Pinangan Kedua

Pinangan Kedua
Bantuan Dani


__ADS_3

"Wa'alaikum salam warahmatullah ..., Nak Dani?" tanya seorang wanita paruh baya.


"Iya, Mak. Ini Dani," jawab Dani sembari tersenyum dan menyalaminya.


Orang yang disapa Dani adalah Mak Nur, ibunya Disa. Entah dengan siapa orang tua itu di tempat vaksinasi itu, tapi yang jelas lelaki itu hanya melihatnya seorang diri. Sedari tadi celingukan memandang ke arah pintu, seperti sedang menanti seseorang.


Dani duduk di sampingnya, bertanya dengan siapa beliau ke Semarang dan keperluannya apa. Emak menceritakan perjalanannya hari ini bersama Aji. Dia sedang menunggu jemputan dari lelaki yang meminang Disa. Sudah hampir tiga jam, tidak kunjung datang.


"Punya nomor hapenya, Mak? Coba saya teleponkan," tanya Dani tetap sopan.


"Saya tidak punya, daritadi saya hanya menunggu berharap dia datang." Mak Nur mengungkapkan keputusasaannya.


Dani mengernyitkan dahi. Kenapa Aji bisa ceroboh seperti itu? Meninggalkan orang tua sendirian, di kota yang cukup besar tanpa kabar apapun? Terpaksa Dani menghubungi Disa dengan meminta izin Mak Nur terlebih dahulu.


"Pulang bareng mamah dan saya saja, Mak. Saya coba telpon ustazah dulu, agar dia memberi kabar pada ustaz Aji. Boleh saya hubungi Disa?"


Mak Nur merasa sangat malu saat ini. Dani mengucapkan kalimat itu karena ulahnya yang kemarin melarang mereka berkomunikasi. Lelaki itu masih selalu hormat padanya meski kelakuannya sangat menyebalkan. Dia mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Dani. Sering sekali Allah memberikan bantuan lewat orang yang tidak kita suka.


Dani mengeluarkan ponselnya, lalu menghubungi nama yang belakangan ini jarang dihubunginya. Hati Dani kembali didera desiran hangat dan lembut. Jantungnya berpacu lebih cepat. Selalu seperti ini jika berurusan dengan Disa.


"Assalamu'alaikum Ust, maaf mengganggu. Saya mau kasih tahu, emak ada di Semarang, di tempat vaksinasi untuk jama'ah haji dan umroh. Katanya tadi beliau diantar oleh ustaz Aji. Tapi hampir tiga jam beliau nunggu tidak dijemput juga olehnya. Saya minta izin, biarkan emak pulang sama saya, dan tolong beritahu ustaz Aji tidak usah menjemputnya," terang Dani langsung ke intinya.


"Wa'alaikum salam warahmatullah, jadi emak masih ada di Semarang sendirian? Astaghfirullah ..., emak ..., iya Pak, nanti saya kasih tahu ustaz Aji. Terima kasih atas bantuannya, Pak. Maaf selalu merepotkan," balas Disa dari seberang.


"Sama-sama, ya sudah saya tutup. Assalamu'alaikum." Dani menunggu jawaban dari seberang.


"Wa'alaikum salam warahmatullah ...," jawab Disa.


Mamah Yuli telah selesai divaksinasi. Mencari keberadaan Dani yang ternyata sedang duduk bersama Mak Nur. Berjalan menghampiri mereka.

__ADS_1


"Mak Nur? Ya Allah, barakallah ..., apa kabar, Mak?" tanya Mamah Yuli.


Mereka berjabat tangan, "Alhamdulillah sehat, Bu Yuli. Vaksin juga? Mau umroh, Bu?"


"Iya, Mak. Mak Nur juga?" tanya Mamah Yuli.


Mak Nur mengangguk. Ternyata mereka akan menjadi satu rombongan. Harusnya vaksinasi diantar oleh pihak travel, tapi bisa juga dilakukan sendiri-sendiri. Dani menceritakan kejadian yang dialami oleh emak.


"Astaghfirullah ..., mungkin ustaz Aji lupa atau sedang ada keperluan mendesak. Sudah, bareng kami saja pulangnya." Mamah Yuli setuju dengan ide Dani.


Mak Nur semakin malu di hadapan Dani. Semua keluarganya masih baik saat dia bersikap menyebalkan. Orang yang sangat dibanggakan olehnya malah meninggalkannya tanpa kabar, bahasa kasarnya menelantarkan tanpa kabar apapun.


Mak Nur ingin menolak tumpangan itu, tapi dia tidak tahu arah jalan pulang. Banyaknya jalur angkutan umum malah membuatnya bingung. Rasa canggung menelusup ke hati. Tidak enak rasanya, takut dibilang baik saat ada butuhnya.


Ya Allah, apakah ini balasan untukku dari sikapku yang keras pada Dani? Batin Mak Nur dengan mata berkaca-kaca.


Mamah Yuli menoleh ke belakang, melihat Mak Nur terdiam. Kembali dan merangkul bahunya. Membuatnya tersadar harus segera masuk mobil.


Dani mengangguk, "Iya, Mah."


Dani melajukan mobil ke jalur utama. Mulai mengikuti irama mobil. Mamah Yuli mengajak ngobrol Mak Nur seputar umroh. Seru sekali mereka beecerita tentang ibadah di tanah suci itu.


Dani menepikan mobil di sebuah rumah makan padang. Sudah waktunya jam makan siang dan lewat waktu dzuhur. Mamah Yuli mengajak Mak Nur untuk turun dan makan disana.


"Mah, Dani salat dulu. Bungkuskan seperti biasa saja, ya? Nasi kuahnya dikit, pakai paru." Dani langsung bergegas ke masjid dekat rumah makan itu.


***


Disa yang sudah selesai mengajar langsung bergegas pergi ke suatu tempat. Dia mengucapkan istighfar berulang kali. Menghela napas dalam agar amarahnya mereda. Dia menghubungi Aji berulang kali, tapi tidak dijawab oleh lelaki itu.

__ADS_1


Dimana tanggung jawabnya pada emak? Aji yang mengantarkan emak ke Semarang, lalu kenapa ditinggal? Vaksinasi tidak memakan waktu satu hari. Namun, kenapa dia tega membuat Mak Nur menunggu hingga tiga jam lebih?


Disa melajukan motornya menuju ke pondok pesantren. Hanya itu satu-satunya tempat yang dapat dia datangi untuk bertemu dengan Aji. Setelah sampai, dia melihat Aji baru saja memarkirkan mobilnya.


"Mas Aji, tunggu!" panggil Disa dengan langkah tergopoh-gopoh.


Aji menoleh seraya menepuk jidatnya. Lelaki itu memang benar-benar melupakan emak yang masih berada di Semarang. Disa mengucapkan salam lalu menghela napas lagi.


"Kenapa menepuk dahi, Mas? Ada yang terlupa?" tanya Disa kesal.


Kekesalannya sangat beralasan. Mak Nur tidak memiliki ponsel, tidak pernah pergi jauh kecuali hanya di Demak, dan tidak tahu jurusan angkutan yang harus dia tuju.


"Dik, maaf, Mas lupa jemput emak. Ya sudah, aku jemput sekarang aja, tolong jangan marah," ucap Aji menyesal.


Disa memejamkan matanya, "Tidak perlu, Mas. Emak sudah pulang bersama kerabat. Maaf kami merepotkan, tolong besok lagi jangan menyanggupi jika emak meminta pertolonganmu. Bukan apa-apa, aku hanya ..., huft ..., mau marah juga nggak bisa karena bukan salahmu sepenuhnya. Sudahlah, aku hanya minta tolong, besok lagi jika emak minta tolong padamu, tolaklah secara halus. Permisi, Assalamu'alaikum." Disa langsung pergi meninggalkan Aji.


"Wa'alaikum salam," jawab seorang wanita. Disa menoleh, ternyata Buk Yah sedari tadi berada di dekat mereka.


"Kenapa, Nduk? Aji membuat kamu marah?" tanya Buk Yah.


Disa tersenyum dan menyalami wanita itu. Dia menggelengkan kepalanya. "Tidak, Buk. Maaf, Disa harus segera pulang. Ada hal yang mendesak. Assalamu'alaikum." Disa kembali mencium tangan Buk Yah.


"Wa'alaikum salam, hati-hati." Buk Yah tersenyum melihat langkah calon mantunya begitu tenang meski dalam keadaan kesal.


Buk Yah berbalik menghadap Aji. Bertanya ada apa sebenarnya? Kenapa Disa sampai menahan amarah yang begitu besar dalam dirinya?


"Maaf, Mi, Aji tadi pagi mengantarkan emak ke Semarang untuk vaksin meningitis sebelum umroh. Lalu, ada telepon genting yang membuat Aji harus meninggalkan emak. Eh, malah lupa jemput," terang Aji dengan begitu enteng, tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Astaghfirullah ..., kamu ini! Telepon dari siapa sampai kamu tega meninggalkan orang tua sendirian disana?" Buk Yah ganti marah dengan anaknya.

__ADS_1


***


Readers tersayang, yang guru, bisa othor minta bantuan kalian? chat di grup othor ya makasih


__ADS_2