
Sita dan Reza semakin sibuk dengan persiapan pernikahan mereka. Hari pernikahan semakin dekat. Semua rencana rangkaian acara sudah disusun, dan akan segera dilakukan gladi kotor.
Rapat terbatas dari pihak WO dan keluarga akan digelar malam ini. Semua sangat antusias dengan acara itu. Sang calon mempelai wanita dan laki-laki nampak memesona meskipun hanya dalam balutan baju sehari-hari.
Namun, ada satu masalah yang menghadang. Baju untuk acara akad belum juga jadi. Penjahit mereka bilang agar tenang saja. Pasti akan jadi sebelum hari H. Sita sudah sangat khawatir akan hal itu. Setiap hari dia bertanya pada Reza.
"Sabar to, Yang. Pasti jadi, sudah tidak usah khawatir." Reza mencoba menenangkan calon istrinya.
"Coba saja kemarin kita ambil tawaran WO, Mas. Baju pengantin sekalian mereka yang pegang, pasti ini sudah jadi." Sita menyesalkan hal yang telah berlalu.
Reza memutar bola matanya malas mendengar ucapan Sita. "Sudah tidak usah disesalkan. Tenang aja, Ta."
"Kamu mah enak, tenang-tenang, bajumu sudah jadi. Nah punyaku? Harusnya yang dikerjakan milik aku dulu, kok malah punyamu yang sudah jadi. Hish ..., jengkel aku sama penjahitnya." Sita masih terus saja tidak tenang.
"Terus aku harus ngomong bagaimana biar kamu tenang, Ta? Kamu pikir aku nggak bingung? Kamu maunya apa sih? Tenang saja dulu! Penjahitnya sudah menyanggupi itu artinya dia sudah terima tanggung jawab itu, Ta!" Reza menaikkan intonasi suaranya.
Sita merasa hatinya perih karena bentakan itu. Dia langsung mengambil ponsel dan meninggalkan Reza sendirian di teras rumah. Melewati Arsya yang hendak ikut mengobrol.
"Kenapa tuh Sita?" tanya Arsya.
"Nggak tahu, kebelet kali," jawab Rida asal.
Sita langsung masuk ke kamarnya tanpa memedulikan semua pandangan heran dan bingung dari orang rumah. Hatinya sangat sesak memikirkan baju itu, Reza malah menambahnya dengan bentakan. Sedangkan di teras, lelaki itu menyesali ucapannya. Dia sadar telah salah membentak calon istrinya.
Arsya bertanya pada Reza ada apa dengan Sita. Lalu lelaki itu menjelaskan duduk permasalahannya. Calon iparnya hanya bisa memberinya nasihat agar mengalah. Menyuruh segera minta maaf pada sang calon istri.
__ADS_1
"Aku balik dulu deh, Sya. Biar dia tenang dulu," ucap Reza lalu beranjak pergi.
Arsya geleng kepala menyaksikan keduanya. "Memang benar kata orang zaman dulu, dipingit biar meminimalisir pertengkaran."
Dua hari sejak pertengkaran itu, tidak ada lagi yang datang meminta maaf terlebih dahulu. Baik Reza dan Sita malas untuk melakukan komunikasi. Hingga Dani mendengar cerita dari Arsya dan harus turun tangan menyelesaikan masalah keduanya.
Dani menasihati adiknya agar meminta maaf terlebih dahulu. Memberikan alternatif jika sampai baju akadnya belum jadi saat hari H, terpaksa menyewa baju dari sanggar rias. Yang terpenting bukan bajunya, tapi ijab qobul yang diucapkan mempelai lelaki.
"Minta maaf, nggak usah gengsi. Mbak Aidha, temani tante minta maaf ke om Reza. Bawakan martabak manis yang tadi Papah beli." Dani menyuruh si sulung untuk mengantar Sita pergi menemui Reza.
Sita menghela napas, dia harus bisa mengalah. Ia dan keponakannya berjalan menuju rumah Reza. Berharap sang pria afa di rumah dan mau menerima maafnya. Ada sebuah mobil terparkir di depan gerbang, membuat Sita dan Aidha susah untuk lewat.
Pintu rumah Reza terbuka. Sayup terdengar ada dua insan yang sedang berbicara. Suara seorang wanita dan laki-laki. Sita mempercepat langkahnya sampai ke depan pintu. Saat akan mengucapkan salam, matanya melihat Reza sedang berpelukan dengan perempuan itu.
Apa maksud wanita itu? Malam? Kapan? Ada apa? Pertanyaan di benak Sita langsung bermunculan. Pikirannya sudah membayangkan hal yang tidak mungkin terjadi.
Dunia Sita langsung runtuh seketika. Martabak manis yang sedari tadi dipegangnya langsung jatuh ke lantai. Membuat dua insan yang ada di dalam rumah itu menoleh. Reza menyuruh Sita agar tidak salah paham.
Aidha yang melihat kejadian itu tidak bisa berkomentar apapun. Tantenya sudah menangis tanpa suara. Pasti sangat sakit melihat orang yang dia cinta malah berdua dengan wanita lain. Tanpa ia duga, adik papahnya mengatakan hal yang sangat fatal pada Reza.
"Batalkan saja pernikahan ini, assalamu'alaikum." Sita berlari dengan cepat meninggalkan rumah Reza. Aidha memanggil namanya, tapi dia tidak peduli.
Reza menyuruh wanita itu pulang. Menjelaskan bahwa dia tidak mencintainya. Hanya satu perempuan yang selalu mengisi hati lelaki itu, dan itu adalah Sita. Bukan wanita lain.
Dani menghampiri Reza yang sedang bersama dengan wanita itu. Ah, dia mengenalnya. Dulu Reza sempat bercerita bahwa ada satu wanita yang mencoba dekat dengan dia, tapi tidak pernah ditanggapi. Isna, teman sekantor Dani, tapi sekarang sudah di mutasi.
__ADS_1
"Isna? Jadi ..., ini yang membuat Sita menangis?" tanya Dani.
"Mas, aku bisa jelaskan. Is, lelaki yang bersama kamu malam dulu bukan aku! Dia adalah mantan kamu! Dia meminta jaketku agar kamu yang sedang dalam keadaan mabuk menganggapnya adalah aku!" Reza membeberkan semua hal yang dia simpan rapi.
"Bohong! Kamu bohong, Za! Aku ingat itu adalah kamu!" Isna tetap saja mengelak.
Dani yang tidak tahu apa-apa, sangsi akan ucapan Reza. Akhirnya dia memilih pergi dan menyuruh keduanya untuk membereskan terlebih dahulu masalah yang ada.
Sita menangis dalam pelukan Disa. Masih terngiang ucapan perempuan itu. Pelukannya pada calon suaminya, membuatnya hancur.
"Ta, minum dulu. Tenang ..., belum tentu yang kamu lihat dan dengar adalah hal yang sebenarnya. Kita beri kesempatan untuk Reza bicara." Disa mencoba membujuk adik iparnya yang sedari tadi ingin menelpon orang tua Reza.
Sita ingin membatalkan acara pernikahannya. Disa mencegahnya, takut jika nanti adik iparnya akan menyesal karena mengambil keputusan dalam keadaan marah. Mamah Yuli ikut prihatin atas masalah anaknya. Ada saja kejadian yang menimpa mereka.
Dani menyuruh mamahnya tenang. Tidak usah ikut campur urusan kedua calon pengantin itu. Mereka butuh waktu untuk duduk berdua dengan hati yang tenang dan kepala dingin. Setelah hampir dua jam, akhirnya Sita bisa tenang dan tertidur. Disa mengambil ponselnya agar dia tidak macam-macam untuk menelpon calon mertuanya.
Aidha dan Salwa bertugas menemani tante mereka. Rida dan Arsya yang baru mendengar kabar dari Dani ikut emosi. Ingin rasanya menghampiri Reza dan bertanya yang sebenarnya terjadi.
"Cobaan orang yang mau menikah ada saja ya, Mas? Kasihan Sita." Disa bergelayut manja pada lengan suaminya.
"Iya, Mas juga prihatin. Perempuan yang ada di rumah Reza itu adalah Isna. Dulu, dia sempat cerita pernah didekati wanita, tapi tidak pernah ditanggapi. Entah ada apa malam itu, esok harinya Isna langsung dimutasi." Dani menceritakan sedikit cerita tentang Reza dan Isna.
"Kok tiba-tiba dimutasi? Memang kamu tidak tahu apa penyebabnya?" tanya Disa penasaran.
"Tidak, do'akan saja semoga cepat membaik. Waktu kurang sepuluh hari lagi kok ada saja yang menghadang mereka." Dani menarik selimut dan mulai memejamkan mata. Disa juga melakukan hal yang serupa. Melupakan sejenak masalah Sita.
__ADS_1