
Aji meletakkan kitab di atas meja. Duduk termenung memandangi sebuah jam pasir yang terbuat dari bohlam lampu bekas. Tersenyum menikmati turunnya butiran lembut berwarna ungu itu. Barang itu pasti dari seorang yang spesial untuknya.
Dia menghela napas berat. Seperti ada beban dalam benak, tapi tidak mampu diungkapkan. Hanya bisa tersimpan di hati. Dia bangkit dari kursi lalu bersiap untuk pergi ke masjid.
Abah Shodiqun menjadi imam untuk jama'ah yang menunaikan salat maghrib. Semua khusyu' dalam menjalankan ibadah. Selesai salat, Aji dipanggil oleh abahnya. Mereka berbicara serius. Entah apa yang membuat abah marah, hingga meninggikan suaranya.
Abah langsung meninggalkan masjid dan kembali ke rumah. Sedangkan Aji hanya bisa termenung sendirian. Seorang lelaki meminjam sajadah padanya. Membuat pikirannya buyar.
"Maaf, boleh saya pinjam sajadahnya, Mas? Saya lupa bawa, pikir saya di masjid ada, tapi ternyata juga nihil," terang lelaki itu.
Aji tersenyum dan memberikan sajadahnya, "Silahkan, Mas."
Lelaki itu menunaikan salat maghrib tiga raka'at. Setelah selesai dia mengembalikannya pada Aji. Mereka berjabat tangan dan saling memperkenalkan diri.
"Saya Dani," ucap Dani berjabat tangan dengan Aji.
"Saya Aji, Mas. Bukan orang sini, ya?"
Dani mengangguk, "Rumah saya di Taman Wiku. Mas Aji santri disini?"
Aji menyeringai mendengarnya. Dia berpikir apakah usianya masih terlihat muda?
"Saya Ustaz disini, Mas," jawab Aji.
"Oalah, maaf, Taz. Saya kira santri disini." Dani salah menduga tentang Aji.
Mereka berjalan bersama dan duduk di teras. Dani masih menunggu Reza yang masih salat. Sedangkan Sita sedang melipat mukenanya. Menikmati terang bulan yang membentuk bulat sempurna.
Cahaya berpendar dengan sempurna tanpa tertutup mendung. Dua lelaki itu secara bersama tersenyum getir. Ada apa? Kenapa senyum mereka seperti dipaksakan? Sangat pahit!
"Jadi bulan itu enak ya, Mas? Dapat pahala berlebih. Karena selalu menyuguhkan keindahan untuk semua mata yang memandangnya. Meski tertutup mendung, dia tidak kehilangan jati dirinya. Beda dengan manusia, yang kadang menampakkan senyum, ketika awan hitam menyambut, langsung menjadi muram." Aji menghela napas berat.
__ADS_1
Dani menoleh dan tersenyum. "Jangan sampai kalah dengan awan hitam itu, Taz. Hadapi badai yang datang. Anda yang sudah bekal ilmu agama tinggi, seharusnya lebih bisa tenang."
"Ilmu saya masih cethek, Mas." Aji menganggap dirinya masih butiran debu.
Reza dan Sita menghampiri Dani. Obrolan antara Dani dan Aji harus berakhir. Mereka harus melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Aji segera meninggalkan masjid.
***
Disa tidak berselera makan karena merasakan nyeri di kakinya. Memaksakan makanan itu masuk ke mulut karena perut mulai terasa kembung. Mak Nur membantu menyuapkan makanan itu. Dia tersenyum mendapatkan perlakuan istimewa dari ibunya.
Tidak ada obrolan saat makan. Hanya dentingan sendok dan piring yang beradu menjadi satu. Disa mengamati wajah mak Nur. Seperti ada kekhawatiran yang tersirat. Setelah makannya berakhir, ia bertanya ada masalah apa?
"Bagaimana kabar Aris, Nduk?" tanya mak Nur.
Disa menggelengkan kepala, "Disa sudah memutuskan untuk menolak mas Aris, Mak. Keluarganya tidak setuju jika dia sama Disa."
Mak Nur membelai rambut anaknya yang hitam panjang hingga ke bahu. Mak Nur sadar mereka orang tidak punya, tapi bukan berarti keluarga Aris bisa menghina putrinya. Perasaan seorang ibu akan ikut tersakiti jika mendengar dan melihat anaknya terluka.
Disa terkejut mendengar berita itu. Siapa? Apakah pria yang dimaksud mak Nur adalah Dani? Apa isi pembicaraan mak Nur dan Dani tadi? Begitulah isi hati Disa saat mengetahui berita besar itu.
"Keluarga abah Shodiqun akan datang melamarmu. Tolong kamu persiapkan dirimu sebaik mungkin. Hanya abah, umi, dan Aji yang datang. Emak berharap ..., kamu bisa bijak dalam menentukan keputusan." Mak Nur meletakkan piring di ember.
Disa hanya bisa mematung mendengarkan perkataan emaknya. Jujur, bukan Aji yang dia harapkan. Ia segera beristighfar pelan. Ada apa dengan dia? Apakah ini yang dimakan cinta?
Entahlah, sekarang Disa merasa pusing. Seharusnya dia hanya jatuh cinta pada Rabb-nya. Agar selalu mengingat siapa yang berhak atas dirinya. Namun hati tidak bisa memungkiri, rasa itu telah hadir dan perlahan tumbuh.
Entah apa yang telah Dani lakukan padanya, hingga dia bisa tertarik. Padahal intensitas mereka bertemu juga bisa dihitung. Namun, setiap pertemuan yang terjadi, malah meninggalkan kesan mendalam.
Mak Nur membantu Disa untuk mengambilkan air wudhu. Mereka melakukan jama'ah salat isya' di rumah. Selesai salat, Disa dibantu Riski adiknya untuk kembali ke kamar.
"Mbak, Salwa sama Aidha kapan lagi main kesini?" tanya Riski.
__ADS_1
"Memang kenapa? Kangen main olok-olokan sama mereka?" tanya Disa mengoleskan bobok parem di kakinya yang bengkak.
Riski ikut membantu mengoleskan ke bagian yang sulit dijangkau kakaknya. "Sepi nggak ada mereka. Enak ya kalau punya adik?"
Disa tertawa mendengar ucapan Riski, "Lha kan ada Aina dan Wafi. Itu kan juga adik kamu, keponakan!"
"Sama mereka bosen, manut-manut aja kalau disuruh. Beda sama Aidha dan Salwa. Mereka kritis. Setiap disuruh pasti tanya alasannya. Itu lho yang aku suka, jadi aku bisa nyalurin pengetahuanku ke orang lain."
"Berdo'a saja mereka diizinkan papahnya menginap disini lagi." Disa menyuruh Riski menyalakan kipas angin.
Riski ingin bertanya kenapa dia harus berdo'a agar dua anak super ceriwis itu diperbolehkan lagi menginap? Bukankah kata mas Wakhid, papahnya Aidha suka dengan kakaknya? Baru saja mau mengajukan pertanyaan, tapi emak datang. Mengurungkan niatnya untuk bertanya.
"Jangan membicarakan papahnya Aidha di depan emak kalau kamu nggak ingin kena semprot!" ucap Mas Wakhid.
Itulah pesan mas Wakhid pada Riski sebelum berangkat lagi berlayar.
Mak Nur menyuruh Riski untuk belajar di kamarnya sendiri. Agar memberikan waktu Disa istirahat. Sayangnya, anak perempuannya itu belum mengantuk. Dia ingin berbicara dengan emaknya.
"Mak, mengenai ..., lamaran dari mas Aji, kenapa kesannya mendadak ya?" tanya Disa.
Mak Nur mengernyitkan dahi dalam, tidak paham dengan yang dimaksud Disa. Mereka saling kenal sudah cukup lama. Orang tua sama-sama senang dengan pribadi Disa dan Aji.
"Bukan mendadak, Nduk. Emak memang baru bertemu dengan buk Yah tadi pagi," ucap mak Nur menjelaskan situasinya.
"Kenapa tidak Mak jawab ingin berdiskusi dulu dengan Disa?"
"Apanya yang perlu didiskusikan? Mak berani menyanggupi hal ini karena sudah tahu sendiri nak Aji seperti apa."
Disa tidak ingin mendebat emaknya. Dia lebih memilih diam. Meminta mak Nur untuk meninggalkannya sendiri. Beralasan sudah sangat mengantuk.
Mak Nur keluar dari kamar Disa dengan perasaan yang campur aduk. Di satu sisi, dia ingin anak perempuannya itu mendapatkan jodoh yang baik, dunia dan akhirat. Memilah bibit, bobot, dan bebet dengan kualitas bagus agar tidak terjadi masalah besar di depan nanti.
__ADS_1
Di lain sisi, dia juga terkesan memaksakan kehendak. Padahal dulu, para kakak Disa membawa calonnya masing-masing menemui emak dan bapak. Mak Nur beristighfar sambil duduk termenung di depan layar TV. Salahkah langkahnya?