
Polisi menunjukkan buku masuk laporan kejadian ke hadapan Dani. Tertera nama sang pelapor tidak dikenalnya. Saat pria itu bertanya apa hubungan pelapor pada polisi, mereka menjawab itu adalah orang tua Ateng. Suyadi, adalah bapak dari pemuda yang mencoba untuk melakukan perbuatan gila pada Salwa.
Suyadi membuat laporan ke polisi. Melaporkan sendiri anaknya yang bernama Ateng Subadi, atas kasus pelecehan sek sual. Hal itu dikarenakan lelaki berusia 51 tahun itu geram dengan tingkah sang anak. Banyak akibat yang berimbas untuk orang lain. Salah satunya adalah kakaknya sendiri, Kusnadi.
Pak Kus sampai harus kehilangan pekerjaannya karena Ateng. Hanya memberikan sedikit informasi, malah membuat semua kacau. Alasan yang kedua adalah karena istri Suyadi, Suminah, tidak bisa jauh dari anaknya. Setiap hari menangis menanyakan kabar pemuda itu.
Dani dipertemukan dengan Suyadi untuk pertama kalinya. Lelaki berkulit hitam itu meminta maaf karena perbuatan Ateng, semuanya menjadi terluka dan trauma. Berjanji akan menghajar anaknya jika mereka bertemu. Memohon untuk diberikan keringanan dalam hukuman.
"Maaf, Pak, tidak bisa. Semua keputusan nantinya dari para penegak hukum. Bukan saya," ucap Dani.
Suyadi terdiam dan akhirnya mengangguk pasrah. Yang terpenting baginya saat ini adalah membuat istrinya tenang dengan cara bertemu Ateng. Polisi mulai bergerak untuk mencari Ateng. Beberapa foto Ateng dikirim ke jaringan intel. Sebagian lagi ditempel di tempat umum.
"Pak Dani, minta info kontaknya. Agar nanti saat ada perkembangan kasus, kamu bisa menghubungi Anda." Seorang polisi meminta nomor ponsel Dani.
Dani mengangguk dan menuliskan nomornya. Disa datang bersama Rida. Sang duda menjelaskan bahwa wanita itu adalah saksi kejadian.
"Apakah disana hanya Anda seorang yang menolong dik Salwa, Bu?" tanya penyidik.
Disa menggeleng, "Awalnya memang iya, lalu saya menyuruh Salwa lari dan meminta pertolongan warga."
"Dimana kejadiannya itu, Bu?"
"Di sawah, dekat dengan perkampungan Mangunjiwan, Pak," ucap Disa masih mengingat betul kejadian kemarin.
Disa menceritakan setiap runtutan peristiwa mengerikan itu. Tidak tega jika mengingatnya, hingga menyebabkan air matanya mengalir. Dia masih merasa bersalah jika terjadi sesuatu dengan Salwa. Sungguh lembut sekali hati wanita ini.
"Baik, kesaksian Anda cukup membantu. Sudah kami catat sesuai dengan ucapan Anda. Terima kasih atas kerjasamanya, Pak, Bu. Nanti, jika ada perkembangan akan kami beri info. Kami juga akan memanggil warga sebagai saksi lain dalam kasus ini." Polisi itu menjabat tangan Dani dan segera menghadap kepada atasannya.
Seorang lelaki dengan tubuh gagah sedang duduk di kursinya. Tangan itu lincah sekali menari di atas keyboard laptop. Ada yang mengetuk pintu, membuat dia menghentikan aktivitasnya. Tertulis nama Zafran Putra W, di baju yang dipakai.
Menjabat sebagai kepala satuan reserse dan kriminal di kota Demak. Masih ingat dengan intel yang mengejar-ngejar bu camat Zoya? Sedikit mengobati kerinduan dengan si kembar empat. Yang belum baca kuy kepoin.
"Lapor, Ndan!" Polisi itu memberi hormat pada Zafran.
__ADS_1
"Duduk, Dit." Zafran mempersilahkan Dito duduk.
"Ada laporan masuk tentang kasus mengarah pedofil, Ndan. Pelakunya bernama Ateng, usia sekitar 26 tahun, tidak memiliki pekerjaan, tamatan SMK jurusan otomotif, asal Demak, pelapor adalah orang tua tersangka dan korban." Dito membacakan hasil laporan itu.
Zafran menutup laptopnya. Menyuruh Dito untuk mengulangi lagi laporan yang baru saja diucapkan. Membuat mata lelaki itu langsung membelalak. Begitulah sang komandan, dari dulu memang suka jahil. Sama istri sendiri saja usil, apalagi sama anak buah.
"Saya tadi hanya nyuruh kamu duduk lho, Dit. Bukan membacakan laporan kasus. Kenapa? Kok kaget begitu?"
Dito hanya tersenyum menahan kesal. Bukan sekali dia terkena keusilan Zafran. Akhirnya ia memilih diam. Lelaki itu harus paham dengan intruksi yang dibicarakan komandannya.
"Lha kok diam, Dit? Ayo bacakan laporannya," ucap Zafran tegas.
"Siap! Tadi perintahnya belum ada untuk membacakan laporan, Ndan!"
"Oh, iya juga. Cerdas kamu. Besok naik pangkat!" kata Zafran.
"Siap! Jadi apa, Ndan?"
"Jadi suami lah, emang kamu mau jadi apa?"
"Ha-ha-ha, tanganmu wes pengen jotos aku yo, Dit? Lambemu pengen misuh?" tanya Zafran dalam bahasa jawa. (Ha-ha-ha, tanganmu sudah ingin meninju aku ya, Dit? Mulutmu ingin mencaci?)
"Siap! Tidak, Ndan! Saya ingin mencaci diri saya sendiri karena tidak laku-laku!" Dito menjatuhkan harga dirinya agar komandannya puas.
"Bacakan kasusnya, jangan terlalu panjang. Cukup poin pentingnya saja," ucap Zafran dengan mimik serius.
"Ateng Subadi yang seorang pengangguran berusia 26 tahun diduga melakukan kasus pedofil. Korban seorang anak SD berusia 7 tahun. Saksi guru bernama Disa Nur Izzah dan warga di sekitar TKP. Laporan selesai." Dito merangkai hasil ketikannya dengan kata yang mudah dipahami.
"Sudah kamu sebar foto tersangka, Dit?"
"Siap! Sudah, Ndan."
"Oke, lakukan pelacakan. Datangi tempat-tempat yang jarang dipikirkan orang untuk bersembunyi dan juga keramaian. Pondok, bengkel, pom bensin, terminal, pasar. Dekati para anak jalanan, ajak kerjasama. Lanjutkan!"
__ADS_1
Dito berdiri dan memberi hormat, "Lanjutkan!"
Zafran mengangguk dan mempersilahkannya bekerja kembali.
***
Disa mampir ke rumah Dani untuk melihat kondisi Salwa. Namun, dia terkejut akan keberadaan emaknya disana bersama Riski. Sama halnya, Dani juga kaget mendapati Mak Nur sedang bercengkrama hangat bersama mamahnya.
Mak Nur hanya tidak suka pada Dani, bukan pada keluarganya. Buktinya, emak masih mau menjenguk Salwa. Itulah satu hal yang dapat disimpulkan sang duda. Dia langsung menyalami dengan penuh takdzim kedua wanita paruh baya itu.
"Ki, emak nggak ngomong aneh-aneh ke bu Yuli, kan?" tanya Disa berbisik.
"Aneh gimana, Mbak?" Riski tidak paham maksud kakanya.
"Ya, yang macem-macem, misal menjelekkan pak Dani gitu," ucap Disa sangat hati-hati.
"Cie ..., peduli banget sama bapak itu." Riski terkena cubitan maut dari Disa.
Disa menemani Salwa, menyuapkan makanan, dan menemaninya bermain sebentar. Hingga Mak Nur mengajaknya untuk pulang. Salwa mulai merengek tidak mau ditinggal lagi. Sita dan Aidha membujuk agar dia tetap tenang.
Dani meminta tolong pada Disa agar saat jadwal kontrol Salwa, dia meluangkan waktu menemaninya. Wanita itu mengangguk dan tersenyum. Mak Nur yang melihat hal itu langsung datang dan membuat mereka canggung. Disa pamit pulang terlebih dahulu.
"Nak Dani, alhamdulillah Disa kemarin dipinang oleh ustaz Aji." Mak Nur sengaja memberitahu Dani tentang hal itu lagi.
Dani tersenyum lucu melihat sikap Mak Nur yang mencoba memisahkannya dengan Disa.
"Tapi belum diterima kan, Mak?" tanya Dani.
"Belum, Disa meminta waktu dua minggu untuk memikirkannya. Jadi, Mak minta tolong sama kamu, jangan mengganggunya dulu."
Hati Dani sedikit terluka dan pedih mendengar permintaan Mak Nur. Apakah dia mengganggu Disa? Sepertinya tidak. Dia menarik napas dan menghembuskannya perlahan.
"Mak, saya tidak akan mengejar sesuatu yang telah dimiliki oleh orang lain. Karena prinsip saya hanya satu, semua yang telah digariskan pada saya, akan datang dengan sendirinya. Pulangnya, hati-hati, Mak. Maaf saya tinggal dulu karena masih ada urusan. Assalamu'alaikum." Dani menyalami Mak Nur dengan takdzim.
__ADS_1
***
Ada perubahan jam update ya, gaes. Aku akan up malam selama bulan ramadhan.