
Reza menoleh pada sahabat yang tidak tahu diuntung itu. Enak saja dia, setelah mempertemukan lagi dengan Sita seenaknya main pergi. Dani tertawa melihat ekspresi wajah Reza yang kesal. Ia mengurungkan niat untuk pergi.
Mereka menyesap kopi dan makan odading bersama. Menikmati suasana pagi yang semakin terik. Tidak ada obrolan istimewa diantara kedua lelaki itu. Setelah menghabiskan beberapa camilan itu, Reza mulai mengutarakan isi hatinya.
"Dia hampir lulus ya?" tanya Reza tidak menyebut siapa yang dibicarakan.
Dani mengangguk, dia menebak pasti Reza bertanya tentang Sita. "Iya, bentar lagi es tung-tung dia. Heran aku sama Sita, senang sekali disuruh sekolah."
Reza tersenyum kecut mendengarnya. Dia sangat tahu betul alasan Sita meninggalkan Demak. Bukan karena rajin mengejar pendidikan dengan titel tinggi. Itu semata-mata hanya alasan klise.
Sita meninggalkan Demak karena ingin menghindari Reza. Kisah cinta mereka seperti benang kusut jika mulai diurai. Lelaki itu mengenal Sita dari Rida. Ia adalah teman Arsya sewaktu di bangku kuliah. Tidak tahu jika rumah yang dibeli adalah satu kompleks dengan rumah mertua Arsya, mamah Yuli. Dia yang tadinya seorang perantau merasa memiliki keluarga baru karena sambutan hangat keluarga besar Dani.
Dulu yang menetap di rumah itu adalah Rida, Arsya, Sita, dan Fikri. Setelah Rida dan Arsya membeli rumah dan Fikri kuliah, dia semakin dekat dengan Sita. Mereka menjadi sahabat karena kedekatan itu. Hampir enam tahun persahabatan itu terjalin. Tapi, Sita diam-diam memiliki rasa cinta untuk Reza.
Reza sama sekali tidak tahu tentang perasaan yang dimiliki Sita. Jika ada yang bertanya apa hubungan mereka, pasti mereka hanya menjawab sebatas sahabat. Hubungan manis itu hancur ketika seorang wanita yang dekat dengan Sita hadir. Sita mengenalkan Reza pada sahabat perempuan itu. Dia sering curhat pada wanita itu tentang Reza. Sayangnya, Reza malah tertarik dengan sahabat Sita itu.
Siapa wanita itu? Disa? Yup, Disa adalah orang yang pernah Reza taksir. Reza sering bertanya tentang Disa kepada Sita. Membuat Sita merasa sakit hati, karena ternyata cintanya bertepuk sebelah tangan. Suatu hari Reza pernah berencana untuk melamar Disa. Ia bercerita pada Sita tentang idenya itu.
Hal itulah yang membuat Sita memilih pergi dan menjauh. Dia tidak menyalahkan Disa ataupun Reza. Dia menyalahkan dirinya sendiri karena berani mengubah konsep hidupnya. Bersahabat dengan lawan jenis? Suatu hal yang mustahil berhasil. Untuk itulah Sita meninggalkan Demak dan memutus komunikasi dengan Reza.
"Aku penasaran, ada masalah apa sih diantara kalian?" tanya Dani.
Reza menghisap rokoknya lalu menghembuskan asap ke udara. "Dulu aku pernah tidak sengaja membuat dia terluka."
__ADS_1
"Memang ada apa sih, Za?" tanya Dani makin penasaran.
"Dulu, aku pernah naksir berat sama sahabatnya. Sempat melamar cewek itu, tapi ditolak karena dia tahu perasaan Sita ke aku kayak gimana. Dan saat aku tahu tentang rasa yang Sita simpan untukku, aku sudah terlambat. Adikmu memilih pergi tanpa memberikan aku kabar apapun. Dia ganti nomor hingga aku tidak bisa menghubunginya." Reza menatap kosong jalanan depan rumah.
Dani yang memang dulu masih tinggal di Semarang tidak begitu tahu menahu tentang kisah asmara adiknya. Dia baru pindah ke Demak setelah istrinya meninggal. Dani penasaran siapa wanita yang pernah dilamar Reza? Pasti bukan wanita sembarangan.
Jika dia wanita matre pasti tidak akan memikirkan perasaan Sita. Karena Reza memang berasal dari keluarga yang berada. Wanita itu memilih menolaknya dan mempertahankan persahabatannya dengan Sita.
"Emang sahabat Sita siapa sih, Za? Pengen tahu, deh! Sultan aja ditolak! Ha-ha-ha," ucap Dani berbalut rasa penasaran.
"Namanya Disa," jawab Reza singkat.
Dani langsung tercengang dengan ucapan Reza. Disa? Disa Nur Izzah? Wanita yang juga berhasil menggetarkan hatinya? Wah-wah-wah, Reza ternyata juga pernah memiliki cerita dengannya.
Dani tersenyum getir menanggapi ucapan Reza. Jika kali ini Reza meminta bantuan untuk mendekatkannya lagi dengan Disa, dia tidak akan mau. Enak saja! Ada rasa tidak rela menjalar di hatinya.
"Bantuin apa?" tanya Dani.
"Aku ingin mengungkapkan rasa cinta yang tumbuh untuknya. Terserah nanti dia mau menolak atau menerima. Agar hatiku juga tidak sakit hanya melihat tanpa bisa bertegur sapa."
"Ogah! Kan udah pernah ditolak, Za! Sadar dong, masih banyak perempuan lain disana yang bisa kamu dapatkan. Nggak usah mengejar Disa lagi!" jawab Dani bersungut-sungut.
Reza berdecak mendengar jawaban Dani. Bukan Disa yang dia maksud. Melainkan Sita. Dia ingin mengungkapkan rasa yang masih sama untuk perempuan itu. Tidak peduli nanti akan bagaimana. Tapi, dia ingin menebus penyesalannya di masa lampau.
__ADS_1
"Bukan Disa, Mas! Sita! Aku ingin mengungkapkan perasaanku pada adikmu. Kalau Disa sudah tidak aku pikirkan. Di masa lampau aku tidak bisa mencegahnya pergi, kali ini aku tidak mau kehilangan kesempatan lagi. Please," ucap Reza sambil mengatupkan kedua tangan di depan wajah. Matanya berkedip sok imut.
Perasaan lega menyalami Dani. Ternyata bukan Disa. Dia terlalu terburu-buru dalam menyimpulkan sesuatu. Ia mengangguk setuju. Mereka sepakat untuk bekerjasama meluluhkan hati Sita.
Dani ingin tahu respon Sita jika terjadi apa-apa pada Reza. Apakah dia akan biasa saja atau malah sangat panik? Jika biasa saja kemungkinannya ada dua, dia memang sudah tidak peduli, atau dia coba menutupi rasa yang ada. Jika sangat panik, bisa dipastikan bahwa Sita masih memendam rasa untuk Reza.
"Dia lagi dekat sama siapa ya sekarang?" tanya Reza penasaran.
Dani menggeleng. Itulah dia, terlalu cuek untuk mengetahui kisah asmara dan cerita keseharian para saudaranya. Padahal semua adiknya tahu tentang dia. Bahkan cerita yang sangat privasi sekalipun.
"Kakak macam apaan dia ini? Cerita tentang adiknya pun nggak tahu. Padahal ia yang nantinya menggantikan ayah sebagai wali nikah. Hadeh ..., punya sahabat begini amat, sih!" keluh Reza.
Yang dikeluhkan malah tertawa. Dia memang tidak suka untuk mengulik kisah asmara para saudaranya. Untuk membahas percintaan saja dia malas, apalagi adiknya?
"Pamit dulu. Mau menjemput anak-anak." Dani bangkit dari kursi dan menuju gerbang.
Reza bertanya, "Emang Aidha dan Salwa kemana?"
"Ke rumah calon uminya. Wk-wk-wk," ucap Dani dengan wajah bersemu.
Reza mengernyitkan dahinya. Bertanya lagi siapa calon umi mereka? Tapi tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya. Kesal karena Dani sengaja membuatnya penasaran.
Reza melihat ponselnya. Melihat nomor milik Sita. Tersenyum senang karena hari ini bisa melihat wajah wanita yang pernah membuatnya sadar arti kehilangan.
__ADS_1
"Segera, Ta. Tunggu Mas Za datang melamarmu. Insya Allah." Reza menutup pintu gerbangnya dan masuk ke dalam rumah.