Pinangan Kedua

Pinangan Kedua
Berkunjung ke Mertua


__ADS_3

Proses hukum kasus yang dialami Salwa mulai bergulir. Dani didatangi oleh KPAI, mereka ingin melihat kondisi korban. Keluarga Mamah Yuli menyambut dengan baik uluran tangan dari pihak ketiga. Saling membantu untuk menyembuhkan mental Salwa.


Akhir pekan tiba. Seperti janjinya, Dani mengajak Salwa dan Aidha berkunjung ke rumah mertuanya. Tidak lupa dia membeli kembang untuk berkunjung ke makam istrinya. Ia yang sudah rapi tidak sabar dengan kedua gadis itu.


Sedari tadi repot memilih baju, hijab, sepatu, dan tas yang cocok. Dari siapa mereka belajar itu semua? Dani berbaring kembali di sofa. Entah berapa lama lagi harus menunggu.


Waktu telah menunjukkan pukul sembilan pagi. Aidha membangunkan papahnya yang tertidur di sofa.


"Ih, Papah malah tidur disini. Jadi pergi, tidak?" tanya Aidha.


Dani membuka mata dan menguap. Merapikan rambut dan bajunya. Dia menuju kamar mandi untuk membasuh wajah sebentar.


"Udah siap?" tanya Dani.


"Sudah, let's go!" Aidha dan Salwa begitu semangat. Mereka berpamitan dengan orang yang ada di rumah.


Dani langsung tancap gas menuju arah Semarang. Suasana jalanan tampak lenggang. Hanya beberapa mobil yang melaju bersama dirinya. Aidha dan Salwa duduk di belakang dan bercengkrama.


Tidak ada kemacetan yang terjadi, membuat perjalanan itu cepat sampai. Aidha dan Salwa langsung disambut oleh kakek dan neneknya. Mereka dihujani ciuman di pipi dan kening. Dani menyalami dan memeluk mertuanya dengan erat. Rindu akan suasana rumah di Semarang.


"Bu, Pak, ini dari mamah. Bapak dan Ibu sehat, kan?" tanya Dani sambil meletakkan buah dan lontong opor di meja makan.


"Alhamdulillah, mamahmu selalu repot. Bilang terima kasih padanya. Aidha, Salwa, mau sarapan? Uti buat nasi goreng, nih." Bu Ana menawarkan kedua cucunya untuk sarapan.


"Nggak Uti, terima kasih. Kami sudah sarapan," teriak Aidha dari ruang tamu. Mereka sedang bersama Pak Tris, akung mereka.


"Kamu sudah sarapan, Dan?" tanya Bu Ana.


"Sudah, Bu. Tidak usah repot-repot. Bapak masih suka koleksi batu akik?"


"Ya begitulah bapakmu, kalian mau nyekar ke makam Inaya?"


Dani mengangguk. Bu Ana bertanya tentang perubahan sikap Aidha. Terakhir kali mereka bertemu, si sulung masih sangat dingin dengan adiknya. Berbeda dengan saat ini.

__ADS_1


Dani menceritakan semua peristiwa yang ada. Termasuk kejadian mengenaskan yang dialami Salwa. Bu Ana sampai menangis membayangkan nasib cucunya.


"Kalau ada apa-apa, Ibu dan bapak dikabari, Dan."


"Nggih, Bu. Kemarin Dani sudah sangat panik hingga lupa memberi kabar. Alhamdulillah sekarang Salwa sudah mendingan. Sudah hampir siang, ke makam dulu yuk, Bu?" Dani mengajak mertuanya ikut ke makam istrinya.


Mereka semua bersiap. Salwa paling heboh saat akan ke makam ibunya. Sangat gembira bisa mengunjungi rumah ibu mereka. Dani mengabadikan momen dimana kedua putri dan mertuanya sedang membersihkan makam istrinya dengan suka cita.


Aidha dan Salwa menaburkan bunga di atas pusara itu. Tidak lupa air mawar juga disiramkan di atas tanahnya. Dani memimpin do'a yang ditujukan untuk almarhum istrinya. Setelah selesai mereka kembali.


Salwa menceritakan pada akung dan utinya bahwa sering bertemu dengan Inaya di mimpi. Hingga Aidha cemberut karena tidak ditemui oleh ibunya. Dani beramah tamah sebentar di rumah tetangga mereka. Aidha dan Salwa memilih bermain ponsel.


Dani duduk dan melihat koleksi batu akik milik mertuanya. Bersenda gurau layaknya seorang anak dan ayah.


"Aidha dan Salwa cerita, katanya kamu sedang jatuh cinta lagi? Benar, Dan?" tanya Pak Tris.


"Ha? Oh itu ...,"


"Menikahlah lagi jika memang kamu cocok sama dia. Yang penting wanita itu sayang sama anak-anak. Siapa namanya?" tanya Bu Ana.


"Disa, Bu. Dia guru ngaji mereka. Guru Salwa di sekolah. Dani dulu mikirnya ya begitu, nggak mau nikah lagi. Tapi kok sama yang ini beda." Dani menerangkan situasinya dengan malu-malu.


"Sudah kamu lamar belum, Dan?" tanya Pak Tris lagi.


"Belum, Pak. Dani keduluan sama orang lain," ucap Dani berterus terang.


"Halah, belum sampai janur kuning. Besok Bapak lamarkan buat kamu."


Dani tertawa mendengarnya. Mertuanya sangat sayang dengan dia. Sudah menganggap anak kandung sendiri. Mereka tidak masalah jika pria itu ingin menikah lagi. Itu haknya, ia juga butuh teman berbagi.


"Kenalkan pada kami, Dan. Ajak dia kesini," perintah Bu Ana.


"Nggih, Bu. InsyaAllah."

__ADS_1


Salwa dan Aidha sudah mendengar adzan. Mereka bergegas berwudhu. Pak Tris menoleh ke Dani dan mengacungkan kedua jempolnya. Berhasil mendidik dua anak gadis itu dengan sangat baik dan sesuai tuntunan islam.


Menutup aurat, salat tepat waktu, hormat pada orang tua, saling berbagi kasih sayang, adalah hal yang berhasil Dani tanamkan. Meski itu bukan dia saja yang terlibat. Pak Tris menjadi imam untuk menantu, istri dan juga cucunya.


"Ayo makan dulu," ucap Bu Ana.


"Nggak mau, Uti. Kami mau main ke mall dulu. Itu buat nanti malam aja. Pah, kita pulang dari mall kesini lagi, ya? Akung baru mau bikinkan cincin buat mbak Aidha dan Salwa, nih," rengek Salwa.


"Iya, ayo buruan, mall mau tutup, nih!" jawab Dani.


"Mall tutup jam sepuluh malam, Pah. Uti yakin nggak mau ikut?" tanya Aidha.


"Uti di rumah saja, kaki Uti kalau buat jalan lama sakit, Mbak."


"Ya sudah, kami berangkat ya, Uti, Akung." Mereka menyalami Bu Ana dan Pak Tris.


Aidha berpesan pada Pak Tris agar tidak salah ukuran. Akung terkadang lupa dan tertukar.


"Nggih, Inaya kecil! Sana berangkat, bawakan Akung oleh-oleh yang mengagumkan ya?" kata Pak Tris.


"Siap, Tuan!" Dua gadis itu memberi hormat pada kakeknya.


Mereka menuju sebuah mall yang ada di pusat kota. Berdiskusi untuk mencari makan terlebih dahulu. Aidha mengirim pesan pada seseorang, memberitahukan posisinya di mall itu.


Me : Di Solalilali, mau cari makan siang dulu. Habis itu baru main.


Dani menoleh ke belakang, melihat Aidha tertinggal. Menarik tangan anaknya agar tidak hilang. Si sulung minta dilepaskan, dia bukan anak kecil lagi.


Dani mengalah, dia melepaskan tangan Aidha. Kakak adik itu berjalan berdampingan menuju tempat makan Solalilali. Mereka memesan menu sesuai selera. Salwa memesan agak banyak, membuat papahnya khawatir.


"Emang habis pesan banyak, Sal?" tanya Dani.


"Tenang aja, Pah. Kalau nggak habis bungkus!"

__ADS_1


Tidak lama makanan datang, mereka menikmati makanan itu. Aidha dan Salwa telah selesai makan. Saat orang yang ditunggu tiba, mereka langsung berteriak.


"Umma!" teriak kedua anak itu kompak. Dani langsung menoleh ke arah pandangan dua gadis itu. Jantungnya berdesir hebat melihat wanita anggun berjalan penuh dengan senyum.


__ADS_2