
Dani dan Aidha langsung menghampiri Disa yang mengeluarkan suara seperti orang mau muntah. Sang umma tengah menutup hidung dan mulutnya. Lalu menunjuk plastik hitam di dalam lemari. Bau busuk seperti bangkai menyengat hingga menyebar ke seluruh penjuru kamar.
Dani mengambil plastik itu lalu berlari membawa ke luar rumah. Setelah dibuka isinya bangkai anak ayam. Kenapa ada barang seperti itu di kamar Dani? Siapa yang melakukannya?
Penemuan plastik itu membuat lingkungan dan orang rumah geger. Pak RT langsung mengumpulkan satpam kompleks guna memperketat keamanan. Dani menceritakan penemuan barang itu, tidak tahu menahu siapa pelakunya.
"Cctv dalam rumah tidak ada, Pak?" tanya Pak RT.
"Mati, Pak." Dani menyesalkan hal itu. "Coba saya cek rekaman ruangan lain." Dani segera pamit dan mencari ponselnya.
Disa sedang ditenangkan oleh Sita dan juga Mamah Yuli. Reza mengantarkan Aidha dan Salwa ke sekolah terlebih dahulu.
"Za, nanti bilang sama guru mereka, jangan dibiarkan pulang sebelum aku jemput. Aku nggak mau lagi kecolongan seperti kasus Salwa." Dani memberi pesan pada Reza.
"Nggih, Mas." Reza segera pamit dan mengantarkan calon keponakannya sekolah.
Dani memeriksa cctv yang berada di teras dan garasi rumah. Ternyata memang ada orang yang sengaja masuk ke rumahnya pada jam malam. Dia masuk lewat pintu depan. Kunci pintu yang selalu dicabut, membuat sang pelaku dengan mudah menemukan akses masuk ke rumah.
Dani mencari keberadaan istrinya. Lalu bertanya kemana semalam setelah salat tahajud? Apakah dia tidak tahu ada orang yang masuk?
"Adik langsung ke kamar Aidha, Mas. Niatnya mau membangunkan salat malam, ternyata dia sudah bangun terlebih dahulu. Lalu kami bercerita sampai subuh. Kamu sendiri juga tidak tahu dia masuk kamar kita, Mas?" tanya Disa.
Dani menggeleng, dia langsung kembali tidur setelah tahajudnya selesai. Matanya waktu itu benar-benar mengantuk. Tidak tahu jika kelengahan itu menjadi titik penting untuk melakukan teror itu. Ia akan melaporkan kejadian ini pada polisi. Malah teringat akan foto Zafran dan Zoya.
"Apa kita pasang aja ya foto mereka?" tanya Dani konyol.
Mamah Yuli mengomel tidak habis pikir dengan ide anaknya. Memang kalau ada foto Zafran dan Zoya peneror itu tidak akan takut?
"Kalian berangkat kerja dulu. Masalah ini kita bahas nanti." Mamah Yuli mengakhiri bincang pagi kali ini.
Kepala Mamah Yuli langsung berdenyut memikirkan masalah itu. Baru saja Dani dan Disa bersatu, masih saja ada gangguan yang datang. Siapa peneror itu? Apa motifnya? Begitulah pertanyaan yang memenuhi benak sang ibu.
Mamah Yuli memutuskan tidak pergi ke pasar. Memilih menjaga rumah bersama Sita. Mbok Yem ikut ketakutan karena teror itu. Melakukan aktivitas apapun juga malah menjadi was-was.
__ADS_1
Sore hari selepas bekerja, Dani, Arsya, dan Reza memasang cctv di semua sudut ruangan. Itu adalah langkah awal untuk mencegah pelaku teror melakukan aksinya lagi. Memasang kunci berlapis di pintu utama.
Seminggu setelah kejadian teror itu, tidak ada yang aneh. Dani dan keluarganya sedikit lega akan hal itu. Tapi, mereka tidak mau lengah, keamanan tetap harus diaktifkan agar para peneror itu batal melakukan aksinya.
"Dik, kamu belum kedatangan tamu bulanan?" tanya Dani.
"Belum, Mas. Semoga saja jadi ya, Sayang?"
Dani mengamini do'a istrinya. "Aamiin, aku kira kemarin kamu mual tuh udah ada pertanda. Eh, ternyata ..., pipi kamu kayaknya makin berisi, naik berapa kilo, Dik?"
"Tiga kilo, hi-hi-hi. Kamu sih suruh nemenin ngemil terus," protes Disa.
"Ya nggak papa, makin berisi makin bahagia aku lihatnya. Coba ambilkan ponsel, Mas mau kontrol teras."
Disa langsung bangkit dan mengambilkan ponsel suaminya. Ada seorang lelaki memakai penutup wajah meletakkan kardus di depan rumah Dani. Membuat sang pemilik rumah geram akan aksi peneror itu. Dengan cekatan dia menghubungi Pak RT dan meminta satpam datang ke rumahnya.
Sedangkan Dani sudah bersiap dengan sapu. Membuka pintu perlahan sehingga mengejutkan sang peneror. Pelaku itu ingin kabur, tapi sudah dikepung oleh warga dan juga satpam.
Ada seorang warga memgompori warga lain untuk main hakim sendiri. Membuat sang peneror ketakutan dan meminta ampunan. Dia mengaku hanya disuruh oleh seseorang. Membuat semuanya ingin tahu siapa dalangnya?
"Siapa yang nyuruh kamu?" tanya Dani.
"Na-na-namanya ..., Ambar, Pak." Pelaku itu langsung menyebutkan identitas sang dalang.
Peneror itu langsung dibawa ke polsek. Dani memasukkan laporan dan menyeret nama Ambar dalam hal ini. Besok paginya, wanita itu mendapat panggilan dari kepolisian. Membuat orang tuanya kaget dan pingsan.
Disa memohon pada Dani agar Ambar dibebaskan dari segala tuntutan. Tapi, suaminya tidak mau. Dia sudah tidak punya rasa belas kasihan pada Ambar. Kasus yang ini membuat trauma di benak semua keluarga. Maka dari itu Dani memutuskan untuk melaporkan pelaku utamanya.
Saat diinterogasi oleh penyidik, dengan entengnya Ambar bilang bahwa dirinya hanya bercanda. Tidak ada niatan untuk mencelakai orang di rumah itu.
"Kamu pikir dirimu tukang lawak, Mbak?" ungkap Disa saat mendengar penjelasan dari penyidik.
"Bercanda kamu bilang? Aidha, Salwa, mamah, Sita, dan semuanya ketakutan karena ulah kamu!" Disa kehilangan kesabarannya karena perilaku Ambar yang sama sekali tidak mencerminkan bahwa dia sedang bercanda.
__ADS_1
"Punya salah apa sih kami? Sampai hati kamu membuat semua keluargaku ketakutan?"
Dani bersedekap mendengarkan istrinya meluapkan kekesalannya. Ambar benar-benar sudah kelewatan batas. Dia membiarkan Disa meluapkan segala emosinya. Jika dulu emak yang menjadi targetnya, kini malah semua keluarganya menjadi sasaran utama.
"Salah kamu merebut mas Dani dari aku!" Ambar membentak Disa sangat keras.
Penyidik membawa Ambar kembali ke tahanan. Disa dibawa Dani ke dalam mobil dan diberikan minum. Istrinya menangis karena sangat kesal. Mereka memutuskan kembali ke rumah.
Aidha dan Salwa menemani umma mereka. Berusaha menghibur agar hati orang tuanya lega dan kembali seperti semula.
"Umma, bukannya kemarin bilang sama Aidha kalau ada yang jahat sama kita, jangan dibalas dengan kejahatan." Aidha menghapus air mata Disa yang meleleh hingga pipi.
"Makasih ya, Mbak, Sal. Umma nggak papa kok. Kalian sudah makan?" tanya Disa menghapus air matanya.
"Sudah, Umma belum makan, kan?" tanya Salwa.
"Nanti saja."
Dani datang membawa makanan dan minuman untuk Disa. Menyuapi istrinya dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang. Membuat anak mereka semakin bahagia melihat kerukunan dan romantisme itu tercipta.
"Kapan adik kami muncul di perut Umma?" Salwa mengelus-elus perut Disa.
"Sabar, dong! Papah juga nungguin lho. Makanya kalian do'akan umma." Dani masih telaten menyuapi istrinya.
"Do'akan apa, Pah?" tanya Salwa.
"Semoga tiap malam selalu sehat dan kuat. Ha-ha-ha ...," ucap Dani sembarangan. Membuat Disa memukul bahunya.
Aidha dan Salwa tidak paham maksud papahnya. Kenapa harus dido'akan seperti itu?
"Memang tiap malam umma loyo, Pah?" tanya Aidha.
Disa terbatuk karena pertanyaan itu. Dia menyuruh anak-anaknya menyudahi obrolan tidak jelas itu.
__ADS_1