
Disa dan Dani selesai memilih baju dan MUA. Masih banyak yang harus mereka kerjakan. Calon mempelai wanita membuka tasnya dan menyerahkan syarat administratif pendaftaran nikah ke KUA. Sang lelaki membuka dan melihat kelengkapan berkasnya.
Dani tersenyum sendiri saat memeriksa berkas Disa. Memori di otaknya terputar lagi, saat momentum di kantor. Dia dipertemukan lagi dengan wanita itu untuk kedua kalinya dan membaca berkasnya secara teliti.
"Kenapa senyum sendiri sih, Mas? Ada yang lucu?" tanya Disa heran.
Dani menggeleng, "Nggak ..., Mas lagi teringat kejadian di kantor. Kemarin waktu kamu mengumpulkan berkas PPG, aku membacanya secara teliti. Dan hari ini, aku mengulang hal yang sama."
Aidha dan Salwa menggoda mereka. Kompak sekali dua gadis itu dalam membantu papahnya membuat calon umma mereka merona karena malu.
"Ish ..., kalian ini! Sebenarnya tim siapa, sih? Umma atau papah?" tanya Disa.
"Tim Umma, dong ..., tapi lucu kalau papah lagi genit sama Umma. Gemesin!" ucap Salwa.
Semuanya tertawa karena ucapan itu. Haduh ..., sepertinya Salwa dewasa sebelum waktunya karena banyak menonton sinetron bersama Mamah Yuli. Disa tidak tahan digoda oleh mereka, akhirnya dia tertawa.
Dani kembali menyerahkan berkas itu pada Disa. Melajukan mobil ke jalanan. Suasana tampak sepi dan petang. Lampu jalan yang redup membuat keadaan itu remang. Hanya cahaya mobil yang menerangi jalan itu.
Salwa dan Aidha sudah mulai mengantuk, mereka memejamkan matanya. Disa menemani Dani menyetir, sesekali mulutnya mengingatkan calon suaminya agar berhati-hati karena jalannya menurun. Sang duda mengurangi kecepatan mobil agar tidak terjadi selip ban.
Ada sebuah motor jenis trail yang mengganggu jalan Dani. Kendaraan itu menyalip mobil, berjalan ke kanan dan ke kiri. Membuat sang pengendara roda empat sedikit terganggu. Ia membunyikan klakson agar pengendara roda dua itu minggir.
Peringatan dari Dani tidak diindahkan oleh sang pemilik motor. Masih saja mengganggu jalannya mobil. Disa memperingatkan calon suaminya agar mengalah saja.
Mobil Dani hendak menyalip motor, tiba-tiba saja motor itu bergerak ke arah kanan. Disa memejamkan matanya, karena calon suaminya membanting setir ke arah kanan hingga melewati jalur yang berlawanan. Salwa dan Aidha terbangun dari tidur mereka karena goncangan hebat.
Mobil Dani terperosok ke sisi kanan jalanan. Bamper depannya menabrak pohon. Kemacetan bercampur kepanikan menjadi satu. Semua pengendara yang lewat langsung menolong mereka. Beruntungnya tidak ada yang terluka.
Disa mendekap Aidha dan Salwa dengan erat. Mengucap syukur karena mereka masih diberi keselamatan. Salah seorang pengendara memberikan keempatnya minum. Dani sangat yakin pengendara motor itu sengaja ingin mencelakainya.
"Dik ..., kalian nggak papa, kan?" tanya Dani sangat khawatir pada Disa dan kedua anaknya.
__ADS_1
"Alhamdulillah, Mas. Kamu sendiri?" Disa memperhatikan bagian tubuh Dani takut jika ada darah yang keluar.
"Alhamdulillah, Mas juga baik-baik saja. Untung airbag-nya berfungsi dengan maksimal."
Seorang pengendara mobil menelpon ambulance dan polisi. Tidak ada korban jiwa dalam kecelakaan itu. Hanya kemacetan parah di jalur menanjak dan menurun. Setelah polisi dan ambulance datang, semuanya kembali aman.
Dani dimintai keterangan di polsek, sedangkan Disa, Aidha dan Salwa dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Meski tidak ada luka di tubuh mereka, tapi itulah protap yang ada.
Dani menjelaskan secara rinci kejadian yang dialami oleh keluarganya. Menerangkan kronologi hingga sampai terjadi kecelakan itu. Polisi mencatat setiap ucapan yang keluar dari mulutnya.
"Hapal plat nomornya, Pak?" tanya penyidik itu.
Dani menggeleng, "Tidak, Pak."
"Di mobil ada kamera cctv-nya?"
"Aaa ..., ada, Pak. Kenapa saya terlupa akan hal itu?" Dani langsung mengeluarkan ponsel. Menunjukkan pada sang penyidik rekaman dari cctv mobil.
Dani langsung menyusul keluarganya ke rumah sakit. Dia menghentikan seorang driver ojek online. Naik begitu saja dan mengatakan tujuannya. Driver itu bertanya ada urusan apa di polres.
"Saya habis kecelakaan, Pak. Tadi dibantu sama polisi." Dani menerangkan kejadiannya.
"Innalillahi ..., hati-hati kalau bawa kendaraan, Pak. Jalanan disini itu naik turun. Kadang kalau hujan itu licin," terang driver ojek itu.
"Saya kecelakaan karena ada yang sengaja ingin mencelakai kami, Pak. Awalnya kan saya bawa mobil anteng saja, eh ada yang mepet terus sama mobil. Ketika saya mau menyalip malah dia sengaja menghalangi jalan saya, akhirnya banting setir ke kanan dan nabrak pohon." Dani mengulangi lagi ceritanya.
"Innalillahi ..., kok ya ada pengendara begitu, Pak? Semoga Bapak dan keluarga dalam lindungan Allah SWT. Aamiin."
Mereka telah sampai di rumah sakit. Dani langsung memberikan uang sebesar seratus ribu untuk driver itu. Berterima kasih sekali mau mengantarkannya tanpa memesan lebih dulu di aplikasi. Ia bertanya siapa nama pengendara ojek itu, berharap suatu saat dapat membalas kebaikannya.
"Oh, kenalkan nama saya Sigit Nagendra, biasa dipanggil Mas Si, jangan keliru mbak Si ya, Pak? Karena wajah saya itu imut dan mirip perempuan makanya sering dipanggil mbak Si. Ha-ha-ha," terang orang bernama Mas Si.
__ADS_1
"Ha-ha-ha. Saya Muhammad Ardani, kalau ke Demak berhenti di dekat SMA satu Demak, Mas. Rumah saya dekat situ."
"Wah, orang Demak. Boleh saya minta nomor hapenya? Saudara saya ada di Demak. Nanti kapan-kapan saya mampir," ucap Mas Si.
Dani mengangguk dan memberikan nomor ponselnya. Dia segera masuk menuju rumah sakit. Sigit merogoh koceknya karena ada telepon masuk.
"Otewe. Sabar, Maszeh ...," ucap Sigit lalu memutus panggilan itu.
Kembali ke polsek untuk keperluan lain. Saat sampai di kantor anak buahnya memberikan laporan padanya. Ali sudah menunggunya sedari tadi.
"Darimana sih, Si?" tanya Ali.
"Biasa ..., aku tadi tuh sudah sampai kantor. Eh, ada yang mengira aku ojek online. Gegara jaketku warnanya hijau kali ya, dasar marmut belikan barang kok ya yang sama dengan kang ojek. Tapi nggak papa sih, kan dapat tambahan. Ha-ha-ha." Sigit berganti seragam dinasnya.
Duduk di kursi dan berdiskusi dengan Ali mengenai kasus yang baru saja diterimanya. Mereka berdua menyimpulkan bahwa kecelakaan yang dialami Dani adalah hal yang disengaja oleh pengendara sepeda motor itu. Terlebih melihat rekaman video itu.
Sigit menyuruh Ali untuk melacak plat nomor itu. Lalu dia menandatangi beberapa berkas. Setelahnya, ia berganti lagi memakai baju senam. Ali tertawa melihat atasannya. Sudah lama sekali tidak melihat kekonyolan Sigit setelah mereka pindah tugas, dan akhirnya bertemu lagi di Gunung Pati.
"Mau ngapain pakai baju begini?" tanya Ali sembari tertawa.
"Akika mau ikut senam aerobik. Hu-ha! Hu ..., Ha! Yeee ..., ikut yuk, Beb!" Sigit mengatakannya dengan aksen perempuannya.
Ali tertawa terpingkal-pingkal mendengarnya. "Wegah! Masih saja melakoni peranmu, Mbak Si!"
"Aku curiga kasus yang kemarin itu pelakunya adalah instruktur aerobiknya. Makanya aku ikuti terus. Jangan bilang Muti ataupun Zia!"
"Anak buah banyak kok masih saja terjun sendiri!"
"Ih, nggak papa Mas Al ..., biar otot akika kencang!"
Keduanya tertawa bersama. Yang kemarin kangen sama si somplak, nih dia nongol! Bayangkan dia pakai legging tiga perempat dan kaos ketat yang diikat di tangah, yang menghasilkan pusarnya kelihatan. Tidak lupa wig panjang dan sepatu olahraga bergambar sinchan.
__ADS_1