
Jalanan macet membuat mobil berjalan merambat. Dani melihat dua anaknya tidur dengan kepala saling menyatu. Dia tersenyum bahagia karena hal itu. Dulu, jangankan satu kursi, satu mobil saja Aidha tidak mau.
Keras kepala, suka membangkang, dingin, dan ketus adalah sikap Aidha beberapa tahun lalu. Hingga hidayah itu muncul dan secara drastis mengubah gadis itu. Kini dia menjadi pribadi yang hangat, penyayang, dan murah senyum. Lebih banyak merespon lawan bicara daripada menghindar.
Mau berbagi apapun dengan Salwa. Menunjukkan rasa sayang pada adiknya. Itu semua karena satu orang yang benar-benar berarti dalam hidup Dani. Disa memberikan warna, kehangatan, dan kebahagian dalam keluarga kecilnya. Mampu menggantikan Inaya dengan baik tanpa mengubur kenangan almarhumah.
Mengajarkan rasa patuh dan hormat dengan sangat bijak. Menelisipkan tuntunan islam dalam setiap perilaku anaknya. Berani mengorbankan dirinya untuk menolong yang tertindas. Tidak pernah marah meskipun terinjak.
"Kalau ngantuk tidur saja, Dik." Dani melihat Disa yang sedari tadi diam.
"Nggak ngantuk kok, Mas. Kita jadi mampir ke rumah orang tua almarhumah mbak Inaya?" tanya Disa.
Dani mengangguk. Menenangkan Disa dan berpesan jangan khawatir. Lelaki itu menceritakan sifat mertuanya. Berpesan lagi bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Disa hanya sedikit canggung. Pasalnya ini pertama kalinya dia diperkenalkan dengan wakil masa lalu Dani. Wanita itu sadar, berani membalas cinta lelaki itu, berarti harus menerima paket lengkap yang ada pada diri sang duda.
Bukan semata hanya memikirkan perasaannya yang mencintai lelaki itu. Namun lebih menyayangi dua amanah yang ditinggalkan ibunya. Berjanji pada diri sendiri akan adil dalam membagi rasa cintanya.
"Kamu nggak masalah dipanggil Umma sama mereka?" tanya Dani.
"Nggak, biarkan mereka memanggil sesuka hatinya. Itu berarti aku memang dianggap sosok ibu bagi Aidha dan Salwa."
Dani semakin kagum dengan wanita ini. Hatinya benar-benar gembira telah menemukan ibu sambung bagi kedua putrinya. Maghrib telah usai, rombongan keluarga itu baru saja sampai di rumah Pak Tris. Mereka disambut hangat oleh keluarga itu.
"Salat dulu, Ibu siapkan makan. Belum pada makan, kan?" tanya Bu Ana pada Disa.
"Belum untuk yang ketiga kalinya, Bu. He-he-he. Disa bantu boleh?" pinta Disa menawarkan bantuan.
"Boleh sekali, Ibu senang sekali kalau ada yang bantu. Salat dulu, pakai mukena yang sudah Ibu siapkan."
__ADS_1
Dani salat bersama dua putrinya. Setelah selesai berganti Disa. Pak Tris dan Bu Ana sudah menunggu di ruang tamu. Ruangan itu disulap sebagai tempat makan lesehan. Menu yang disajikan adalah lontong opor dari Mamah Yuli.
Disa mengisi piring Aidha dan Salwa. Bu Ana dan Pak Tris saling melempar senyum melihatnya. Kasih sayang Disa nyata adanya, bukan sebuah kepura-puraan belaka.
"Pintar kamu cari calon, Dan. Milihnya daun muda. Biar kalau digigit nggak alot ya? He-he-he," ucap Pak Tris menggoda menantunya.
Dani langsung tersedak daging ayam. Dia meneguk air dengan cepat. Bu Ana mencubit paha suaminya. Bisa-bisanya bicara begitu pada menantunya.
"Jangan dengerin omongan bapakmu, Dan. Bapak ki lho, tidak sopan!" hardik Bu Ana pada suaminya.
"Santai saja, Bu. Bapak memang tahu maksud Dani, hi-hi-hi ...," sahut Dani tidak membantah ucapan mertuanya.
Makan malam usai, Disa langsung membereskannya di dapur. Mencuci segala peralatan makan yang kotor. Bu Ana membantunya mengeringkan yang sudah bersih. Bertanya tentang latar belakang wanita itu.
"Mbak, Ibu senang akhirnya Dani mau menikah lagi. Bersama orang yang tepat untuk berjalan bersama membangun sebuah keluarga yang utuh. Cucu saya yang kedua itu kasihan, tidak mendapatkan belaian rasa sayang dari seorang ibu. Meski banyak perempuan yang menyayanginya, tapi rasanya pasti beda. Tolong terima kekurangan Dani ya, Mbak. Ibu berharap kalian bahagia selalu," tutur Bu Ana dengan haru.
"Anggap Inaya, anak Ibu itu sebagai kakakmu, tolong sayangi menantu dan cucu saya ya, Mbak." Kini Bu Ana sudah menangis.
Disa mengajaknya duduk dan memeluknya. Dia ikut terharu, merasakan yang sedang Bu Ana ungkapkan. Kerinduan seorang ibu pada anaknya yang sudah lama tidak berjumpa.
Disa menghapus air mata itu dan menyalami Bu Ana. Tersenyum dan menghela napas.
"Terima kasih Disa sudah diterima dengan baik oleh Ibu dan bapak. InsyaAllah, Bu. Ingatkan saya jika ada keliru dalam mengasuh anak, karena saya juga sudah menganggap Ibu sebagai ibu saya sendiri."
Bu Ana tersenyum hangat. Pak Tris menyuruh semua berkumpul. Mereka berbincang santai dan penuh candaan. Dani memberitahu bahwa acara lamaran akan dilaksanakan besok malam. Meminta tolong pada mertuanya agar dibuatkan seserahan.
Bu Ana pandai dalam membuat jajanan pasar. Sering mendapatkan pesanan dari tetangga maupun kenalannya. Selepas isya' Dani pamit pulang, takut kemalaman sampai Demak. Belum lagi mengantarkan anak gadis orang.
Bu Ana dan Pak Tris memberikan banyak makanan untuk dibawa pulang Dani. Memisahkan bagi keluarga Disa.
__ADS_1
"Barakallah ..., terima kasih, Bu. Malah merepotkan," kata Disa tidak enak hati.
"Eh, katanya mau jadi anak Ibu? Berarti tidak ada kata merepotkan. Hati-hati pulangnya. Besok malam kita ketemu lagi. Dan, pelan saja bawa mobilnya." Bu Ana berpesan banyak petuah.
Aidha dan Salwa menyalami uti dan akungnya. Lalu mereka naik mobil. Dani membunyikan klakson saat melajukan mobil. Disa melambaikan tangan dan mengucapkan salam.
"Alhamdulillah, Dani mendapatkan pasangan hidup yang soleha, Bu. Beban di hati Bapak rasanya hilang. Bapak ikut bahagia, ridho untuk kebahagiaan mereka." Pak Tris merangkul istrinya dan saling menampilkan senyum bahagia.
Aidha dan Salwa langsung terpejam kala mobil melaju. Mungkin terlalu capek berenang dan bermain. Tenggorokan Dani serasa kering dan gatal, dia menepikan mobil di indoapril sebentar.
"Kenapa, Mas?" tanya Disa.
"Tenggorokan Mas gatal dan kering, Dik. Beli air dulu." Dani hendak turun dari mobil dan dicegah Disa.
"Biar ..., Adik yang belikan." Disa menggunakan panggilan yang lebih halus untuk menyebut dirinya. Wajahnya sudah sangat merah karena malu. Dia segera turun dan masuk ke swalayan itu.
Dani tertawa girang melihat tingkah wanita itu yang malu-malu kucing. Sangat gemas dan ingin mencubit pipi Disa.
Disa kembali dan menyodorkan air untuk Dani. "Makasih Umma sayang ...,"
Lagi, Dani mengucapkan kata sayang pada Disa. Membuat wanita itu diserang oleh pasukan desiran lembut yang menggetarkan sanubari. Ia menutup wajahnya karena tidak tahan dengan kata manis duda itu. Sangat manis.
Dani menyuruhnya tidur saja. Disa mengangguk, lagian dirinya sudah mengantuk. Tangannya meraba bagian bawah mobil untuk menemukan tombol pengatur posisi. Sayang sekali dia tidak menemukannya.
"Mas ..., tombol pengatur posisinya mana sih? Kok Adik cari nggak ketemu, ya?" tanya Disa.
"Ada kok, Dik. Sebelah kiri bawah," balas Dani.
Disa berusaha mencari tapi tidak kunjung menemukannya. Tangan Dani langsung ikut mencari, membuat tubuh mereka tidak berjarak. Wanita itu langsung menutup wajahnya dengan napas tercekat.
__ADS_1