Pinangan Kedua

Pinangan Kedua
The Somplak


__ADS_3

Sigit dan kawanannya jauh-jauh datang dari Semarang khusus untuk menghadiri undangan Dani. Awalnya mereka biasa saja, normal seperti tamu yang lain. Hamka yang setiap melihat makanan langsung ingin mencoba semuanya. Zafran terlihat sangat cool. Apalagi Ali, kalem sekali dia.


Percaya kalian kalau mereka bapak-bapak polisi yang berwibawa? Kalau aku tidak! Kita lihat, berapa lama kedok mereka itu akan bertahan. Mereka mengenakam batik dengan warna senada. Para istri membawa anak dan kadonya masing-masing.


Muti membawa sekardus kopi dengan merek terkenal. Eits, jangan salah! Ini kopi bukan sembarang kopi. Barang ini spesial, susah dapatnya! Yup! Kalian memang cerdas readers, itu adalah kopi perangsang. Bagi yang tidak tahu, mereka akan menganggapnya biasa saja. Tahu yang dikatakan Muti pada mempelai?


"Ini adalah kopi penambah stamina. Kalau habis minum ini segar, lho! Suami saya sering minum, kok! Nanti kalau habis hubungi saja suami, biar kami kirimkan lagi!" Muti mengatakan hal ini dengan tersenyum menyeringai.


Dani dan Disa tersenyum dan berterima kasih. Sudah datang jauh-jauh dan masih menyempatkan membawa kado. Padahal, Dani sudah berpesan pada Sigit, tidak usah bawa apa-apa.


Kita bahas kado kedua, dibawakan oleh dokter paru cantik kita, Hana. Istri Ali membawa sekotak parfum. Wah, pasti harum sekali nanti jika Disa memakainya. Karena pengantin kita polos sekali, dia malah bertanya, itu parfum mengandung alkohol atau tidak?


"Oh, tenang saja, parfumnya seratus persen dibuat dari bahan alami. Coba nanti malam dibuka, lalu dioles sedikit ke leher, pergelangan tangan, dan bagian lain. Suruh suami cium, wangi atau tidak? Nanti kalau habis juga nggak usah sungkan bilang, aku kirimkan lagi!" ucap Hana bersemangat.


Disa tidak enak hati, "Terima kasih, Bu. Nanti kalau habis saya tanya nama tokonya saja. Biar saya beli sendiri. He-he-he."


Apalagi kado yang dibawa oleh Hamka, Danang, Luna dan Shanum? Kenapa tangan mereka kosong? Ada saja ulah mereka, ternyata mereka membawa anak kambing sebagai hadiah pernikahan Dani dan Disa. Danang menyuruh seseorang untuk membawa kambing berbulu putih itu naik ke atas panggung.


"Maaf tidak bisa memberi apa-apa. Tolong rawat blacky dengan baik. Kami beri nama itu karena kami nggak mau kalah glow up. Nanti kalau sudah besar, kalian punya anak, bisa buat aqiqah!" terang Shanum.


Dani dan Disa saling toleh dan tertawa garing. Mereka berterima kasih sekali pada Hamka dan lainnya. Anak kambing itu diikat di dekat pelaminan dan memakan dekorasi bunga hidup yang disusun dengan cantik. Mereka memang selalu membuat rusuh.


Bapak camat dan ibu dokter gigi membawa sesuatu yang biasa dari yang lain. Mereka hanya membawa permen coklat dan permen karet. Dani agak tidak asing melihat merek coklat itu, tapi lupa dimana dia melihatnya.


"Maaf, kami tidak sempat membeli kado. Hanya itu yang kami punya dirumah, tolong diterima, ya?" ucap Humaira tersenyum dan berjabat tangan dengan Disa.


"Terima kasih Bu Camat, harusnya tidak perlu bawa apa-apa. Cukup do'akan pernikahan kami saja." Disa mengenal Humai sebagai istri camat karena pernah bertemu beberapa kali di lain forum.


Zoya dan Zafran yang terakhir memeberikan kado. Kadonya paling besar, dibungkus dengan kardus. Saat Dani disuruh membuka, ternyata sepeda bayi dan foto Zoya dan Zafran ukuran sembilan belas R.

__ADS_1


"Busyet! Ngapain kalian ngasih foto ke pak Dani?" tanya Sigit heran.


"Biar tidak lupa lah!" jawab Zafran percaya diri.


"Aku kasih info Maszeh ..., fotomu itu nanti dipasang di atap rumah. Biar tikusnya kabur lihat komandan somplak kayak kamu!" Archee heran melihat saudaranya. Kenapa sangat percaya diri sekali?


Prosesi serah terima kado selesai. Mereka ingin mencicipi setiap menu yang dihidangkan. Hamka menjadi kapten bagi mereka, seperti sedang melakoni peran menjadi Pak Bondan. "Mak nyuss!" kata Hamka.


"Bagi dia semua memang enak, buruan makan, tuh band pengiring kok bikin ngantuk! Lagunya yang lebih semangat gitu nggak ada ya?" tanya Ali.


"Sabar ..., habis ini kita tampil!" sahut Danang.


Semua istri mereka langsung menatap satu persatu suaminya dengan tatapan tajam. Para suami berpura-pura tidak tahu. Tetap menyunggingkan senyum seakan tidak akan terjadi apa-apa. Padahal, hati mereka berdebar tak karuan.


Para istri hanya tahu mereka diajak untuk menghadiri acara pernikahan salah seorang kenalan. Menyuruh istri mereka mempersiapkan kado yang lain daripada yang lain. Tapi, semua suami sepakat tidak memberitahu pasangan mereka rencana selanjutnya.


"Jangan pada gila deh, Mas!" Muti sudah bersungut-sungut karena kesal.


"Oke, cuma kali ini ya? Nggak ada lain kali!" Hana memperingatkan suaminya. Ali mengangguk patuh.


Mereka naik ke panggung dan mengusir para pengiring musik itu turun. Zafran mengambil mic dari sang biduan.


"Ehm ..., Assalamu'alaikum semuanya ..., perkenalkan kami The Somplak, akan menghibur kalian, semoga siang hari nan panas ini bisa menjadi sejuk karena kehadiran pria-pria kece! Boleh minta tepuk tangannya? Boleh juga sawerannya. Nominal paling kecil lima puluh ribu ya gaes!" Zafran sangat percaya diri sekali.


Danang langsung menggebuk drum, Ali memetik senar gitar memulai intro. Hamka berada di keyboard, Archee pada bass dan sebagai vokal yaitu Sigit dan Zafran. Satu lagu yang sudah mereka sepakati sejak semalam.


"Oke, are you ready everybody? One, two, three, four, five, six ...," ucap Sigit.


"Stop! Kamu nyanyi apa belajar menghitung, Si?" tanya Zafran.

__ADS_1


"Oh iyo! Lali, he-he-he, kita coba sekali lagi." Sigit mencondongkan tubuhnya dengan kaki kanan di depan dan kiri di belakang. Tangannya memecang standmic dengan erat.


"Wa-e-e-e-e-e ...." Sigit kembali menyuarakan lagu yang aneh. Zafran dan Ali sampai menarik rambutnya.


Disa bertanya kenapa teman-teman Dani begitu aneh? Dani menggaruk kepalanya.


"Mereka ..., polisi spesial, Dik. Ha-ha-ha. Kita nikmati saja." Dani sungguh tidak percaya dengan ulah mereka. Ternyata lebih mengerikan daripada yang di kantor polisi.


"Coba lagu lain." Sigit meminta Ali memainkan intro lagu lain. Sedangkan dirinya mengeluarkan sesuatu dari tas pinggangnya. Sebuah wig dan memakainya. Muti dan para istri yang lain langsung balik badan. Mereka memang sudah gila!


"Hanya Yadi ..., Yadi-Yadi-Yadi ..., hanya Yadi! Hanya Yadi yang ada diantara janting hati, karena Yadi, penyuka bencong ...." Archee dan Hamka langsung membungkam mulut Sigit.


"Jangan buka kedok disini!" ucap Zafran. Semua yang hadir tertawa menyaksikan aksi lawak itu.


"Wes ayo, nyanyi yang benar. Kasihan yang lain mau nyawer nggak jadi," kata Archee membuang wig kesayangan Sigit.


"Lagu tuh yang sedang viral itu lho, pok ame-ame belalang kupu-kupu, siang makan nasi kalau malam minum cucu." Hamka menyanyikan lagu anak-anak.


Ali langsung menyahut lirik selanjutnya. "Cucu-cucu perawan, dua-duanya menawan ...." Semua langsung menuju ke arah Ali. Mematikan mic yang ada di depannya.


"Ih, Ali saru ..., ngeres ih ..., jangan didengarkan ya penonton! Dia kayaknya lagi konslet."


Semuanya kembali tertawa karena ulah mereka. Hana menutup sebagian wajahnya dengan hijabnya. Malu betul dia saat ini.


"Yok serius yok, baik, satu lagu dari kami, melepas duda yang dipopulerkan oleh Zafran ganteng." Zafran langsung split di atas panggung.


"Untung celanamu ora robek, Ndan! Yok mulai!" Sigit menyuruh semuanya serius dan membawakan lagu yang dipopulerkan oleh Arvian Dwi.


Di tengah lagu mereka mengubahnya ke dangdut koplo. Mereka banyak mendapatkan saweran dari teman-teman Dani. Lumayan bisa untuk beli boba.

__ADS_1


Sudah ya? Geng somplak satu episod saja.


__ADS_2