Pinangan Kedua

Pinangan Kedua
Bertarung di Langit


__ADS_3

"Ta, nanti tolong kamu jemput Salwa. Dia masih nggak mau dijemput sama Pak Kus. Nggak tahu kenapa, Mas belum sempat tanya." Dani merapikan duk yang sedang melilit di leher.


Sita mengingat jadwalnya hari ini. Dia tidak bisa menjemput Salwa, karena ada zoom meeting dengan dosen wali. Membahas rencana wisuda.


"Ya sudah, suruh Rida jemput Salwa. Mas buru-buru. Biarkan mamah istirahat, mungkin kecapekan sampai kepalanya pusing begitu. Urus rumah dengan baik! Assalamu'alaikum," ucap Dani.


"Wa'alaikum salam warahmatullah," balas Sita.


Dani mengutus Pak Kus untuk mengambil nasi kotak di rumah Disa. Memberi pesan agar dibagikan pada orang yang membutuhkan. Sisanya dibawa ke masjid dekat kompleks.


Dani langsung berangkat menuju kantor. Menyiapkan segala keperluan untuk jambore. Tidak lama kepala dinas datang. Mereka langsung bertolak ke Semarang.


Kepala dinas meminta maaf pada Dani karena mengubah jadwal. Itu karena orang nomor satu di Indonesia akan hadir dan membuka acara. Sebelum itu, mereka diwajibkan untuk mengikuti gladi kotor sekaligus gladi bersih.


"Berita di televisi sekarang mengerikan ya, Mas Dani. Saya sampai takut," ucap Pak Win sebagai kepala dinas.


"Memang beritanya apa, Pak?" tanya Dani.


"Ini, tentang pedofil. Kita itu tidak bisa membedakan itu orang normal atau seorang predator. Menakutkan kalau hal itu terjadi di sekitar kita."


"Iya, Pak. Ya ..., kita harus membekali diri dan keluarga kita dengan iman. Memberikan pelajaran dini tentang pentingnya mengenali tubuh. Mana sekarang yang diincar anak SD kan, Pak?"


"Iya, benar. Mereka mengincarnya anak yang masih bisa ditipu. Semoga keluarga kita dalam lindungan-Nya, Mas."


"Aamiin ...," jawab Dani.


Tiba-tiba dia ingat tentang putri bungsunya. Sikapnya yang murung, tidak mau dijemput oleh Pak Kus, dan tidak mau jujur bercerita membuat Dani mengaitkan sesuatu. Batinnya terusik dengan cerita tentang orang pedofil. Tapi, apakah mungkin Pak Kus orangnya?


Masa Pak Kus begitu? Batin Dani segera menepisnya.


***


Disa tidak bisa ikut dalam jambore. Tanggung jawabnya sebagai guru pendamping diserahkan pada yang lain. Itu karena keterbatasan gerak yang dialami Disa. Kakinya yang masih terbalut perban menjadi alasan utama.


Dia mengajar sesuai jadwal. Beberapa orang guru menanyakan kabarnya ketika ia berada di ruang guru. Ada yang memberikan amplop untuk Disa karena mereka belum sempat menjenguk.

__ADS_1


"Baru saja kamu masuk, kita pisah lagi. Syedih ...," ucap Rifana sambil memeluk Disa.


"Hi-hi-hi. Maaf ya nggak bisa ikut mendampingi. Gagal deh kita bikin story berdua," jawab Disa.


Pak Adi datang mendekat. Sama seperti guru lainnya, dia juga menanyakan kabar Disa.


"Alhamdulillah, sudah jauh lebih baik. Pak Adi, titip Rifana ya? Tolong jaga dia dari para lelaki yang ada disana! Hi-hi-hi." Disa cekikikan sendiri mengucapkan pesan itu.


Wajah Rifana langsung menghangat. Rona merah muda mulai menjalari pipinya. Ingin sekali mencubit Disa. Sengaja sahabatnya itu menggoda dia di depan Pak Adi.


"Bisa kali Bu Rifana menjaga dirinya sendiri, kamu tuh yang harusnya dijagain!" sahut Pak Adi.


Hati Rifana menjadi kecewa. Ucapan Pak Adi terdengar ketus. Dia segera pamit pada Disa, menyingkir dari kedua insan itu. Menyedihkan memang, jika cinta hanya bertepuk sebelah tangan.


Disa juga pamit pada Pak Adi. Dia ingin menghindari lelaki itu. Berniat mengejar kemana perginya Rifana. Ingin menenangkan dan membesarkan hati sahabat karibnya.


"Rif!" panggil Disa.


Rifana berhenti dan berbalik. "Apa lagi sih, Disa? Kurang kamu mempermalukan aku di depan dia? Ha?"


Belum sampai Rifana menjawab permintaan maaf itu. Pak Adi memanggil nama Disa. Membuat Rifana memutar bola matanya. Malas karena akan terjadi drama lagi.


Rifana memilih pergi melenggang dengan perasaan kesal. Disa menjadi tidak enak hati padanya.


"Ada apa, Pak?" tanya Disa.


Pak Adi memberikan es boba pada Disa. "Aku beli dua, satu untuk kamu," ungkap Pak Adi.


Disa tersenyum, "Terima kasih, tapi saya tidak suka. Berikan untuk Rifana, dia menyukai boba. Dan ..., tolong menjauh dari saya. Ada hati yang harus Anda jawab meskipun dia tidak mengakuinya. Anda paham maksud saya, Pak Adi?"


"Kenapa saya harus menjauhimu?" tanya Pak Adi.


"Ada dua alasan. Yang pertama, saya tidak mau persahabatan saya dan Rifana hancur karena seorang lelaki. Yang kedua, saya sudah memiliki tambatan hati. Permisi, Assalamu'alaikum." Disa berjalan dengan langlah tertatih.


Anak kelas enam disiapkan di lapangan. Mereka sudah rapi dalam barisan. Menenteng barang bawaan masing-masing. Kepala sekolah memberi sedikit pesan bagi anak didiknya.

__ADS_1


Mereka diwajibkan patuh pada peraturan yang diterapkan oleh panitia jambore. Harus menaati perintah guru pendamping. Menjaga diri sendiri dan juga teman.


Setelah semua siap mereka naik truck yang akan membawa mereka menuju tempat jambore nasional. Rifana dan Bu Ratna duduk di samping supir. Lebih banyak diam karena Bu Ratna asyik sendiri dengan gawainya.


Mereka berhenti di seberang kantor dinas pendidikan dan kebudayaan Kabupaten Demak. Masih menunggu rombongan yang lain. Pak Adi menghampiri Rifana. Mengajaknya untuk berbicara berdua di rumah makan.


Adi menyuruh Rifana untuk melupakannya. Karena hatinya bukan untuk wanita itu. Perempuan itu bersikeras akan menunggu hingga hati itu siap menerimanya.


"Saranku, jangan sia-siakan waktumu untuk menungguku. Karena aku yakin, masih banyak yang lebih baik dari aku." Adi menatap mata Rifana dan bersungguh-sungguh saat mengatakannya.


"Terus?" tanya Rifana.


"Aku akan berdo'a sama Allah agar kamu diberikan jodoh yang terbaik."


"Hmm ..., oke! Kalau begitu aku juga akan berdo'a, kalau jodoh terbaik aku adalah kamu."


Adi menghela napas kesal, "Tolong jangan halangi do'aku dengan permohonanmu."


"Biarkan do'aku dan keinginanmu bertarung di langit. Dan serahkan pada Allah, siapa pemenangnya."


Rifana membayar es teh yang dia minum. Pergi meninggalkan Adi. Air matanya hampir tumpah mendengar permintaan lelaki itu. Salahkah dia jika jatuh hati pada pria itu? Apakah dia berdosa?


Adi membiarkan wanita itu. Sesak dalam dadanya menyeruak. Ada seorang pelayan datang dan memberi petuah bagi Adi.


"Setidaknya hargai dia yang selalu menunggu hadirmu di setiap hari. Karena jika kamu menghilang barang sedetik saja, khawatir akan mengelilingi dunianya. Jangan terlalu kaku terhadap perasaan dan hati. Keduanya bisa melunak seiring bertambahnya waktu."


Sementara itu di sekolah, bel telah berbunyi. Semua siswa senang mendengarnya. Jam pulang sekolah telah tiba. Satu per satu siswa dijemput oleh orang tua ataupun walinya.


Ada yang dijemput oleh supir, ada yang dijemput oleh saudara, atau bahkan orang tua mereka sendiri. Salwa masih seperti hari sebelumnya. Dia sedang melamun. Entah memikirkan apa.


Ada seorang pemuda yang menjemput Salwa. Dia mengaku sebagai om.


"Mbak Salwa, sudah dijemput!" teriak Disa memakai pengeras suara.


Salwa segera menuju gerbang. Saat tahu siapa yang memjemput, dia segera berlindung di balik badan Disa.

__ADS_1


__ADS_2