Pinangan Kedua

Pinangan Kedua
Dipertemukan Lagi


__ADS_3

Disa sudah selesai mengajar. Kini dia tengah bergegas menuju pasar. Ingin mencari kado untuk pernikahan sepupunya. Dia berjalan sendirian dengan mata melihat ke kiri dan ke kanan. Jajaran toko yang menjual sandang sangat berkilauan karena cahaya lampu.


Barisan penjual mulai menawarkan barang yang dicari Disa. Ia berhenti disebuah toko karena melihat ada gamis yang menurutnya cantik. Namun sayangnya tidak ada ukuran yang pas. Dia berjalan lagi dan berhenti.


"Bu, coba lihat gamis yang itu." Disa menunjuk gamis yang diinginkannya.


"Assalamu'alaikum, Mbak Disa," sapa seorang ibu.


Disa menoleh, dan menyalami orang itu sembari tersenyum. "Bu Mar? Ya Allah ..., apa kabar?"


"Alhamdulillah baik, Mbak. Nyari apa?" tanya Bu Mar.


"Nyari gamis untuk kado nikahan sepupu saya, Bu. Ibu sendiri?"


"Nyari jilbab untuk anak saya. Ini toko miliknya ibunya mas Dani."


Disa mengernyitkan dahinya. Lalu ber-oh ria. Dia mengingat tentang lelaki yang sudah membantunya itu.


"Ibu, jilbabnya kemarin makasih ya? Ibu pilih satu nanti biar saya yang bayar." Disa menawarkan pada Bu Mar.


"Mbak, sebenarnya jilbab kemarin bukan saya yang bayar. Mungkin dibayar oleh mas Dani. Coba nanti tanyakan sama mamahnya."


Disa menjadi tidak enak hati. Tiba-tiba ada seorang ibu yang datang dan masuk ke toko itu. Dia baru sadar bahwa itu adalah mamah Yuli. Jadilah mereka bertiga reuni disana. Ia baru sadar bahwa Dani yang bertemu dengannya di kantor dinas dan foto yang ada di rumah mamah Yuli, adalah orang yang sama. Hatinya kembali dijalari getaran aneh, seperti sengatan listrik.


Disa menarik napasnya dan tersdar kembali. Dia memilih gamis yang ditunjuknya. Lalu membayar sesuai harga yang telah disepakati. Ia bertanya tentang jilbab yang dijual oleh mamah Yuli.


"Kemarin memang Dani sempat bilang ada yang beli jilbab. Uangnya sudah diberikan ke saya. Tapi saya kurang tahu Dani atau bukan yang bayar. Ah ..., gini saja. Nanti Ustadzah kan ke rumah, pasti ketemu anak saya. Tanya langsung saja." Mamah Yuli memberikan saran agar rasa penasaran Disa sirna.


"Malu, Bu," ucap Disa.


Bu Mar dan Mamah Yuli tertawa mendengar jawaban Disa. Kenapa harus malu? Mamah Yuli menatapnya seakan menaruh harap akan sesuatu. Entah apa keinginan ibu dari empat orang anak itu, yang pasti sangat dalam.

__ADS_1


Disa berpamitan terlebih dahulu karena masih harus memilih sepatu. Mereka berpesan padanya agar hati-hati.


"Andai anakku seperti dia," ucap Bu Mar.


"Sabar, coba ceritakan pertemuan Dani dan Disa." Mamah Yuli meminta Bu Mar untuk bercerita.


***


Dani selalu gagal untuk bertemu dengan Disa. Ada saja sebabnya. Rapat mendadak, tamu yang datang tiba-tiba, mendapatkan tugas tambahan dari pimpinan, dan lain-lain. Membuatnya selalu kehilangan kesempatan bertemu dengan wanita yang mampu menyentuh hati putrinya. Yakin hanya hati anaknya? Lalu hatinya?


Sabtu ini menjadi hari santai untuk Dani. Pasalnya jam kerjanya hanya sampai saat makan siang. Tidak ada agenda rapat ataupun kunjungan ke sekolah. Membuatnya berharap bisa dipertemukan lagi dengan Disa.


Dani merasa ada yang berubah pada dirinya. Dulu dia tidak akan melirik siapapun wanita yang mencoba dekat dengannya. Tapi berbeda dengan Disa. Ia merasa wanita itu memiliki magnet tersendiri untuk membuatnya tertarik. Ingin tahu lebih dalam sosoknya.


Apalagi setelah mendengar cerita mamahnya. Rasa penasarannya semakin besar. Dani tengah sibuk di ruang kerjanya. Ia membereskan beberapa file dokumen dan menata ulang ruangannya agar terlihat lebih segar. Alasannya dia sudah bosan dengan suasana itu.


Rumah tampak lenggang. Hanya ada dia, kedua anaknya yang baru saja pulang sekolah, dan ART. Mamahnya pergi ke pasar dari pagi hari untuk mengecek stok jilbab yang ada di toko. Akhirnya setelah dua jam dia selesai membersihkan ruangannya.


"Assalamu'alaikum ..., can ...," ucapan Disa terpotong ketika mengetahui yang membuka pintu bukanlah Aidha ataupun Salwa.


Netra mereka dipertemukan lagi dalam keadaan tidak sengaja. Mereka segera memalingkan wajah satu sama lain. Dani merasa ada yang meletup di dalam dadanya. Seperti ada yang menyalakan kembang api.


"Wa'alaikum salam warahmatullah ..., Ustadzah Disa?" tanya Dani memastikan.


"Nggih, Pak." Disa menganggukan kepalanya. (Ya, Pak.)


"Silahkan masuk, Ust. Saya panggilkan anak-anak dulu." Dani memberikan jalan bagi Disa masuk ke dalam rumah.


Disa berjalan menuju ruang kerja milik Dani. Sedangkan sang pemilik rumah hanya mengikutinya dari belakang. Seperti sudah tahu semua sisi rumah itu, Disa langsung menuju ruangan itu. Dani membukakan pintu untuknya.


"Silahkan tunggu dulu. Mungkin mereka sedang bersiap. Saya panggilkan." Dani hendak pergi namun panggilan Disa mencegah langkahnya.

__ADS_1


"Ya?" tanya Dani.


"Kenapa kemarin berbohong tentang jilbab yang saya pakai, Pak? Bu Mar bilang ke saya bukan beliau yang membayarnya."


Dani terkejut mendengar pertanyaan Disa. Kenapa wanita itu sampai tahu? Apa dia akan marah? Atau malah berterima kasih? Dani mengambil napas dan bersiap menjawab.


"Karena Anda sedang terkena musibah. Jadi saya membelikannya untuk Anda. Memang bukan Bu Mar orangnya, tapi saya. Maaf jika membuat Anda tidak nyaman."


Dani memilih jawaban untuk jujur. Disa diam mendengar pernyataan itu. Menurutnya itu terlalu berlebihan untuk orang yang baru saja dikenal. Bukan apa, karena dia masih memegang uang. Jilbabnya yang hilang, bukan dompetnya. Apakah ini bukan hal aneh?


"Terima kasih atas kebaikan Anda, tapi sejujurnya Anda tidak perlu melakukannya. Saya masih mampu untuk membayar jilbab itu," terang Disa.


"Anggap saja itu hadiah yang Allah titipkan lewat saya."


Dani langsung melangkah pergi menuju kamar Aidha dan Salwa. Menyuruh mereka bersiap karena sudah ditunggu oleh Disa di ruang kerja. Ia juga menyuruh ART untuk membuatkan minuman. Setelahnya dia ikut mengamati cara mengajar Disa.


Memang benar kata mamahnya, Disa mengajar dengan metode yang lebih mudah diserap oleh anak-anak. Itu karena pengulangan bacaan hingga lebih mudah diingat. Hari ini juga Aidha dan Salwa setoran ayat. Mereka ditarget untuk dapat menghafal sepuluh ayat surat An-naba.


Dani sangat senang melihat dan mendengar bacaan Aidha dan Salwa. Makhrajnya tepat, tajwid jelas, dan gerakan tangannya sama persis yang diperagakan Disa. Sudah hampir jam lima sore. Seperti biasa, Disa akan salat ashar terlebih dahulu lalu pulang.


"Ust, Salwa ikut ke rumah U-ust ya? Please," rengek Salwa.


"Jangan dikasih, Ust! Dia itu merepotkan!" ucap Aidha sarkas. Sedangkan Salwa bersungut-sungut karena ucapan kakanya.


"Mbak Aidha ..., kok gitu? Memangnya Salwa merepotkan seperti apa?" tanya Disa merapikan jilbabnya selesai salat.


Dani mengamati interaksi itu dengan seksama. Dia seperti melihat Inaya dalam diri Disa. Sifat keibuan yang muncul darinya mampu menyihir Dani dan membuatnya terpesona. Jantungnya tiba-tiba berdegup tak menentu.


"Aku kenapa, sih?" tanya Dani bergumam pelan.


"Lha kenapa, Pak?" Suara itu mengagetkan Dani.

__ADS_1


***


__ADS_2