
"Astaghfirullah, hish! Mbok Yem! Jadi kaget saya!" Dani terkejut setengah mati mengira suara mbok Yem adalah Disa.
Mbok Yem tertawa kecil dan melihat Disa yang sedang bercanda dengan anak-anak. Dengan berani mbok Yem menggoda majikannya itu.
"Cantik, pintar, hafal qur'an lagi. Sayangnya kok belum ada yang melamar. Bapak nggak mau coba gitu, Pak?" goda Mbok Yem.
Dani berdecak sebal. Heran kenapa mbok Yem seakan bisa membaca pikirannya. Mamah Yuli pulang dari pasar membawa beberapa buah durian. Melihat ART dan anaknya sedang bercakap serius membuatnya penasaran. Dia mencoba menguping pembicaraan itu dan menangkap sedikit intinya.
Mamah Yuli merasa ada yang aneh pada anaknya. Dani seperti orang yang sedang menyembunyikan rasa kekagumannya pada seseorang. Dengan samar ia mendengar perkataan Dani yang memuji bahwa Disa memang pintar, cantik, dan bisa momong anak. Bukan karena dia guru atau seorang ustadzah, lebih pada sisi keibuannya yang terpancar.
Mungkinkah Dani jatuh cinta lagi? Batin Mamah Yuli.
Dia menepis sendiri suara batinnya. Takut berharap lebih pada Dani. Tidak mau lagi mencampuri perasaan anaknya itu. Mamah Yuli masuk ke rumah dan mengucapkan salam. Semuanya menjawab salam itu.
Hidung Disa menangkap bau yang sangat tidak dia suka. Durian! Ia tidak bisa mencium bau menyengat yang dihasilkan dari buah itu. Dia langsung berlari ke kamar mandi dan muntah. Dani menjadi orang pertama yang panik melihat Disa terburu-buru menuju kamar mandi.
"Kenapa?" tanya Dani dari luar kamar mandi.
"Hoek ..., saya tidak tahan dengan bau durian." Disa masih mencoba untuk mengeluarkan isi perutnya.
Dengan gesit Dani membawa durian itu ke halaman belakang agar baunya tidak menyebar ke ruangan. Menyuruh mbok Yem untuk menyemprot ruangan dengan pengharum. Mamah Yuli dan Aidha melipat tangannya di depan dada. Memerhatikan gerak-gerik Dani yang sangat khawatir.
Setelah bau durian menghilang, Dani memberitahu Disa agar keluar dari kamar mandi. Disa keluar dengan wajah lemas, kepalanya kini pusing. Dia berjalan dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Dani berada di belakangnya, siap menjadi tumpuan jika saja Disa terjatuh.
Empat pasang mata memerhatikan mereka berdua. Membuat Disa keheranan. Dani berpura-pura untuk tidak melihat mereka.
"Maaf, Bu. Saya tidak tahan dengan bau durian," terang Disa mencoba memahami tatapan mereka.
"Ah, maaf ya Ust, saya tidak tahu kalau U-ust tidak tahan bau durian." Mamah Yuli mencoba tersenyum.
Aidha menarik lengan neneknya, "Ada yang aneh sama papah," bisiknya.
__ADS_1
Salwa mengambilkan minuman untuk Disa. Mamah Yuli dan Aidha sampai lupa apa yang harus mereka lakukan, pertolongan pertama untuk Disa. Setelah membaik, Disa pamit pulang. Mamah Yuli menyuruh Dani untuk mengantarkannya, tapi Disa menolak.
Disa tidak ingin merepotkan Dani. Salwa memiliki ide, dia akan ikut dengan Disa. Jika terjadi apa-apa maka dia akan menghubungi Dani. Aidha protes ingin ikut juga. Mamah Yuli menyuruh Dani mengikuti mereka dari belakang.
Jadilah dua anak itu ikut dengan Disa. Mereka ingin menginap di rumahnya. Dani menggunakan motor dan memboncengkan Aidha.
"Kenapa bukan Salwa aja sih yang dibonceng Papah?" protes Aidha.
"Ya karena Salwa lebih ringan dari kamu, Mbak. Kan kasihan ustadzah kalau kamu yang bonceng, pasti sempoyongan lah!" jawab Dani realistis.
"Jadi maksud Papah, Aidha gendut gitu?" tanya Aidha kesal.
Dani malah tertawa mendengar pertanyaan anaknya. Benar ucapan orang, jangan pernah menyinggung tentang umur dan berat badan pada seorang wanita. Karena mereka sensitif dengan dua hal itu.
Sedangkan Salwa sangat senang dan sesekali tertawa bersama Disa. Dani tersenyum melihat keakraban anaknya dengan wanita selain dari keluarganya. Setelah menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit, Disa sampai di rumahnya.
Dani berpesan pada kedua anaknya agar tidak merepotkan Disa. Dia akan menjemput mereka pada hari minggu. Disa menyuruhnya untuk mampir karena hampir maghrib, tapi Dani menolak. Dia tidak enak pada tetangga Disa.
Tangannya berkeringat dingin. Persis seperti orang yang sedang nervous menghadapi sesuatu. Disa hanya mengangguk sebagai jawaban atas ucapan Dani.
***
Dani pamit dan kembali ke rumahnya. Dia salat di masjid pinggir jalan. Berkunjung ke rumah adiknya sebentar. Rida dan Arsya senang atas kedatangan kakaknya. Tapi, biasanya pasti akan ada cerita dibalik kedatangan Dani. Seperti sebelumnya, saat Dani coba dijodohkan dengan wanita kenalan mamahnya.
"Ada apa, Mas?" tanya Rida setelah berhasil menidurkan Andra.
Dani tersenyum kecut saat niatnya berkunjung tercium oleh Rida.
"Ha-ha-ha, nggak ada apa-apa kok! Mas kesini cuma mampir!" jelas Dani berbohong.
"Kebohongan sekecil apapun tidak akan bisa kamu umpetin dari aku dan mamah, Mas! Baunya pasti kecium!" bantah Rida.
__ADS_1
Dani tertawa, "Mas semprot pake stella biar wangi. Satu indomei dan alfimart Mas borong!"
"Pantesan aku cari pengharum ruangan habis semua! Ternyata kamu yang menghabiskan stoknya? Biar kebohonganmu tetap wangi? Tidak semudah itu, Ferguso!" Mereka tertawa bersama-sama.
"Da," panggil Dani sambil memainkan jempol tangannya. Rida sangat tahu bahwa kakaknya ingin bercerita.
"Hmm?" jawab Rida.
"Kayaknya ..., ada yang aneh sama diri Mas. Sudah lama sekali sejak mbakmu meninggal. Rasa di hati Mas seakan sudah mati untuk perempuan lain. Tapi, hampir satu minggu ini ada yang berhasil membuat rasa itu menjalar di seluruh tubuhku, Da."
Rida mendengarkannya dengan hati senang. Ternyata kakaknya masih memiliki rasa cinta untuk wanita. Sudah lama sekali Dani tidak bercerita tentang dirinya seperti itu. Rida penasaran, siapakah sosok wanita yang berhasil menggetarkan hati lelaki itu?
Rida sangat ingin mengenalnya, bersahabat dengan wanita itu. Ingin menumpahkan harapan untuk kehidupan keluarga kakaknya. Ia ikut senang akhirnya sosok itu datang dalam hidup Dani. Memberi warna yang baru padanya.
"Tapi, Mas takut," ucap Dani dengan mata penuh sorot kekhawatiran.
"Takut kenapa? Dia orang mana? Rida kenal, Mas? Cantik nggak? Kerjanya apa? Rida kira Mas Dani udah nggak suka sama perempuan!"
"Ck! Satu-satu kek Da tanyanya. Kamu kenal, tapi Mas mau pastikan dulu sesuatu ini. Memang kekal atau hanya sesaat? Mas takut tentang Aidha. Bagaimana kalau dia tidak setuju jika rasaku ini benar-benar nyata dan semakin tumbuh besar?" ucap Dani.
Rida berpikir keras siapa wanita yang dimaksud, "Rida kenal? Siapa, sih? Soal itu, coba diberikan pengertian baik-baik ke Aidha, Mas. Mereka juga sebenarnya butuh sosok seorang ibu, pengganti mbak Inaya. Ih, kasih tahu dong siapa orangnya?"
Dani tertawa senang melihat wajah adiknya yang penasaran. Dia tetap tidak mau menyebutkan nama wanita itu. Takut jika mulut adiknya ember dan menyebar sebelum ia memastikan perasaannya. Dani pamit pulang, membuat Rida kesal karena masih penasaran dengan sosok wanita itu.
Saat tiba di rumah, mamah Yuli yang tengah bersantai ingin berbicara pada Dani.
"Dan, Mamah mau tanya sesuatu sama kamu," ucap Mamah Yuli.
Jantung Dani menjadi berdebar tidak karuan.
***
__ADS_1