
Langkah Disa langsung berhenti. Kakinya seperti ditanam dalam semen yang masih basah. Berat untuk melangkah. Permintaan Dani begitu ringan bagi sebagian orang. Tapi bukan untuknya.
Hatinya kini tidak karuan adanya. Perasaan yang baru ia rasakan untuk pertama kali. Tangannya mendadak dingin. Dia bingung harus memberi jawaban apa.
Dani melipat bibirnya ke arah dalam. Memejamkan mata dan bersiap menerima jawaban terpahit dari Disa. Hari ini dia memberanikan diri untuk meminta nomor ponsel wanita berhijab itu. Sebenarnya dia bisa saja minta pada Sita. Tapi dia tidak mau, seperti kurang usaha saja.
"Mmm ..., untuk ..., apa, Pak?" tanya Disa ragu.
Sungguh, Disa ingin merutuki dirinya sendiri karena melontarkan pertanyaan bodoh. Harusnya dia langsung saja menjawabnya. Bukan malah bertanya seperti itu. Kini dia harus menunggu jawaban dari Dani.
"Ya ..., saya kan ingin tahu tentang kesayangan saya ...," ucap Dani penuh makna ambigu. Disa mendongak karena bingung dengan jawaban Dani.
"Maksudnya gini, saya kan orang tuanya Aidha dan Salwa. Ingin tahu perkembangan belajar mengaji anak saya. Tolong saat mereka hafalan, didokumentasikan dan dikirim ke saya." Dani mengusap buliran keringat di dahi.
Dia yakin alasannya sangat kuat. Berharap akan berhasil menjalankan misinya. Waktu serasa berhenti. Degup jantung keduanya bertalu kencang.
"Ada ..., pulpen dan kertas?" jawab Disa sambil tertunduk. Menyembunyikan paras ayu yang sedang merah merona.
Dani ingin sekali berteriak karena senang. Berhasil! Misi pertama sukses! Jalinan komunikasi akan lebih mudah menggunakan benda elektronik super canggih itu. Dani langsung mengeluarkan ponselnya dari saku baju sebelah kiri.
"Save disini saja," ucap Dani menunjuk dadanya. Membuat Disa mengernyit tidak paham maksud Dani.
"Eh, salah! Di hape saya maksudnya. He-he-he." Dani menyerahkan ponselnya pada Disa.
Disa segera memberikan nomor ponselnya. Setelah itu dia pamit karena harus mengajar. Jam pulang masih lama, jadi dia memutuskan untuk menelepon pak Kus untuk menjemput Salwa nanti. Dani kembali ke kantor dengan perasaan riang gembira.
Aura positif menyebar ke seluruh penjuru kantor. Reza yang saat itu sedang mengobrol dengan bu Mar sudah sangat ingin menggodanya. Dani duduk tersenyum melihat ponselnya.
"Mana oleh-oleh untuk kami, Mas Dan?" tanya Reza.
__ADS_1
Dani menepuk jidatnya. Dia lupa membawakan mereka camilan. Biasanya, kalau dia pergi keluar pulangnya akan membawa buah tangan. Disa benar-benar sukses membuatnya lupa kebiasaan itu.
"Tenang aja, Za. Kita tunggu oleh-oleh yang lebih spektakuler!" ucap bu Mar.
"Apa, Bu?" tanya Reza lagi.
"Calon bojo dong, Za! Gimana sih kamu?"
"Ah iya, Bu. Lupa saya!" Reza dan Bu Mar cekikikan sendiri.
Dani menghampiri Reza dan mencubit lengan sahabat lelakinya itu. Gencar sekali dia menggoda Dani. Hingga membuat wajah Dani bagaikan kepiting rebus. Semua merasa bahagia karena duda anak dua itu akhirnya bisa merasakan jatuh cinta lagi.
Reza terus saja menggodanya dengan tema si duda puber kedua. Dani pasrah karena teman sekantor meledeknya. Hanya bisa mengamini do'a yang terucap dari mulut semua temannya. Bahagianya jika selalu dikelilingi oleh orang baik.
Jam makan siang menjelang, Reza dan Dani sepakat untuk makan bakso di depan kantor. Bakso mercon, memberikan sensasi pedas di mulut karena sambalnya yang sangat banyak. Ternyata mereka bertemu dengan Disa dan Sita.
"Kalau jodoh memang nggak kemana! Pas banget kita ketemu mereka disini, Mas!" Reza begitu bersemangat mengatakannya.
Reza tertawa mendengar sahabatnya mengucapkan itu. Mereka duduk di depan Disa dan Sita. Terlihat seperti pasangan yang sedang mengadakan kencan. Disa dan Sita sampai terkejut mendapati kedatangan dua pria jomblo itu.
"Assalamu'alaikum adikku yang manis ..., kenapa makan disini nggak ngajak kakakmu yang ganteng ini?" tanya Dani menggeram.
"He-he-he. Lha ini kamu nyusulin kesini sendiri!" jawab Sita.
"Ehm ..., emang aku masih nggak kelihatan ya, Ta?" tanya Reza sedih.
Disa hanya menahan senyumannya. Dani yang duduk tepat di kursi depan terhipnotis oleh senyuman itu. Berani sekali dia sekarang, curi pandang pada Disa. Sita membesarkan bola matanya ke arah Dani.
Dani memesan dua porsi bakso mercon. Sita menyuruh Dani dan Reza pindah ke tempat lain. Tapi mereka enggan melakukannya. Alasannya sepele, kalau hanya berdua tidak ramai.
__ADS_1
"Ta, besok ada acara nggak? Bisa ikut aku?" tanya Reza sambil mengaduk es teh yang baru saja tersaji.
"Kemana?" tanya Sita.
"Ketemu mami dan papi," jawab Reza lugas.
Sita langsung tersedak kuah pedas dari bakso. Tenggorokannya terasa panas. Disa menyodorkan minuman untuk Sita. Es jeruk itu langsung habis untuk menetralisir rasa yang membakar organ saluran makan. Dani hanya tertawa melihat respon adik perempuannya.
Pesanan Dani datang, dia sudah tidak sabar menyantap makanan itu. Reza kembali bertanya jawaban Sita. Disa memberikan nasihat agar dia bertemu dengan orang tua lelaki yang sangat mencintainya.
"Apalagi yang membuat kamu ragu? Kamu sudah mengenalnya hampir tujuh tahun. Jalinan komunikasi kamu dengan orang tua mas Reza sangat bagus. Apa kamu sudah meminta walimu untuk membantu memilih jodoh?" tanya Disa.
Sita ingin sekali lari dari warung bakso itu. Kenapa Disa malah membeberkan semua cerita rahasia itu di hadapan Dani dan Reza. Seakan tahu isi kepala Sita, Disa meminta maaf.
"Maaf, Ta. Mbak udah nggak tahan sama kamu. Jangan disembunyikan lagi rasa yang tumbuh di hatimu. Mas Reza juga tersiksa atas kepergianmu. Caramu menyelesaikan masalah kurang dewasa, Sayang. Sekarang ada orangnya di hadapan kamu, ada wali kamu juga. Ungkapkan apa yang selama ini kamu ingin sampaikan, Ta." Disa menggenggam tanga Sita mencoba meyakinkan.
Dani berdahem untuk menetralisir keadaan. Sungguh, dia terlalu kagum dengan Disa. Caranya memberikan nasihat tegas dan penuh penekanan. Selalu melibatkan ajaran islam saat menyampaikan. Pantas saja Aidha bisa luluh dengannya.
"Mas setuju sama Disa, eh, maksudnya ustazah. Kalau kamu meminta dicarikan jodoh, Reza adalah orang yang akan menjadi kandidat pertama untukmu. Orang tua dia sayang sama kamu, dan begitu sebaliknya. InsyaAllah, kamu akan mendapat ridho dalam rumah tangga nantinya. Apalagi yang membuatmu ragu?"
Sita menatap mata Dani dan Disa secara bergantian. Lalu dia menangis haru. Disa menenangkan dengan cara memeluk. Setelah agak tenang, Sita tersenyum ke arah Reza.
"Boleh aku ajak mbak Disa untuk ikut?" tanya Sita.
Dani langsung membelalakkan matanya. Takut jika Reza berubah pikiran. Bukan ingin melamar Sita tapi keliru Disa.
"Sama Arsya dan Rida. Mas yang akan mengutus mereka menemanimu. Kalau Disa kan bukan apa-apamu, Ta. Maaf ya, Ust." Dani mencegah niatan Sita.
Disa tertunduk kembali ketika mata Dani mencoba bertatapan dengannya. "Tidak apa-apa, Pak."
__ADS_1
"Ralat! Belum jadi apa-apa kali, Mas. Sita sih pengennya mbak Disa jadi seseorang gitu dalam hidup keluarga kita," ucap Sita menggoda kedua anak manusia itu.
"Sita!" geram Disa dan Dani bersamaan.