Pinangan Kedua

Pinangan Kedua
Kado Gila


__ADS_3

"Sakit, Dik?" tanya Dani sambil melihat istrinya merintih.


Disa memakai pakaiannya. Mengganggukkan kepala karena memang merasa sakit sekali di bagian penting dalam dirinya. Dani menarik CD saat istrinya mencoba memakai lagi. Membuat wanita itu mengernyitkan dahi tidak mengerti.


"Nggak usah dipakai, biar kalau ingin tidak kelamaan bukanya. He-he-he," ucap Dani sambil menyeringai.


Dani menarik tangan istrinya dan menyuruhnya untuk memeluk dia. Disa yang belun terbiasa dengan hal romantis sangat kaku. Selalu memperlihatkan rona merah dari pipinya. Sekarang ada yang mengganggu pikiran wanita itu.


"Mas ..., nanti mandinya bagaimana?" tanya Disa.


"Tinggal baca niat to, Sayang." Dani tidak paham kemana arah pembicaraan istrinya.


"Bukan itu, Sayang. Mandi subuh apa nggak malu sama orang rumah?" tanya sang istri lagi.


"Nggak papa, mereka bakalan maklum. Namanya juga pengantin baru, he-he-he. Mau makan? Mas buatin sesuatu. Kamu nggak lapar?" tanya Dani.


Disa menggeleng. Rasa laparnya kalah dengan rasa perih yang sedang menyeruak ke permukaan. Ingin buang air kecil saja dia sedang berpikir, apakah rasanya akan seperti terbakar dan sangat perih? Bagaimana cara jalannya nanti di depan keluarganya?


Dani heran dengan istrinya. Kenapa wanita itu malah diam seribu bahasa setelah mereka bercinta? Apakah pelayanan yang diberikan oleh Dani kurang memuaskan istrinya? Sehingga raut wajahnya seperti sedang berpikir keras.


"Kenapa? Kok diam? Mas kurang memuaskan kamu, ya?" tanya Dani.


Disa memukul dada suaminya. Mengeratkan pelukan itu dan menjawab pertanyaan suaminya. "Puas, Mas. Adik cuma bingung aja nanti, gimana tanggapan keluarga kita?"


Dani malah tertawa. Menyuruh istrinya biasa saja. Pasti semua keluarganya sudah tahu apa yang mereka lakukan. Namanya juga pengantin baru, hal yang wajar dan malah wajib dilakukan untuk pasangan suami istri.


Dani melepaskan pelukan itu dan beranjak pada kado dari para polisi somplak itu. Meminta tolong pada istrinya agar membuka semuanya. Ada yang tidak asing dengan merek coklat itu. Sang mantan duda meraih ponsel dan mencari tahu semua merek dari kado itu.


"Ya Allah ..., ha-ha-ha. Mereka tahu banget aku butuh penambah stamina. Tapi ..., kasihan kamu kalau Mas gunakan kado gila ini sekarang, Dik. Ini lagi, coklat, permen, dan parfum perangsang. Foto pak Zafran mau kita apakan ini, Dik?" Dani berkacak pinggang melihat semua kado itu.

__ADS_1


Disa mencoba parfum yang diberikan oleh Hana. Baunya memang sangat enak, dia mendekatkan diri pada Dani dan membuat suaminya langsung kelabakan. Efek dari wewangian itu sangat kuat. Padahal, Disa hanya menyemprotkan sedikit ke bagian pergelangan tangan.


"Dik ..., aduh ..., jangan mancing! Mas bisa lebih ganas dari yang tadi, lho!" kata Dani mencoba menenangkan dirinya.


"Ha? Emang ada efeknya beneran, Mas? Maaf-maaf, Adik cuma ingin mengetahui barang seperti itu nyata atau tidak," ucap Disa sangat polos.


"Ada, Sayang ..., makanya Mas merasa aneh sama kado mereka. Huft ..., tolong ambilkan minum, Dik." Dani mengatur napasnya yang tersengal.


Disa mengambilkan minum dengan jalan yang tertatih. Perih sekali rasanya. Dani tersenyum melihat cara jalan istrinya. Serasa ada kepuasan sendiri berhasil membobol sesuatu yang sangat suci.


Disa menyodorkan gelas pada Dani. Wangi parfum itu menyeruak lagi ke dalamm hidungnya. Membuat gairahnya bangkit lagi. Kado dari para polisi itu membuat Dani gila. Tidak tahan dengan hasrat yang menggebu, dia menarik lagi istrinya dalam pelukan.


"Dik ..., Mas beneran nggak kuat! Aku minta lagi boleh?" tanya Dani.


Disa mengangguk ragu. Bagaimana jika suaminya tidak bisa menikmati ibadah mereka? Rasa perih itu masih menguasai dirinya. Saat bibir Dani menghujaninya dengan kecupan mesra, dia hanya bisa pasrah.


Merelakan rasa sakit itu dan mulai menikmati setiap sentuhan yang mendarat di tubuhnya. Permainan semakin menggairahkan. Perlahan tapi pasti, Disa mulai menikmatinya. Lebih rileks dibanding dengan yang pertama.


Dani semakin menaikkan kecepatannya. Tidak peduli dengan decitan yang dihasilkan oleh ranjang kayu jati milik istrinya. Disa semakin kehilangan tenaga. Dia hanya bisa pasrah dan menunggu suaminya di puncak.


"Alhamdulillah ...," ucap Dani setelah berhasil mencapai puncak lagi bersama istrinya.


Disa terkulai lemas. Dani menarik selimut dan mengecup keningnya. "Maaf ya, Sayang. Mas beneran nggak bisa nahan. Itu kado dari pak polisi somplak disimpan saja. Nanti kalau pas kita benar-benar fit, digunakan. Makin sakit, kah?"


Disa tersenyum, dia menangkup wajah Dani dengan kedua tangannya. Lalu mengecup bibir suaminya. "Terima kasih. Tidak usah mengkhawatirkan rasa perih ini. Do'akan saja besok Adik kuat jalan."


Dani tertawa terbahak-bahal karena ucapan istrinya. Kasihan sekali jika Disa sampai tidak bisa berjalan. Perut Dani berbunyi. Menandakan tenaganya benar-benar terkuras untuk ibadah berpahala besar itu.


Disa segera memakai pakaiannya dan hendak keluar. Dani bertanya mau kemana istrinya?

__ADS_1


"Mau mengambilkan kamu makan, Sayang. Sekalian buang air dan mencuci ini." Disa menurunkan secara perlahan satu kaki dan diikuti kali lain.


"Baring disini sekitar sepuluh menit, Yang. Mas ingin kamu cepat hamil. Biarkan benih itu menemukan jalan untuk bertemu jodohnya di dalam rahim kamu."


Dani memakai pakaian dan merapikan rambutnya. Keluar dari kamar dan berpapasan dengan ibu mertuanya. Dia hanya bisa menyeringai untuk menutupi rasa malunya.


Mak Nur bertanya pada menantu barunya. Apa yang Dani butuhkan? Jawaban Dani membuat emak mengernyitkan dahi. Kemana anak perempuannya? Kenapa suaminya dibiarkan untuk mengambil makanan sendiri?


"He-he-he. Disa ..., susah jalan, Mak. Biar Dani saja yang ambil sendiri." Dani berjalan secepat kilat dan mengambil makanan yang masih tersedia.


Jika biasanya satu centong nasi cukup, malam ink sepertinya perutnya minta lebih. Dani mengambil hingga dua centong nasi. Mengisi piring untuk istrinya, mengambil air mineral dan memasukkannya ke kantong celana, lalu kembali ke kamar.


"MasyaAllah ..., suamiku ..., hebat sekali bisa bawa banyak barang," puji Disa pada sang suami.


"He-he-he. Ini Dik, makan dulu. Biar perutmu tidak keroncongan."


Mereka makan berdua di lantai kamar. Dani menyuapi istrinya dengan penuh rasa cinta. Disa sudah mulai terbuka, lebih sering menggelendot manja di lengan suaminya. Mereka berbagi cerita tentang kisah hidup, pekerjaan, dan lingkungan pertemanan.


Terdiam dan teringat akan dua bidadari cantik yang sedang tidak bersama mereka. Sedang apa mereka di perumahan Taman Wiku? Apakah mereka bisa tertidur lelap? Atau masih bermain?


Seperti ada yang kurang, kekosongan mengisi hati mereka. Belum sampai sehari mereka berpisah, sudah didera oleh rasa rindu yang hebat.


"Mas ..., aku kangen anak-anak ...." Disa melihat foto mereka di ponselnya.


"Sama, biasanya ramai. Ini kok terasa sepi ya, Dik?"


"Iya, besok ajak mereka tidur sini ya, Mas?" pinta Disa


"Nanti hari sabtu saja. Masalahnya mereka sekolah." Dani bukan tidak mengizinkan. Tapi, jarak rumah Disa ke sekolah anak mereka memanglah jauh.

__ADS_1


Dengan berat hati Disa harus menahan rindunya agar bisa bersua dengan dua gadis yang menjadi kesayangannya.


Maaf ya telat up, othor sibuk banget!


__ADS_2