
Disa mengucapkan salam dan masuk ke dalam rumah. Hatinya merasa gembira. Beban dalam benak lepas begitu saja. Dia mengucap hamdalah berulang sebagai luapan rasa syukurnya.
Mak Nur heran dengan Disa. Tadi saat keluar rumah wajahnya murung, tapi sekarang sudah ceria seperti biasa. Apakah hal itu karena Aji? Apa lelaki itu menyatakan perasaannya pada Disa?
Jika iya, Mak Nur sangat bersyukur sekali. Disa membantu emak yang sedang menyiang sayur.
"Kamu kenapa, Sa? Senang sekali kelihatannya," tanya Mak Nur.
"Ha? Disa biasa saja kok, Mak. Oh ya, besok mas Aji dan keluarganya akan berkunjung kemari, Mak." Disa menerangkan pada Mak Nur kesepakatannya dengan Aji.
"Besok? Bukannya masih sekitar lima hari lagi jawaban lamaran dari Aji? Kenapa mendadak, Sa?" tanya Mak Nur curiga.
Kini hati wanita tua itu menjadi was-was. Sudah tidak setenang tadi. Apa yang dibicarakan Aji dan Disa saat di luar? Apakah Disa sudah menerima Aji? Atau sebaliknya?
"Besok, Mak. Kami sudah memiliki jawaban atas istikharoh itu. Disa beritahu mas Wakhid dulu," ucap Disa langsung bergegas ke rumah kakaknya.
***
Isya' menjelang, Aidha juga Salwa sudah tidak bisa lagi membendung rindunya pada Disa. Akhirnya mereka menghubungi wanita itu tanpa sepengetahuan papahnya. Bersembunyi di ruang kerja Dani agar bisa leluasa untuk video call.
Disa senang bukan main mendapati dua anak itu memberi kabarnya. Hingga air mata bahagia menetes di pipinya. Haru karena akhirnya dapat bersua kembali, meski masih secara sembunyi.
"Kalian nggak dimarahi papah?" tanya Disa.
"Nggak, kita kan sembunyi ya, Mbak?" ucap Salwa.
"Iya, makanya kita ngomongnya pelan-pelan aja. Ust, kapan ngaji lagi? Bisa buyar semua hapalan kami ini," protes Aidha karena lama tidak mengaji bersama Disa.
Disa tertawa di seberang sana. Bukan hanya mereka yang rindu muroja'ah, dia juga sangat tersiksa rindu dengan hal itu. Ia berjanji secepatnya.
Ceklek!
Pintu ruangan itu tiba-tiba saja terbuka. Aidha dan Salwa langsung lompat ke belakang sofa. Mereka terkejut bukan main. Tadi Aidha sudah memastikan sendiri bahwa papahnya sudah tidur. Namun, kenapa malah masuk ruang kerja?
Dani duduk di sofa dan merebahkan kepalanya di sandaran kursi itu.
__ADS_1
"Empuk, tapi tidak seempuk bahu. Luas, tetap saja aku merasa kosong," ucap Dani ngalor ngidul tidak jelas arahnya.
"Malaria opo mala rindu, sedino koyo sewindu, ning awak marake kuru ..., numpak dokar mlakune ngulon, wong sabar mesti kelakon, wong sabar mesti kelakon ...." Dani menyanyikan sepenggal lagu milik Manthos yang berjudul sakit rindu.
Disa mendengar dengan jelas suara merdu itu. Tersirat makna yang sangat dalam. Seperti sedang menahan perihnya hati karena disayat oleh rasa rindu pada seseorang.
Salwa cekikikan membuat Dani mencari sumber suara. Terkejut bukan main karena dua putrinya sedang bersembunyi di balik sofa.
"Astaghfirullah ..., kalian ngapain disitu?" tanya Dani keheranan.
"He-he-he. Papah, lagi galau ya? Galau kenapa, Pah? Mikirin ust Disa?" Aidha langsung ceplas-ceplos mengatakannya.
"Sok tahu kamu, Mbak. Bukan pada belajar malah disini. Lagi ngapain?" tanya Dani lagi.
"Nggak lagi ngapa-ngapain. He-he-he ...," jawab Salwa masih mencoba menyembunyikan fakta.
Dani melihat ponsel yang dipegang Aidha. Merebutnya secara paksa dan melihat wajah Disa yang masih mengenakan mukena. Ayah dua anak itu langsung memutus video call itu tanpa mengucap salam.
"Siapa yang telepon ust Disa? Kalian atau ust Disa terlebih dulu?" tanya Dani tegas.
"Aidha yang telepon ust Disa duluan, Pah. Maaf," ucap Aidha menyesal.
"Mbak ..., Papah kan sudah bilang, tunggu sekitar lima hari lagi. Biarkan ust Disa menjawab dulu pinangan dari orang lain. Paham, kan?" tanya Dani.
Aidha mengangguk, dia meminta maaf lagi pada papahnya. Segera keluar dari ruang kerja itu dan mencari Salwa. Adiknya belum sembuh benar dari rasa trauma, dan baru saja ayahnya memberikan luka lagi di hati gadis cilik itu.
Ponsel Dani berdering, dia segera menjawabnya. Dari siapa telpon malam begini?
"Halo, assalamu'alaikum," jawab Dani.
"Wa'alaikum salam, tolong jangan marah sama anak-anak. Mereka tidak bersalah. Hanya itu saja yang ingin saya sampaikan, terima kasih. Wassalamu'alaikum." Disa bicara secepat kilat.
"Wa'alaikum salam." Dani memutus sambungan telepon itu.
Ada telepon masuk lagi ke gawai pintar itu. Membuat Dani segera mengangkatnya. Ternyata itu adalah dari kantor polisi. Ada kabar mengenai Ateng Subadi.
__ADS_1
Pemuda itu tidak meninggalkan kota Demak. Dia masih beredar di area tersebut. Memperingatkan Dani agar lebih mengawasi anaknya agar tidak menjadi korban. Foto Ateng sudah ditempel di semua tempat.
Seluruh anggota intel sudah disebar. Tinggal menunggu hasil buruan mereka. Dani berharap, polisi secepatnya menemukan Ateng. Bukan ingin cepat memberikan ganjaran yang setimpal bagi pemuda itu, tapi lebih takut ada Salwa lain yang menjadi korbannya.
Dani mengucapkan terima kasih atas informasi yang diberikan. Kini, dia harus menyusun langkah agar tidak kecolongan dengan Ateng lagi. Hanya ada satu jalan, yaitu mengantar jemput sendiri anaknya.
Dani tidak dapat bergantung pada adik-adiknya, karena mereka memiliki kesibukan sendiri. Sudah tidak memiliki supir, jadi mau tidak mau ya harus terjun sendiri. Meluangkan waktu demi keselamatan anak.
Tidak dapat dipungkiri, kejadian yang menimpa Salwa juga karena kesalahannya. Terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan dan melimpahkan tanggung jawab pada yang lain. Dani menghela napasnya, mengucap syukur karena telah memiliki titik terang atas kasus anaknya.
Dani mencari keberadaan Aidha yang ternyata tidur bersama Salwa. Mamah Yuli mengajaknya bicara santai.
"Kamu kenapa sih, Dan? Kenapa melarang mereka berkomunikasi dengan Disa? Yang dilarang komunikasi dengan dia kan kamu, bukan anak-anakmu," ucap Mamah Yuli membenarkan sikap Dani yang keliru.
Sang duda hanya mampu terdiam, benar juga yang dikatakan mamahnya. Kenapa dia menjadi sangat bodoh sekarang? Apa karena sinyal cintanya timbul tenggelam? Atau karena sakit rindu?
"Besok minta maaf sama mereka, nanti akhir pekan ajak jalan ke Semarang, sekalian berkunjung ke rumah mertuamu. Udah lama kan kalian nggak kesana?"
Dani mengangguk. Setuju dengan saran mamahnya. Kepalanya mendadak pusing, dia pamit pada mamahnya untuk beristirahat. Ia langsung merebahkan diri di ranjang. Memejamkan mata dan masuk ke alam mimpi.
Udara malam menelisik membangunkan Dani. Di kamar lain juga ada dua anak perempuan yang sudah siap dengan mukena dan sajadahnya. Mereka keluar dari kamar dan mengetuk bilik papahnya.
Dani membuka pintu dan tersenyum pada keduanya. Aidha dan Salwa meminta maaf karena melanggar janji itu. Wajar jika papahnya marah.
Dani memeluk keduanya, dia juga meminta maaf karena telah keras hati terhadap mereka.
"Salat yuk, Pah," ajak Aidha.
Ketiganya menggelar sajadah. Aidha mengajari Salwa niat salat malam. Mengikuti gerakan Dani hingga salam dan mendirikan raka'at berikutnya. Saatnya bermunajat.
"Ya Allah, tolong bilangkan ke ibu, Salwa kuat, kok! Salwa nggak cengeng lagi. Berikan surga bagi ibu. Lindungi mbak Aidha dari orang jahat, Ya Allah. Berikan papah, ust Disa, mbah Nur, mas kiki, mbah, uti, akung, tante Rida, tante Sita, om Arsya, om Reza, dan dik Andra kesehatan dan umur panjang. Besok Salwa ulangan, bantu Salwa agar ingat perkalian Ya Allah. Dan terakhir, tolong bantu papah berjodoh dengan u-ust, karena Salwa ingin punya seorang ibu yang nyata adanya. Aamiin." Salwa mengusapkam kedua telapak tangannya ke wajah.
***
Hari ini double. Yg satu setelah tarawih. Khusus hari ini aja ya 😁😁
__ADS_1