Pinangan Kedua

Pinangan Kedua
Honeymoon Tipis-tipis


__ADS_3

Dani baru saja pulang dari masjid. Dia mendapati istrinya sedang bermuroja'ah agar hafalannya tidak hilang dari ingatan. Ia tersenyum kagum bercampur bahagia. Bersyukur dia memiliki istri solehah seperti Disa.


Disa menghentikan muroja'ahnya ketika melihat ada tangan yang meletakkan sajadah di atas ranjang. Dia menoleh dan tersenyum. Segera mengakhiri surat yang dibaca dan melafalkan iftitam.


"Shadaqallahul 'adzim ...." Disa menutup mushaf kecilnya, meletakkan di atas meja, dan menyalami suaminya.


"Adik siapin makan sekarang ya, Mas? Nanti kalau kemalaman takut gula darah kita naik." Disa melipat mukena dan mengenakan hijabnya.


Dani menarik tangan Disa dan menyuruh duduk di sampingnya. Menunjuk pundaknya yang rasanya sangat kencang dan pegal. Meminta istrinya untuk memijit sebentar.


"Pundak Mas rasanya kencang sekali, Dik. Bisa minta tolong pijit nggak, Sayang?" pinta Dani.


"Nggih, Sayang." Disa memijit pundak sebelah kiri Dani. Mungkin dia kelelahan membantu emak mengangkat gula dan beras hasil punya gawe kemarin.


"Dik ..., kayaknya senjata Mas minta diservis deh. Boleh nanti kita kumpul lagi?" tanya Dani.


Sang istri tertawa mendengar permintaan suaminya. Untuk apa meminta izin? Itu adalah hak dan kewajiban suami istri dalam hal nafkah batin. Sudah seharusnya mereka sering melakukan itu agar terpenuhi kebutuhan nya.


"Nggih, Mas. Mau pakai kado gila itu? Sepertinya kamu butuh kopi stamina, Mas." Disa mencoba menawarkan barang pemberian dari para geng somplak.


Dani mengangguk senang. Pengertian sekali istrinya. Tanpa diberi kode pun sudah langsung mengerti. Dia meminta dibuatkan kopi itu dan dihidangkan saat nanti makan malam.


"Dik, acara sepasar kan sudah selesai, kita masih punya waktu cuti dua hari lagi, bagaimana kalau kita honeymoon tipis-tipis? Ke Jepara misalnya? Sekalian survey pondok pesantren yang kamu ceritakan untuk Aidha." Tiba-tiba saja Dani memiliki ide untuk mengajak istrinya bulan madu.


Awalnya mereka berpikir tidak akan ada waktu untuk bulan madu. Mereka tidak mempersiapkan untuk hal itu. Tapi, ide yang baru saja terlintas boleh juga untuk dicoba. Menginap di Sekuro Beach Resort sepertinya ide yang bagus untuk menikmati waktu luang mereka setelah menjadi pengantin baru.


Disa ingin anak-anaknya ikut, tapi Dani menolaknya. Bukan karena ada hal lain, waktu yang mereka pilih adalah hari biasa. Dimana para dua anak gadis itu sedang sibuk dengan sekolah mereka. Ya, begitulah Dani, dia tidak suka jika Aidha dan Salwa mengambil izin hanya untuk sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan mereka.


"Nanti kalau ada waktu lagi, kita ajak mereka. Kita mau honeymoon, Sayang. Mas ingin mengukir momentum yang indah sama kamu. Mas janji akan mengagendakan waktu untuk berlibur." Dani menatap Disa dengan dalam karena istrinya sedang merajuk.

__ADS_1


Disa tidak ingin nantinya dianggap tidak memikirkan anak mereka. Dia ingin Aidha dan Salwa selalu terlibat dalam hubungannya dengan Dani. Tapi, ia juga tidak boleh egois. Alasan tidak setujunya Dani memang benar adanya.


"Janji ya, Mas? Kasihan mereka nggak bisa ikut sama kita ...," rengek Disa.


"Iya, Mas janji. Makan yuk? Tolong bikinkan kopi untuk Mas. Satu coklat untuk pencuci mulut. Dan semprotkan parfum itu di leher dan bagian yang biasa Mas sentuh. Mas tunggu di meja makan." Dani mengecup kening istrinya dan keluar dari kamar.


Sekali lagi, Disa merona malu karena ucapan Dani. Permintaan yang sangat manis menurutnya. Dia segera mengambil pesanan suaminya dan menyusul ke meja makan. Melayani sang suami yang hendak makan, membuatkan kopi dan meletakkan coklat di samping piringnya.


Mak Nur ikut bergabung bersama mereka. Dia bertanya kapan Aidha dan Salwa bisa tidur dirumahnya. Emak juga rindu dengan dua bocah itu.


"Nanti pas hari sabtu dan minggu kami tidur sini, Mak. Dani juga mau ajak Disa untuk segera pindah, boleh, Mak?" tanya Dani.


Mak Nur tersenyum, "Boleh, Nak. Dia sudah sah menjadi istrimu. Maka ajak dia kemanapun kamu pergi, jaga dia selayaknya kami orang tuanya menjaganya. Dan kamu Disa, ikutkan kemanapun suamimu pergi, Nduk. Jadilah pakaian untuk suamimu. Paham?"


"Paham, Mak." Dani dan Disa mengangguk dan menjawab secara bersamaan.


Riski baru saja mengambil piring, mencium aroma kopi yang wangi. Bertanya bau kopi merek apa? Sepertinya wanginya berbeda dengan yang biasa disajikan. Disa gelagapan menjawab pertanyaan adiknya.


"Jangan minum kopi terus, Ki. Ingat, kamu itu dilarang begadang." Mak Nur menyelamatkan Disa.


Dani sudah selesai makan, langsung meneguk kopinya dan menghabiskan coklat itu. Rasanya sangat segar dan berenergi. Suhu tubuhnya mulai memanas. Dia langsung masuk ke kamar dan menunggu Disa. Kelimpungan karena sang istri tidak juga muncul di bilik mereka.


Ceklek! Pintu kamar terbuka. Dani langsung menarik tangan Disa. Menyuruhnya memakai parfum. Dia mengunci pintu kamar dan menyalakan lampu tidur.


"Sudah bereaksi, Mas?" tanya Disa. Dani hanya mengangguk.


Saat Disa hendak ganti baju, pria itu langsung menggendong istrinya. Menidurkan di ranjang dan mulai mencium wangi parfum. Dani sangat bergairah, badannya yang tadinya capek kini sudah lenyap entah kemana. Hanya ada semangat yang membara dalam dirinya.


Tidak ingin berlama-lama melakukan pemanasan karena tubuh istrinya juga sudah menginginkan hal yang sama. Dia segera memasukkan senjatanya. Memulai tempo permainan dan keduanya menikmati perjalanan itu. Hingga sama-sama mencapai bahtera kenikmatan yang tiada tandingannya.

__ADS_1


Dani mencabut miliknya. Lalu membacakan salawat di perut Disa. Berharap semua benih yang ditanam akan segera berbuah. Menantikan hasil panen nantinya.


***


Seperti yang telah Dani rencanakan, mereka menuju Jepara untuk honeymoon. Mereka tidak memberitahu anak-anak. Dan saat sudah sampai disana, Salwa menghubungi mereka.


Salwa menangis karena mendapati papah dan ummanya tidak ada di rumah Mbah Nur. Tidak pamit pada mereka juga hal yang membuatnya semakin kesal. Hingga dia meluapkan emosinya dengan menangis.


Disa merasa sangat bersalah karena tidak memberitahu mereka. Dia menangis sedih dan diam terhadap suaminya. Dani malah menjadi pusing dengan hal sepele itu.


"Mas minta maaf kalau bikin kamu marah," ucap Dani berlutut di depan Disa.


Wanita itu menghapus air matanya, "Tolong besok lagi kalau kita pergi kemanapun, ajak anak-anak, Mas. Adik nggak ingin mereka sedih karena keegoisan kita."


Mereka sama-sama terdiam. Dani mengakui ini salahnya. Dia memang tidak ingin Aidha dan Salwa mengganggu acara mereka, makanya ia tidak memberitahu kedua putrinya. Tapi, hal ini justru memancing amarah Disa.


Dani sangat maklum atas hal itu. Disa sangat tulus menyayangi kedua anaknya, itulah yang menyebabkan dirinya marah.


"Iya, besok lagi kita ajak mereka. Maaf membuat kamu marah, sedih, dan menangis." Dani menggenggam tangan Disa dan mengecupnya.


Wanita itu hanya mengangguk dan tidak membalas ucapan Dani. Dia meminta ditinggalkan sendiri di kamar sampai satu jam ke depan. Suaminya menuruti hal itu.


Dani berjalan-jalan sendiri di sekitaran resort. Pemandangan cantik menyalami netranya. Sungguh indah jika dinikmati bersama. Dia duduk di kursi pantai, memesan minum, dan menikmati keindahan itu selama satu jam.


Setelah satu jam, dia segera kembali menemui istrinya. Sungguh di luar dugaan, penampilan Disa sangat menggoda. Hanya menggunakan pakaian minim bahan dan begitu terbuka. Dandanan yang sangat cantik, lipstik yang berwarna merah, dan wangi parfum yang tidak asing di hidung Dani membuat pria itu berpikir bahwa istrinya sudah tidak marah lagi.


"Sudah tidak marah?" tanya Dani sembari menikmati curuk leher istrinya.


"Mmm ..., nggak, Sayang."

__ADS_1


"Mau main sekarang?"


Disa mengangguk. Dani tersenyum bahagia. Menarik tangan istrinya dan menyuruhnya telentang di ranjang. Memulai lagi ibadah dengan pahala besar itu, dengan penuh suka cita dan keikhlasan.


__ADS_2