Pinangan Kedua

Pinangan Kedua
Berkunjung


__ADS_3

Dani langsung mandi ketika sampai di rumah. Mamah Yuli sudah siap, rapi, dan wangi. Sita juga sudah keluar dari kamar dan mengobrol sebentar dengan mamahnya. Ia tertarik dengan obrolan mamahnya tentang Dani dan Disa.


Dia sangat senang mengetahui kakaknya masih bisa bergetar ketika melihat wanita. Pasalnya, semua wanita yang coba ia, Rida, dan mamah Yuli kenalkan, tidak direspon sama sekali. Sita mengakui bahwa Disa, kakak asuhnya itu memang memiliki daya tarik sangat kuat bagi lawan jenis mereka. Disa memiliki sifat keibuan yang tidak setiap wanita lajang miliki.


Mereka sudah siap. Buah tangan untuk keluarga Disa sudah masuk semua ke dalam mobil. Dani akan menjadi supir bagi kedua wanita itu. Langsung menuju arah Bonang. Mulut Sita sudah sangat gatal untuk menggoda kakaknya.


"Mas, ganteng dan wangi banget hari ini. Emang ini hari spesial?" tanya Sita memancing pertanyaan.


"Iya dong!" jawab Dani percaya diri.


Sita menahan tawanya, "Mau ketemu calis ya?"


Dani mengernyitkan keningnya, baru mendengar kata asing itu. "Calis apaan, Ta?"


"Calon istri!" jawab Sita dan Mamah Yuli kompak. Mereka tertawa terbahak-bahak.


Wajah Dani menjadi bersemu merah. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Senang sekali Sita menggoda dirinya. Dan sang mamah juga bersekongkol dengan Sita.


"Reza gimana, Ta?" tanya Dani membalik serbuan olokan dari Sita.


Sita langsung diam tanpa kata. Ekspresi wajahnya datar. Tidak seceria tadi. Dani melirik sebentar, lalu fokus kembali ke jalanan. Dia masih bingung menafsirkan mimik muka yang ditunjukkan adiknya.


Masih berpikir tentang dua kemungkinan. Tapi jujur, Dani berharap Sita masih menyimpan rasa untuk Reza. Lelaki yang sangat menjunjung tinggi nilai kesopanan dan kesetiaan. Selama satu kantor dengannya Reza terkenal sopan kepada senior. Dan selama dia mengenal Reza, tidak pernah ia mendengar bahwa Reza berpacaran. Dani menganggap itu adalah sebuah kesetiaan atas cintanya untuk Sita.


"Mana aku tahu, Mas. Kan yang sekantor sama dia bukan aku."


Mamah Yuli hanya mengamati percakapan mereka. Tidak ingin mencampuri urusan perasaan Sita. Karena yang bersangkutan tidak mau bercerita kepadanya. Berbeda dengan Dani, yang jika dipancing akan langsung menceritakan apa masalahnya.


"Emang udah nggak pernah ngobrol?" pancing Dani lagi.


Suta menggeleng, "Udah lama lost contact."

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Dani.


"Nggak papa, cuma ingin memperbaiki diri lagi. Tidak sepantasnya bersahabat dengan lawan jenis. Cukup menjadi teman yang wajar saja."


"Oh, gitu. Eh, kemarin dia cerita sama Mas, katanya mau melamar seorang wanita, lho!"


Sita langsung terkejut. Ekspresi wajahnya yang sepersekian detik mampu menjelaskan pada Dani seperti apa perasaan Sita. Ya, adiknya kaget, itu artinya masih ada rasa yang terpendam. Tugas Reza nantinya adalah menggali agar rasa itu muncul ke permukaan.


Mobil telah memasuki area Bonang. Dani mulai mengurangi kecepatan mobilnya. Hatinya berdesir tidak karuan. Membuat tangannya menjadi dingin. Seperti seorang artis yang akan tampil, Dani mengalami demam panggung.


Sita menceritakan tentang keluarga Disa. Jumlah saudara Disa, merupakan anak perempuan satu-satunya dalam keluarga itu. Ayah Disa sudah lama meninggal. Ibunya bekerja sebagai pedagang sayur di pasar Bonang. Tidak ada yang istimewa dari mereka. Hanya orang biasa saja.


Mobil melaju semakin pelan. Perut Dani bergejolak tidak karuan. Dia heran dengan respon tubuhnya. Ia mengingat bahwa dulu saat berkenalan dengan Inaya tidak seperti itu adanya. Tapi, kenapa sekarang sampai seperti ini? Entahlah! Dani sendiri juga tidak tahu.


Mobil berhenti di sebuah rumah. Lantainya sudah beralaskan keramik. Di sampingnya tumbuh dengan subur pohon kelengkeng. Pintu rumah terbuka lebar. Suasana tampak sepi. Hanya ada satu motor yang terparkir dengan sempurna.


"Assalamu'alaikum," ucap Dani, Mamah Yuli, dan Sita.


Disa beranjak untuk melihat tamu yang datang. Dia terkejut melihat keberadaan Sita di depannya. Dengan senang ia langsung memeluk adik asuhnya itu dengan erat. Air mata keduanya sedikit membasahi pelupuk mata.


Kesempatan bagi Dani melihat rona bahagia dari wajah Disa. Mereka dipersilahkan masuk dan duduk terpisah dengan tamu yang sudah ada disana terlebih dahulu. Seorang lelaki yang mungkin usianya tidak jauh beda dengan Arsya. Sendirian berhadapan dengan ibu dan kakak Disa.


Sedangkan Disa memanggil Aidha dan Salwa yang sedang bermain dengan keponakannya. Tapi mereka enggan untuk kembali. Mengabaikan panggilan Disa. Hingga ia menyerah dan membiarkan mereka bermain sepuasnya.


"Kenalkan dulu Disa pada orang tuamu, Nak. Kami ini bukan dari kalangan keluarga terpandang atau kaya. Seperti yang kamu lihat sendiri, tidak ada yang istimewa," ucap Mak Nur pada lelaki yang hendak melamar Disa.


Dani langsung bisa menangkap isi pembicaraan itu. Ada lelaki yang hendak mempersunting Disa. Hatinya kini diliputi rasa khawatir. Sita bisa melihat keringan dingin di pelipis kakaknya.


"Kenapa? Takut, ya?" tanya Sita.


Dani tidak menjawabnya. Dia memilih untuk keluar dan menghirup udara bebas. Dadanya seakan terhimpit batu besar, penuh sesak. Ia melihat Aidha sedang tertawa dengan teman yang sebaya dengannya. Sedang Salwa tengah bermain lompat tali.

__ADS_1


"Niatnya berkunjung malah mendengar ada yang melamar. Huft ..., kok sesak ya dadaku?" tanya Dani pada dirinya sendiri.


Dia melihat Disa berjalan kembali menuju rumah. Membuat mereka berpapasan.


"Mereka merepotkan nggak tadi malam?" tanya Dani.


Disa menggeleng, "Mereka anak-anak baik, Pak. Manut jika diberi tahu. Suruh salat ya salat, ngaji ya ngaji, tidur juga langsung tidur. Sama sekali tidak merepotkan. Malah emak senang dengan Aidha yang kritis terhadap semua hal."


Dani menyunggingkan senyum bahagianya. Tidak menyangka anaknya bisa menjadi penurut ketika tidak bersama dirinya ataupun neneknya. Dani ingin bertanya tentang lelaki yang ada di dalam rumah, tapi gagal karena Sita memanggil mereka.


"Malah berduaan disini. Nggak baik tahu!" Sita memberikan nasihat pada keduanya.


"Aku nggak sengaja ketemu pak Dani. Dia tanya tentang anak-anak, makanya aku jawab!" bantah Disa.


"Iya deh iya, kakak aku mah pintar curi kesempatan!" ucap Sita asal.


Dani menajamkan lirikan matanya pada Sita.


"He-he-he. Bercanda kali, Mas! Serius amat itu wajah. Mbak Disa dipanggil mak Nur!" Sita mengalihkan percakapan.


Disa mengangguk dan langsung berjalan melewati Dani. Mensejajarkan dirinya dengan Sita. Menarik tangan adik asuhnya itu untuk masuk bersama dirinya.


"Mulut kamu tuh ya! Sembarangan kalau ngomong!" hardik Disa pada Sita.


Sita hanya cekikikan sambil memerhatikan wajah Disa. Ada semburat merah muda yang tipis muncul di pipinya.


Disa masuk ke dalam rumah. Dia langsung menemui emaknya di dalam kamar. Duduk berdampingan menantikan apa yang akan disampaikan oleh ibunya itu.


"Sa, ada lelaki yang hendak mengenalkanmu pada orang tuanya. Bagaimana, Nduk? Apakah kamu siap?" tanya Mak Nur.


Disa menatap mata ibunya lekat-lekat. Terbersit kekhawatiran yang dalam disana. Dia menarik napas dalam, lalu menjawab pertanyaan mak Nur.

__ADS_1


"Bismillahirrahmanirrahim ..., Disa ...,"


__ADS_2