Pinangan Kedua

Pinangan Kedua
Emak Pulang


__ADS_3

Aji hanya terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan uminya. Buk Yah sangat murka dengan keteledoran yang dilakukan Aji. Pantas saja calon mantunya sangat ingin marah. Sungguh keterlaluan sekali kesalahan yang diperbuat anaknya.


Buk Yah masih ngotot bertanya, hingga suaranya sedikit keras. Abah yang baru saja kembali dari mengajar santri sampai menenangkan istrinya. Menyuruh anak dan istrinya masuk terlebih dahulu ke dalam rumah.


Abah menyuruh keduanya duduk agar amarah bisa sedikit reda. Menuangkan air dan memberikannya pada istrinya. Kini, Abah menatap Aji yang sedari tadi menunduk.


"Ada apa, Ji?" tanya Abah.


Buk Yah dengan amarah masih membara langsung menjawab pertanyaan suaminya. Menjelaskan kesalahan yang dilakukan oleh Aji pada Mak Nur. Abah yang mendengar hal itu langsung beristighfar. Pantas jika istrinya marah seperti itu.


"Abah tanya sama kamu, telepon dari siapa sampai kamu lupa menjemput Mak Nur?" geram Abah Shodiqun mencoba menahan amarahnya.


Aji masih diam. Tidak mau menjawab pertanyaan yang sangat sulit untuknya. Dia memikirkan kejadian yang akan terjadi di belakang nanti. Ia tahu apa yang akan dilakukan abahnya ketika tahu alasannya.


"Baik kalau kamu tidak mau menjawab. Abah akan cari tahu sendiri!" ancam Abah Shodiqun pada Aji.


Lelaki itu langsung bersimpuh di kaki abahnya. Menangis memohon maaf karena lalai. Berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Namun, pendirian Abah Shodiqun benar-benar tidak tergoyahkan.


Aji dihadapkan dengan satu pilihan, yaitu jujur. Jika dia tidak melakukan hal itu, maka bisa dipastikan abahnya akan tetap mencari tahu. Ia menghapus air matanya dan mengungkapkan alasannya selama ini belum mau menikah, ada hubungannya dengan kejadian hari ini.


"Bah, Mi, Aji mencintai wanita lain. Bukan Disa. Hati Aji sudah diisi oleh seorang perempuan yang mampu memahami Aji, Mi, Bah."


Bagaikan menginjak bara panas, kaki kedua pasangan suami istri itu bergetar. Takut jika yang mereka duga selama ini adalah benar. Abah Shodiqun bertanya siapa wanita yang mampu mengisi hati Aji?


"Lina," jawab Aji singkat.


Tubuh Abah Shodiqun lemas mendengar hal itu. Kekhawatirannya selama ini ternyata benar. Lina adalah mantan istri dari adik Aji. Setelah kematian suaminya, Lina memilih pulang ke rumah orang tuanya.

__ADS_1


Lina dan adik Aji belum memiliki keturunan. Sebenarnya Aji sudah menyukai Lina sangat lama. Saat orang tuanya datang untuk meminang, wanita itu memilih Labib, adik Aji, untuk menjadi suaminya.


Aji mengikhlaskan hal itu. Hanya bisa menyimpan rapi memori dalam hati. Abah Shodiqun dan istrinya pernah melihat sorot mata Aji saat melihat Lina sangat berbeda. Hingga waktu itu, mereka pernah mengutus anak pertamanya untuk mengajar di pesantren lain.


Setelah kematian Labib, Abah Shodiqun mengira bahwa Aji sudah tidak berhubungan lagi dengan Lina. Namun, kenyataan yang terungkap kali ini menyadarkan keduanya. Sekeras apapun mereka melawan garis takdir, Allah SWT selalu menang dalam menentukan akhirnya.


"Aji mencintai Lina, Bah. Bukan wanita lain. Aji menunggu hatinya siap mengikhlaskan kepergian Labib. Hari ini, dia meminta tolong karena perutnya sakit. Dia seorang diri di rumah sakit, tidak membawa dompet. Hanya hapal nomor Aji. Makanya Aji buru-buru meninggalkan Mak Nur," jelas Aji memohon pengertian abahnya.


"Bukannya Lina sudah akan diperistri oleh seorang kyai dari Jawa Timur?" tanya Buk Yah.


Aji menggeleng, "Dia sudah menolak lamaran itu. Hatinya masih sangat terikat oleh Labib. Mi, Bah, tolong, jangan paksa Aji untuk menikah dengan Disa. Dan juga, lamarkan Lina untukku. Jika kali ini aku ditolak olehnya, maka aku akan menuruti keinginan kalian untuk berjodoh dengan wanita lain."


***


Disa menangis tersedu-sedu di dalam kamarnya. Dia mengungkapkan kekesalannya dengan cara seperti itu. Ingin berteriak takut mengganggu tetangga, jadi jalan satu-satunya adalah menangis.


Menunggu kabar Dani yang sedang bersama emaknya. Hatinya tidak tenang, merasa sangat kesal terhadap ibunya. Kenapa tidak meminta dia untuk mengantarkannya ke Semarang? Kenapa malah meminta bantuan Aji?


"Kowe kenopo, Nduk? He? Kenopo kok nangis?" tanya Mas Wakhid panik melihat Disa menangis seperti itu. (Kamu kenapa, Nduk? He? Kenapa kok nangis?)


Disa menyalami tangan kakanya, menggelengkan kepala pertanda dirinya baik-baik saja. Mas Wakhid tidak percaya.


"Apa gara-gara Dani?" tebak Mas Wakhid.


"Ha? Hiks ..., bukan! Dia nggak salah apa-apa. Disa nangis karena kesal sama emak. Dia minta tolong sama mas Aji untuk antarkan ke Semarang, eh malah ditinggal disana." Disa bercerita setengah-setengah membuat Mas Wakhid bingung.


Saat mulai tenang, Disa menceritakan versi lengkapnya. Membuat Mas Wakhid naik darah. Ingin sekali rasanya menghajar ustaz itu. Seenaknya main meninggalkan orang tua di kota besar seorang diri.

__ADS_1


Sebuah mobil berhenti di depan rumah Mak Nur. Mas Wakhid melihat siapa yang datang, ternyata emaknya. Dia segera menghampiri mereka. Sedikit terkejut karena ternyata Dani dan Mamah Yuli yang mengantarkan emaknya pulang.


"Assalamu'alaikum, Mas Dani ..., Bu Yuli ..., apa kabar?" tanya Mas Wakhid dengan senyum sumringah.


"Wa'alaikum salam warahmatullah ..., barakallah, baru pulang melaut, Mas?" tanya Dani.


Mas Wakhid mengangguk. Mempersilahkan mereka masuk ke dalam rumah. Dani melihat motor Disa sudah terparkir disana. Genderang hatinya mulai ditabuh lagi.


Mamah Yuli dan Dani mampir sebentar disana. Mas Wakhid menyuruh Disa untuk menyiapkan sebagian ikan agar dibawa pulang Dani. Membuatnya harus keluar kamar dengan wajah sembab. Degup jantung Disa menjadi lebih cepat, desiran lembut menghantam lagi hatinya.


Setelah seminggu tidak bertemu, akhirnya mereka kembali digariskan berpapasan saat Dani menumpang ke toilet. Disa yang hendak membasuh wajahnya menjadi kikuk sendiri. Lelaki itu tersenyum tipis lalu melewati tubuh wanita itu begitu saja.


Disa keheranan dengan sikap Dani. Apakah dia sedang marah? Entahlah, wanita itu segera membersihkan wajahnya. Lalu memisahkan ikan untuk keluarga Dani. Membuatkan minum dan segera menghidangkannya di meja.


"Lhoh, Ust Disa di rumah?" tanya Mamah Yuli.


"Assalamu'alaikum, Bu. Iya, tadi izin sebentar. Salwa tidak ada yang menjemput jadi tadi langsung saya antar pulang," ucap Disa.


"Wa'alaikum salam. Terima kasih, malah merepotkan." Mamah Yuli mencubit tangan Dani agar mengucapkan terima kasih.


"Terima kasih," ucap Dani kaku.


Mas Wakhid melirik dua insan itu. Seperti orang yang sedang bertengkar, dingin. Disa memberikan ikan pada Mamah Yuli. Dani segera meminum teh yang dihidangkan dan buru-buru pamit.


"Mah, Dani harus segera kembali ke kantor." Dani mengingatkan mamahnya.


"Bu Yuli, Nak Dani terima kasih sudah mengantarkan saya sampai rumah. Saya tidak tahu bagaimana jadinya jika tidak bertemu dengan kalian." Emak mengucapkannya dengan rasa malu. Ingin segera berlari setelah kalimat itu keluar dari mulutnya.

__ADS_1


"Sama-sama, Mak." Dani langsung menyalami Mak Nur dan Mas Wakhid. Mamah Yuli segera pamit dan berterima kasih mendapat oleh-oleh dari laut.


Saat di luar rumah, Dani bertemu lagi dengan lelaki itu. Membuat hatinya kembali perih. Dia teringat lagi bahwa wanita yang dia cintai sedang dalam masa khitbah dari orang lain.


__ADS_2