Pinangan Kedua

Pinangan Kedua
Nanti Mas Antar


__ADS_3

Sepasang bola mata membelalak karena ucapan manis itu. Membuat mereka salah tingkah. Canggung merajai diri Dani dan Disa. Ucapan yang manis itu mampu membuat hati mereka merekah.


Dani langsung berdiri dan menggaruk tengkuknya. Bingung harus berkata apa. Dia mengira yang masuk adalah Sita, ternyata bukan. Ia tidak ingin Disa menjauh darinya karena ucapan yang keluar dari mulutnya. Takut wanita itu mengira dirinya tukang gombal.


Begitupun dengan Disa. Mengapa dia menjadi salah tingkah? Seharusnya dia biasa saja. Jujur, saat ini hatinya sedang gembira entah karena apa. Ia sadar kalimat iti bukan untuknya. Tapi dirinya menyukai hal itu, sangat terdengar manis di telinga. Pipi sudah merah merona, telinga mulai panas. Senyum tertahan di bibir.


"Maaf, saya mengira kamu adalah Sita," terang Dani menjelaskan situasi pelik itu.


Disa mengangguk, "Saya ..., izin ambil tas dan pamit pulang, Pak."


Disa mengambil tas miliknya yang ada di sofa. Lalu pergi dengan terburu-buru. Saat sudah berada di luar ruang kerja, barulah dia merasa lega. Napasnya tidak sesak seperti saat dia di dalam.


"Astaghfirullah ..., sadar Sa, sadar!" Disa menggelengkan kepalanya.


Sedangkan di dalam, pikiran Dani tiba-tiba saja menjadi buyar. Tidak bisa fokus karena kopi yang tersaji di atas meja kerja. Dia tersenyum melihat gelas berisi cairan hitam pekat, dibawa oleh seorang wanita yang mampu menggetarkan hatinya.


Dani melihat foto keluarganya yang ada di atas meja. Tersenyum pada wanita yang telah melahirkan anaknya. Tapi pergi menghadap Rahmatullah terlebih dahulu. Dia mengusap lembut wajah yang sudah lama tidak dipandangnya.


"Alfatihah ...." Dani membaca ummul kitab yang ditujukan untuk Inaya.


"Bukan maksud Mas melupakanmu, Sayang. Tapi hati ini yang bergerak dengan sendirinya. Maaf, Sayang. Astaghfirullah ..., apakah Mas termasuk selingkuh darimu? Mas kangen dengan kamu, bisakah kita bertemu? Bantu Mas menemukan jalan untuk mendidik anak kita, Sayang. Mas butuh kamu untuk meredam kemarahan Aidha. Dan Salwa ..., dia butuh perhatian yang sama sekali tidak didapatkan dari kamu." Dani mendekap foto itu di dadanya.


Memejamkan mata sekejap agar bisa menenangkan hati yang selalu diliputi rasa khawatir. Entah dirinya sedang berhalusinasi atau terlalu memikirkan Inaya, ada suara lembut persis milik almarhumah istrinya menyapa telinga. Mengatakan pada Dani untuk beristikharoh.


Dani dengan cepat membuka matanya. Melihat sekeliling ruang kerja. Hanya ada dia seorang disana. Suara milik siapa yang didengar oleh telinganya? Persis seperti suara Inaya. Dengan jelas ia mendengar bisikan itu menyuruhnya beristikharoh.


Suara Salwa mengalihkan perhatiannya. Putri bungsu Dani tergopoh-gopoh menghampirinya.


"Pelan-pelan jalannya, Nduk. Ada apa, sih?" tanya Dani heran.


"Pah, tolongin u-ust cepet!" jawab Salwa dengan napas yang masih tersengal.


"U-ust? Kenapa, Sal?"

__ADS_1


"U-ust jatuh dari motor karena terpeleset pasir. Kakinya berdarah. Ayo, Pah!" Salwa menarik tangan Dani.


Mereka segera menuju tempat kejadian dimana Disa jatuh. Disana sudah ada para tetangga kompleks. Reza dan satu orang lelaki mencoba menyingkirkan motor Disa. Sedangkan Sita bertanya keadaan Disa.


"Innalillahi ..., kenapa ini?" tanya Dani panik dan mendekat ke arah Sita.


Dia melihat darah keluar dari betis Disa yang terbungkus celana gamis. Sita bertanya apakah dia bisa berdiri? Disa mencoba, tapi tidak bisa. Pergelangan kakinya sangat sakit.


"Mas gendong aja gimana, Ta?" tanya Dani.


Disa menolaknya dengan cepat. Dia meminta bantuan lagi pada Sita untuk membantu berdiri. Namun ia gagal. Dani geram melihat hal itu. Dia menyuruh Reza mengeluarkan mobil untuk mengantar Disa ke rumah sakit.


"Terserah setelah ini kamu mau marah, tapi ini harus segera dilakukan. Maaf, Sa." Dani langsung mengangkat tubuh Disa dan membawanya berlari ke arah mobil Dani yang baru saja keluar. Tidak sadar dengan panggilan yang baru saja terlontar dari mulutnya.


Disa hanya bisa pasrah. Tertunduk malu karena digendong oleh yang bukan muhrimnya. Rasa sakit itu sedikit terabaikan karena terngiang akan panggilan Dani padanya. Segera dia beristighfar.


Sita menitipkan keponakannya pada tetangga kompleks. Mereka langsung menuju rumah sakit terdekat yang berada di jalan Kyai Palembang. Dani menyuruh Reza meningkatkan kecepatannya. Takut terjadi apa-apa pada Disa.


Petugas bertanya identitas Disa pada Dani. Ia menjawab sepengetahuannya saja.


"Hubungan dengan pasien? Pasti suami ya? Siaga sekali Anda, Pak! Gercep gitu!"


Wajah Dani bersemu merah, "Saya bukan suaminya. Tadi kan sudah saya jawab status dia belum menikah, Mbak." Dani mengklarifikasi ucapan petugas itu.


"Oh, maaf, Pak. Saya lupa. He-he-he. Habisnya ..., khawatir sekali sih."


Dani hanya tersenyum. Selesai mendaftar dia menuju IGD. Reza mencegahnya masuk.


"Disa lagi dijahit kakinya, Mas. Pergelangan kakinya kesleo, itu yang dokter katakan tadi." Reza menerangkan sesuatu tanpa diminta.


Dani mengangguk, "Masih lama nggak sih?"


"Tenang, Mas. Calon istrimu baik-baik saja."

__ADS_1


Dani menarik telinga Reza. Saat dia sedang panik dengan teganya calon iparnya itu malah meledeknya. Beberapa menit kemudian Sita datang dengan memberikan bon pembayaran dan resep obat. Meminta salah satu dari mereka untuk menebus di apotek.


Dengan cepat Dani langsung menuju apotek. Membayar semua tagihan biaya dan obat. Lalu kembali ke ruang IGD. Melihat Disa masih meringis kesakitan.


"Kok bisa sampai jatuh kenapa sih? Diburu waktu atau gimana? Lihat kan sekarang malah jadi luka dan kesleo juga?" Dani meluapkan emosinya pada Disa.


Sita dan Reza menahan tawa. Dani persis seperti seorang suami yang memarahi istrinya karena lalai. Disa mengernyitkan kening karena respon Dani. Haruskah ia semarah itu?


"Tadi ada anak kecil lewat depan saya dengan tiba-tiba, Pak. Saya takut kalau nabrak anak itu, makanya motor saya belokkan, eh tahunya ada pasir. Jatuh deh," jawab Disa enteng.


"Lain kali hati-hati dong! Nggak tahu apa saya khawatir?"


"Khawatir? Kenapa harus khawatir dengan saya?" tanya Disa bingung.


Dani tersadar atas ucapannya, "Ya ..., karena ..., kalau kamu terluka Aidha dan Salwa akan marah ke saya!"


Sita tertawa ketika dua keponakannya itu dijadikan kambing hitam untuk menutupi perasaan Dani. Kenapa juga mereka harus marah pada papahnya? Dasar Dani! Tidak bisa berpikir jernih jika sedang kesal.


"Kenapa Aidha dan Salwa harus marah, Mas?" tanya Sita.


"Mmm ..., itu karena ..., nanti mereka nggak bisa ketemu sama ustazah Disa, Ta."


"Oh gitu ..., kayaknya papahnya juga bakalan uring-uringan kalau nggak ketemu mbak Disa. Iya kan, Mas?" Sita menaikturunkan alisnya.


Wajah keduanya bersemu kembali. Disa ingin cepat pulang karena tidak tahan dengan bau obat. Reza mengambil mobil di perkiran. Dani meminta kursi roda, dan Sita masih sibuk menggoda Disa.


Dani menyuruh Reza melaju ke arah Bonang. Mengantar Disa pulang ke rumah.


"Motorku bagaimana?" tanya Disa.


"Nanti Mas antar," jawab Dani cepat.


"Mas?" tanya Disa, Sita, dan Reza bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2