Dani pamit ingin keluar sebentar dari rumah.


"Mau beli tespack!" ucap Dani berbisik pada mamahnya.

__ADS_1


Sang mamah menoleh dengan wajah terkejut, lalu tersenyum. Dani segera menuju apotek, dan tanpa dia duga bertemu dengan Isna disana. Ia enggan menyapa wanita itu. Tapi, saat tahu keperluannya apa, Dani langsung angkat bicara.


"Mbak, alat ini akurat, kan? Misal saya tambah air biasa kira-kira hasilnya jadi berubah tidak, ya?" tanya Isna.


"Maksudnya gimana, Mbak?" tanya petugas apotek tidak paham.


"Saya kan tidak hamil, nah saya mau nge-prank pacar. Kalau aku tambah air biasa hasilnya bisa jadi positif tidak?"


Petugas apotek itu mengernyitkan dahi bingung. Untuk apa repot-repot membuat jebakan seperti itu? Aneh!


"Kenapa tidak kamu cari saja wanita yang baru hamil sekitar tiga bulan, lalu kamu minta dia untuk tespack dengan alatmu itu? Pasti hasilnya dua garis!" Dani begitu emosi mendengar ide gila dari Isna.


Dia sangat yakin, Isna ingin menunjukkan hasil palsu itu untuk membuat adiknya terluka.


"Lalu datang ke keluarga pacarmu, bilang bahwa dulu Reza pernah menghamili kamu, dan itu adalah buktinya. Begitu, kan? Gila kamu, Is!"


Wajah Isna langsung merah padam saat Dani memakinya di depan umum. Malu sekali dia, rencananya dibongkar di depan orang banyak. Ingin segera pergi dari apotek itu dan menghilang. Wanita itu langsung meletakkan alat tes kehamilan di etalase kaca, lalu keluar dari tempat itu.


"Anto?" Isna menunjuk lelaki di hadapannya.


"Iya, Is. Kamu ngapain sih jadi wanita bodoh? Kan dari awal sudah tahu bahwa Reza tidak mau sama kamu, kenapa masih maksa?" Anto mengingatkan betapa bodohnya tindakan Isna.


"Kamu tidak tahu yang aku rasakan, To. Mencintai tapi bertepuk sebelah tangan itu sakit!"


"Kata siapa aku tidak tahu rasanya? Justru kamu yang mengajariku rasa itu. Mencintai bukan berarti bisa memiliki, Is. Melihatnya bahagia lebih berarti untuk hati kita. Maaf dulu pernah menjamahmu malam itu. Tapi sungguh, aku tidak melakukan apapun kecuali menyentuhmu." Anto mengungkapkan kebenaran yang terjadi malam itu.


Dani melihat dari kejauhan dua anak manusia itu sedang berbicara. Melihat Isna menangis sambil berjongkok dan Anto tetap setia menungguinya. Hanya bisa berdo'a takdir baik menyambut mereka. Lalu kembali pulang ke rumah.


Dani menyerahkan alat itu pada Disa. Menyuruhnya untuk melakukan tes pada pagi hari.


***


Disa merasa badannya sangat capek saat pagi hari. Tidak ada semangat dalam dirinya. Suhu tubuh sedikit meningkat dan membuat dia meriang. Berjalanpun seperti orang yang sedang lemas.

__ADS_1


Dani menyiapkan keperluannya sendiri. Tidak ingin membebani istrinya yang sedang kurang sehat. Menyuruh Disa agar beristirahat dulu di rumah dan tidak berangkat kerja.


"Aku tes sekarang, Mas?" tanya Disa ragu.


"Nggih, Dik. Buruan, Mas tunggu hasilnya." Dani duduk di ranjang menunggu Disa melakukan tes urin.


Setelah beberapa saat di kamar mandi Disa menunjukkan hasilnya kepada Dani. Benar dugaannya, istrinya sedang berbadan dua. Dia mengucap syukur dan memeluk Disa.


"Sehat-sehat ya, Sayang. Jaga amanah dari Allah untuk kita. Nanti sore kita ke dokter. Mas buat reservasi dulu." Dani langsung mengetik pesan pada seseorang.


"Nggih, Mas. Dokternya laki-laki atau perempuan?" tanya Disa.


Dani tersenyum, "Wanita, jangan khawatir. Terima kasih ya? Sudah berjuang tiap malam berikhtiar, bertempur agar mendapatkan momongan lagi. InsyaAllah, kehamilanmu akan membawa banyak berkah, Dik."


"Aamiin, jazakillah khairan katsiran, Mas."


Dani menyuruhnya untuk berbaring saja di ranjang. Dia yang akan membawakan makanan ke kamar. Ia segera turun dan menyiapkan sarapan untuk istrinya. Mamah Yuli menanyakan keberadaan menantunya.


"Mantu Mamah lagi berbadan dua," jawab Dani membuat semua yang ada di meja makan terkejut.


Salwa tidak paham dengan ucapan papahnya. "Umma badannya membelah jadi dua?" tanya Salwa polos.


Semua tertawa mendengarnya. "Bukan membelah jadi dua, Sal. Maksudnya, umma kalian lagi mengandung calon adik kamu dan mbak Aidha!" Reza menjelaskan pada keponakannya.


Aidha dan Salwa langsung berlari ke atas. Mereka sangat senang mendengar berita bahagia itu.


"Mamah juga mau memberi selamat untuk Disa. Kamu sarapan saja, biar makanannya Mamah yang bawa." Mamah Yuli merebut piring dari Dani dan membawanya ke atas.


Reza, Sita, Arsya, dan Rida menggoda kakak mereka habis-habisan. Sang mantan duda malah anteng dan tersenyum menanggapi ulah adiknya.


"Bagi permen coklatnya, Mas. Biar tokcer!" Reza meminta cemilan enak dari Dani.


"Ow, tidak bisa gaes! Tuku dewe!"

__ADS_1


__ADS_2