
Disa berjalan dengan langkah mantap. Jantungnya berdesir hebat melihat lelaki itu menatapnya. Aidha dan Salwa langsung berlari dan memeluk wanita berhijab biru itu. Dani baru menyadari jilbab yang dipakai adalah pemberiannya.
Salwa berlari ke arah papahnya. Minta diantarkan ke tempat bermain. Disa menunggu seorang diri disana. Anak-anak itu memang mengerjainya. Katanya pergi dengan Rida dan Arsya, ternyata dengan papahnya.
Dani kembali dan duduk satu meja dengan Disa. Wanita itu sadar sedari tadi belum menyapa pria itu.
"Assalamu'alaikum, Mas," ucap Disa dengan wajah memerah.
Panggilan yang sangat merdu berdengung di telinga Dani. Hingga pria itu tidak berkedip sepersekian detik. Masih terngiang kalimat Disa menyapanya.
"Wa'alaikum salam, tadi kamu panggil saya apa?" tanya Dani memastikan.
"Mas, bukannya Anda yang minta dipanggil begitu?" Disa tidak berani menatap Dani.
Sang duda ingin lompat dari kursinya dan berteriak. Dia sangat yakin panggilan itu adalah sebuah sinyal baginya. Mungkinkah Disa sudah menolak lamaran Aji?
Disa menunjuk makanan di depannya. Apakah itu untuk dirinya? Dani sangat yakin anaknya memesankan makanan untuk wanita itu. Dia mengangguk.
"Makanlah," ucap Dani.
Disa mengambil ponsel dan headsetnya. Memberikan pada Dani. Lalu memutar sebuah lagu. Tembang lawas yang pernah booming di tahun 2013. Dibawakan oleh penyanyi multitalenta, Bunga Citra Lestari dengan judul karena kucinta kau.
Dani mendengarkannya dengan seksama. Meresapi setiap lirik yang menggema di telinganya. Dia tersenyum dan menangis haru. Wanita itu mengungkapkan cintanya lewat sebuah lagu.
Disa memberikan tisu pada pria itu. Saling melempar senyum malu. Romantis sekali mereka. Dani melepas headset dan mengembalikan pada pemiliknya.
"Apa kamu sudah menjawab lamaran ustaz Aji?" tanya Dani.
Disa mengangguk, "Sudah, saya menolaknya empat hari lalu."
"Boleh saya mengucap syukur?" tanya Dani. Disa tertawa dan mengangguk. Pria itu mengucap hamdalah. Plong hatinya mendengar jawaban khitbah ustaz Aji adalah penolakan.
"Saya bukan tipe wanita yang tahu caranya mengungkapkan perasaan. Hanya ini satu-satunya cara agar Anda tahu. Saya sudah tidak dalam masa khitbah lagi ...,"
Disa menjeda ucapannya. Ingin melanjutkannya, tapi ragu. Dani menunggu wanita itu menyelesaikan kalimatnya.
"Saya menunggu Anda datang menemui emak dan mas Wakhid." Disa langsung memegang gelas berisi jus jeruk itu. Meneguk hingga rasa gugupnya menghilang.
Dani tersenyum. Wanita itu benar-benar sudah berani mengungkapkan perasaannya.
"Besok saya bersama mamah datang ke rumah kamu. Tolong persiapkan jawaban terbaik yang saya nantikan," ucap Dani menatap teduh wanita itu.
__ADS_1
"Boleh nggak sih kita ngobrol santai? Maksudku, panggilnya aku dan kamu, bukan saya dan anda. Bisa?" tanya Dani.
Disa mengangguk. Mereka saling menatap dan melempar senyum. Dani menyuruhnya makan dengan tenang dan segera menemui anak-anak. Lelaki itu memerhatikan setiap gerakan Disa.
"Tolong jangan melihatku begitu, Mas. Aku malu," ucap Disa.
Dani tertawa, "Iya, maaf. Kamu kesini naik apa?"
"Aku selesaikan makan dulu, baru kita ngobrol."
Dani menjadi malu. Lupa adab dalam makan dan minum. Harus dalam posisi duduk, mengucap basmalah, dan tidak sambil berbicara. Lelaki itu diam dan mengambil ponselnya. Diam-diam memotret Disa. Sangat cantik meski tidak memakai makeup.
Disa mengucap hamdalah, lalu membersihkan mulutnya menggunakan tisu. Menyuruh lelaki itu bicara padanya.
"Kesini naik apa, Dik?" tanya Dani.
"Angkutan umum. Tadi Aidha aku WA, lagi dimana? Katanya di Semarang. Di tempat mbah uti sama mbah akung. Nyekar ke makam ibu juga. Pergi sama mas Arsya dan mbak Rida, eh ternyata. Sudah kesana?" tanya Disa.
"Sudah, pulangnya sama kami saja. Bahaya kalau kamu pulang sendiri."
"Emang bahayanya apa?" tanya Disa tidak paham.
"Barusan, entah mereka yang ngajarin siapa. Tolong jangan marahi mereka, Mas. Nggak tega aku ...."
Dani tertawa mendengarnya. Siapa juga yang mau memarahi anaknya? Malah dia senang dengan sebutan anak-anak itu. Terdengar sangat menentramkan, dan terlihat sebagai keluarga utuh.
Dani mengajak Disa ke tempat bermain, mengingat anak-anaknya tidak ada yang menjaga. Mereka berjalan berdampingan dengan senyum penuh menghiasi wajah itu. Sang duda mengajak wanita itu berkenalan dengan mertuanya. Meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Nanti beli cincin sekalian, ya? Aku nggak mau kecolongan lagi pokoknya. Kita jemput anak-anak dulu."
"Nggih, Mas." Disa menuruti keinginan lelaki itu.
Salwa dan Aidha menghentikan permainan itu. Mereka senang papah dan calon ummanya berjalan dengan bahagia. Salwa memeluk erat Disa.
"Umma tersayang, Salwa kangen ...," ucap Salwa manja.
"Umma juga kangen sama kalian," balas Disa mencium pipi dan kening Aidha dan Salwa bergantian.
Dani menggiring tiga wanita itu menuju toko mas. Disa memilih model cincin yang dijajarkan di etalase toko. Melihat harganya, membuat wanita itu sedikit sungkan.
"Jangan memikirkan harga, itu semua tidak sebanding dengan perjuangan kita. Pilih yang kamu suka, Dik. Tenang saja, kalau kurang nanti patungan dulu," ucap Dani bercanda.
__ADS_1
Disa memilih model yang sederhana. Ukurannya sudah sesuai di jarinya dan juga Dani. Dua anak gadis itu merengek dibelikan sepatu. Akhirnya mereka berbelanja di dalam mall. Sudah lama sekali Dani tidak menikmati keadaan itu.
Membiarkan Disa dan dua anaknya ribut memilih model sepatu yang cocok. Saat ini dia sebagai ATM berjalan. Dani menyuruh Disa memilihkan model sepatu untuk mertuanya.
"Pilihkan juga untuk mamah dan emak. Kamu mau sepatu atau yang lain, Dik?"
"Sepatuku masih bagus, Mas. Jangan boros." Disa memperingatkan Dani dalam pengeluaran.
"Mas nggak boros, cuma lagi mengeluarkan harta untuk sedekah. Buruan pilih, apa mau Mas pilihkan?"
"Cie ..., yang sekarang panggilnya mas adik, ihir ..., ha-ha-ha." Aidha menggoda Dani dan Disa.
Mereka hanya mampu tersenyum malu. Dua anak gadis itu heboh memilihkan model sepatu untuk calon ibu mereka. Dani hanya tertawa saat Disa menjadi boneka bagi Aidha dan Salwa.
Dani menelpon mertuanya. Meminta tolong agar dibuatkan wajik, gemblong, jenang, dan ladhu. Dia juga mengabarkan akan membawa Disa berkenalan dengan mereka. Ucapan syukur hingga haru pecah di rumah mertuanya. Menantunya akan segera menyambut bahagia.
"Alhamdulillah, Bu. Bapak lega kalau Dani ada yang mendampingi. Mendengar cerita anak-anak, wanita itu sungguh orang yang baik. Dan yang terpenting, mereka sayang dengan keluarga anak kita." Pak Tris menangis bahagia saat mengucapkannya.
"Iya, Pak. Alhamdulillah, besok Dani mau melamarnya. Kita dampingi anak kita, Pak."
Mereka tersenyum melihat foto Inaya yang sedang hamil bersama Dani dan Aidha. Anaknya tersenyum bahagia sama seperti kedua orang tua itu.
"Ibu mau siapkan makan malam untuk calon mantu kita, Pak. Bapak tolong bantu ibu menata rumah, ya?" pinta Bu Ana.
"Nggih, Nyonyah ..., sendiko dawuh!" Keduanya kembali tertawa.
***
Banyak cinta yang datang mendekat, ku menolak,
Itu semua karena kucinta kau
Saat kau ingat aku, ku ingat kau
Saat kau rindu aku, juga rasa
Ku tahu kau slalu ingin denganku,
Ku lakukan yang terbaik yang bisa kuberikan,
Tuhan yang tahu kucinta kau.
__ADS_1