
Aidha, Salwa, dan sang nenek tiba di rumah sakit swasta yang ada di kota Semarang. Mereka mencari keberadaan Dani, ternyata pria itu sedang berdiskusi dengan dokter jaga. Berjalan mendekat dan bertanya keadaan Disa.
"Mah, ketuban Disa sudah pecah terlebih dahulu. Baiknya dipacu atau bagaimana?" Raut wajah sang anak sulung itu terlalu khawatir hingga dia tidak dapat mengambil keputusan yang tepat.
Mamah Yuli bertanya pada dokter tentang keadaan sang menantu. Sang dokter jaga menjelaskan kondisi Disa yang mengalami ketuban pecah dini dan baru mengalami pembukaan satu sentimeter. Advis dari dokter kandungan yang baru saja dihubungi oleh dokter jaga mengatakan bahwa sesuai prosedur medis dan hasil pemeriksaan, Disa masih bisa melahirkan secara normal. Akan tetapi, kondisi pecah ketuban sebelum waktunya membuat wanita itu harus dipacu.
Mamah Yuli sudah pernah mengalami persalinan dengan pacu atau induksi. Ambang nyerinya naik dua kali lipat. Membuatnya berpikir harus memberikan saran apa pada Dani.
"Dan, Disa sangat ingin melahirkan secara normal. Boleh kita hargai, hormati, dan dukung keinginannya?" Mamah Yuli menatap penuh harap pada anak sulungnya.
Aidha juga menatap netra sang papah, seakan memberikan dukungan apapun keputusan yang akan diambil oleh orang tuanya. Memeluk pria yang sudah membesarkan dia dengan penuh cinta.
"Aidha yakin tidak akan terjadi apa-apa dengan umma. Beliau wanita tangguh dan kuat. Takdir orang juga berbeda, bukan?" Tatapan mata Aidha begitu dalam.
Dani tersenyum sembari mengecup kening putri sulungnya. Dani menyerahkan semua pada Allah. Berikhtiar lewat usaha sang dokter dan juga do'a.
"Saya setuju jika dilakukan induksi pada persalinan istri saya, Dok." Dani mengatakannya dengan penuh keyakinan.
"Baik, Pak. Kita pindahkan dulu pasien ke ruang VK. Nanti akan kami observasi dan laporkan ke dokter spesialis. Beliau akan datang selepas maghrib," ucap sang dokter jaga.
Disa dipindahkan ke ruang VK. Upaya induksi dilakukan dengan memberikan obat lewar cairan infus. Tetesan disesuaikan dengan dosis yang dianjurkan dokter. Biasanya obat akan bereaksi setelah diberikan lewat infus.
Disa pun tidak mengalami keadaan yang demikian. Saat dilakukan pemeriksaan dalam, pembukaan serviks masih satu sentimeter. Dokter spesialis obsgyn datang lebih awal dan memeriksa wanita itu.
"Kita lanjutkan pemantauan lagi, jika nanti induksi yang kedua gagal atau tidak ada pembukaan, maka terpaksa jalan yang harus diambil adalah operasi." Dokter obsgyn menerangkan kemungkinan yang bisa terjadi.
Mendengar kata operasi membuat Dani langsung diserang rasa cemas. Jantungnya berdebar tidak sesuai irama. Perut merasakan mulas yang datang dan pergi. Kemarin memang dia yang memaksa Disa untuk operasi, tapi entah kenapa saat ini malah dia yang ketakutan mendengar kata operasi. Mamah Yuli menyuruhnya untuk menenangkan diri ke masjid rumah sakit. Berdo'a dan meminta pertolongan Allah agar istrinya bisa diberikan jalan terbaik dalam proses persalinan ini.
Dani mengikuti saran sang mamah. Dia bergegas menuju masjid. Bermunajat pada Allah agar istrinya diberikan kemudahan. Mata Dani tiba-tiba diserang rasa kantuk yang hebat. Lelaki itu tidak sanggup melebarkan bola matanya, akhirnya dia memilih bersandar di tembok sembari memejamkan mata.
"Apa yang kamu takutkan dengan operasi? Percayalah, dia akan baik-baik saja. Takdir umur seseorang sudah menjadi ketetapan-Nya, bukan? Tenangkan pikiran dan hatimu, bedzikirlah dan mengingat-Nya."
Suara lelaki itu membangunkan Dani, tapi saat dia membuka matanya tidak ada siapa-siapa disana.
"Suara siapa tadi?" tanya Dani lirih.
Seorang pria datang dan mengumandangkan adzan Ashar. Dani menghela napasnya. Mengucap istighfar, kenapa dia menjadi lelaki yang kehilangan arah? Jelas dia memiliki pegangan, yaitu iman.
Jelas Allah akan menolong hamba-Nya jika mereka meminta. Dani melaksanakan salat ashar berjama'ah. Lalu berdzikir seusai menunaikan kewajibannya sebagai umat Islam. Ketenangan datang menyalami hati dan pikiran lelaki itu.
Setelah dilakukan pemantauan, Disa mulai merasakan gelombang cinta yang datang dengan adekuat. Mulas yang muncul hilang menguras tenanganya. Mamah Yuli begitu sabar dan penuh kasih sayang pada mantunya.
"Mah ..., makin sakit ..." Disa merengek karena rasanya semakin kuat.
Mamah Yuli mencoba membesarkan hati anak mantunya, "Iya, Sayang. Istighfar, Nduk. Lebih baik mengingat Allah daripada mengeluh. Aidha, panggilkan papah di masjid. Umma kalian butuh dia."
__ADS_1
Aidha dan Salwa segera bergegas. Mamah Yuli memaksa sang mantu makan dan minum disela kontraksi yang datang dan pergi. Dani datamg menggantikan posisi mamahnya menemani Disa.
"Mas ...," rengek Disa dengan manja.
"Iya, Dik. Mas disini. Bismillah kita ikhtiar bersama, Mas yang berdo'a, kamu dan calon bayi kita berusaha. Papah yakin semua akan lancar." Dani tersenyum dan mengecup tangan sang istri.
Suara dan perkataan Dani mampu membuat Disa tenang. Mereka berjuang bersama dalam jihad ini. Saling mengubur rasa ego mereka dan menumbuhkan semangat bersama.
"Mas, boleh minta tolong antar ke kamar mandi? Adik ingin buang air kecil, nih," pinta Disa.
Dani membantu sang istri bangun dan memapahnya berjalan ke kamar mandi. Dalam hal KPD pasien disarankan untuk tidak banyak mobilitas, kecuali hal penting seperti buang air. Meskipun ada pispot, terkadang ada klien yang tidak dapat mengeluarkannya.
Disa langsung kembali ke atas bed. Gelombang cinta selalu datang lebih cepat dari waktu awal. Hingga membuat wanita itu lebih sering merasakan sakit. Dani sungguh tidak tega melihat istrinya menahan nyeri seperti itu.
"Mau makan?" tanya Dani.
Disa mengangguk. Dani mulai menyuapkan makanan yang sudah dingin. Rasanya hambar, tapi wanita itu tetap menelannya.
"Maafkan, Mas." Dani tiba-tiba menjadi sendu.
"Minta maaf? Memang Mas Dani salah apa sama Adik?" balas Disa bingung.
Dani tiba-tiba menangis, "Karena perbuatan Mas, kamu harus merasakan sakit seperti ini."
"Mas serius, Dik!" Dani tidak terima ditertawakan istrinya.
"Aneh, ih! Orang Adik juga menikmati rasa sakit ini, kok. Nggak apa-apa, Sayang. Justru kami yang harusnya terima kasih, karena Papah sudah mau menemani."
Mamah Aini datang mengganggu kemesraan yang sedang berjalan. Memberikan dua tas pada Dani.
"Yang warna coklat milik ibunya, dan yang biru milik bayinya. Jangan sampai kebalik, Dan. Mak Nur dan mas Wakhid yang mengantarkan kesini," terang Mamah Yuli.
"Mamah kasih tahu emak?" tanya Dani.
Mamah Yuli mengangguk. Disa kembali mengalami kontraksi. Lebih lama dan nyeri lagi. Setiap gelombang cinta datang, pasti dia akan beristighfar. Rasanya dia sudah tidak bisa menahan lagi. Seperti orang ingin buang air besar, wanita itu meminta Dani untuk mengantarnya lagi ke kamar mandi.
"Ingin buang air kecil lagi?" tanya Dani.
Disa menggelengkan kepala, "Bukan, Adik ingin buang air besar."
"Ha? Bentar, Sayang. Mas panggil perawatnya dulu." Dani bergegas memanggil bidan dan perawat yang bertugas. Setahu lelaki itu, dulu almarhumah istrinya juga mengatakan ingin buang air besar, tapi saat akan berjalan ke kamar mandi, kepala sang bayi sudah terlihat.
Bidan datang dan memeriksa keadaan Disa. Ternyata cepat sekali pembukaan yang dialami wanita itu.
"Lengkap, Mbak." Bidan itu memberitahukan hasil pemeriksaannya pada rekannya.
__ADS_1
"Aku hubungi spesialis obsgyn dan anak dulu." Bidan yang memeriksa Disa langsung memberikan hasil pemeriksaannya pada Dani.
Persiapan alat mulai dilakukan. Terkadang para bidan itu mengingatkan Disa agar tidak mengejan terlebih dahulu karena belum semuanya siap.
Disa tidak bisa menahan lagi. "Bu, saya ingin meneran!"
"Baik, kita atur napas dulu, nanti dorong di bawah sini. Bayangkan Anda tidak bisa buang air besar selama seminggu, jadi kerahkan semua yang ada."
Disa dipimpin meneran oleh bidan jaga. Dani menemaninya dan membacakan salawat saat napas istrinya tersengal. Sungguh, sebenarnya dja juga sedang menenangkan hatinya yang sedang kalut.
Setengah jam sudah Disa dipimpin meneran, dan akhirnya kepala bayi bisa melewati jalan lahir. Ada tali pusat yang membelit leher sang bayi, sebanyak dua lilitan. Tali pusat dijepit lalu dipotong agar tidak mengganggu napas bayi.
"Alhamdulillah, bayi laki-laki telah lahir di pukul 17. 45 WIB." Salah seorang bidan berteriak saat melihat bayi itu sudah lahir sempurna. Tangisan bayi itu berhasil menggetarkan semua telinga yang mendengarnya.
Disa dan Dani sama-sama menangis haru. Sang bayi dibersihkan pada bagian kepala dan dadanya. Lalu diletakkan pada dada Disa sebagai bukti bonding.
"Akhirnya launching, Mbak! Kita punya adik lagi, yeee ...," teriak Salwa dengan senang.
***
Seminggu hari setelah kelahiran bayi laki-laki itu, kini rumah Mamah Yuli begitu ramai orang. Banyak barang belanjaan yang akan diolah menjadi makanan. Ya, selamatan aqiqah akan digelar hari ini.
Disa sangat berterima kasih pada saudara yang datang membantu dan memberikan kado untuk sang bayi. Dani membantu istrinya menyiapkan alat pompa ASI. Aidha dan Salwa jangan ditanya ada dimana. Mereka bersama para tantenya sedang menjaga adik bayi itu.
"Dan, siapa nama bayi kalian?" tanya Mas Wakhid yang sedang membawa daging kambing ke dapur untuk diolah.
Dani tersenyum, "Mauza Nafiz Assyafi, anak yang berharga menjadi penyembuh dan membawa kebaikan. Seperti ummanya, yang mampu merekatkan kembali hubungan saya dengan Aidha, Aidha dan Salwa. Mauza membawa kebaikan dan mampu menjadi penyembuh trauma saya atas kehilangan yang duli terjadi, Mas."
Mas Wakhid mengangguk senang. Alhamdulillah jika keluarga adiknya selalu dicurahkan kebahagiaan oleh Allah SWT.
***
Alhamdulillah, selesai sudah tugas othor dalam menyelesaikan cerita ini. Terima kasih pada pembaca setia othor, yang tidak henti-hentinya memberikan support, dan rela menunggu saat othor menghilang.
Eits, tapi aku menghilang karena ada alasannya gais. Yang pertama karena ada pelatihan, yang kedua tugas klinik yang menumpuk karena ditinggal pelatihan, yang ketiga malas gegara banyak kerjaan 😂
Itulah akhir dari cerita Mas Dani dan Dik Disa. Apa yang bisa kita ambil? Banyak! Silahkan simpulkan sendiri. Tapi bagi othor, mereka memberikan pelajaran bahwa angka dua juga tidak kalah dengan satu.
Banyak yang mengidam-idamkan angka satu dalam hidupnya, tapi Disa dan Dani? Mereka tidak masalah dengan angka dua. Menjadi yang kedua bukan berarti akan kalah dari yang pertama, setiap angka memiliki arti sendiri bagi orang yang merasakannya.
Angka dua adalah pemersatu bagi Dani dan Disa. Ada dua gadis cantik yang menjadi jalan jodoh bagi sang papah. Disa lebih menerima pinangan kedua karena yang pertama memang tidak berjodoh dengan dia. Dani memang melamar Disa untuk yang kedua, karena istrinya meninggal. Tapi hal tersebut tidak menjadikan lelaki itu menomorduakan Disa. Dia tetap imbang dalam menyayangi para anaknya dan juga Disa.
Terima kasih untuk kalian yang mengikuti cerita ini dari awal. Habis ini apa ya? Eheheh, habis ini mau cerita mas tentara dan mbak bidan dalam situasi pandemi. Kapan, Thor? 😂 belum tahu gais, do'akan saja ini otak encer selalu. Nanti akan othor umumin lagi. Mungkin kalau nggak agustus ya september.
Do'a othor untuk kalian, semoga kalian dilimpahi oleh kesehatan, kebahagiaan, dan rezeki yang cukup dan halal. Aamiin. Hanya itu yang bisa author balas ke kalian. See you gaiss. Love you all! 😘😘😘
__ADS_1