Pinangan Kedua

Pinangan Kedua
Pengejaran Ateng


__ADS_3

Dani menangis mendengar do'a anak bungsunya. Begitu lengkap semua yang dia minta. Dua anaknya selalu mengutamakan orang lain dibanding diri mereka sendiri. Segera lelaki itu mengakhiri dzikir dan memeluk Aidha dan Salwa.


"Terima kasih ya, Nak. Kalian adalah harta terbaik milik Papah. Maafkan Papah yang tadi marah sama kalian," ucap Dani tersedu-sedu.


Salwa melepas pelukan itu secara paksa. Menghapus air mata Dani. Dia tersenyum dan berkata, "Pah, kenapa malah Papah yang cengeng? Kata ibu, Salwa tuh nggak boleh cengeng. Eh, ini malah gantian Papah yang cengeng."


"Kamu ketemu ibu, Sal?" tanya Aidha terkejut.


"Iya, di mimpi. Kalau Salwa nangis, ibu menjauh, Mbak. Pas aku diam, eh mendekat dan membelai rambutku." Salwa menceritakan pertemuannya dengan almarhumah Inaya.


"Kamu sering ketemu ibu, Sal?"


Salwa mengangguk. Hampir setiap malam dia didatangi oleh ibunya. Namun, dia menyimpannya seorang diri. Takut jika dia bercerita, tidak akan ada yang percaya.


"Ih, ibu nggak adil, nih! Masa Salwa doang yang ditemui? Aidha kan juga anak ibu!" kesal Aidha membuat Dani tertawa.


"Sudah, kasihan ibu kalau kalian bicarakan terus menerus. Kirim fatihah untuknya, Nduk." Dani tertawa dan memeluk gemas anaknya.


Setelah selesai bermunajat, mereka tidur dalam satu ranjang. Dani berjanji pada mereka akan mengunjungi mbah uti di Semarang, lalu berlanjut jalan ke mall. Aidha usul agar berkunjung ke makam ibunya. Salwa setuju akan hal itu.


Dani mengangguk, kebahagiaan anaknya merupakan amanah yang harus dia jaga. Mata mereka sudah pedih. Ingin terpejam dan akhirnya satu per satu terlelap. Lelaki itu menatap foto Inaya dan mengucapkan terima kasih padanya.


"Terima kasih, ternyata kamu memang selalu ada di sampingku, wahai istriku yang solehah." Dani menarik selimut dan memejamkan matanya.


***


Zafran tidak pulang ke rumah semalaman. Istrinya sudah menghubunginya beberapa kali. Dia hanya berpesan agar tidur dengan tenang. Lelaki itu sedang bersama rekan yang ada di Polsek. Mengintai target mereka.


Ateng menjadi sasaran utama dalam sergap malam ini. Laporan kasus tentang pedofil harus ditindaklanjuti. Sangat mengerikan jika mereka tidak segera ditangkap. Akan memakan korban lebih banyak lagi.


Pondok pesantren Ash-Shidiqqiyah menjadi tempat persembunyian Ateng selama ini. Menyamar sebagai santri gadungan dan berdiam selama beberapa minggu disana. Informan Zafran berhasil menemukannya saat pemuda itu mencoba melakukan aksinya pada santriwati yang sedang membersihkan karpet masjid di sungai.


"Ndan, ini kalau kita main sergap tanpa pemberitahuan nggak bakal bikin geger, kan?" tanya Dito.

__ADS_1


Zafran mengernyitkan keningnya, mencoba memahami ucapan anak buahnya. "Maksudmu gimana sih, Dit? Bikin puyeng deh."


"Kita kan nggak memberitahu pemilik pondoknya, kira-kira bakal geger nggak nanti, Ndan? Maksudnya santri pada panik semua gitu," ucap Dito.


"Makanya nanti kamu nyergapnya sambil ngendap-ngendap. Kalau dia mau teriak bilang, jangan bikin keributan disini. Nanti makin banyak polisi, gitu!"


"Komandan ngerjain saya, nih!" ucap Dito sambil menyeringai.


"Lagian pertanyaanmu aneh, mau para santri panik, itu bukan urusan kita. Fokus kita adalah target. Pastikan jangan sampai lolos. Kalau hal itu terjadi, siap-siap aja kamu!"


"Siap apa, Ndan?"


"Lembur bagai kuda!"


Dito mengerjapkan matanya. Berharap yang didengar tidak benar. Lembur yang sudah pernah dialaminya membuatnya trauma. Setiap menit, Zafran akan menerornya dengan pesan. Menyuruh pria itu melaporkan kegiatannya.


Zafran mengirim pesan pada tim satu untuk segera melakukan operasi penangkapan Ateng. Setelah instruksi turun, mereka langsung menyebar. Langkah yang tidak terdengar, bayangan yang bisa menghilang sepersekian detik, dan tanpa suara, adalah keahlian tim itu.


Ateng yang merasa terancam langsung mendorong salah seorang petugas yang mendobrak kamarnya. Terjadi aksi kejar mengejar. Zafran mengirim pesan pada bawahannya agar memberinya ruang untuk keluar dari pesantren. Komandan itu masih bisa berpikir jika akan menggunakan senjatanya di dalam pesantren, maka akan menimbulkan trauma luar biasa.


Ateng lari menuju semak-semak. Dua tim Zafran terus mengejarnya. Sang komandan tidak ingin kehilangan target. Dia ikut lari mengejar target incaran malam itu.


"Ayo, Zaf! Kalau sampai malam ini gagal, nggak bakalan ada jatah sebulan!" ucapnya.


Dito berhenti lari dan menganga mendengar ucapan komandannya. Bisa-bisanya saat genting dan tegang seperti itu masih mengingat jatah harian.


Kaki Ateng benar-benar sudah lelah. Berlari dalam semak berlumpur sangat berat. Seperti ada beban yang diikat dan dibawa berlari olehnya. Suara tembakan mengudara, membuatnya tersadar bahwa dia harus cepat berlari.


Zafran berlari melebihi kecepatan para rekannya. Dia berhenti sebentar dan mengambil beberapa batu. Keahlian yang sudah sangat terlatih akan mempu menembak target sasaran meski dalam keadaan fokus terbelah.


Ateng mengerang kesakitan saat sebuah batu mengenai punggung kirinya. Dengan sigap salah satu anak buah Zafran menembak kaki kanan pemuda itu.


Bruk!

__ADS_1


Tubuh pemuda itu langsung ambruk. Semua tim Zafran langsung bergegas dan memborgol Ateng. Kaki, celana, dan sepatu mereka penuh lumpur. Kondisi komandan mereka pun sama.


Memang sifat usil Zafran itu tidak akan pernah hilang. Ketika tahu Dito senang karena berhasil menangkap target mereka padahal larinya tidak seberapa, disitulah komandan itu beraksi.


Zafran sengaja melempar sepatunya ke belakang. Memastikan dia tahu posisi sepatu itu berada. Dengan sekali panggil, Dito langsung mendekat padanya.


"Dit," panggil Zafran.


"Ateng biar dibawa sama yang lain, kamu saya kasih tugas. Sepatuku hilang ik, Dit. Piye, jal? Masa komandan ganteng kece sepertiku nyeker? Tolong carikan ya? Pasti lepas pas kena lumpur disana tadi, Dit." Zafran tanpa rasa berdosa membohongi bawahannya.


"Gimana kalau ..., ditukar, Ndan? Saya saja yang bawa Ateng. Yang lain cari sepatu, Komandan! Ide bagus nggak, tuh?" jawab Adit mengelak dari tugas mencari sepatu.


"Ya boleh sih, tapi nanti kalau Ateng sampai lepas, siap-siap lembur bagai kuda, ya?"


Dito segera bergegas mencari sepatu komandannya. Zafran terkikik pelan dan mengambil lagi sepatunya. Lelaki itu mencari diantara semak belukar. Tangannya mencari di dalam lumpur berharap semoga menemukan sepatu itu dengan cepat.


"Harus ketemu lho, Dit. Mahal tuh, lima jutaan lah! Mereknya buaya, Dit!" Zafran memakai kembali sepatu berlumpur itu.


Berjalan meninggalkan Dito yang masih sibuk mencari sepatu.


"Ndan, emang yakin di sekitar sini? Kok nggak ada, sih? Harusnya kalau jatuh di sekitar sini, nampak dong sepatu itu" tanya Dito sambil menoleh.


"Astaghfirullahal 'adzim ..., ternyata aku tertipu lagi. Sabar gusti ..., punya komandan super usil memang cobaan paling berat di tengah gempuran pada pamer ayang."


Dito kembali bersama kawananya. Ateng dibawa ke rumah sakit terlebih dahulu untuk mendapatkan penanganan medis. Setelah selesai, Zafran mengutus kapolsek setempat mengadakan konferensi pers. Dani langsung dihubungi oleh kepolisian.


"Alhamdulillah ...," ucap semua orang yang ada di rumah Dani.


Percayalah, sedalam apapun kamu menyimpan bangkai, baunya pasti akan tercium sejengkal hidung. Bertanggung jawablah terhadap apa yang kamu perbuat. Ingat! Ada dua malaikat di sisi kanan dan kiri kita yang siap mencatat semua yang kita lakukan.


***


Mas Zaf emang ya, usil kagak ketulungan. Kasihan anak orang dikerjain melulu.

__ADS_1


__ADS_2