
Pagi harinya, kehebohan terjadi di pesantren. Seorang polisi diutus oleh kapolsek setempat untuk memberikan kabar tentang kejadian semalam. Abah Shodiqun diminta ikut ke kantor polisi untuk memberikan keterangan terkait santri bernama Ateng.
Aji mendampingi abahnya ke kantor polisi. Mereka menjawab sesuai yang mereka tahu. Tidak menutupi apapun tentang Ateng.
"Dia mengaku pada kami sebagai orang yang tidak punya tempat tinggal, ingin ikut membersihkan masjid dan pondok agar bisa diterima. Pikir saya, jadi santri saja. Ateng mengaku pada saya seorang yatim piatu," ucap Abah Shodiqun membeberkan keterangannya.
Polisi mencatat semua keterangan pengasuh sekaligus pemilik pondok itu dengan lengkap. Hanya sebentar proses wawancara itu berlangsung. Setelah selesai, mereka diperbolehkan pulang.
Dani absen terlebih dulu di kantor. Lalu izin pada atasan ingin ke kantor polisi. Kapolsek memanggilnya karena proses hukum akan segera berjalan. Kesaksian korban sangat dibutuhkan dalam hal ini.
Dani ingin meminta keringanan. Salwa masih sangat trauma atas peristiwa itu. Sehingga belum dapat memberikan kesaksian. Dia sendiri yang akan mendampingi anaknya nanti.
Dani sudah sampai di kantor polisi. Saat hendak masuk ke ruang penyidikan, dia berpapasan dengan Aji. Lelaki yang meminang Disa itu menyapanya. Ia membalas salam yang diucapkan oleh pria itu.
"Wa'alaikum salam, Ustaz Aji. Ada keperluan apa?" tanya Dani.
"Nemenin abah memberikan kesaksian. Ada kasus di pesantren. Terkait buron pedofil." Aji membeberkan alasannya di kantor penegak hukum itu.
"Ha? Nama buronannya Ateng, bukan?" tanya Dani.
"Iya, benar," jawab Abah Shodiqun dengan cepat.
Dani mengangguk paham. Ternyata tempat kejadian perkara ada di pondok milik keluarga Aji. Abah Shodiqun pamit ke mobil terlebih dahulu karena kakinya sakit jika berdiri lama. Lelaki itu langsung menyalaminya dengan tadzim. Menuntun kyai itu untuk perlahan menuruni anak tangga.
Aji tersenyum melihat duda itu begitu hormat dan sayang terhadap orang tua. Pantas jika Disa jatuh hati terhadapnya. Lelaki yang penyayang akan lebih dipilih oleh perempuan manapun.
"Kenapa melihat saya begitu, Taz?" tanya Dani heran.
Aji menggelengkan kepalanya. Dia mengajak Dani untuk duduk sebentar.
"Sejak kapan kenal dengan dik Disa?" tanya Aji.
"Ha? Oh, baru. Dia mengajar ngaji anak saya." Dani sedikit terkejut ketika Aji membicarakan Disa.
Apakah pria itu tahu sesuatu antara dia dan Disa? Aji menceritakan pertemuannya dengan Disa pertama kali. Entah apa maksud lelaki itu, tapi hal ini berhasil membuat Dani cemburu.
Sang duda hanya mampu diam tanpa ingin merespon cerita ustaz itu. Aji sangat kagum dengan cara Dani membalasnya. Tidak mengeluarkan sepatah katapun, meski wajah pria itu sudah sangat ingin menghajar dirinya.
"Dik Disa itu wanita yang langka di akhir zaman seperti ini. Yang lain sibuk memikirkan kemolekan tubuh dan hiasan tampang. Dia berbeda, hanya memikirkan bagaimana caranya bisa memikat para bidadari dan malaikat dengan akhlak. Saya permisi dulu, assalamu'alaikum," ucap Aji dan berjabat tangan dengan Dani.
__ADS_1
Dani tersenyum getir mendengar semua cerita Aji. Begitu mengagumi wanita bernama Disa. Dengan sengaja menjelaskan padanya sosok seperti apa wanita itu. Ia segera memejamkan mata dan beristighfar berulang-ulang.
Aji tersenyum melihat dari arah parkiran. Begitu berwibawa sekali lelaki itu. Marah hanya diam dan dipendam. Tidak membalas dengan kata menyakitkan.
"Pilihan hatimu memang tepat, dik. Pak Dani akan menjagamu dengan baik. Sungguh, dia lelaki yang penyabar, penyayang, dan patuh." Aji masuk ke dalam mobil bersama abahnya.
***
Maghrib sudah usai berkumandang, Disa muroja'ah sendiri di kamarnya. Dia meliburkan para anak didiknya yang mengaji karena akan kedatangan tamu. Mas Wakhid yang masih di rumah, ikut menemui tamu tersebut.
Malam ini, Abah Shodiqun beserta anak dan istrinya akan mendengarkan kesaksian kedua anak manusia ini. Mereka telah bersepakat untuk membatalkan khitbah yang dua minggu lalu terjadi. Aji sudah jujur pada Disa bahwa dia mencintai wanita lain. Begitu pula dengan wanita cantik itu, ia tidak merasakan kenyamanan di tengah keluarga Aji.
Tamu yang dinanti tiba, Mak Nur dan Mas Wakhid menemui mereka dan menjamu dengan makanan yang sudah dipersiapkan. Disa keluar dari kamar dan menyalami Buk Yah. Aji tidak ingin menunda lagi, dia langsung menyatakan pembatalan atas pinangan itu.
Mak Nur syok mendengarnya, mengira Disa yang menyuruh Aji untuk membatalkan lamaran itu. Beranggapan bahwa kejadian yang dialaminya membuat mereka memutuskan pinangan itu.
"Bukan, Mak. Bukan dik Disa yang menyuruh Aji membatalkan lamaran ini. Ini kesepakatan kami berdua, saya dan dik Disa memiliki pilihan hati sendiri." Aji mencoba menjelaskan alasan keduanya.
Abah dan Buk Yah mengangguk, membenarkan ucapan Aji. Kedua orang tua itu meminta maaf. Mas Wakhid menengahi pembicaraan itu. Mengatakan bahwa takdir itu tidak dapat dipaksakan.
Mengikhlaskan keputusan Aji dan Disa adalah jalan agar hati semua orang merasa tentram. Rumah tangga itu sekolah paling lama yang akan dijalani oleh sepasang suami istri nantinya. Memilih dan memilah di awal merupakan bentuk ikhtiar agar tidak menyesal di belakang.
Keluarga Aji pamit setelah mengungkapkan maksud kedatangan mereka. Mak Nur duduk termenung sendirian di meja makan. Disa bersimpuh di kaki dan menangis. Meminta maaf karena membuat emaknya kecewa.
"Mak ikhlas, Nduk. Pilihlah sesuai kemantapan hatimu," ucap Mak Nur sembari menghapus air matanya.
Disa mengangguk, "Disa minta maaf membuat Emak kecewa."
"Tidak apa-apa. Mak yang salah, sudahlah, tidak usah dibahas lagi."
Disa mengangguk. Mas Wakhid tersenyum pada dua orang wanita yang penting dalam hidupnya.
"Lagian Emak ini kenapa, sih? Ngotot banget ingin Aji jadi mantunya," tanya Mas Wakhid.
"Ada hal yang membuat Emak tidak suka dengan Dani," ucap Mak Nur melirik ke arah Disa.
Anak gadisnya langsung salah tingkah ketika nama itu disebut. "Kok Emak tahu Disa memiliki rasa untuk Dani?" tanya Mas Wakhid.
Disa yang sedang minum langsung tersedak. Begitu gamblang kakaknya memberitahu Mak Nur. Tidak memikirkan bagaimana respon emak nantinya.
__ADS_1
"Setiap ibu itu tahu apa yang dirasakan anaknya, Emak pernah beberapa kali bertemu Ambar. Dia tiba-tiba membicarakan Dani di depan Emak. Bilang bahwa Dani itu pria yang tidak bertanggung jawab, nyatanya Aidha sampai marah seperti itu. Hal itu karena dulu, waktu istri Dani masih hidup, lelaki itu tidak pernah menyayangi keluarga mereka." Mak Nur menjelaskan alasan ketidaksukaannya pada Dani.
Disa dan Mas Wakhid langsung mengucap istighfar. Pendek sekali pikiran emak mereka. Langsung main menyimpulkan hasutan dari Ambar.
"Mak, Pak Dani tidak seperti itu. Dia pria yang baik, sayang sama orang tua, anak-anak, dan para saudaranya. Kadang dia terlalu sibuk hingga kecapekan, dan hal itu membuatnya tidak bisa menyalurkan perhatiannya." Disa membela Dani tanpa diminta.
Mas Wakhid tertawa mendengar dan melihat ekspresi tidak terima dari Disa. Adiknya benar-benar telah jatuh cinta. Mak Nur mengiyakan ucapan Disa. Berjanji akan meminta maaf pada Dani. Emak memilih untuk istirahat sebentar.
Mas Wakhid masih bersama adiknya. Bertanya apa pria itu sudah mengutarakan perasaannya pada Disa?
"Sudah, Mas. Dia meminta aku untuk menunggu hingga kasus Salwa selesai. Pak Dani akan datang bersama mamahnya saat waktu itu tiba. Tapi, kemarin keduluan sama mas Aji. Gimana aku ngomong sama dia bahwa aku sudah usai masa khitbah ya, Mas?" tanya Disa.
Mas Wakhid beranjak, "Pikirkan sendiri caranya. Berani jatuh cinta, berani untuk menyatakannya."
***
Hari ini satu aja yaah, othor suka kalaubkalian penasaran. Wkwkwk. Berdosanya aku suka gantungin anak orang.
Siapa yang mau mudik? Sudah booster? Kalau belum buruan booster. Peraturan yang nanti berlaku adalah :
Jika pemudik baru melaksanakan vaksin 1 harus PCR
Jika pemudik sudah melaksanakan vaksin 2 dan jaraknya kurang dari 3 bulan wajib PCR
Jika pemudik sudah melakukan vaksin 2 dan jaraknya lebih dari 3 bulan belum melakukan booster, maka akan divaksin di tempat. (Katanya begitu)
__ADS_1
Yang jelas nomor 1 & 2 pasti