
Mamah Yuli dan yang lain diam mendengarkan cerita Dani. Mereka mencoba memahami perasaan mak Nur. Ya, mamah Yuli paham kemana arah pembicaraan ibunya Disa. Dia hanya ingin yang terbaik untuk putri semata wayangnya.
Dani mengakhiri percakapan pagi itu. Mereka sarapan dengan tenang. Ada rasa bahagia berselimut mega kekhawatiran. Mamah Yuli minta diantarkan ke depan gerbang kompleks karena rombongan sudah menunggu disana.
"Dan," panggil mamah Yuli.
"Ya, Mah," jawab Dani.
Mamah Yuli turun terlebih dahulu dari motor. "Perjuangkan perasaanmu. Dekati Disa disepertiga malam. Minta sama Allah, semoga hati mak Nur dilembutkan dan bisa menerima kekuranganmu, Dan."
Dani tersenyum haru. Dia menyalami mamahnya dengan takdzim. Memohon do'a restu agar bisa mencapai tujuannya.
***
Disa mengabarkan pada sekolah bahwa dia izin untuk dua hari ke depan. Kakinya masih bengkak akibat kesleo. Untuk bergerak saja dia kesulitan, apalagi untuk belajar mengajar? Dia membuka pesan di ponselnya.
Ada pesan masuk dari Aidha. Menanyakan bagaimana kabarnya. Dia tersenyum senang, gadis remaja itu sangat perhatian dengannya. Setiap hari menceritakan semua tentang keseharian dia dan keluarganya.
Jika ada yang keliru, Disa memberikan nasihat. Apabila Aidha melakukan suatu kebaikan, maka dia akan memuji gadis remaja itu. Ia senang dekat dengan Aidha dan Salwa. Mereka anak-anak yang ceria dan hangat.
Mbak Aidha : Assalamu'alaikum, Ust. Gimana kakinya? Masih sakit?
Me : Wa'alaikum salam, Mbak Aidha. Alhamdulillah, Ust masih diberikan nikmat untuk merasakan sakit. Maaf ya, nanti ngajinya libur dulu. 😢
Mbak Aidha : Gak usah libur, Ust. Nanti kami minta papah antar ke Bonang saja. Ust mau dibawakan apa?
Me : Cukup bawakan Ust energi positif dari senyum kalian saja.
Mbak Aidha : Kalian? Termasuk papah? Oke siap! Nanti kami selfie dulu terus Aidha kirim ke Ust.
Disa membaca pesan itu sambil mengernyitkan dahi. Dia hanya butuh senyuman kedua gadis itu. Bukan termasuk papahnya. Bisa kalang kabut lagi hati dan jantung Disa. Ia ingin membalas pesan itu, tapi pesan Aidha yang masuk terlebih dahulu.
Mbak Aidha : Aidha berangkat sekolah dulu. Assalamu'alaikum, Ust.
"Wa'alaikum salam, Mbak Aidha. Semoga harimu lancar ya, Nak? Kaki, ayo sembuh yok! Biar bisa ngajar ngaji mereka lagi. Semangat untuk aku sendiri, hi-hi-hi."
__ADS_1
Dia teringat akan pesanan nasi box Dani. Ia segera menghubungi temannya. Meminta untuk dikirimkan cumi yang berukuran kecil pada hari kamis nanti. Disa juga mengingatkan emak agar tidak lupa mencatat keperluan orderan itu.
Mak Nur meminta Disa untuk membatalkan saja. Mengingat kondisinya yang sedang sakit. Disa menolak, dia tidak enak hati pada Dani.
"Kenapa harus tidak enak hati?" tanya Mak Nur.
Disa mengulum bibirnya, "Ya karena dia sudah banyak membantu Disa kemarin, Mak. Oh ya, Disa mau tanya, kemarin Emak ngomong apa sama pak Dani?"
Mak Nur langsung terlihat gelagapan. Menghindari tatapan mata dengan Disa. Membuat anaknya semakin penasaran. Bagaimana jika putrinya tahu bahwa kemarin dia merendahkan Dani?
"Mak! Malah ngelamun, kemarin ngomong apa sama pak Dani?" tanya Disa memaksa.
"Mak mau ke pondok ngantar sayur pesanan buk Yah. Assalamu'alaikum." Mak Nur langsung membawa keranjang berisi sayuran. Keluar dari rumah meninggalkan Disa dengan rasa penasaran.
Disa menghela napas kecewa. Tidak biasanya emak seperti itu. Apakah dia perlu bertanya pada Dani? Ah, tidak! Malu! Kini kepalanya dipenuhi tentang rencana perjodohan.
Yang hendak melamar Disa bukanlah orang sembarangan. Anak kyai, seorang ustaz, mapan dalam segi agama dan finansial. Tapi kenapa hati Disa ragu? Dia sudah memasrahkan semua pada Allah SWT lewat sepertiga malamnya.
Siang menjelang, seperti ucapan Aidha waktu di dalam pesan. Kini, gadis itu benar-benar mengirimkan fotonya bersama Salwa dan Dani. Mengirim lewat nomor orang tuanya.
Disa tersipu malu melihat senyum dari ketiga orang dalam foto itu. Entah apa yang merasuki hatinya, senang bukan kepalang. Dia tertawa kecil dan membalas pesan ke nomor Aidha. Ia sangat yakin pasti gadis remaja itu yang mengirim gambar melalui ponsel papahnya.
Me : Assalamu'alaikum, Mbak. Kan Ust cuma minta foto kamu sama Salwa. Kenapa ada papah juga?
Send to Aidha
"Aduh, kenapa aku nyebutnya papah? Duh! Salah!"
Disa segera mengetik pesan lanjutan lagi ke Aidha. Ingin menghapus chat yang sebelumnya, tapi terlanjur dibaca. Dia hanya bisa menyesali karena salah memanggil Dani. Eh, tapi apa salahnya? Bukannya Dani memang papah mereka?
Aidha : Aku cuma mau nunjukin ke ust kalau udah baikan sama papah, 😊. Papah ganteng nggak ust?
Disa kembali tersenyum membaca isi pesan Aidha. Wajahnya kini menghangat. Bisa sekali bocah itu menggodanya.
Me : Buruan berangkat kesini! Ust lumutan nunggu kalian! Sudah hapal surat An-Naziat berapa ayat?
__ADS_1
Aidha : 1-5. Ih suruh cepet, nggak sabar ketemu papah ya? 😜
Me : Ust kangen sama kamu dan Salwa. Bukan yang lain! Buruan!
Aidha : 🏃♀🏃♀ otw!
Disa menggelengkan kepala. Heran dengan anak remaja itu. Kenapa sedari pagi mempromosikan papahnya? Tapi dia senang, akhirnya Aidha kembali akur dengan Dani.
Disa ingin menghapus foto yang dikirimkan oleh Aidha. Tapi dia tidak rela jika kehilangan senyuman Aidha dan Salwa. Akhirnya ia memotong foto itu menjadi tiga bagian. Lalu menghapus foto Dani.
Otak dan hatinya tidak sinkron. Hati Disa menyuruh agar tetap menyimpan foto itu. Sedangkan otaknya memberikan kode keras agar menghapusnya. Dengan membaca basmalah Disa menghapus gambar Dani.
Tidak lama setelah chat berakhir, Aidha dan Salwa sudah tiba di rumah Disa. Mereka sedih melihat kaki jenjang itu harus terluka dan terkilir. Salwa memberikan titipan dari Dani.
"Dari papah, biar cepet sembuh katanya. Mbah dan tante Rida titip salam juga buat U-ust," terang Aidha.
Disa tersenyum dan menerima pemberian Dani. Dia sangat tersanjung, begitu besar perhatian dari keluarga itu untuknya. Mulai dari Aidha dan Salwa, bu Yuli, Rida, Sita, dan pastinya Dani.
Hei! Kenapa dia malah terbayang senyuman duda anak dua itu? Fotonya sudah terhapus! Seharusnya bayangan senyum itu juga lenyap dari pikiran Disa. Yang terjadi malah sebaliknya. Apakah ini jawaban dari Allah atas do'anya dalam hal meminta jodoh?
Pikiran Disa kembali kacau kala mengingat pinangan yang akan datang besok jum'at. Hari ini hati dan otak benar-benar tidak sinkron. Dia melupakan sejenak gemuruh cinta dalam hati. Mulai muroja'ah bersama Aidha dan Salwa.
Setelah selesai, Salwa bermain dengan keponakan Disa. Mereka masih menunggu jemputan dari pak Kus. Aidha enggan bermain, dia ingin bicara serius dengan Disa.
"Ust, Aidha ingin memohon satu hal. Mungkin menurut Ust agak aneh, tapi ini tulus dari hati Aidha dan Salwa." Aidha menatap dalam mata Disa.
"Apa?" tanya Disa.
"Aidha dan Salwa ingin ..., Ust Disa jadi ibu buat kami."
Deg!
Jantung Disa serasa berhenti. Napasnya tercekat. Permintaan yang baru saja Aidha lontarkan begitu menyentuh hatinya. Dia memejamkan mata, berharap bukan mimpi.
"U-ust ...," ucap Disa menggantung.
__ADS_1
"Sa, kamu dapat bingkisan dari nak Aji." Emak langsung masuk ke kamar Disa. Membuat Aidha dan Disa langsung menoleh cepat.