Pinangan Kedua

Pinangan Kedua
Batalkan Pertunanganmu


__ADS_3

Mereka bertiga menuju mushola sekolah. Disa sangat menjaga jarak dengan Aris. Entah apa yang membuat lelaki itu berani menemui pujaan hatinya. Pasti itu bukan hal sepele.


Disa mempersilahkan Aris mengungkapkan maksud tujuannya mengajak bicara. Lelaki itu melihat sebuah cincin yang melingkar di jari manis Disa. Mengernyitkan dahi seraya membatin, bertanya apakah itu cincin tanda jadi atau apa?


"Itu ..., cincin dari siapa, Dik?" tanya Aris menunjuk jari manis Disa.


"Oh ..., ini cincin pertunangan dengan calon imamku, Mas." Disa memperlihatkan dengan jelas benda itu.


"Tu-tunangan? Dengan siapa?" Aris tergagap mendengarnya.


Disa hanya tersenyum tanda tidak mau membeberkan berita yang sangat besar itu. Hati Aris kecewa mendengarnya. Perasaan tidak ikhlas hinggap begitu saja. Jadi Disa benar-benar telah melupakannya?


Rifana tersenyum kecut pada pria itu. Seenaknya saja dia datang dan pergi di kehidupan Disa. Jika memang orang tua Aris menolak sahabatnya, seharusnya ia tidak datang lagi menemui Disa. Karena memperjuangkan restu dari pihak laki-laki merupakan sebuah hal yang berat.


Ada perumpamaan yang mengatakan bahwa anak perempuan milik ayahnya dan laki-laki milik sang ibu. Ini akan berlaku sampai kapanpun. Jika ibu dari pihak lelaki tidak setuju, maka perjalanan cinta itu akan memikul beban berat.


Restu adalah hal utama dalam sebuah hubungan. Mundur saja jika hal itu tidak didapat. Ridho Allah terletak pada orang tua.


"Dik ..., bisakah kamu kembali padaku dan membatalkan pertunanganmu?" pinta Aris tanpa rasa berdosa.


Rifana menganga mendengar permintaan lelaki itu. Sungguh hal yang baru saja diminta oleh Aris adalah sesuatu yang gila. Pria itu sudah kehilangan akalnya hingga mampu meminta Disa membatalkan pertunangannya.


Disa menunjukkan wajah datarnya. Siapa lelaki itu sehingga bisa meminta dia membatalkan pertunangannya? Mereka hanya pernah dekat tapi tidak menjadi seikat.


"Kenapa saya harus membatalkannya?" tanya Disa tenang.


"Karena aku sangat mencintaimu, Sa!" jawab Aris menaikkan intonasinya.


"Cinta? Itukah yang kamu sebut cinta? Memintaku untuk batal dengan tunanganku? Tidak, Mas! Kamu itu hanya terobsesi untuk mendapatkanku. Bukan mencintaiku. Rasa cinta dan rasa ingin memiliki hanya beda setipis sehelai benang." Disa mulai menampakkan raut wajah kesal.


Aris bersikeras mengaku bahwa itu adalah cinta. Dia teramat menginginkan Disa menjadi pendamping hidupnya. Rifana sampai geleng kepala melihat tingkah lelaki itu.


"Maaf, Mas. Aku tidak bisa mengabulkan keinginanmu. Aku mencintai tunanganku karena Allah. Kisah kita hanya sebatas pertemanan. Tolong ikhlaskan aku untuk orang lain. Carilah wanita yang diinginkan oleh orang tuamu." Disa beranjak berdiri hendak meninggalkan Aris.


Lelaki itu masih saja bersikeras. Dia berjanji akan membuktikan pada Disa bahwa mereka saling cinta.

__ADS_1


"Saya pamit, Mas. Assalamu'alaikum," ucap Disa sembari menarik tangan Rifana untuk pergi meninggalkan Aris seorang diri.


Disa dan Rifana tidak mengerti dengan sikap Aris. Terlalu berani untuk memintanya membatalkan pertunangan. Memang siapa dia sampai berani seperti itu?


"Sa, mendingan kamu ngomong sama pak Dani, deh. Itu lelaki ngotot banget! Dasar! Nggak punya kaca ya di rumah? Bisa gitu dia minta orang yang sudah dihina sama orang tuanya balik sama dia? Wong gendeng!" Rifana terbakar amarah saat mengatakannya.


Disa membelai punggungnya, menyuruh sabar dan menarik napas dalam. "Kenapa jadi kamu yang uring-uringan sih, Rif?"


"Ya heran saja aku, ada lelaki model begitu!"


"Hi-hi-hi, aku juga heran. Tiba-tiba datang dan memintaku untuk membatalkan pertunanganku dengan mas Dani. Nggak, ah!"


Rifana mendengar ucapan Disa dengan nada tidak ikhlas jika harus melepas Dani. "Cie ..., bucin, nih!"


"Ih, nggak ..., ya masa aku harus melepas sosok yang begitu baik, apalagi keluarganya sangat welcome banget sama aku. Beda kali Rif sama orang tuanya mas Aris."


"Iya, setuju sama kamu! Aku juga nggak mau kalau harus ngemis restu dari pihak laki-laki. Kayak nggak ada pria lain saja!"


"Kamu sama pak Adi gimana?" tanya Disa menggamit lengan Rifana.


Disa ikut bahagia. Dia memeluk sahabatnya dengan erat. Mereka kembali ke ruang guru dan menyelesaikan sisa pekerjaan. Aris masih mematung di mushola sekolah seorang diri. Raut kesedihan dan kekecewaan menyelimuti dirinya. Tidak bisa menerima penolakan yang baru saja terjadi.


Tangan menggenggam kuat, rahang mengeras, dan matanya berapi-api. Dia tidak mau ada penolakan dari Disa. Bertekad untuk merebut hati wanita itu lagi. Segera beranjak dan menuju mobilnya.


***


Dani baru saja selesai jamaah isya' di masjid. Melihat kedua anaknya saling belajar bersama. Sungguh tentram hati pria itu melihat kedamaian tercipta di tengah keluarganya. Kembali ke kamar dan mencari ponselnya.


Membuka akun instagram dan mencari referensi baju pengantin yang diinginkan Disa. Setelah menemukan beberapa referensi, Dani mengirim link tautan agar bisa dibuka oleh calon istrinya. Menunggu beberapa saat pesan itu terbaca.


Disa meminta tolong pada Dani agar mencari tahu lokasi pemilik akun instagram itu. Dia juga menentukan jadwal agar bisa melihat langsung gaun yang diinginkannya. Dani segera mengirim pesan pada pemilik akun itu dan meminta alamat lengkapnya.


Me : Di Gunung Pati, Semarang, Dik. Gimana?


Disa : Alhamdulillah dekat, Mas. Rabu kamu sibuk?

__ADS_1


Me : Rabu ya? InsyaAllah bisa, Dik. Atau gini, Mas kan pulang jam empat, nah kamu samperin ke kantor nanti kita langsung berangkat.


Disa : Boleh, ajak anak-anak ya?


Me : Boleh 😊 apa sih yang nggak buat kamu?


Disa : 🙈 Makasih, Mas. Mmm ..., kamu lagi sibuk, nggak? Adik mau cerita tentang mas Aris.


Dani langsung mengernyitkan dahinya. Mengingat lelaki bernama Aris lalu ber-oh ria. Ada apa lagi dengan lelaki itu? Bukankah dulu orang tuanya sangat menghina Disa?


Dani tidak membalas pesannya melainkan langsung menelpon Disa. Hatinya sudah was-was ingin segera mendengar cerita calon istrinya. Awas saja jika sampai lelaki itu mencoba merayu wanita itu.


Disa menolak panggilan telepon itu. Mengirim pesan lagi pada Dani.


Disa : Adik masih bantuin emak bikin pesenan rempeyek, Mas. Jangan telpon, nggak bisa megangnya. Tunggu ya, bentar lagi selesai kok.


Dani menjadi gusar karena balasan Disa. Serasa jam dindingnya macet karena habis baterai. Giginya saling bergemelatuk gelisah. Kakinya tidak bisa tenang sekarang.


Ceklek!


Pintu terbuka dan Salwa memanggil papahnya. Mamah Yuli menyuruh Dani turun dan mendiskusikan rencana pernikahannya. Lelaki itu langsung turun dengan membawa ponsel di tangan.


Mamah Yuli menyuruhnya duduk. Menanyakan apa saja persiapan yang sudah dilakukan calon pengantin itu. Dani menyebutkan hasil diskusinya bersama Disa. Mulai dari susunan acara, daftar menu, dan daftar tamu.


"Mamah perlu ketemu bu Nur soal ini, Dan. Beliau pasti tahu rincian bumbu yang harus dibeli, berapa jumlahnya, dan berapa biayanya. Tabungan kamu cukup untuk acara ini? Mau Mamah bantu?" tanya Mamah Yuli.


Dani tersenyum dan menggeleng, "InsyaAllah cukup. Calon mantu Mamah itu orangnya sederhana dan pandai berhemat."


"Ya sudah, nanti kalau butuh, bilang sama Mamah. Nggak usah sungkan."


"Iya, mau ketemu emak kapan? Dani antarkan ke Bonang," ucap Dani menawarkan diri.


"Mamah biar diantar Rida saja, Dan. Kalian fokus ke yang lainnya. Bawakan Mamah kertas dan pulpen, biar bisa nulis daftar tamu."


Dani menyuruh Salwa yang sedari tadi bermain ponsel untuk mengambil pulpen dan kertas.

__ADS_1


__ADS_2