Pinangan Kedua

Pinangan Kedua
Kesibukan Baru


__ADS_3

Setelah mengetahui kehamilan Disa, Dani sangat protektif terhadap istrinya. Selalu menjadi suami siaga saat sang wanita mengalami ketidaknyamanan dalam kehamilan. Dani dan anak-anaknya selalu memberikan Disa hujan kasih sayang dan perhatian.


Disa mengecek status PPG dalam akunnya, karena dari kemarin memang belum ada jadwal yang keluar untuk dirinya. Wah ..., sepertinya tahun ini adalah tahun keberuntungan Disa. Jadwalnya untuk ujian segera menyambut. Rezeki dobel sedang diterima wanita itu.


Disa memberitahu suaminya tentang hal itu. Meminta tolong agar mau direpotkan untuk mengantar jemput dirinya.


"InsyaAllah Mas selalu siaga untuk kamu, Dik. Jalani dengan santai saja, tidak usah terlalu stress. Kalau memang sudah rezekimu, pasti Allah SWT akan mudahkan bagaimanapun kesulitan itu nantinya. Tinggal bagaimana kita berikhtiar dan berdo'a pada-Nya." Dani menasihati istrinya agar tidak terlalu memikirkan ujian itu.


"Nggih, Sayang. Matur suwun, Mas. InsyaAllah Adik jaga amanah ini dengan baik. Ayo muroja'ah." Disa memberikan Al-qur'an untuk Dani.


Sebenarnya Dani sedikit khawatir jika nanti Disa sampai kelelahan. Tapi, mau bagaimana lagi? Rezeki PPG sudah diterima sebelum mereka menikah. Dan bulan ini ditambah lagi nikmat dari Allah, yaitu dititipkan amanah dalam perut istrinya.


Hanya panjatan do'a yang menyertai langkah istrinya. Selalu memperhatikan asupan nutrisi, membantunya mengerjakan tugas. Dia juga menyuruh Aidha mengajari adiknya untuk mengerjakan PR tanpa bantuan umma mereka. Jika nanti ada yang sulit, barulah dia yang akan turun tangan.


"Bantu umma ya, Mbak? Kan kasihan kalau umma sampai kecapekan?" pinta Dani pada si sulung.


"Iya, Pah. Aidha sudah tidak sabar untuk menantikan adik bayi di rumah ini. Hi-hi-hi. Cowok atau cewek sih, Pah?" tanya Aidha penasaran.


"Belum tahu, Sayang. Mau cowok atau cewek sama saja, yang penting nantinya adik dan umma kalian sehat."


Kesibukan baru mulai dijalani Disa. Dalam kehamilan pertamanya, dia merasakan semua ketidaknyamanan yang terjadi. Jadwal setelah lapor diri melalui sesi pretes adalah orientasi mahasiswa. Disa menikmati setiap tahap pendidikan yang sudah dia niatkan. Terkadang lelah karena tugas yang menumpuk membuatnya sedikit sayu. Dani selalu menyemangati dan itu membuat dirinya lebih ringan menjalaninya.


Waktu tempuh belajar yang hampir bersamaan dengan kehamilan membuatnya memang sedikit kelelahan. Bersyukur dirinya mendapatkan anak yang solehah dan suami siaga seperti Dani. Terkadang, dia harus rela terpisah dengan keluarganya dalam tugas belajarnya.

__ADS_1


"Umma, Kakak pijitin pundaknya, ya?" Salwa naik ke ranjang dan memijit bahu ummanya.


"Terima kasih, Kak. PR kamu sudah selesai?" tanya Disa.


"Sudah, tadi dibantuin papah, karena mbak Aidha sedang belajar untuk ulangan." Salwa memijat dengan sangat kuat. Disa sampai tersenyum melihat kegigihan anaknya.


Nyaman sekali pijatan itu, hingga membuat Disa terlelap. Salwa tersenyum melihatnya, layaknya mengurus orang tua, dia menarik selimut dan mencium kening ummanya. Ikut membaringkan diri di samping dan tidur. Dani menutup pintu kamar perlahan ketika tahu istri dan anaknya sudah tidur.


***


Bulan demi bulan terlewati dengan kebahagiaan. Disa tidak pernah mengeluh lelah menghadapi pendidikan ataupun kehamilannya. Malah dia sangat menikmati setiap fase yang ada. Semua teman-temannya juga sangat membantu dia.


Bayi yang ada dalam perutnya dilimpahi kasih sayang dari semua orang. Terkadang, saat sedang proses belajar bayi itu kelaparan dan menendang perut Disa dengan keras. Dani juga berusaha semaksimal mungkin membagi waktunya. Mengunjungi dan membawakan makanan bagi istri dan calon bayinya. Mengajak Aidha dan Salwa berjalan-jalan ketika menjemput Disa kuliah.


"Alhamdulillah, janinnya sehat, Pak, Bu. Ini perkiraan jumlah air ketubannya, cukup. Presentasi plasentanya bagus tidak menutupi jalan lahir. Bagian terbawah janin kepala, tapi ..., ada sedikit masalah ini." Dokter kandungan Disa menjelaskan semua tentang kehamilannya.


"Apa masalahnya, Dok?" tanya Dani antusias.


Dokter tersebut melingkari taksiran berat janin Disa. Ternyata perkiraan berat itu berlebih. Membuat Disa harus melakukan diet rendah gula. Dani sudah menatap dengan wajah masam.


Istrinya senang sekali dengan makanan manis. Kini dia akan membatasi makanan manis untuk Disa. Dani hanya diam dalam mobil ketika perjalanan pulang. Membuat wanita itu memanyunkan bibir. Baru kali ini suaminya menunjukkan kekesalannya.


"Maafin Adik ya, Mas?" pinta Disa memelas.

__ADS_1


"Hmm ...," jawab Dani singkat.


"Ih ..., kok hmm doang?"


"Satu sama dong dengan jawaban kamu kalau dikasih tahu. Dik, jangan makan yang manis terlalu banyak. Ingat jawaban kamu waktu itu?"


Disa semakin memanyunkan bibirnya. Dani memarkirkan mobil di depan rumah. Keduanya sama-sama diam, tidak ada niatan juga untuk turun dari mobil.


"InsyaAllah Adik akan mengurangi makanan manis. Tolong nanti awasi ya, Mas? Ingatkan dan ambil saja kalau perlu. Adik juga ingin bayi ini terlahir sehat kok, Sayang." Disa meraih tangan suaminya lalu mengecupnya.


Awalnya tidak ada respon. Lalu dia menangkup wajah Dani dan mencium keningnya. Masih juga tidak bereaksi. Namun, ketika Disa mendaratkan kecupan mesra di bibir sang mantan duda, barulah ada jawaban.


Balasan yang sangat lembut meski bukan dengan kata. "Kita usaha bersama, Dik. Mas akan memperketat diet kamu. Tolong kerjasamanya ya, Nak?" Dani mengusap perut Disa lalu mengecupnya.


Mereka kembali berbaikan dan akur. Menunjukkan hasil USG pada Aidha dan Salwa. Di pemeriksaan selanjutnya mereka ingin ikut dan menyapa calon adik mereka. Disa menunjukkan jadwal pendidikannya pada Dani. Mereka harus terpisah lagi untuk beberapa hari ke depan.


"Nanti Mas dan anak-anak susul. Tenang saja, jalani dengan ikhlas. Semoga menjadi lillah, Dik." Dani mengecup tangan istrinya.


"Aamiin. Butuh suntikan semangat, nih!" Disa mulai manja lagi dengan suaminya.


"Minta apa?"


"Gendong, he-he-he." Disa sedang malas berjalan.

__ADS_1


Dani tertawa, dia menuruti keinginan istrinya. Berat badan Disa yang semakin bertambah membuat tulang Dani serasa ditimpa beban berat. Dia hanya mencoba tersenyum.


__ADS_2