
Dani mondar-mandir di dalam kamar. Wajahnya tampak kusut. Tergambar jelas raut kekhawatiran. Entah apa yang membuatnya gundah seperti itu. Tapi sepertinya berat.
Dani menghela napas dan mengangguk mantap. Seolah sudah tahu langkah apa yang harus dia lakukan saat ini. Ia keluar dari kamar menuju ruangan Aidha. Mengetuk pintu pelan dan menunggu jawaban anaknya.
"Siapa?" tanya Aidha dari dalam kamar.
"Papah, Mbak," jawab Dani lembut.
Pintu terbuka lebar. Aidha mempersilahkan papahnya masuk. Dani duduk di ranjang anaknya. Menyuruh putri sulungnya itu duduk.
"Lagi belajar apa, Mbak?" tanya Dani.
"Matematika, Pah. Ada apa?" Aidha bertanya balik pada papahnya.
Dani didatangi oleh rasa ragu lagi. Keringat dingin keluar di dahi dan juga telapak tangan. Mulut bagai dikunci agar tak mengeluarkan suara. Berat sekali bertanya satu hal pada Aidha.
Aidha mengamati gerak-gerik papahnya. Aneh! Itulah yang terlintas di benak gadis remaja itu. Ada apa sebenarnya?
"Pah!" Aidha menggoncangkan tubuh pria itu.
"Mbak, Papah ingin meminta satu hal yang sangat serius dari kamu. Tolong jangan marah dengan apa yang akan Papah sampaikan. Kematian ibu sangat mengguncang hati kita semua, orang yang sangat terpuruk adalah kamu. Dulu ..., Papah sudah bertekad ingin membesarkan kalian tanpa ingin menikah lagi. Pintu hati ini sudah tertutup rapat bagi semua wanita yang mencoba ingin menjadi ibu sambung untuk kalian. Tapi ..., Papah keliru." Dani menjeda ucapannya. Menunggu respon Aidha.
"Ini ..., maksudnya gimana ya, Pah?" tanya Aidha.
Dani menoleh dan memeluk putri sulungnya. Mencium kening Aidha dengan sangat dalam. Takut respon yang akan dia terima berikutnya, jika anak perempuannya tahu isi pembicaraan itu.
"Mbak, bolehkan Papah menikah lagi?" tanya Dani hati-hati.
"Ha? Menikah lagi? No! Big no, Pah! Aidha nggak mau punya ibu lagi. Aidha nggak ingin memiliki ibu selain ibu Inaya!" Aidha langsung memberontak ketika mendengar permintaan Dani.
Dani mencoba menenangkan anaknya. Berusaha agar putrinya bisa mendengarkan penjelasannya hingga selesai. Tapi, Aidha tetap Aidha. Sifatnya yang keras kepala membuat anak itu sulit sekali untuk diberikan pengertian.
Mamah Yuli, Sita, dan Salwa sampai berlari menuju kamar Aidha karena mendengar suara yang keras. Aidha menangis dan marah atas keinginan papahnya. Neneknya mencoba mencari tahu penyebab kemarahan Aidha.
__ADS_1
"Papah ingin menikah lagi, Mbah! Dia ingin melupakan ibu! Ingin mengganti posisi ibu dengan wanita lain! Aidha nggak suka! Aidha nggak setuju kalau punya ibu tiri! Kalau Papah tetap memaksa ingin menikah silahkan! Mending Aidha pulang ke rumah mbah uti di Semarang!"
Aidha menghapus air matanya. Berlari keluar kamar dan dengan cepat menuruni anak tangga. Dani dan Sita mencoba mengejar gadis remaja itu. Salwa menangis karena takut melihat kemarahan Aidha. Mamah Yuli membawa Salwa kembali ke kamar dan menenangkannya.
Aidha terus berlari meninggalkan rumah. Berpapasan dengan Reza yang baru saja dari alfimart. Reza sempat bingung melihat Aidha yang menangis sambil berlari. Sebelum akhirnya sadar ada sesuatu yang terjadi pada gadis itu.
Reza menghentikan Sita dan bertanya ada kejadian apa. Setelah tahu, Reza menyuruh Sita untuk pulang. Dia yang akan membantu Dani mengejar Aidha. Dengan terpaksa Sita menuruti keinginan lelaki yang dia cintai.
Aidha terus berlari tanpa menoleh ke belakang. Tidak peduli dengan suara Dani yang memanggil namanya. Menyuruhnya untuk berhenti berlari. Dia bergumam sembari menangis.
"Papah jahat! Egois! Selalu menyakiti aku! Nggak pernah mikirin aku! Ibu ..., hu-hu-hu, aku mau sama ibu aja! Orang-orang disini semuanya jahat!"
Dani terus menerus memanggil nama putrinya. Berharap Aidha mau berhenti dan mendengarkan penjelasannya. Dia meningkatkan kecepatan lari. Kakinya lecet terkena kerikil karena tidak menggunakan alas kaki. Ia tidak peduli. Hanya memikirkan Aidha seorang.
Tiiin-tiiin ....
Suara klakson motor begitu nyaring di telinga. Aidha tidak menghiraukannya sama sekali. Dia terus berlari tanpa memikirkan sekitar. Membuat Dani dan Reza semakin takut.
"Aidha!" teriak Dani dan Reza bersamaan.
Duerrr!
Tubuh Dani langsung terjatuh karena lunglai. Lemas tidak berdaya melihat kejadian yang melintas di depan matanya sendiri. Dunia serasa berhenti berputar. Suaranya hilang entah kemana.
Reza langsung menghampiri Aidha. Dia menangis melihat gadis remaja itu mengeluarkan banyak darah dari kepala. Arsya yang baru saja datang karena ditelpon mamah Yuli langsung membawa kakak iparnya menjauh dari jalan. Keadaan menjadi macet, dan ramai orang yang ingin melihat. Arsya menghubungi ambulan.
Setelah ambulan datang, Aidha langsung dilarikan ke rumah sakit. Diperiksa oleh seorang dokter dan langsung dinyatakan meninggal. Dani dan Arsya yang baru tiba di IGD langsung syok mendengar hal itu.
"Pah!" Aidha kembali menggoncang tubuh Dani.
Membuat Dani terjatuh dari tempat tidur Aidha. Lelaki itu langsung memeluk Aidha. Lamunannya langsung lenyap saat pelukan itu terasa hangat. Ternyata semua itu hanya khayalannya semata.
Ketakutan kembali menghampiri Dani. Bagaimana jika dia jujur dan membuat khayalan itu menjadi nyata? Kini ia berada diambang jurang kebimbangan. Apa yang harus pria itu lakukan?
__ADS_1
Aidha mendorong tubuh Dani karena pelukan itu semakin erat. Dia bingung akan sikap papahnya.
"Papah, sakit?" tanya Aidha. Dani hanya menggeleng.
Aidha menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lalu kenapa dengan papahnya? Aneh adalah kata yang tepat mewakili segalanya. Dia bangkit dan mengambil air minum. Memberikan pada Dani agar bisa lebih tenang.
Dani menghabiskan air itu. Aidha duduk di samping Dani. Tidak ada yang memulai obrolan. Hanya saling diam hingga mereka menemukan kata pembuka yang cocok. Jika biasanya Aidha paling betah untuk diam, kali ini tidak. Justru ia sangat khawatir dengan papahnya.
"Pah, ada apa?" tanya Aidha lagi.
Dani menggenggam tangan Aidha. Air mata tiba-tiba jatuh membasahi pipi. Dadanya sesak.
"Mbak ...," ucap Dani lembut.
"Iya, Pah." Aidha menatap mata yang basah itu.
"Ibu udah ninggalin kita berapa tahun? Kamu kangen nggak sama sosok ibu? Papah kangen ..., banget!"
Aidha masih menatap Dani yang sekarang tertunduk sambil menangis. Kepergian ibunya membuat bekas luka di setiap hati. Kini gadis remaja itu merasa bahwa Dani sangat menyayangi ibunya.
"Sama, Pah. Aidha juga kangen. Apalagi Salwa. Dia dari lahir nggak pernah lihat wajah ibu secara langsung. Nggak pernah ngerasain kasih sayang dari ibu. Aidha makin merasa bersalah karena kemarin jahat sama dia."
"Maafin Papah ya, Mbak?"
"Minta maaf untuk apa, Pah?" tanya Aidha bingung.
Dani menghapus air matanya. Menatap dalam mata Aidha. "Papah minta maaf karena saat ini, hati papah sudah terbagi. Bukan sepenuhnya milik ibu kalian lagi."
Aidha diam tidak menjawab pengakuan yang baru saja didengarnya. Ada rasa senang yang menyambut hatinya. Tapi, selentingan tentang rumor ibu tiri mengganggu. Dia takut jika nasibnya sama seperti temannya.
"Apa ..., Papah ..., berencana menikah lagi?"
Dani terdiam. Aidha juga ikut membisu. Suasana yang sangat menjemukan. Entah sampai kapan akan terus seperti ini.
__ADS_1